Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Menata Rencana


__ADS_3

...Tidak ada hidup tanpa masalah...


...Selama manusia bernafas, masalah akan selalu datang...


Pagi ini tepat pukul delapan adalah jam kedatangan untuk Annie ke rumah Brian. Ini adalah kedatangannya yang ketiga kali nya. Rencananya masih belum di jalankan.


Annie menghabiskan waktunya selama tiga hari disana sembari merawat Prince ia juga menghafal tata letak ruangan disana. Pada akhirnya ia menemukan kamar itu, kamar milik Sienna.


"Oh jadi ini kamarnya! Hmm baiklah, kau sudah memberiku kunci utama untuk beraksi!" Lirih Annie dari dalam hatinya.


Sejenak ia menatap pintu kamar berwarna pink itu. Hatinya tergugah ingin masuk ke dalam. Namun tidak, Annie mencoba menahannya. Setidaknya ia harus bersikap netral terlebih dulu. Terburu-buru malah akan membuat segala rencananya gagal nantinya.


"Dokter?"


Suara kecil dari balik tubuhnya membuat Annie terkejut. Annie memutar bola matanya kebelakang. Terlihat disana seorang bocah perempuan dengan piyamanya dengan wajah bangun tidurnya sedang menatapnya.


"Anda kenapa berdiri disini?" Lirihnya sambil mengucek matanya.


Bocah ini Sienna, entah darimana ia. Annie tersenyum memandangi wajah bangun tidur yang cukup menggemaskan itu lalu menggeleng.


"Tidak sayang, aku hanya menyukai warna pintu kamarmu. Pink, kau suka warna pink?" Tanya Annie padanya.


"Iya aku menyukainya! Kakak ku Prince.."


Ketika menjawab pertanyaan itu tiba-tiba Sienna teringat pada kakaknya. Lalu ia meraih pergelangan tangan Annie menariknya membawanya untuk mengikutinya.


"Kakak ku apakah sudah di periksa? Kakak bagaimana kondisinya?" Tanya Sienna sembari berjalan.


Rasa khawatir yang luar biasa sekali bagi seorang anak kecil. Disitu dapat di simpulkan bahwa Sienna benar-benar sangat menyayangi keluarga ini. Sienna sangat menyayangi Prince sama seperti Prince menyayanginya.


"Dokter kenapa tidak menjawab pertanyaan Ku?" Tanya Sienna lagi padanya.


"Prince baik-baik saja! Kondisinya semakin membaik saat ini. Jangan biarkan dia stres, ajak dia bermain dan selalu bahagia. Itu juga adalah salah satu cara untuk membantunya sembuh." Tutur Annie padanya.


"Aku selalu membuatnya tertawa." Jawab Sienna membanggakan diri dengan polosnya.

__ADS_1


"Sienna, apakah kau menyayangi Prince?" Tanya Annie ketika mereka berhenti tepat di depan kamar Prince.


Pintunya masih tertutup. Sienna berhenti sejenak lalu tersenyum sambil menoleh ke arah Annie.


"Tentu saja, di adalah kakak terbaik yang ku miliki! Aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi Mommy!"


Jelas Sienna pun membuka pintu kamar Prince. Terlihat disana Prince masih terlelap dengan Brian dan Bella yang memandanginya.


"Dokter anda sudah datang? Sejak kapan?" Tanya Brian ramah sambil tersenyum.


"Aku baru saja sampai lalu menemukan Sienna. Dia menuntunku kemari!" Jawab Annie padanya.


Mendengar jawaban itu Brian hanya terdiam bahkan ia enggan menatap ke arah Sienna.


Annie memperhatikan itu rupanya masih sama. Masih belum ada perubahan yang terjadi disini.


"Silahkan dokter!" Ucap Bella padanya.


Annie mengangguk mendengar itu. Segera ia pun berjalan ke arah Prince. Annie tepat berdiri di sampingnya. Sambil mengeluarkan beberapa alat medisnya tangannya mulai cekatan memeriksa tiap bagian tubuh Prince.


"Sampai sini perkembangannya semakin membaik. Tetapi kita harus terus menyuntikan obat ini. Sebab ini adalah cara untuk menyingkirkan kankernya pelan-pelan." Jelas Annie.


Ia menyuntikan cairan ke dalam selang infus Prince.


"Prince sering merintih kesakitan dok, katanya tubuhnya sakit tiap kali cairan itu masuk!" Jelas Bella.


Hal itu membuat Annie mengangguk. Sudah lumrah bukan reaksi obat adalah menyembuhkan luka. Dan ketika tersentuh luka maka akan ada reaksi sakit. Dan itulah yang terjadi saat ini. Itu adalah cara obat bekerja dalam tubuh manusia.


"Itu adalah cara obat bekerja! Obat akan mengobati area luka. Apabila sakit itu pertanda bahwa obatnya sudah bekerja. Kalian tidak perlu khawatir. Selama dia tidak muntah darah, sakit yang ia rasakan itu tidak masalah!" Jelas Annie lagi.


Ia pun memasukkan kembali peralatannya. Pemeriksaan nya usai. Jemarinya dirinya kesini hanyalah sebentar.


"Maukah kau sarapan bersama kami dulu sebelum pergi Dok?" Tanya Bella menawari.


"Benar dok, jangan pergi tanpa menerima apapun dari kami. Kami sudah banyak berhutang pada anda." Ucap Brian menimpali.

__ADS_1


Ketika barang-barang nya sudah rapi. Sejenak Annie menatap ke arah Sienna lalu kembali menatap ke arah Brian dan Bella.


"Boleh saja!" Jawab Annie.


Bella bangkit dari duduknya.


"Baiklah mari kita makan!" Ucap Bella.


"Yeay, makan!" Ucap Sienna senang.


"Ayo sayang!" Bella meraih pergelangan tangan anaknya.


"Kami akan tunggu di meja makan ya!" Ucap Brian.


Bella dan Brian pun pergi mendahului Annie. Ketika kamar itu sunyi tak ada siapapun, sejenak Annie menatap lekat ke arah Prince yang masih terbaring.


"Aku berterima kasih padamu dan Mommy sebab kau menjaga keponakanku. Namun sudah waktunya untuknya tau segalanya. Bahwa dia bukan anak dari Bella Mommy mu!" Lirih Annie.


Sambil berbalik hendak pergi dari sana Annie mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Itu adalah sebuah surat. Sebuah surat yang di tujukan untuk Sienna.


Annie keluar dari dalam kamar itu lalu menutupnya. Tak lama ia kembali lagi ke kamar Sienna menyelipkan satu surat yang Tasya tulis untuk Sienna disana. Dengan begini Sienna pasti akan membacanya dan disitulah durasi rencana nya akan dimulai.


Setelah menyelipkan surat itu. Annie pun bergegas pergi dari sana. Ia pergi meninggalkan area itu menghampiri Bella dan Brian di meja makan. Sambil menunggu makanan disana Brian bertanya perihal Prince. Dengan senang hati Annie pun menjelaskan segalanya.


Dalam perbincangan ini tidak ada satupun yang akan tau. Bahwa kebenaran akan segera terungkap. Kebenaran mengenai sesuatu, perihal Sienna.


Annie yakin ketika nanti Sienna membacanya maka sepulang sekolah besok ia pasti akan menunggunya. Ia yakin itu.


__________


Beberapa menit setelah acara makan pagi. Sienna pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Ketika ia membuka kamar dan masuk lalu menutup pintunya kembali. Sienna di buat terkejut dengan surat yang tergeletak di lantai.


Sienna mengambil surat itu lalu membacanya. Awal pembukaan Sienna dibuat bingung. Untuk pertengahan dan akhir ia di buat terkejut bukan main. Dalam surat itu mengatakan bahwa yang menulis ini adalah Ibu nya Tasya, dan Sienna bukanlah anak dari Bella.


Sejujurnya Sienna tidak begitu mempercayai itu. Tetapi penjelasan disana ada yang sedikit meyakinkan hatinya. Di balik surat itu juga tertera tulisan apabila Sienna ingin kebenaran maka ia harus menunggu pengirim surat datang sepulang sekolah di halaman belakang sekolahnya.

__ADS_1


Sienna memilih memendam ini sendiri. Ia akan mencari tau sendiri perihal siapakah pengirim surat ini. Mengapa ia mengatakan demikian? Tanpa adanya bukti Sienna tidak akan percaya.


__ADS_2