
Di dalam kantornya Brian sedang mengerjakan beberapa berkas disana. Orderan Kaneki Corps naik begitu pesat. Hal itu sedikit menyibukkannya disini. Kekayaan yang melimpah terkadang juga membuatnya pusing.
Eddie akan lebih sering keluar negara apabila orderan mereka berkembang pesat. Dia adalah yang paling bagus berpromosi disini.
Pada dasarnya perusahaan ini memang milik Eddie bukan. Namun sebab jasa kakaknya, ia pun mengatasnamakan bahwa perusahaan ini adalah milik mereka berdua.
Sebab jika bukan karena kakanya. Eddie tidak akan tumbuh dan hidup sampai sebesar ini. Brian lah dulu yang rela menggantikan posisi ayah mereka. Hidup sebagai tulang punggung sekalipun dengan cara keji.
Namun untuk hal itu Eddie sampai seumur hidupnya pun akan terus berterima kasih padanya.
Ketika beberapa berkas sudah selesai ia kerjakan. Akhirnya ada waktu untuknya untuk sekedar menghela nafas lega.
Brian sedikit melirik kecil jam di dinding. Sudah cukup siang rupanya. Ini jam dua siang dan dia sama sekali belum makan.
Tokkkkk
Tokkkkk
Suara ketukan pintu dari luar membuatnya memperbaiki posisi duduknya sekarang.
"Masuk!" Ucap Brian.
Seseorang dari luar mulai masuk. Rupanya itu adalah Themo dan Rey mereka datang kemari sambil membawa bungkusan besar.
"Tetua!" Teriak mereka berdua dengan nada riang.
"Ada apa?" Tanya Brian pada keduanya.
Themo dan Rey menunjukkan bungkusan besar itu padanya.
"Ini hari Valentine!" Ucap keduanya lagi.
Lalu, hal itu sungguh membuat Brian kebingungan. Lantas jika ini Valentine mereka akan apa?
"Lalu?" Tanya Brian dengan raut wajah bingungnya.
"Jelaskan padanya Rey! Dia begitu mengesalkan!" Ucap Themo menyenggol Rey yang ada di sampingnya.
"Tetua memang begitu, berhati batu. Jelas dia tidak akan tau apa maksud kita!"
Kedua anak buah yang paling ia percayai mengolok-oloknya. Sejujurnya Brian kesal, namun sebab mereka adalah anak buah kesayangannya. Jadi, Brian bersikap biasa-biasa saja.
"Tetua kami baru saja merampok bisnis adikmu. Bisnis restoran itu! Dan mereka membawakan kami makanan ini. Sebab ini Valentine katanya." Jelas Rey.
Segera ia menempatkan bungkusan itu di atas meja Brian. Rey membuka bungkusan itu. Oh nikmatnya, aroma Wagyu itu menguar begitu saja.
Brian berbinar melihat itu. Porsi besar ini cukup untuk mereka bertiga. Lalu Themo juga berjalan ke arah mereka. Dan bungkusan itu isinya adalah minuman. Sekelas bir namun khas jepang.
__ADS_1
"Wahhhh... Kalian hebat! Kalian tau rupanya aku sedang kelaparan disini!" Ucap Brian.
"Iya bukan? Kami ini memang anak buah paling tau daripada yang lainnya. Itu sebabnya, karena hari ini Valentine. Sepertinya kau harus menambahkan gaji kami Tetua!"
Apa yang Rey katakan membuat Themo terkekeh. Namun Brian hanya tersenyum mendengar itu. Sepertinya memang jarang baginya memberi komisi bonusan pada Rey dan Themo. Sebab memang gaji merekalah disini yang paling besar daripada bodyguard lainnya.
"Lagi pula untuk apa kalian ingin gaji besar?" Tanya Brian pada mereka.
Mereka yang menikmati makanan seketika terdiam lalu menatap ke arah Brian disana.
"Tetua, kami merindukan anak-anak kami. Kami ingin membawa mereka kemari, lalu memberi mereka rumah disini. Kami ingin membeli rumah!" Jelas Themo menjelaskan isi hatinya.
Brian mengunyah makanannya lalu menelannya.
"Aku juga sama Tetua! Negara kita sudah tidak menerima kita lagi bukan. Sebab katanya kita ini pengkhinat. Sekalipun denda bermilyaran dolar itu sudah di bayarkan. Tapi pengasingan untuk kita masih berlaku! Jadi, aku ingin membawa anak dan istriku tinggal disini bersamaku." Jelas Rey.
Brian paham rasanya bagaimana jauh dari seorang pujaan hati. Itu mengingatkan kembali akan perjuangannya mendapatkan istrinya.
Seluruh perjalan mereka untuk penyatuan itu sulit. Sangat sulit dan bersimbah darah.
Jika mengingat itu juga membandingkan dengan yang sekarang. Rasanya Brian bersyukur sekali. Sebab sekalipun nama dan reputasi Brian begitu buruk di negaranya. Bella masih setia menerimanya.
Cinta nya itu sungguh tidak akan pernah Brian khianati. Bella baginya adalah segalanya. Ditambah lagi, kehadiran Prince dalam keluarganya adalah anugerah terindah bagi Brian.
Lantas setelah mengingat itu ia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Dari dalam laci ia mengambil album foto. Album foto itu cukup besar.
"Ini album rumah yang belum ku tempati. Rumah-rumah ini kosong, kalian boleh mengambilnya! Pilihlah!"
Degggggg
Bagaikan di hujani bunga. Hal itu membuat Rey dan Themo sangat bahagia. Sejak dulu ia ikut bersama Brian dan Eddie. Mereka hanya tinggal di markas. Tempat tinggal mereka mantan mafia disana.
Namun sekarang, sungguh betapa baiknya Tetua nya ini memberikan rumah secara cuma-cuma pada mereka.
"Apakah kita akan membayar cicilan nya padamu Tetua?" Tanya mereka sambil membuka foto-foto itu.
"Untuk apa? Sebab ini Valentine aku ingin memberi kalian hadiah. Ya itu hadiahnya!" Jawab Brian kembali menikmati makanannya.
"Ah iya, masalah anak dan istri kalian! Biarkan mereka naik pesawat pribadi kami saja. Kalian tidak perlu pusing atas biaya!" Jelas Brian.
Themo dan Rey saling tatap satu sama lain. Mereka sungguh tersentuh. Akibatnya mereka pun memeluk Brian singkat hal itu hampir saja membuat Brian tersedak rasanya.
"Kalian!!!" Pekik Brian lalu meminum sake nya.
"Hahaha... Maafkan kami! Sebab terlalu senang kami jadi tidak tau harus berbuat apa." Jawab Themo dan Rey.
Hari bahagia sungguh bagi mereka. Ini adalah keinginan mereka sejak beberapa tahun lalu. Dan sekarang, rupanya Brian begitu baik memberi mereka hal itu. Hal yang selama ini mereka inginkan. Luar biasa dermawan sekali bos mereka ini.
__ADS_1
_________
Bella di rumah sedang membersihkan lemari. Lemari pakaian tempatnya dan Brian disana.
Beberapa baju yang sekiranya sudah tidak di pakai ia sisihkan. Ia menaruhnya ke dalam sebuah kotak.
Rencana Bella akan menyumbangkannya. Baju-baju milik suaminya ini tentu saja harganya mahal. Namun tak apalah baginya, sebab untuk apa tetap berada di dalam lemari jika tidak di pakai.
Lebih baik di berikan ke orang lain bukan. Barangkali orang lain lebih membutuhkan ini daripadanya.
Ketika ia meraih pakaian miliknya. Tak sengaja tangannya menemukan bungkusan kecil.
Bella mengambil itu. Ia memperhatikannya sejenak mencoba mengingat-ingat darimana asal bungkusan itu.
Namun lama mengingat rupanya tak kunjung memberinya jawaban. Penasaran pada bingkisan itu Bella pun membukanya.
Rona merah jelas menghiasi wajahnya. Baju ini, baju dimana dia mengenakan ini saat malam pertama mereka.
Baju ini adalah baju pemberian dari Angela. Bukan baju, ini gaun, semacam gaun tidur kurang bahan.
Dari sinilah asal mula pembuatan Prince. Mengingat itu Bella pun terkekeh. Terbesit dalam kepalanya untuk melakukan satu rencana.
Hanya untuk malam ini. Bella ingin menyenangkan suaminya. Bella meraih ponselnya lalu menelpon seseorang disana. Orang itu adalah Stevan.
Bella menjelaskan pada adiknya itu bahwa hari ini ia tidak bisa menjemput Prince dan Sienna.
Bagi Stevan, apa yang kakaknya minta akan selalu ia turuti. Bella juga mengatakan padanya, bahwa malam ini dia dan Brian ada acara penting.
Untuk malam ini, Bella meminta pada adiknya agar Prince dan Sienna menginap di rumahnya. Jawaban iya dan iya Stevan berikan. Sama sekali tak ada penolakan.
Usai dengan rencananya Bella pun kembali di sibukkan dengan seluruh kegiatan rumah.
Tak lupa ia menghias kamarnya. Dan satu lagi, kue coklat yang ia letakkan di atas meja makan.
Ketika malam menjelang, Brian yang baru saja keluar dari kantornya pun mendapat sebuah pesan. Itu dari Bella.
Happy Valentine Hunny..
Aku menunggumu, semoga kau tak melupakan hadiah yang ku minta.
Aku mencintaimu...
Lihatlah, kamar kita indah bukan?
Aku menunggumu berada satu selimut denganku. Jangan membuatku menunggu terlalu lama, Hunny...
Pesan juga gambar yang Bella kirimkan membuat Brian tersenyum. Istrinya benar-benar menggodanya.
__ADS_1
Bak sebuah piston, Brian pun masuk ke dalam mobilnya lalu segera pergi menuju kediamannya. Perihal apa yang Bella minta, Brian sudah menyiapkannya.