Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Selamat Datang Pria-ku


__ADS_3

...Aku jatuh cinta pada es batu...


...Keras dan dingin...


...Namun meleleh seiring waktu berjalan...


...Manusia ini, adalah patrian Tuhan paling langkah...


...Prasasti terbaik dalam rumahku (Hatiku)...


...Cinta pertamaku, semoga selamanya sampai nanti...


Malam syahdu ini sangat mereka nikmati, keduanya dihadapan Eiffel tak jauh darisana saling bercengkrama. Tak jarang mengumbar mesra, sajian lezat malam itu sudah dicicipi. Dimana dibawah, Eddie, Angela dan kawanan mafianya sibuk mempersiapkan apa yang akan Brian minta selanjutnya.


"Tetua kadang menyusahkan juga, astaga! Bagaimana kita bisa memasak jamuan semewah dan seunik ini. Dia minta dalam porsi kecil!" Gumam Themo, Eddie tertawa mendengar umpatan itu.


"Hahahaha, Themo, kau bilang akan selalu setia pada kakakku. Dia hanya meminta hal kecil, tapi kau sudah mengeluh."Sindir Eddie, Angela disana juga tertawa.


"Masalahnya, jika benda tajam ini digunakan untuk bertarung itu jauh lebih efisien." Tambah Rey, seraya masih mencincang daging di atas meja.


"Pasalnya, disini tidak ada alasan bagi kita untuk bertarung." Tambah Eddie.


"Kalian sudah hijrah, ingat itu." Tambah Angela, kawanan Mafia yang sekarang berstatus koki itupun mendengus kesal.


"Ahhh, aku tak ingin wajah seram ini yang kalian pasang di bisnis kuliner ku." Ucap Eddie, Themo geram sekali rasanya mendengar itu.


"Tuan muda yang terhormat, bisakah kau membantu kami? Paling tidak jika kau tak mau, diamlah saja. Kami sudah kewalahan dengan menu-menu permintaan Tetua, tolong jangan buat kami tambah pusing dengan ocehanmu." Ucap Themo, Eddie tertawa mendengar itu begitupun Angela. Suasana dapur besar itu ramai, juga penuh candaan didalamnya, tak jarang umpatan kasar atas kekesalan itu terlontar kesana-kemari.


BRAKKKKK


Suara pintu terbuka tiba-tiba itu menyita perhatian mereka, terlihat Rey dengan wajah lelahnya bertengger di ambang pintu mencoba mengatur nafasnya.


"Nyonya, minta alat pangkas sekarang, dia tidak ingin menu makanan lagi." Seakan sebuah kabar yang mereka tunggu, mereka bersorak bahagia mendengar itu layaknya seseorang menang lotre.


"Akhirnya!!! Tuhan memang baik sekali." Ucap Themo, seraya menancapkan pisau itu di meja. Lucu sekali rasanya melihat mantan mafia ini, itulah yang ada di pikiran Eddie saat ini.


"Melihat mereka seperti ini, kadang aku heran, dimanakah sisi buas mereka sekarang?"Tanya Angela.


"Sisi buas mereka sedang tidur, semoga saja akan seperti itu seterusnya." Ucap Eddie.

__ADS_1


"Jadi, dimanakah kita bisa mendapatkan alat pangkas rambut itu?" Tanya Angela, Themo menepuk tangannya mencoba meredam sorakan gembira dari kawannya.


"Nona Angela, kami sudah mempersiapkan itu. Ambil, Rey!" Jawab Themo pada Rey di ambang pintu, Rey membuang kasar nafasnya mendengar itu.


"Kenapa selalu aku yang menjadi pesuruh?!" Umpat Rey seraya berjalan menghampiri meja di sebelah kanannya. Rey menarik laci itu, disana terdapat gunting dan alat cukur. Rey mengambil itu, berbalik dan menunjukkannya.


"Wahh, sejak kapan itu ada disana?" Tanya Eddie tersenyum.


"Sebenarnya ini juga rencana dari Tetua. Dia ingin Nyonya Bella merubah penampilannya." Ucap Themo, sembari mengangguk Eddie tertawa.


"Sepertinya kita bisa naik ke atas sekarang." Ucap Rey.


"Belum, serahkan saja dulu alat pangkas itu pada Bella. Kita akan memberi ucapan selamat itu nanti, tunggu aba-aba dariku." Mendengar itu Rey mengangguk, ia pun pergi darisana menuju lantai atas.


Bella berdiri sembari melipat tangannya di atas kepala Brian, sedang Brian duduk diam memandangi Paris dari balik kaca. Bella berdiri sengaja memang, karena ia akan membuang seluruh kumis yang ada di wajah kekasihnya itu, merapikan surainya, dan mengembalikan ketampanan prianya kembali.


"Lama sekali?" Lirih Bella.


"Bersabarlah, jarak dari dapur kemari ada sekitar 15 lantai. Dia bukan manusia super yang langsung bisa melesat kemari." Ucap Brian lembut.


"Kau menjadi Tuan besar ya sekarang?" Tanya Bella, menenggelamkan kepalanya, disitu aroma dari Surai kekasihnya menenangkannya.


"Dia bukan manusia yang menganggapmu seperti itu. Kau pasti Abang yang baik sekali, sampai di perlakukan seistimewa ini oleh adikmu." Puji Bella, Brian hanya diam mendengar itu.


Dari belakang mereka terdengar suara langkah kaki mendekat, disana Rey datang sambil membawa alat pangkas itu. Bella berbalik lalu tersenyum padanya, ia mengambil alat pangkas itu dari tangannya lalu mengucapkan terima kasih. Rey pergi setelah menyerahkan itu, Bella menghampiri kekasihnya itu lagi.


"Selamat tinggal om-om berkumis, aku benci kumismu dan rambut panjang ini." Ucap Bella seraya mulai memotong helaian rambut panjang milik Brian.


"Bukankah aku terlihat keren dengan rambut dan kumis ini." Puji Brian pada dirinya sendiri.


"Apanya yang keren, katakan? Kau terlihat seperti pemulung, kau tau?" Umpatan kasar itu membuat Brian tertawa.


"Tapi Eddie dengan rambut panjangnya, bisa memikat Angela?" Ujar Brian.


"Itu karena Eddie pantas, dan kebetulan Angela memiliki tipe pria seperti itu." Jawab Bella.


"Jadi aku tidak pantas ya?" Tanya Brian.


"Tidak, dan aku tidak suka. Aku menyukai laki-laki rapi, tanpa kumis. Apalagi berjenggot, tolonglah hun, seperti sedang kencan dengan om-om saja rasanya."

__ADS_1


"Bukankah memang kita sudah masuk dalam kategori om dan tante?" Tanya Brian.


"Aku masih 21 tahun." Ucap Bella tak ingin menua.


"Sayang, kita sudah 30 tahun sekarang, tolonglah. Jika sudah seperti ini mungkin pernikahan secepatnya itu perlu." Tambah Brian, Bella menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


Mungkin benar, sudah saatnya mereka menempuh lembaran baru lagi sebagai suami istri.


"Jadi, maukah kita meresmikan ini secepatnya?" Tanya Brian, namun Bella masih tak memberikan jawaban disana.


"Hei aku bicara, kenapa kau tak menjawab?" Tanya Brian lagi, kali ini ia mencoba berbalik namun Bella menahannya.


"Diam atau kubuat botak kau!" Ancam Bella, Brian tersenyum mendengar itu. Baiklah dia akan diam sekarang.


Selang beberapa menit setelahnya, terlihat Brian sudah sangat rapi. Rasanya penampilannya dulu sudah kembali. Bella tersenyum puas melihat hasil pangkasannya. Dia tepat berada di hadapan Brian sekarang, menyamai tinggi kekasihnya itu seraya mengusap lembut rahang tegas itu.


"Kau tampan!" Ujar Bella, Brian tersenyum mendengar itu. Brian menyentuh tangan-tangan itu memejamkan matanya, kehangatan itu masih sangatlah nyaman.


"Rindu bukan?" Tanya Bella, Brian mengangguk masih dengan posisinya menikmati sentuhan Bella.


"Rasanya perih, tapi segalanya sudah terbayarkan disini, sekarang." Ujar Brian seraya membuka matanya, menatap dalam kekasihnya itu.


"Jangan pergi lagi, aku ingin kita berdua seperti ini. Bersama, sampai tua dan mati. Tetaplah bernafas disampingku, tetaplah menjadi manusia yang mencintaiku, tetaplah menjadi rumah tempatku singgah. Tetaplah ukir namaku dalam hatimu, jangan pernah berjuang sendiri lagi. Karena aku tak sanggup merasakan kehilangan untuk yang ketiga kalinya. Karma-karma itu berjalan menghukum dan menyatukan kita satu sama lain, bukankah kita sudah melewati jembatan dosa kita masing-masing. Sepertinya ini sudah cukup ya, mungkin nyatanya harapanku dalam buku sudah sepenuhnya terjadi disini. Di hadapan Eiffel dan keindahan kota Paris, sayang, bawa aku bersamamu kemanapun kau pergi. Jangan lepaskan aku." Ucap Bella seraya tersenyum tulus pada Brian. Brian mengangguk mendengar permohonan indah itu. Satu ciuman lembut itu terjadi lagi, Bella membalas ciuman itu tak kalah lembut. Tak ada tangisan sekarang, hanya kebahagiaan yang akan di ukir.


"Aku bangga memiliki dirimu disini." Lirih Brian, seraya melepaskan ciumannya.


Prokkkk


prokkkk


prokkk


Suara tepukan tangan itu mengalihkan menyita perhatian mereka, dari belakang terlihat Eddie bersama dengan kawanan Mafianya. Tersenyum bahagia menyaksikan penyatuan cinta itu lagi, setelah sepuluh tahun lamanya.


...Kamu adalah bagian takdirku...


...yang paling indah...


...Sekali kau masuk dalam hidupku...

__ADS_1


...Tidak ada jalan keluar untuk pergi...


__ADS_2