
...Kebencian adalah seperti meminum racun dan berharap musuhmu yang terbunuh...
...Yang harus dibabat adalah egoisme dan kebencian, yang mesti dirajut ialah solidaritas dan kepedulian ...
Beberapa jam setelah kejadian itu, Tasya mengirimkan Vidio itu pada Nami. Sebuah Vidio dimana saat itu ia kehilangan mahkotanya, namun sama sekali tak ada penyesalan dalam hatinya.
Mereka bertiga Reiner, Tasya dan Nami sedang melakukan panggilan Vidio. Usaha mereka tak sia-sia, baik Reiner dan Tasya keduanya berhasil.
"Jadi apakah setelah ini aku akan mendapatkannya?" Tanya Tasya pada Nami.
"Kau tenang saja, ketika hal ini sampai pada Bella. Wanita itu pasti akan pergi meninggalkan Brian seorang diri. Saat itu, datanglah padanya rebut hatinya!"
"Tak masalah bagiku sekalipun hanya memiliki tubuhnya saja. Karenanya mungkin setelah ini aku akan hamil."
Jawaban itu membuat Nami semakin sumringah. Rupanya Tasya berani melakukan hal senekat itu. Padahal perintahnya saat itu, hanya melakukan foto mesra saja bukan bersetubuh. Kegilaan mereka membuat Nami sangat senang, setidaknya bukti sebesar ini akan membuat Brian terpojok.
"Kau bangga sekali mengandung benihnya ya?"
Ujar Reiner, nada bicara itu seperti sedang menyindir Tasya. Namun masa bodoh akan hal itu, intinya Tasya berhasil melaksanakan tugasnya.
"Dengan aku mengandung anaknya nanti, ketika ia tidak menerimaku. Maka aku akan datang ke pengadilan, mengirim bukti ini. Hukum akan membawanya padaku!"
"Licik sekali, tapi itu benar! Rencanaku hebat Nami, ketika Bella nanti tak menerimanya mereka akan berpisah. Lalu aku, aku akan datang menemani Bella selama kesendiriannya. Cinta akan tercipta seiring waktu berjalan bukan?" Ujar Reiner.
Baik Nami dan Reiner keduanya sedang diliputi bahagia saat ini. Mereka terus berbicara perihal keberhasilan. Nami sejak tadi diam, ia memikirkan satu rencana matang yang akan melibatkan Stevan.
Sebab apabila menyangkut kakaknya, Stevan akan sangat emosional. Menggunakan Stevan adalah jalan terbaik saat ini, sebab Bella pun tidak akan menolak permintaan Stevan apabila hal itu benar.
Kedua saudara itu patuh pada kebenaran. Ketika Stevan merasa jijik pada Brian, Nami yakin pria itu akan datang kekediaman Brian. Pria itu akan menyeret Bella untuk ikut serta bersamanya, menjauhkannya dari Brian.
"Aku senang mendengar keberhasilanmu ini Nami! Namun, untuk mewujudkan hal itu kurasa kita tak perlu pengadilan. Sementara, aku akan gunakan orang dalam untuk itu." Ujar Nami.
"Apa maksudmu?" Tasya sungguh tak tau apa yang sedang Nami bahas disini, begitupun dengan Reiner.
"Ayolah orang cerdas, pakailah bahasa yang mampu kami pahami. Kau yang ber IQ tinggi seharusnya tau kualitas otak kami." Ujar Reiner.
__ADS_1
Nami menghela nafas mendengar itu. Memang harus ekstra sabar menghadapi dua manusia berotak minim ini.
"Aku akan menggunakan Stevan Drew, adik Bella. Dia adalah manusia yang paling emosional jika perihal kakaknya. Aku akan mengirim rekaman ini, perdana padanya." Jelas Nami disana.
"Lalu?" Tanya Tasya lagi. Ia tak tau hasil seperti apa yang akan Nami dapatkan setelah melakukan itu.
"Lalu, dia akan datang membawa Bella pergi dari sana. Dan, memukuli Brian sepuasnya disana."
"Mengapa harus ada kekerasan disini?"
"Sebab pria itu pantas mendapatkannya atas segala hal yang sudah terjadi karenanya."
Nami mengangguk namun disana Reiner masih terlihat berpikir keras. Sebesar apakah dosa yang sudah Brian lakukan, sampai-sampai Nami membencinya setengah mati. Ia sangat ingin tau akan hal itu.
"Nami?" Kali ini Reiner mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Ia hanya ingin penjelasan juga tau tentang Nostalgia rekannya.
"Ya, Reiner?" Tanya Nami padanya.
"Sebesar apa kesalahan yang Brian lakukan, saat masih menjadi seorang mafia?"
Nami mengepalkan tangannya kuat mendengar hal itu. Mengenangnya adalah hal yang paling sakit untuknya. Namun mau bagaimana lagi, mereka yang mati akan selalu hidup dalam kenangan oranga lain.
"Dia seperti seorang Iblis! Memang wujudnya seorang manusia, namun, dia yang tangannya ringan menghabisi nyawa orang lain. Rasanya tak pantas di sebut sebagai seorang manusia?"
"Berapa banyak jumlah nyawa yang sudah ia lenyapkan?" Tanya Reiner lagi padanya.
"Sekitar seratus orang ke atas mungkin."
"Tapi kenapa ia melakukan itu? Dan Bella, bagaimana bisa ia jatuh cinta pada pria sejahat itu."
"Untuk alasan kenapa ia melakukan itu aku tak peduli. Bagiku, sebesar apapun masalah, jangan kau buat tanganmu kotor dengan cara-cara keji. Pembunuhan adalah dosa besar!"
"Dan kau, melenyapkan pak tua itu artinya kau pun juga melakukan dosa besar."
Nami terkekeh mendengar itu. Beginilah manusia, melihat sesuatu hanya dari satu sisi. Mereka peduli pada yang nampak, namun tak peduli pada sesuatu yang samar-samar.
__ADS_1
Padahal bukti terkuat biasanya berada dalam hal yang samar, hal yang sepele. Namun ia sudah mengatasi itu, rekaman dimana pak tua itu dibunuh ia sudah memilikinya. Nami hanya tinggal mengaturnya saja supaya menjadi tontonan massal, lalu dirinya bebas.
"Aku tidak bisa menjelaskan perihal itu saat ini. Namun itu adalah bagian dari rencana!" Jawab Nami.
"Sebaiknya kita akhiri pembicaraan ini sekarang, aku harus membuka tokoku!" Ujar Reiner.
"Ah benar, aku harus pergi bekerja juga saat ini!" Ujar Tasya.
"Bukankah kau sudah dipecat?" Tanya Reiner.
"Tak apa, datang saja! Jika dia berani menyuruhmu pulang. Ancam dia, dan katakan kau akan memberitahu Bella soal itu."
Nami mendukung rencana yang Tasya katakan. Memberi ancaman Brian saat ini mungkin akan sangat mengasyikan. Jika dia berada disana, mungkin ia akan sangat bahagia menyaksikan betapa tak berdaya Brian nanti.
Namun hanya mendengar kabar ini saja rasanya sudah sangat memuaskan. Manusia tidak pernah puas, itulah yang saat ini menggambarkan perasaan Nami.
Akhiran panggilan Vidio itu mengembalikan mereka pada aktivitas mereka masing-masing. Nami mulai menjalankan rencananya, yaitu mengirimkan Vidio Tasya dan Brian pada Stevan. Melalui arloji canggihnya, ia mulai mengakses jaringan siber.
Keahlian miliknya sudah tidak diragukan lagi. Sebuah masalah baru akan terlahir setelah ini. Dan Nami yakin, Brian tidak akan berdaya kali ini. Konflik apapun setelah video ini dikirim, Nami pasti sangat menikmatinya. Tak ada hal yang lebih menyenangkan selain melihat penderitaan Brian secara berkala.
"Akan ku siksa kau pelan-pelan dari sini. Aku tak perlu mengotori tanganku untuk membunuhmu!" Ucap Nami sambil fokus pada aktivitasnya.
Ketika Vidio itu berhasil di kirim, Nami kembali terlelap. Sebab jam penjara akan membangunkan para tahanan di jam delapan. Ini masih sangat pagi, ini masih pukul enam. Masih ada beberapa jam bagi mereka untuk bersantai.
Bersamaan dengan tarikan selimutnya. Stevan dalam ruangannya membuka ponselnya. Ada pesan masuk disana, ketika ia membukanya berapa terkejutnya ia melihat apa yang sudah Brian lakukan.
...Hidup adalah satu jalan besar dengan adanya banyak pertanda...
...Jadi, ketika Anda menjalani rutinitas, jangan mempersulit pikiran Anda....
...Larilah terlepas dari kebencian, kejahatan dan kecemburuan....
...Jangan mengubur pikiran Anda, jadikan visi Anda menjadi kenyataan....
...Bangun dan Hiduplah! ...
__ADS_1