
...Manusia itu tempatnya salah dan dosa...
...Mereka tidak sempurna...
Cahaya Surya mulai menyinari kota Perancis. Para manusianya sedang berlalu lalang beraktivitas seperti biasanya. Tak jarang ada beberapa dari mereka yang bercengkrama sambil menikmati teh panasnya.
Berbeda dengan mereka yang sibuk diluar hari ini pagi ini. Seorang gadis yang tertidur semalam karena permintaan pekerjaan masih terpejam. Gadis itu masih enggan membuka matanya.
Gadis ini adalah Nami. Semalam ia kerja lembur mencari tau informasi perihal seorang penjahat. Dering di ponselnya sejak tadi sama sekali tak mengusiknya. Gadis ini seperti sedang mati suri saat ini. Luar biasa sekali netranya seakan sedang di lem saja.
Terlihat jelas dilayar ponselnya bahwa sang penelpon ini adalah Stevan. Mungkin disana ia sedang khawatir dengan Nami nya. Mungkin disana ia sedang menggerutu tak jelas perihal Nami nya.
Suara pintu terbuka pada akhirnya membuatnya terusik. Rupanya itu adalah Jendral kepolisian. Nami mengerjap beberapa kali mencoba menyadarkan dirinya.
Ketika kesadarannya mulai ia dapatkan, disana Nami menangkap satu manusia dengan seragam kepolisian berdiri dihadapannya dan tersenyum. Pria itu melepas topinya memberi hormat padanya.
"Selamat pagi Nona Nami! Apakah semalam cukup berat bagimu? Jika kau butuh sesuatu kau bilang saja padaku aku akan memberikannya." Jawab Pria itu.
Sebut saja pria besar berseragam polisi itu Tuan George. Nami menyandarkan tubuhnya di kursi lalu membereskan berkas-berkas nya.
Ia bekerja sangat cepat semalam. Dan pada akhirnya ia menemukan data-data si pelaku. Juga hasil rekaman CCTV dimana pelaku sering melewati area jalan itu.
"Tuan George, usahaku semalam berbuah! Dan ini, anda boleh melihatnya sebentar." Ucap Nami padanya.
Tuan George tergugah rasanya, ia pun berjalan mendekati Nami. Disana Nami menunjukkan data yang ia temukan. Ia menunjuk layar laptopnya sambil menjelaskan apa saja yang sudah ia temukan.
Dengan seksama Tuan George memperhatikan itu. Bukti yang begitu akurat ini memang ia perlukan. Dengan ini tersangka yang mengelak pada akhirnya akan mampu di penjara.
Bukti sebesar ini benar-benar membuatnya bernafas lega. Sebab banyak manusia yang menyalahgunakan kekuasaannya agar tidak masuk ke dalam penjara. Mereka menyogok banyak orang untuk bungkam atas tindakan kriminal yang sudah mereka perbuat.
"Laki-laki sampah semacam pria ini memang harus di beri pelajaran! Baguslah Nona, aku senang sekali dengan hasil kerjamu. Jika begitu ini sudah selesai. Masalah yang komisi akan ku transfer padamu pagi ini."Ucap Tuan George.
"Jendral George, dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Dan ku harap kau mampu menghadapi dunia yang sudah rusak ini. Sebab hukum ada untuk menjunjung keadilan bukan menutupinya dengan lembaran uang sogokan, itu hal licik!" Jelas Nami.
"Kau benar sekali Nona Nami! Baiklah jika anda berkenan aku akan memesan beberapa menu makanan sebelum kau pergi. Jangan pergi dengan perut kosong!" Jawab Tuan George.
Nami tersenyum lantas ia menggeleng. Sejenak meraih ponselnya ia terkejut mendapati ratusan panggilan dari suaminya. Tak lama setelah melihat itu ia pun tersenyum. Sedikit terlintas dalam pikirannya dimana saat ini Stevan pasti sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Maaf tapi suamiku sudah menelpon ku berulang kali, akan ku terima tawarannya lain waktu. Baiklah Tuan aku pamit dulu!"
__ADS_1
Ucap Nami padanya. Tuan George mengangguk mendengar itu. Nami memutuskan pergi dari sana. Ia ingin segera pulang ke rumah sekarang. Letih nya pasti akan terbayar ketika melihat wajah cemas Stevan. Sungguh ia benar-benar tak sabar melihatnya.
Nami berjalan memasuki mobilnya yang ada di area parkir kepolisian. Ketika masuk ke dalam ponselnya kembali bergetar. Nami tersenyum ketika mendapati Stevan lagi-lagi menelponnya.
Merasa kasihan dengan suaminya disana. Pada akhirnya Nami pun memutuskan untuk mengangkat teleponnya. Ketika panggilan terhubung nada cemas Stevan hampir membuatnya tertawa.
"Sayang!!! Kau ini kemana? Ketika aku bangun dari tidurku aku tidak menemukanmu. Apakah kau baik-baik saja? Dimana dan dengan siapa kau sekarang?" Tanya Stevan di seberang sana bertubi-tubi.
"Ini aku akan segera pulang! Sudah kau tunggu saja dirumah!"
"Kau habis darimana? Katakan, mengapa kau tidak menjawab seluruh pertanyaanku?"
"Aku lupa memberitahumu dan semalam aku ketiduran."
"Jawaban macam apa itu? Keterlaluan sekali istriku ini astaga sungguh. Pulang cepat, aku merindukanmu!"
"Stev jangan seperti bayi besar ku mohon! Kau ini selalu saja merengek dan merengek."
"Memangnya tidak boleh ya?"
"Apakah kau sudah makan?"
"Baiklah kalau begitu tunggu aku pulang, atau kau ingin di belikan makanan saja?"
"Beli makanan di luar saja Sayang, aku tau kau pasti sangat letih."
"Baiklah, terima kasih sudah mau mengerti Sayang!"
Tutttttt
Panggilan telepon itu Nami matikan begitu saja. Dan itulah yang terjadi saat ini, Stevan menatap kesal ke arah layar ponselnya. Sungguh Istrinya ini kerap kali membuatnya kesal.
Namun itu adalah inti dari sifat Nami. Biarpun begitu Stevan juga sangat mencintai istrinya itu.
Sementara Stevan disana sedang menunggu. Nami kali ini sedang menyusuri kota mencari makanan yang cocok untuk sarapan pagi mereka. Lama ia berpikir pada akhirnya ia berhenti tepat di sebuah restoran Perancis. Ini adalah pilihannya pagi ini, menikmati makanan Perancis bersama dengan Stevan adalah ide bagus menurut nya.
___________
Saat ini di kediamannya, Bella sedang duduk di samping putranya. Telapak tangannya tak henti-hentinya mengusap lembut Surai pirang Prince. Rasanya seperti sedang membelai kepala Brian sungguh. Sekalipun wajah Prince sangat mirip dengannya tapi surainya ini benar-benar mirip dengan Brian.
__ADS_1
"Putra ku tersayang!" Lirih Bella padanya.
Prince yang sedang bermain ponsel akhirnya merasa bosan. Dengan sang Mommy yang saat ini sedang asik mengusap kepalanya, lama-lama membuatnya risih.
"Mommy, sudah..." Rengek Prince padanya.
Adalah hal lucu dan menggemaskan bagi Bella. Gemas dengan hal itu Bella pun mencubit pipinya.
"Apanya yang sudah?" Tanya Bella padanya.
"Mommy sudah sejak membelai kepalaku." Ucapnya jujur.
"Hahahaha... Kenapa memangnya? Mommy tidak boleh membelai kepalamu kah?" Tanya Bella lagi.
Prince meletakkan ponselnya lalu memeluk Mommy nya.
"Prince risih, tapi sudahlah sepertinya Mommy tidak akan berhenti." Lirih Prince.
Bella membalas pelukan itu. Di sela-sela pelukan mereka dari ambang pintu berdirilah Sienna disana. Ia sudah cukup rapi dengan seragam sekolahnya.
"Mommy!" Panggil Sienna dari ambang pintu.
Prince dan Bella beralih ke arah pintu lalu tersenyum ke arahnya.
"Sienna, kemarilah!" Ucap Bella.
Sienna berlari kecil menghampiri Bella. Ketika tepat berada di hadapannya Sienna pun memeluknya penuh kasih.
"Aku berangkat dulu Mommy, Daddy sudah menungguku di mobil!" Ucap Sienna di akhiri dengan satu kecupan di wajah Bella.
"Apakah kau tidak ingin memelukku juga adik?" Tanya Prince padanya.
Sienna tersenyum mendengar itu. Lantas ia pun berbalik ke arah kakaknya dan memeluknya.
"Kakak Prince cepat sembuh ya! Aku yakin Percy dan Petra pasti sangat merindukan dirimu. Aku berangkat ke sekolah dulu. Nanti ketika pulang aku janji akan bermain disini bersamamu." Ucap Sienna pada Prince.
"Baiklah, akan ku tunggu kau pulang! Sudah pergilah, Daddy pasti jenuh menunggumu di bawah!" Lirih Prince.
Sienna melepaskan pelukannya lalu melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Bella dan Prince di kamar. Prince dan Bella tersenyum menatap kepergian Sienna.
__ADS_1