
...Segala sesuatu memiliki kesudahan, yang sudah berakhir biarlah berlalu...
...Dan yakinlah semua akan baik-baik saja...
_______
.
.
Didapurnya malam ini Bella sedang memasak sesuatu, beberapa rempah-rempah ia masukan kedalam masakannya. Netranya sesekali melirik ponsel yang ia letakan tak jauh dari sana, ponsel itu berisi instruksi memasak. Memang dirinya belum lihai layaknya seorang koki, namun sudah seharusnya ia belajar ditambah statusnya saat ini adalah sebagai seorang istri. Beberapa pelayan perempuan di belakangnya memperhatikannya, Nyonya besar sekaligus Tuan Rumah, istri dari penguasaan terbesar ketiga di Perancis.
Tak jarang para pelayannya menawarkan bantuan padanya, namun Bella menolaknya. Bella ingin ketika Brian pulang nanti, makanan yang dicicipinya adalah buatannya sendiri. Karyanya sendiri, Bella ingin lihat penilaian semacam apakah yang akan Brian lontarkan perihal makanannya nanti.
Disini masih ada Stevan, sengaja memang ia menginap disini untuk beberapa waktu. Sebenarnya Brian keberatan dengan itu, karena kedatangan asik Bella selalu membuatnya naik pitam saat bertatap muka. Brian sempat menawarkan beberapa rumah juga apartemen miliknya yang tidak ia tinggali, namun Stevan tetap kukuh dengan pilihannya. Ia ingin tinggal serumah untuk seminggu bersama kakaknya.
"Emmm... cukup lezat!"
Bella mencicipi sedikit hasil masakannya itu, beberapa pelayan dibelakangnya tersenyum mendengarnya.
"Aromanya harum sekali nyonya!"
Tambah pelayannya, pujian itu membuat senyum Bella semakin merekah. Bella mengambil tiga mangkuk di rak piringnya. Menuangkan supnya ke tiga mangkuk itu.
"Kalian boleh mencicipinya, sengaja kubuat porsi banyak!"
Ujar Bella seraya memberikan magkuk berisi sup itu pada para pelayannya. Mereka menerima itu dengan senyuman, seraya mengucapkan terima kasih.
"Selamat menikmati hidangan dari Bella! Semoga kalian suka!"
Ujar Bella, para pelayan itu mengangguk berpamit menuju ruang makan. Lihatlah layaknya seorang Ibu dengan tiga anak rasanya.
Terlihat dari ambang pintu Stevan berjalan ke arah Bella, namun ia mendekati lemari es membukanya. Matanya terbelalak tatkala tak menemukan sebotol susu coklat kesayangannya.
"Kakak!"
Pekiknya seraya masih menatap isi lemari es yang hanya terdapat Buah segar, salad juga beberapa rempah-rempah.
"Iya Stevan?"
Bella bertanya sambil netranya masih fokus pada masakannya. Stevan menunjuk ke arah lemari es, netranya beralih ke arah Bella kali ini, disana Bella juga menatapnya.
"Kemana susu coklat kesayangan yang kubeli tadi?"
Stevan bertanya layaknya seorang anak kecil pada Bella. Namun Bella mengingat sesuatu, sebelum Brian pergi untuk mengambil sesuatu dikantor tadi tangannya mengotak-atik isi lemari es kala itu, apakah dia yang mengambilnya.
"Emhh... aku tak tau? Kau letakkan dimana tadi?"
Bella berpura-pura menutupi kelakuan suaminya itu, jika Stevan tau Brian lah yang mengambilnya akan terjadi perang besar nanti. Malas rasanya rungunya mendengar segala ocehan mereka sungguh.
"Bagaimana kau tidak tau kakak? Kau berada didapur sejak tadi."
"Aku tak tau Stevan, barangkali kau lupa meletakkannya. Coba kau periksa dimobilmu, atau dikamarmu."
Jelas Bella, rasanya seperti sedang memarahi seorang anak kecil. Bella mematikan kompornya lalu beralih ke arah Stevan.
"Mari ku bantu!"
Dalih Bella seraya bergegas pergi mencari apa yang Stevan cari. Bella sedikit mengendap-endap ke kamarnya kali ini, disana ia meraih ponselnya mencoba menghubungi Brian.
Tuttttttttt
Tutttttttt
__ADS_1
Panggilan miliknya sama sekali tak terjawab, Bella mencoba menelponnya lagi, kali ini telpon itu tersambung sudah.
"Hallo?"
"Ya Sayang, ada apa? Mengapa kau menelfonku?"
"Hun, kau pagi tadi mengambil susu coklat milik Stevan kan?"
"Hahahaha... iyaaa, kenapa?"
"Hunny, dia itu sangat menyukai susu. Jika kau mengambilnya tadi, nanti jika kau pulang belikan."
"Apa dia mencarinya?"
"Tentu saja!"
"Baiklah-baiklah karena aku tak ingin perdebatan konyol dengannya aku akan membelikannya nanti."
"Berkas apa yang akan kau ambil disana? Pulang jam berapa?"
"Aku tidak bisa memastikan pulang kapan dan jam berapa itu. Yang jelas, mungkin setelah ini selesai aku akan pulang*."
Bella kesal mendengar itu, jawaban semacam apa itu, berbelit-belit sekali. Bella mendengus kesal, membuang kasar nafasnya.
"Apa kau memasak sesuatu?"
"Iya, aku memasak."
"Kau memasak apa? Aku ingin Wagyu!"
"Ah tidak hun, kau terlalu banyak makan daging. Aku benci pria gemuk, kau ingat itu."
Sambil mengatakan itu Bella membayangkan jika Brian kelak berubah menjadi sebesar sumo, suaminya itu sangat menyukai daging Wagyu. Biasanya jika Bella membuat itu, Brian akan sangat lahap memakannya sedang dirinya hanya menatapnya memperhatikannya, sembari memakan salad buah miliknya.
"Setelah aku keluar dari Alcatraz, aku bahkan belum kau masakan Wagyu."
"Hahahaha baiklah, aku tidak akan merengek perihal daging lagi. Kau ingin dibawakan apa?"
"Bawalah dirimu pulang, itu sudah cukup untukku!"
"Oh jadi kau menggodaku ya? Oke sayang, aku akan pulang. Kupastikan kau tidak akan tidur malam ini."
"Mesumnya! Sudahlah, ku tutup dulu."
Tutttttt
Bunyi itu mengakhiri percakapan mereka, Bella melirik jam yang berada tepat diatas meja kecil dekat ranjangnya, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Kakak!"
Pekik Stevan dari balik tubuh Bella. Terkejut sontak Bella pun membalikkan badannya menatap tepat ke arah Stevan.
"Ada apa lagi Steve?"
Stevan dengan raut wajah penuh kekecewaan menghampiri kakaknya itu.
"Tidak ketemu!"
Lihatlah, Pria ini merengek lagi seperti seorang Bayi. Bella menepuk-nepuk wajah adiknya itu dengan kedua tangannya, lalu mencubit gemas kedua pipi itu.
"Hei kau ini apa-apaan?"
Protes Stevan tak terima diperlakukan layaknya anak kecil. Bella tertawa sembari masih bermain dengan wajah adiknya, tak lama ia menghentikan tingkahnya menyentuh kedua bahu Stevan.
__ADS_1
"Kau akan dapatkan itu besok ya, sekarang lebih baik kau tidur."
Ujar Bella bergegas meninggalkan Stevan. Rasanya tak ada pilihan lain sekarang, rutinitasnya biasanya sebelum terlelap Stevan akan meneguk segelas susu. Namun jika hari ini tak ada, dengan sangat terpaksa Stevan pun pergi ke kamarnya, membaringkan tubuhnya disana beberapa menit kemudian ia terlelap.
Pukul setengah sepuluh malam Bella menyiapkan makananya dimeja. Menu hari ini adalah sebuah sup iga, dengan Kentucky dan nasi. Bella sedang mencoba makanan-makanan Asia itu untuk disuguhkan pada suaminya, seperti biasa setelah piring-piring itu tertata rapi Bella memotretnya. Terlalu terlarut atas kegiatannya, dari balik tubuhnya Brian rupanya memperhatikannya sejak tadi. Ada dua es bungkus es krim ditangannya, baru saja ia membelinya dekat dengan tempat mereka tinggal.
Syuthhhh
Bella terkejut melihat satu bungkus es krim beserta tangan manusia terpampang jelas didepannya. Ketika tangan lain berada di perutnya, punggungnya menabrak tubuh seseorang dibelakangnya itu, pukulan kecil dari dagu seseorang itu membuat Bella sadar, manusia ini Brian.
"Kubawakan es krim vanilla kesukaanmu."
Lirih Brian sambil sesekali mengecup lembut wajah Bella. Bella menerimanya, lalu tangan kekar yang memberinya es krim itu juga berada diperutnya, melingkar memeluknya.
"Hanya satu?"
Tanya Bella, Brian menggeleng.
"Ada dua!"
Ujar Brian, Bella membalikan tubuhnya lalu tersenyum sangat manis pada suaminya itu.
"Untukku semuanya?"
Brian mengangguk, Bella memang sangat menyukai es krim rasa vanilla.
"Ya tentu, namun tidak untuk dimakan keduanya malam ini!"
Mendengar itu Bella tertawa, tak lama ia mengangguk.
"Hunny, aku sudah menyiapkan semuanya. Mari makan!"
Ujar Bella seraya menarik pergelangan suaminya itu, menuntunnya tepat ke arah meja maka. Brian tersenyum melihat hasil masakan itu. Bella duduk disebelahnya, mengambil satu piring kosong lalu memberinya nasi diatasnya, meraih lauk pauk lalu meletakkannya di atas nasi.
"Selamat makan Hunny!" Ujar Bella.
"Kau tak makan?"
Tanya Brian padanya, namun Bella mengangguk. Tangannya membuka bungkus es krim itu lalu memakannya.
"Ini sudah terhitung makan bukan?"
Jawab Bella sambil menikmati es krimnya, Brian tersenyum ia pun memakan makanannya. Beberapa menit kemudian, Brian memperhatikan Bella yang asyik menikmati es krim itu. Tak tahan rasanya melihat itu, bibir itu, astaga sungguh rasanya ingin ia cap sebagai miliknya saja.
"Bella?"
Ucap Brian berhenti makan, makanan miliknya tinggal sedikit. Bella menoleh ke arahnya, dengan es krim yang masih ada didalam mulutnya.
"Aku mau!"
Bella menaikkan satu alisnya, ia beranjak dari duduknya hendak menghampiri lemari es mengambil es krim disana.
Greppppp
Brian menahan pergelangan tangan itu, sehingga Bella kembali duduk saat ini. Jari telunjuk Brian menunjuk tepat ke arah es krim yang dipegangnya.
"Itu saja, berdua!"
Ujar Brian, merasa tak keberatan Bella pun menyodorkan es krim miliknya ke arah Brian. Dengan senang hati Brian menikmati es krim itu, sebelum es krim itu ia cicipi. Tangan Bella yang memegang es krim itu ia jauhkan sedikit, lalu kepalanya beralih mendekati wajah Bella.
Cupppp
Satu ciuman lembut malam ini tercipta, Bella memejamkan matanya tatkala merasakan Brian yang menciumnya. Rupanya ini hanya siasat saja, dasar. Merasa tak keberatan atas perilaku itu, Bella pun membiarkannya.
__ADS_1
...Setiap detik sangatlah berharga karena waktu mengetahui banyak hal, termasuk rahasia hati...
...Jalan yang sulit sering kali mengarah ke tujuan yang indah...