
...**Aku akan berusaha menjaga hatimu juga kepercayaanmu padaku...
...Sebab kau adalah salah satu degup jantungku yang paling indah** ...
_________
"Sayang, aku berangkat dulu ya! Kau hati-hati dirumah, jaga dirimu dengan baik selagi aku pergi. Aku mencintaimu!"
Ucapan pamit di akhiri dengan kecupan lembut di keningnya selalu Brian berikan tiap kali dirinya akan pergi bekerja. Usai acara sarapan Bella pasti akan mengantar suaminya itu kedepan sebelum pergi bekerja. Ini adalah ritual rutinitas wajib bagi mereka.
"Iya Hun, Aku juga mencintaimu." Jawab Bella seraya mencium lembut pipi Brian.
Beberapa pelayan mereka yang sedang sibuk bekerja, tak jarang curi-curi pandang memperhatikan kemesraan Tuan dan Nyonya mereka.
Terkadang mereka iri pada kehidupan ke duanya yang sempurna. Bergelimang harta, sekalipun reputasi Brian kala itu sempat turun, sebab persidangan menyatakan tidak akan membersihkan namanya. Namun harmonisnya keluarga kecil ini, pasti akan membuat kalian juga bahagia ketika melihatnya.
"Tuan sangat mencintai Nyonya ya!" Salah satu pegawai berbisik dengan rekannya yang lain, sebut saja nanya Leo.
"Benar, hampir tiap hari kita melihat keharmonisan mereka! Aku harap hubungan mereka akan bertahan lama." Sahut salah seorang pegawai disampingnya, sebut saja Verrel.
"Kisah cinta mereka pilu dan pahit! Namun pada akhirnya jika berjodoh, sesuatu yang menjadi milik Ita pasti akan kembali juga pada kita." Ucap Leo.
"Benar sekali, sekalipun Jepang dan Amerika menolak Tuan untuk sekedar berkunjung. Namun Ketika Nyonya meminta berkunjung ke Jepang, untuk sekedar menemui makam Ayahnya. Tuan, memberikan fasilitas VIP berupa pesawat pribadi. Tiga puluh bodyguard pengawas, juga beberapa penembak jitu yang berjaga di gedung apabila sesuatu terjadi pada Nyonya."
"Kapan kita bisa sekaya Tuan ya?" Pertanyaan Leo sejenak membuat Verrel tertawa.
Kegilaan macam apa yang ia lontarkan. Brian beserta dengan Eddie saudaranya adalah Miliyarder ketiga kota Paris.
"Mungkin kau bisa meminta itu nanti di akhirat? Tuhan pasti akan mengabulkannya, apalagi jika doa itu terpanjang dari seorang pria malang!"
"Tak apalah, dimanapun itu sekali saja aku ingin merasakan kemewahan yang Tuan dan Nyonyaku rasakan."
"Bekerja dengan mereka sebebas ini saja sudah cukup bahagia. Sungguh makmur menjadi salah satu pegawai mereka!"
"Benar!"
Jawaban itu mengakhiri percakapan mereka. Pada akhirnya keduanya pun sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Bella berjalan masuk dari arah depan, ia memilih duduk di sofanya saat ini.
Karena ia bosan, Brian sama sekali tak memperbolehkannya keluar rumah atas alasan apapun. Bella memilih duduk bersandar disana sambil menonton siaran TV, mungkin hiburan film cocok untuknya pagi ini.
"Nyonya, apa kau ingin dibuatkan Teh?" Tanya Leo pada Bella.
"Hmmm... mungkin segelas coklat panas boleh, Leo!" Jawab Bella pelan sambil mendongakkan kepalanya.
"Baik nyonya, segelas coklat panas akan datang beberapa menit lagi." Leo menjawab itu sambil berjalan ke arah dapur.
Bella kembali menatap ke arah layar TV, disana bayangan akan Reiner tiba-tiba muncul. Entah mengapa Bella merasa bersalah karena sudah menuduhnya.
Mungkin akan baik apabila ia mengirimkan permintaan maaf lewat surel. Namun, darimana ia akan mendapatkan alamat surel Reiner. Dia saja waktu itu langsung pergi meninggalkannya.
Pemuda itu sudah sangat baik padanya. Menyebutnya hangat dan ramah masuk kedalam toko bukunya. Namun Bella, pergi tanpa penjelasan apapun dari hadapan Reiner.
Meninggalkan ragam pertanyaan menetap dalam kepala pemuda itu. Sungguh Bella merasa tak enak hati pada Reiner saat ini. Jika tak ada hal yang Bella lakukan sekarang, mungkin perasaan ini akan menghantuinya sepanjang pagi dan malam.
"Rasanya mungkin aku akan gila tertimbun rasa bersalah ini. Keluar pun, para bodyguard juga akan mencegahku."
Bella mencoba berpikir bagaimana caranya membawa penyesalan ini pada Reiner disana. Seandainya ia memiliki kemampuan teleportasi mungkin itu akan mempermudahnya datang kesana, menemui Reiner.
Mungkin ia akan mampir sebentar lalu mengatakan isi permintaan maafnya. Hanya sebentar, lalu pergi dari sana. Bella adalah tipe manusia yang tak pernah menyakiti hati manusia lain. Wanita ini terlalu baik memang.
__ADS_1
Terkadang sifatnya yang baik juga lugu ini membuat Brian geram, sebab ia tak ingin jika diluar Bella bersikap semacam ini. Akan ada banyak jiwa negatif datang memanfaatkan kebaikan ini.
Tinggg
****Tonggg****
Suara bel dari pintu masuk membuyarkan lamunannya. Bella yang duduk di sofa menatap lekat ke arah pintu masuk. Siapakah tamu yang datang sepagi ini ke rumahnya. Apakah itu penyetok buah-buahan miliknya. Ataukah penyetok anggur milik Brian dibawah tanah.
Sejenak Bella meletakkan remotenya diatas meja. Lalu tubuhnya berjalan ke arah pintu masuk, ketika kedua tangannya membuka pintu itu ia dibuat terkejut atas siapakah yang datang bertamu ke kediamannya.
"Reiner?!" Ya, Pria yang datang sepagi ini kerumahnya adalah Reiner.
"Hai Nona Bella, aku berkunjung sebab aku khawatir padamu! Kau jarang mendatangi toko ku akhir-akhir ini." Jelas Reiner tersenyum.
"Iya, maafkan aku! Aku sudah tidak bisa sebebas dulu saat ini. Apa kau ingin masuk?" Tanya Bella padanya.
"Tentu saja nona, kubawakan beberapa buku yang baru saja cetak. Ini perdana untukmu!"
Senang sekali rasanya mendengar ucapan Reiner. Disana Bella mulai menuntunnya masuk ke dalam. Mereka berdua duduk di ruang tamu.
"Apa yang membuatmu duduk manis didalam rumah ini Nona? Apakah kau tak jenuh?"
Pertanyaan dari Reiner membuat Bella menghela nafas. Tentu saja ia jenuh, namun mau bagaimana lagi. Suaminya adalah makhluk paling protektif dan posesif apabila menyangkut dirinya.
"Priaku bilang padaku, aku harus tetap dirumah. Sebab aku sedang mengandung saat ini!"
Deggggg
Jawaban dari nada ramah itu seketika melukai hati Reiner. Bella mengandung benih dari mafia itu sekarang. Rasanya Reiner tak terima sungguh. Namun ini adalah awal rencananya membawa Bella keluar dari dalam kehidupan berkandang ini.
"Wah kau mengandung Nona?" Tanya Reiner tak percaya, ia berusaha menutupi lara hatinya akibat kabar yang Bella katakan. Terlihat disana Bella mengangguk cepat.
"Rasanya aku pun juga sangat senang mendengar hal ini langsung darimu, secara perdana. Katakan, apakah kau ingin anak laki-laki atau perempuan?"
Pertanyaan itu sejenak membuat Bella berpikir. Itu adalah pertanyaan yang sulit untuknya, keduanya sama-sama menggemaskan. Mungkin, Bella akan berharap bahwa anaknya ini kelak kembar saja.
"Bagaimana menjelaskannya? Yang mana saja lucu juga menggemaskan. Mungkin, aku berharap anak kami kembar saja!"
Ditengah percakapan mereka Leo dengan segelas coklat panas diatas nampannya berjalan mendekati keduanya. Leo menyipitkan matanya sebelum sampai kesana, seorang Pria didalam rumah Tuannya.
Pria itupun juga asik bercengkrama dengan Nyonya nya. Siapa dia yang berani datang ke kandang seorang singa. Apakah dia tidak tau bahwasannya Tuan mereka sangat posesif.
"Nyonya, segelas coklat panas sesuai pesanan anda!" Ucap Leo sambil meletakkan secangkir kopi panas itu di atas meja, tepat dihadapan Bella.
"Terima kasih Leo, bisa tolong buatkan satu cangkir lagi. Untuknya!"
Bella berucap sambil tersenyum ke arah Leo. Sejenak Leo menatap heran ke arah Reiner, Bella yang paham apa maksud dari tatapan itu pun tersenyum.
"Dia temanku, dan kami bertemu di toko buku saat itu. Brian mengenalnya, jadi kau tidak perlu khawatir perihal suamiku akan marah atau tidak." Jawab Bella.
Penjelasan itu membuat Leo sedikit lega. Pria itu mengangguk lalu pergi dari sana menuju dapur, kembali membuatkan apa yang Bella minta disana.
Sedang Bella dan Reiner kembali saling menatap satu sama lain. Mereka bercengkrama membahas segala topik yang datang dari dalam kepalanya. Tak ada henti-hentinya mereka bercengkrama.
Sejujurnya Bella sangat terhibur disini. Kedatangan Reiner sedikit mengusir jenuh yang hinggap dalam tubuhnya. Tawa dan segala topik pembicaraan ini adalah candu, yang tak pernah membosankan untuknya.
Mereka berdua satu frekuensi mengenai literasi, dunia kepenulisan. Sebab itulah yang membuat obrolan mereka bahkan tak kunjung menemui titik usainya. Sambil menikmati secangkir coklat panas hari ini, lambungan kalimat-kalimat terbuai gemanya menemani satu sama lain saling bersaut-sautan.
______
__ADS_1
Menurut Nami hari ini tugas Tasya adalah mengajak Brian berkencan. Atau sekedar membawanya masuk kedalam sebuah klub, membuatnya mabuk berat disana.
Itu adalah satu tantangan yang cukup berat bagi seorang Tasya. Namun demi cintanya pada Brian, obsesinya membuatnya mampu dan mau melakukan seluruh rencana itu.
Saat ini Tasya dengan berkas ditangannya sedang berjalan menuju ruangan Brian. Ruangan itu masih tertutup disana, ketika dirinya tiba didepan ruangan itu kedua tangannya mulai membuka pintu itu.
"Tuan Brian!"
Sapa Tasya diambang pintu. Brian masih sibuk dengan layar laptopnya, ia hanya mendapatkan satu jawaban singkat berupa deheman.
"Ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani disini!"
Ujar Tasya lagi, namun lagi-lagi Brian sama sekali tak bersuara bahkan menatapnya. Pria itu hanya menunjuk ke arah mejanya yang lain, seakan mengisyaratkan agar Tasya menaruhnya di atas sana. Cukup, muak rasanya diperlakukan seperti ini.
"Tuan, berkas ini harus di tanda tangani saat ini juga!"
Ucap Tasya tegas, kali ini berhasil. Brian menatapnya lalu mengangguk.
"Silahkan duduk!"
Ucap Brian padanya, Tasya mengangguk ia berjalan ke arah kursi yang berada tepat berhadapan dengan Brian disana. Tasya memakai kemejanya sedikit terbuka di area dada, ia sengaja memang melakukan itu.
Brian adalah Pria normal, tentu saja hal itu menarik perhatiannya. Ditambah mereka berdua berada di ruangan tertutup hanya berdua.
"Jadi, apa itu?" Tanya Brian pada Tasya.
"Ini beberapa berkas perihal cabang baru usaha kuliner yang harus mendapatkan tanda tanganmu. Karena mereka akan bergerak, apabila tanda tanganmu ada disitu."
Tasya berucap sambil menyerahkan berkas-berkas itu diatas meja. Brian menarik salah satu berkas itu membacanya. Merasa tak ada yang aneh dan itu isinya benar. Brian pun menandatanganinya, lalu kembali menyerahkan berkas itu pada Tasya.
"Terima kasih Tuan, apakah anda bisa menemaniku malam ini? Mobilku sedang ada di bengkel, kumohon bantulah aku!" Ucap Tasya sembari mengambil kembali berkas yang Brian serahkan.
"Kemana?" Tanya Brian.
"Tolong antar aku pulang Tuan! Bolehkah aku menumpang satu mobil bersamamu?"
"Aku aka menyuruh Themo mengantarmu!"
"Bukankah kita satu arah? Lantas mengapa anda tak ingin mengantarku."
"Istriku sedang mengandung, aku harus pulang lebih awal untuk itu. Wanita hamil itu prioritas utama bukan? Suami macam apa aku jika tak menemani istriku tidur malam ini."
Penjelasan itu di tuturkan dengan intonasi yang dingin. Sepertinya Brian sengaja melakukan hal itu pada Tasya. Sebab ia ingin Tasya menjauhinya, ia ingin Tasya bersikap sewajarnya saja padanya.
Namun bukan Tasya namanya jika menyerah begitu saja. Tasya berdiri dari duduknya sambil tersenyum ke arah Brian.
"Baiklah Tuan, aku akan pulang bersama salah satu anak buah mu! Terima kasih atas bantuan anda!"
Ucap Tasya sembari masih tersenyum. Ia berjalan menjauh dari tempat Brian berada, keluar dari dalam ruangan itu.
Brian menatap aneh ke arah Tasya yang pergi, rasanya apa yang ia lakukan ini berhasil. Mungkin setelah ini Tasya tak akan pernah mendekatinya lagi.
Namun ada sesuatu dalam kepala Tasya saat ini. Sesuatu yang akan membuat dirinya nanti pulang bersama dengan Brian.
Tasya yakin sekalipun Brian disana berusaha melindungi hati istrinya. Namun, dengan tekad penuh Tasya akan berusaha meluluhkan kesetiaan itu. Jika tak mampu, maka Tasya akan menghancurkan hubungan keduanya.
...Aku tidak hilang, kamu tidak hilang...
...Kita hanya sedang tertimbun oleh ego kita masing-masing ...
__ADS_1