Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Satu Hal Lagi


__ADS_3

...Yakinlah bahwa setiap perbuatan akan kembali kepada diri kita masing-masing...


...Untuk itu, fokuslah berpikir baik, berbuat baik, dan berhati baik...


______


Tasya POV


Berani sekali orang-orang itu mencampakkanku. Kalian pikir, kalian mampu mengalahkan seorang Tasya disini. Apa yang menjadi milikku, apapun yang ku inginkan akan tercapai.


Tidak peduli bagaimana pun caranya itu. Akan kulakukan apapun demi mencapai tujuanku. Sebab keberhasilan harus selalu ada dalam hidupku.


Aku tidak biasa menerima penolakan. Akan ku buat Bella menderita sungguh. Aku sengaja datang kerumah mereka hari ini. Berbekal kartu VIP milik Kaneki Corps aku di ijinkan masuk kemari.


"Maaf nona, anda siapa? Dan bagaimana penjaga didepan memberimu akses masuk ke rumah ini?"


Salah seorang bodyguard datang menghampiriku. Kakiku sudah berpijak tepat dihalaman rumah besar ini. Ini adalah kediaman Bella dan Brian.


Pertanyaan darinya membuatku menurunkan sedikit kacamataku. Aku menatapnya dari bawah hingga atas. Berani sekali bodyguard ini menghentikanku, apa dia tidak tau siapa aku disini.


"Bukankah aku diperbolehkan masuk dengan ini?"


Sebuah kartu VIP kutunjukkan padanya, seketika bodyguard itu langsung menunduk. Kartu ini mengakses segala pelayanan dari Kaneki Corps. Mereka yang memilikinya akan diberikan pelayanan penuh dari tiap usaha, ataupun jasa yang di naungi Kaneki Corps.


Bodyguard itu pasti tau itu, bahwa hanya mereka yang Brian kehendaki lah yang mampu memiliki kartu ini. Aku tersenyum melihat kepala itu menunduk padaku, memang harusnya seperti itu sejak awal.


"Tapi Nona, aku belum pernah melihatmu sama sekali! Tuan, juga tidak pernah membawamu kemari."


Lagi-lagi bodyguard itu bersuara. Aku berseringai mendengar apa yang ia katakan. Kaki ku melangkah lebih dekat ke arahnya, lalu menepuk bahunya pelan.


"Apa kau tau, aku ini istri keduanya Tuanmu. Datang kemari dan menatap adalah hakku! Dia sudah memberiku benihnya, dan sekarang rumah ini juga adalah kepunyaanku."


Bodyguard itu seketika membulatkan matanya ke arahku. Yakinku, ia pasti tak mempercayai apa yang baru saja ku katakan.


"Ada apa? Kau terkejut?" Tanyaku padanya.


Bodyguard itu hanya diam. Ku teruskan langkahku masuk kedalam kediaman Brian. Terlihat disana para pegawainya menatapku, namun tak ada satupun suara yang berani menanyaiku lagi.


Diam mereka menyimpan jutaan pertanyaan, aku yakin itu. Tapi aku tak peduli, Brian sudah menghilang selama seminggu ini. Aku yakin, jika memang ia kembali maka ia akan kembali ke rumah ini.


"Dimana kamar milik Brian berada?"

__ADS_1


Aku bertanya sambil mendudukkan tubuhku di atas sofa. Para pegawai itu hanya menatapku, apakah mereka tuli mengapa tak ada jawaban atas pertanyaanku itu.


"Hei, aku sedang bertanya pada kalian!" Ucapku lagi setengah berteriak.


"Kami tidak bisa menunjukkan itu, maaf!" Jawab salah seorang pegawai.


"Hahaha... berani sekali kau bicara semacam itu padaku, lihat ini! Kartu ini dari Brian, dan aku adalah istri keduanya!"


Ucapku, mereka hanya menunduk sambil mengepalkan tangannya. Aku yakin para pegawai disini pasti sangat menyayangi Bella. Terlihat dari raut wajah mereka yang nampak menahan kebencian padaku.


Mereka hanya seorang pegawai, berani sekali menunjukkan raut wajah ini padaku. Ku rasa satu pelajaran untuk mereka cukup.


"Berani sekali kau menolak perintahku!"


Settttt


Sebuah tangan kekar menghentikan tanganku yang hendak memberi salah satu pegawai itu pelajaran. Ketika aku memutar bola mataku, terlihat dihadapanku saat ini Brian berdiri.


"Mengapa kau kemari?"


Intonasi suara itu terdengar menyimpan banyak amarah. Namun sungguh aku tak peduli itu, lagi pula dengan aku mengandung anaknya tandanya aku juga berhak atas segala kekayaannya, juga dirinya tentunya.


"Wah Sayang, kau kembali?"


"Hallo Tasya!" Sapanya sambil tersenyum ke arahku.


"Mengapa kau menghalangiku? Bukankah kau sudah meninggalkannya? Lagi pula dia juga suamiku saat ini!" Ucapku padanya.


Namun disana Bella hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Ada apa kau kemari? Apa kau ingin minum sesuatu?"


Bella kembali melempar pertanyaan ramah padaku dan aku muak sekali melihatnya sungguh.


"Memangnya aku tidak boleh kemari?" Tanyaku padanya.


"Rumah ku terbuka untuk siapapun, termasuk dirimu. Tetapi katakan, apa yang kau inginkan sekarang?"


Aku melipat kedua tanganku lalu menatapnya tajam.


"Aku akan tinggal disini! Bukankah pewarisnya juga ada pada tubuhku?" Ucapku padanya.

__ADS_1


Biarlah wanita ini sakit hati dan menangis. Brian dibalik tubuhnya terlihat tak senang ketika aku mengutarakan perihal inginku.


"Oh begitu ya! Baiklah kau akan tinggal disini! Ada banyak kamar, tapi jangan masuk ke kamar kami ya!"


Bella berucap sambil masih tersenyum ke arahku. Ada apa dengan wanita ini, mengapa ia sama sekali tak marah.


Bella berjalan mendekati Brian disana, lalu bergelayut manja diantara lengan kekarnya. Mataku memanas rasanya melihat apa yang ada dihadapanku sekarang.


"Aku bisa mengusirmu semauku!" Ujar Brian padaku.


"Jangan sayang, biarkan saja! Dia mungkin memliki kuasa atas materi juga uangmu. Tapi untuk memilikimu, itu tidak akan mungkin."


Bella berucap sambil menatap ke arahku, akhir dari ucapannya ia menarik dasi Brian lalu menciumnya lembut di depanku.


Adegan panas di hadapanku itu membuatku muak rasanya. Andai saja Brian tidak ada disini, mungkin sudah kubunuh wanita ini.


"Hunny, kau masuk saja dulu ke kamar. Aku akan menyusulmu!" Ucapnya sambil mendorong kecil tubuh Brian untuk menjauh.


"Tapi dia?" Brian menunjuk ke arahku.


"Dia tamu kita, aku akan melayaninya disini."


Brian patuh pada apa yang Bella katakan. Pria itu hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan aku dan Bella disini. Kami saling berdiri berhadapan saat ini.


Dia masih dengan sunggingan senyumnya. Dan aku, masih dengan tatapan datarku padanya.


"Tasya, mungkin saat ketika kau menjebaknya. Aku sama sekali tak mampu melawanmu, sebab aku adalah anak seorang detektif. Aku hanya akan melawan apabila ada bukti yang memberatkan dirimu! Tinggallah semaumu disini, tapi jangan pernah sentuh suamiku!"


Bella berseringai ketika mengucapkan itu. Bukti apa yang ia maksud saat ini. Sejenak aku kembali diingatkan pada Reiner dan Nami, apakah mereka tertangkap.


"Aku akan merawat bayimu! Atau kau mungkin akan merawatnya sendiri, dengan limpahan kekayaan yang akan kami berikan untukmu. Pergilah dengan anakmu, lalu bawa tiga puluh persen kekayaan kami. Atau biarkan anakmu disini, dan pergilah tinggalkan keluarga kami setelah bayi itu lahir."


Tawaran semacam itu darinya sungguh tak akan pernah ku ambil. Brian itu milikku, sampai kapanpun pria itu akan menjadi milikku.


"Inginku hanya suamimu!" Ucapku padanya.


"Kau cantik Tasya, kau berpendidikan tinggi! Tapi kau, terlalu bodoh. Apa yang melandamu saat ini adalah obsesi, bukan cinta."


Bella pergi setelah mengatakan itu padaku. Beberapa pegawai yang sempat menatap kami pun ikut pergi. Saat ini, aku akan berusaha memisahkan mereka kembali.


Tidak akan kubiarkan, Bella memiliki Brian lagi. Susah payah aku memisahkan mereka. Selama aku disini, tidak akan ada penyatuan yang terjadi di antara keduanya.

__ADS_1


...Kebahagiaan hidupmu tergantung dari seberapa besar positif pikiranmu...


__ADS_2