Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Pagi di Rumah Pinggir Pantai


__ADS_3

...Hanya ada satu kebahagiaan dalam hidup ini...


...mencintai dan dicintai...


...Bukan seberapa banyak yang kita miliki...


...tetapi seberapa banyak yang kita nikmati...


...Itulah yang membuat kebahagiaan...


Malas rasanya bangun sepagi ini bagi Bella, jika bukan karena dering ponselnya sungguh dia tidak akan bangun. Bella menguap malas di dapurnya sejenak ia mulai mengumpulkan nyawanya yang masih belum utuh. Ini masih sangat pagi pukul 03.00 pagi. Tangannya mulai mengambil beberapa peralatan masak, beserta dengan bahan yang ingin ia masak di kulkas. Tangannya mulai terampil mengolah beberapa bahan di depannya tak jarang sesekali ia menguap.


Beberapa menit lalu ia di bangunkan dengan dering di ponselnya, ketika ia meraih ponsel itu rupanya itu panggilan dari Brian. Ia bilang akan mengunjunginya pagi sekali Bella paham jam berapakah Prianya akan sampai kemari.


Saat ini dirinya sedang berada di salah satu rumah mewah milik Brian dan Eddie. Dua Tuan Besar Kaneki Corps memiliki setidaknya dua puluh rumah mewah di Perancis, sayangnya rumah-rumah itu jarang mereka kunjungi. Hanya jika mereka ingin saja, maka mereka akan mengunjunginya. Satu Minggu setelah kejadian penculikannya, Brian memberikan Bella sebuah galeri foto.


Ketika ia membukanya ia terpukau dengan berbagai macam rumah mewah yang elegan, dari sana Brian menyuruh kekasihnya itu memilih rumah manakah yang ia sukai. Dan disinilah Bella sekarang rumah mewah tiga lantai, dengan sepuluh pembantu yang siap melayaninya. Sungguh Brian sangat memanjakan wanitanya ini, baginya kebahagiaan Bella adalah yang utama.


Seorang wanita paru baya dengan pakaian pelayan berjalan menghampiri Bella dari arah belakang.


"Nyonya, anda sedang apa?" Tanya Pelayan itu, sontak Bella menoleh sekilas ke arahnya lalu kembali fokus pada masakannya.


"Aku sedang memasak Steak, Brian akan kemari sebentar lagi. Boleh tolong bersihkan meja makannya?"Ujar Bella.


"Nyonya, kau bisa menyuruh kami untuk hal ini. Anda cukup memintanya saja maka kami akan mengerjakannya." Bella tersenyum mendengar itu, tangannya mengambil sepiring daging Wagyu yang sudah ia bersihkan, lalu memanggangnya.


"Anda tenang saja, kekasih ku itu tidak akan berprotes apapun padamu. Memang ini tugasmu, tapi aku ingin dia memasak masakanku pagi ini. Bukankah dia adalah calon suamiku?" Jelas Bella, Pelayan itu tersenyum mendengar itu. Sungguh pasangan yang ideal sekali dimatanya.


"Baiklah Nyonya, Saya akan membersihkan meja makan." Pamit pelayan itu, Bella hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi itu.


Drttttttt


Drtttttt


Bunyi dari dering ponselnya itu membuatnya berhenti sejenak, tangannya yang lain mulai merogoh sakunya mengambil ponsel itu dari sana. Sebuah panggilan lagi, tentu saja panggilan itu dari Brian-nya.


"Nyonyaku, kau sedang apa?" Ucap Brian di seberang sana mengawali pembicaraan.


"Aku sedang memasak."


"Kau memasak?"

__ADS_1


"Iya hun.."


"Kau sedang memasak apa?"


"Steak Wagyu kesukaanmu."


"Terima kasih, kebetulan aku lapar sekali."


"Kau akan kemari jam berapa?"


"Mungkin sekitar setengah jam lagi aku sampai. Banyak orderan yang harus di selesaikan disini Sayang."


"Baguslah, kekayaanmu akan semakin bertambah dengan begitu." Ujar Bella seraya tertawa.


"Harusnya kau merasa beruntung ya!"


"Hah?"


"Iya, karena di nikahi oleh miliyarder sepertiku."


"Sombongnya." Brian tertawa mendengar umpatan itu dari kekasihnya.


"Ya sudah, aku akan kesana segera. Semoga masakanmu layak untuk dimakan ya, Sayang." Bella terkejut mendengar ungkapan itu, nada bicara itu seakan seperti sebuah ejekan untuknya, apa-apaan itu apakah selama ini makanan buatannya tidak layak untuk dimakan. Sungguh menyebalkan sekali Pria ini.


Di tempat lain Brian sedang memasukkan beberapa berkas di mejanya kedalam sebuah laci. Eddie yang mejanya berhadapan dengan Brian memperhatikannya. Sesekali tangannya menulis beberapa kalimat di atas kertasnya.


"Brother, kau akan menemuinya?" Tanya Eddie, Brian mengangguk mendengar itu.


"Jam kerjaku sudah selesai bukan, aku ingin menghabiskan waktuku dengannya sebelum membawanya ke butik besok." Jawab Brian seraya merapikan beberapa alat tulis di mejanya.


"Ah iya tentu saja, oh iya, Angela menitipkan sesuatu padaku." Ujar Eddie seraya menatap kakaknya itu. Brian juga menatapnya kali ini, tatapan penuh pertanyaan.


"Apa?" Tanya Brian, sejenak tak ada jawaban. Eddie menarik laci mejanya mengeluarkan satu kotak kado dari sana. Brian mengernyitkan keningnya melihat itu, apa itu sepertinya diantara mereka berempat tidak ada yang berulang tahun.


"Ini, Angela bilang berikan pada kakak ipar, Bella." Ucap Eddie seraya mengulurkan kado itu pada Brian. Brian berjalan mendekati meja Eddie, menerimanya. Sejenak ia memperhatikan kado itu dari segala sisi, sepertinya sifat waspadanya itu masih melekat pada Brian sekarang.


"Brother itu bukan bom, mengapa kau harus memperhatikannya sampai seperti itu?" Ujar Eddie kesal, Brian tertawa mendengar itu.


"Oke maafkan aku. Titipkan ucapan terima kasihku pada adik ipar ya. Tapi ini apa?" Tanya Brian lagi, Eddie masih terfokus pada berkas dan laptopnya ia hanya mengangkat bahunya, tanda bahwa iapun tak tau apa isi kotak itu.


"Pesan terakhirnya hanya, ini urusan wanita, begitu katanya." Jawab Eddie, Brian mengangguk mengerti mendengar itu.

__ADS_1


"Baiklah, aku pergi ya." Ujar Brian berjalan mendekati pintu.


"Hati-hati!" Jawab Eddie, Brian hanya berdehem menanggapi itu. Ia pun pergi dari sana, meninggalkan Eddie seorang diri dalam ruangannya.


________


Harum dari masakannya mulai menguar, Bella menata hasil masakannya itu dengan rapi di atas mejanya. Terlihat tiga orang pelayan dibelakangnya, yang siap menerima segala perintah dan permintaan Bella.


"Harum sekali Nyonya baunya." Ujar salah seorang pelayan, Bella tersenyum mendengar itu.


"Terima kasih, jika kalian ingin kalian bisa memasaknya sendiri ya. Silahkan, di sana masih ada banyak daging Wagyu." Ujar Bella, kali ini ia mengeluarkan ponselnya. Sejenak ia mulai memotret hasil masakannya itu lalu mempostingnya. Sedang ketiga pelayan dibelakangnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dari nona besarnya itu.


"Emmm, aku akan membersihkan diriku dulu, tolong awasi makanannya ya." Pinta Bella, mereka mengangguk mendengar itu.


Bella berjalan menaiki anak tangga, menuju kamarnya di lantai tiga. Entahlah, disana pemandangan dari pantai lebih indah dan memukau memang. Itulah mengapa ia memilih kamar di lantai tiga, tepat di balkonnya hamparan lautan biru itu terlihat cukup jelas, indah sekali. Samudra biru itu selalu saja membuatnya terkesan.


Bella membuka pintu kamarnya itu, lalu berjalan ke arah kamar mandi. Disana ia mulai membersihkan dirinya.


Dua puluh menit sudah berlalu, saat ini mobil Ferrarinya telah sampai di kediaman Bella. Brian turun dari sana, lima orang bodyguard di depannya memberikan hormat. Brian hanya tersenyum menanggapi itu, lalu meneruskan langkahnya masuk kedalam rumah itu. Terlihat tiga orang pelayan yang sedang berdiri dihadapan meja makan, Brian menghampiri mereka.


"Dimana Nyonya ku?" Tanyanya.


"Nyonya besar sedang membersihkan dirinya Tuan." Brian mengangguk mendengar itu, ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Bella.


Disana terlihat kamar itu cukup sepi, rapi kamar ini sangat rapi. Brian berjalan ke arah ranjang, lalu, duduk disana. Suara kecipak-kecipak air itu terdengar, Brian hanya tersenyum mendengar itu. Beberapa menit kemudian Bella membuka pintu kamar mandinya, melihat keberadaan Pria nya disana ia terkejut.


"Brian kau!" Pekik Bella, lalu menutup lagi pintu kamar mandinya. Disana hanya ada cengiran khas dari Brian, seraya masih memperhatikan celah pintu yang masih belum tertutup itu.


"Apa?" Tanya Brian polos.


"Hunny, pergilah!" Ucap Bella, Brian hanya tersenyum mendengar itu.


"Kenapa kau mengusirku?" Tanya Brian.


"Pergi, atau aku tidak akan keluar dari sini. Biarlah kau makan sendirian di meja makan nanti." Ancam Bella, Brian berdiri mendengar itu. Ia berjalan ke arah pintu itu.


"Sulit menahan perasaan ini sungguh, tapi aku akan menghargai segala permintaanmu. Lagi pula sebentar lagi kau akan jadi milikku, aku bisa masuk sesukaku ke kamar mandi ini, meskipun kau berada disana." Ucap Brian, perkataan itu membuat Bella bersemu sekarang. Kekasihnya ini sungguh, rasanya ia ingin memakinya saja.


"Pergi!!!" Pekik Bella, Brian tertawa mendengar itu ia pun berlalu dari sana. Merasa kehadiran Brian tak lagi disana, Bella pun keluar dari kamar mandinya.


Berlari menutup pintu kamarnya, menguncinya. Bunyi pintu di tutup itu, menyita perhatian Brian yang sedang menuruni anak tangga, sejenak ia berhenti, lalu tertawa lucu rasanya melihat tingkah kekasihny itu. Menggodanya pagi ini cukup membuat Brian bahagia, sungguh.

__ADS_1


...Kebahagiaan tidak dapat dijelajahi, dimiliki, diperoleh, dipakai, atau dikonsumsi...


...Kebahagiaan adalah pengalaman spiritual hidup setiap menit dengan cinta, rahmat, dan syukur...


__ADS_2