
Beberapa menit berlalu pada akhirnya terlihat Sienna keluar bersama dengan wanita itu. Bella di buat terkejut saat melihat itu. Ketika keduanya masuk ke dalam mobil tak lama Percy dan Petra pun juga keluar dari dalam sekolah.
Mereka melihat ke arah mobil Bella. Dan disana, Bella pun membuka kaca mobilnya. Percy berjalan menghampiri mobil itu.
"Bibi, tadi Sienna memberiku sebuah ponsel!" Ucap Percy padanya.
"Ya aku menyuruhnya memberikannya padamu. Aku akan mengikuti mobil itu, kalian berdua pasti akan ke markas untuk berlatih tembak bukan? Serahkan itu pada Paman mu ya, katakan padanya itu dariku!" Jelas Bella padanya.
Percy mengangguk mengerti atas apa yang Bella perintahkan. Bella kembali menutup kaca mobilnya lalu segera menghidupkan mesinnya. Melalui, iPad nya Bella memperhatikan kemana Sienna dibawa pergi.
"Siapa kau ini, benar-benar tak ingin melihat kami tenang sedikitpun!" Lirih Bella.
Ia menggerutu, ia kesal rasanya. Sebab hal ini Prince sengaja ia tinggal di rumah bersama dengan Nami dan Stevan. Keduanya juga sudah di beritahu oleh Bella perihal masalah ini.
Selang beberapa waktu pada akhirnya mobil yang Bella ikuti berhenti tepat di sebuah kantor polisi. Sebuah kantor polisi dimana disana Bella tau bahwa, Reiner dan Tasya di penjara di sana.
Bella berhenti tak jauh dari sana. Dari dalam mobil ia memperhatikan Sienna juga wanita itu keluar lalu masuk ke dalam kantor polisi itu.
"Kakak..."
Melalui Earphone di telinganya Stevan yang berada jauh di rumah mulai berbicara.
Mereka tidak hanya menjaga Prince disana. Namun dengan bantuan Nami, mereka juga ikut memantau keadaan disana.
"Iya Stevan?"
"Bella, dengarkan aku! Beberapa waktu lalu aku sempat di tugaskan disana. Aku tau itu tempat dimana Tasya dan Reiner di tahan. Menurut plat nomor mobilnya, mobil yang ia pakai itu bukan miliknya. Itu milik orang lain. Dan pagi, sepertinya ia bukan orang Perancis. Ia datang dari negara lain."
Jelas Nami padanya. Bella mendengarkan segala penjelasan itu dengan seksama.
__ADS_1
"Jadi?"
"Jadi, untuk lebih tau identitasnya. Apakah kau bisa memotret wajahnya?" Tanya Nami padanya.
"Tidak bisa, tapi aku akan mencobanya! Kamera pengintai di kancing baju terkadang sedikit buram. Mungkin kau bisa memperjelasnya nanti. Aku akan coba masuk ke dalam."
"Baiklah, hati-hati!"
Setelah pembicaraan itu, Bella pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Ada beberapa polisi disana. Dan atas ijinnya Bella pun di perbolehkan masuk ke dalam Sel yang ingin ia tuju.
Dari kejauhan tepat di ujung lorong Bella sama sekali tak melihat keberadaan mereka. Beberapa pasang mata tahanan memperhatikannya.
"Hei nona, apakah kau tersesat?" Ucap salah seorangnya.
Namun Bella sama sekali tak memperdulikannya. Ia hanya fokus pada Sienna saja sekarang. Tepat ketika kakinya hampir sampai di sel Tasya. Ia mendengar suara Isak tangis Tasya.
Bella pun mengurungkan niatnya. Ia hanya diam di samping sel itu sambil mendengarkan apa yang Tasya katakan kepada Sienna.
Anehnya Sienna sama sekali tak merasakan apapun. Ia hanya iba saja saat Tasya mengatakan itu.
"Apa kau tidak merindukanku nak?" Tanya Tasya lagi padanya.
"Sienna dibawa sewaktu bayi, dia tentu saja tidak mengenalmu!" Jawab Annie sambil mengusap lembut puncak kepala Sienna.
Ketika Tasya melepas pelukannya. Sienna yang iba pun menghapus air mata Tasya lalu menatapnya.
"Apa yang membuatmu berakhir disini?" Tanya Sienna padanya.
"Brian, Daddy mu itu menjebakku nak! Dia membawaku kemari, dia dan Mommy mu Bella itu menjebakku. Lalu memasukkan ku ke dalam penjara." Jelas Tasya dengan Isak tangisnya.
__ADS_1
Bella di luar mulai di buat geram. Namun ia masih mencoba menahan seluruh perasaan kesalnya. Mencoba mendengar lebih jauh lagi. Sampai mana kira-kira Tasya akan berbohong.
Bella menghela nafasnya pada akhirnya. Rentetan cerita yang Tasya katakan benar-benar berbeda dengan realita nya. Pada akhirnya Bella memutuskan untuk segera mengambil Tasya dari sana.
"Hentikan itu Tasya!"
Suara dari balik tubuh Annie membuat Tasya tercengang. Begitupun dengan Sienna disana. Gadis kecil itu berbalik menatap ke arah Mommy nya.
"Kau, kenapa kau kemari hah! Apa kau ingin memisahkan ku dengan anakku lagi sekarang?" Tanya Tasya mulai murka.
"Seorang ibu, seharusnya tidak boleh menanamkan kebohongan pada anaknya. Apa yang kau ceritakan itu sangat jauh dengan kenyataannya. Kau mengatakan bahwa suamiku yang menjebakmu. Itu tidak benar, malam itu kau lah yang menjebaknya. Kau menggodanya menyuruh mengantarkanmu pulang. Kau bahkan mencampur minuman Themo dengan sesuatu, sehingga membuatnya tertidur. Lantas pada saat itulah kau mengambil kesempatan mendekati suamiku menjebaknya, memberi sesuatu pada minumannya."
Penjelasan Bella membuat Annie terkejut. Saat ini ia di buat bingung rasanya. Kebenaran mana yang harus ia percaya disini.
"Jangan jadikan anak yang tidak berdosa ini sebagai senjatamu. Dia korban atas kebejatan yang kau lakukan pada suamiku. Apakah bagimu tidak cukup Tasya sudah membuat kami hancur berkali-kali. Bagaimana caranya menyadarkan mu?" Tanya Bella padanya.
"Pendusta!!!" Ucap Tasya sambil menunjuknya.
"Jika aku pendusta, maka kepolisian dan hakim disini juga pendusta. Namun nyatanya kebenaran mengatakan demikian, kau bersalah. Dan Themo juga saksinya." Ucap Bella lagi padanya.
Grepppp
"Katakan padaku yang sebenarnya! Sebenarnya siapa yang benar disini?"
Pada akhirnya Annie mulai kehabisan kesabaran. Ia menarik baju Tasya mendekatkannya ke arahnya. Hal itu membuat Bella terkejut.
"Jika kau menanyakan kebenaran padanya, maka kau tidak akan pernah menemukannya. Obsesi nya pada suamiku membuatnya buta. Hanya ada kebohongan yang akan kau dapatkan! Jika kau ingin menemukan kebenarannya, aku akan membawamu menemui dia yang tau sejak awal rencana mereka." Jelas Bella padanya.
Disana Tasya hanya tersenyum miring. Muak dengan wajah saudaranya itu Annie pun menghempaskannya begitu saja. Lalu membawa Sienna keluar dari sana.
__ADS_1
Mereka bertiga keluar dari dalam penjara itu. Sesampainya di depan. Bella pun menceritakan segalanya pada Annie.
Bella bahkan mempertemukannya dengan Nami. Disana Nami juga menjelaskan tragedi terjadi antara Brian dan dirinya, sampai ia menjelaskan dimana saat itu ia yang buta juga di tuntut dendam merangkai konspirasi besar untuk menghancurkan rumah tangga Brian dan Bella.