
...Jangan hanya berpikir tentang apa yang telah hilang darimu...
...Kau takkan bisa mengambilnya kembali. Pikirkan apa yang masih kau miliki...
Bella masih sibuk mengoles bedak diwajahnya, riasan demi riasan ia gunakan. Malam ini, Brian mengajaknya ke pesta dansa. Brian bilang padanya, sebelum upacara pernikahan adiknya diresmikan dua hari besok, Eddie akan mengadakan jamuan mewah di Markas mereka.
Entah sudah berapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk sekedar mengundang ribuan manusia yang mereka kenal. Brian berdiri Dibalkonnya sambil menghisap vapor, Paris malam ini cukup menawan. Eiffel terlihat dari tempatnya berdiri, megah sekali. Sesekali Brian melirik ke belakang, barangkali Bella sudah siap mereka akan segera pergi. Jemputan Limosin, sampai sudah didepan kediaman mereka. Limosin itu dari Eddie, sudah ada lima belas menit Limosin itu disana.
"Sayang, apakah kau masih lama?"
Sambil mengoleskan beberapa riasan diwajahnya Bella tersenyum.
"Sebentar lagi selesai!"
Brian menghela nafas mendengar hal itu. Kalimat sama yang sejak tadi Bella lontarkan, entah sudah berapa kali.
"Baiklah, aku mendengar itu berulang kali sepertinya!"
Ucapan dari suaminya itu membuatnya tertawa. Sepertinya riasan malam ini cukup bagus, Bella menghabiskan setengah jam sudah dihadapan kaca. Bella kembali meletakkan alat riasnya, menatanya. Ia berdiri menghampiri Brian yang sedang menikmati suasana malam kota Paris dari atas balkon.
"Hun, aku sudah selesai!"
Ucapan itu membuat Brian berbalik, betapa terkejutnya dirinya melihat keanggunan istrinya. Gaun putih itu terlihat menawan sekali membungkus tubuhnya. Rasanya seperti melihat Bella untuk yang pertama kalinya.
"Kenapa kau memandangiku semacam itu?"
Mendengar pertanyaan itu Brian tersenyum, sekilas pikiran licik pun terlintas dalam kepalanya. Ia mendekati Bella, menarik tubuh itu mendekat ke arahnya. Kedua tubuh itu saling bertabrakan, Bella sedikit memekik atas ulah suaminya itu.
"Aku lapar melihatmu seperti ini!"
"Makanlah!"
Brian berseringai mendengar itu, kalimat macam apa itu, apa Bella sedang menggodanya sekarang. Berani sekali wanita ini, biasanya ia akan sedikit jual mahal dan menolak. Namun malam ini sama sekali tak ada penolakan darinya. Ketika Brian mendekatkan kepalanya ke arahnya, Bella menahannya.
"Kau akan apa Hunny?" Protesnya, Brian terhenyak mendengar itu.
__ADS_1
"Kau bilang makanlah?" Bella paham sekarang, Brian salah paham rupanya.
"Hunny, maksud ku bukan diriku! Jika kau lapar makanlah sesuatu. Aku akan buatkan sebentar makanan untukmu jika kau mau."
Brian menatap malas ke arah Bella sekarang. Manusia ini berlagak polos atau apa.
"Dasar cabul!" Pekik Bella, Brian membulatkan matanya mendengar hal itu.
"Hei, umpatan semacam apa yang kau berikan padaku? Mengapa kau mengumpat seperti itu padaku!"
Bella menaikkan alisnya mendengar itu, penyangkalan semacam apapun yang Brian lontarkan rasanya tidak akan merubah kebenaran. Terkadang karena ulahnya bahkan Bella sampai lemas berjalan. Sialan sekali memang manusia dihadapannya ini, namun mau bagaimana lagi. Hati mereka yang terpaut, membuat Bella mengizinkan Brim melakukan apa saja padanya.
"Ayo Hunny!"
Uluran tangan beserta suara manja itu menghangatkan hati Brian. Dengan senang hati, Brian menerima uluran tangan itu. Mereka berdua berjalan keluar dari dalam rumah mereka. Beberapa pelayan dalam rumah itu, sedikit membungkuk memberi hormat pada kedua Majikan mereka.
Gerbang rumah merek dibuka, salah seorang pengawal membukakan pintu mobilnya untuk mereka berdua. Tanpa berfikir panjang, Brian dan Bella pun masuk kedalam mobil. Perjalanan dari kediaman ke markas memakan waktu sekitar setengah jam. Bella memilih tertidur sebentar, menyamankan kepalanya bersandar dibahu suaminya.
_______
Meriahnya pesta ini menyulut beberapa wartawan kemari. Demi untuk meliput kemegahan didalamnya, wartawan rela mengendap-endap, atau sekedar menunggu diluar. Penguasa terkaya ketiga disini cukup populer memang, sempat reputasi mereka rusak karena sidang Brian. Namun sebuah siaran setelah tragedi itu disiarkan, cara mereka memandang Eddie dan Brian sekejap berubah.
Tak ada cacian ataupun makian, mereka menganggap kedua penguasaan itu sebagai seorang manusia juga memperlakukan mereka layaknya seorang manusia. Sekalipun tragedi masa lalu mereka pahit, sekalipun dahulu mereka berbuat keji. Namun, hari ini mereka terlahir menjadi manusia baru. Kesempatan kedua selalu ada bukan, jadi mengapa kita tidak bisa memberi kesempatan itu pada manusia lain yang bertobat.
"Wah, sepertinya hanya tinggal aku saja yang membujang disini!"
Themo berucap sambil sesekali menyeruput anggur dari dalam gelasnya. Tawa renyah manusia didepannya itu menyambut perkataannya.
"Mau bagaimana lagi? Sudah kubilang untuk segera mencari jodoh, kau malah sibuk uang dan uang."
Kali ini Rey menambahkan perkataan Themo, sambil merangkulnya dari samping. Dua manusia dihadapan Eddie dan Angela ini sudah mabuk, entah sudah berapa puluh gelas yang mereka teguk.
"Hei, bagaimana kalian akan pulang dengan kondisi semacam ini?" Protes Eddie.
"Kita punya tempat pribadi disini bukan? Tak masalah, markas pun rumah kami juga."
__ADS_1
Ucapan yang terkesan seenaknya itu membuat Eddie menatap malas ke arah keduanya. Angela disampingnya menutup mulutnya, mencoba meredam tawanya yang akan meledak akibat perkataan Themo.
"Sayang, mengapa kau tertawa?"
"Sebab perkataannya lucu!"
"Dimana yang lucu? Bawahan bertindak semena-mena begini, bagaimana ini?"
"Mereka sedang mabuk Ed, biarkan saja!"
Eddie membulatkan matanya, Angela memanggil dirinya dengan sebutan nama tanpa embel-embel.
"Sayang, mengapa kau sebut namaku tanpa embel-embel dibelakangnya?"
Protesan itu membuat Angela terkejut, namun tak lama ia pun tertawa lagi.
"Iya, Iya! Maafkan aku ya sayang! Ini hari bahagia, mari kita bersenang-senang!"
Eddie tersenyum, Angela masih memainkan wajah milik Eddie. Mendengar ucapan itu, dengan lembut Eddie menarik tangan Angela ke altar dansa, suara musik mengalun mengiringi mereka berdansa.
Beberapa saat kemudian, terlihat Bella dan Brian hadir dalam pesta itu. Kemeriahan didalamnya membuat keduanya berbinar. Ketika netra milik Brian menemukan adiknya, ia menyenggol kecil Bella disampingnya sambil menunjuk ke arah Eddie dan Angela. Keromantisan mereka malam ini, cukup mengingatkan tentang diri mereka juga.
"Adikku yang dilanda Asmara, seperti ini ya!" Ujar Brian, ia melipat tangannya didada.
"Hahaha... Perkataan semacam apa itu, kau pun sama juga!"
Kenyataan bukan apa yang Bella ucapkan, Brian pun sama seperti Eddie. Diatas markas ini, dibangun rumah kaca dengan puluhan pohon sakura. Mereka bilang itu untuk Bella, dari Brian. Hal itu cukup sepertinya membuktikan, bahwa Brian siap melakukan apa saja untuk Bella nya.
...Kau tahu apa yang paling jahat?...
...Menilai orang lain bahkan tanpa usaha untuk mengenalnya!...
...Seseorang akan benar-benar menjadi kuat ketika ingin melindungi seseorang yang berharga...
...Ketika orang-orang membuang harga dirinya, itu pasti demi seseorang...
__ADS_1