Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Pagi dan Sepasang Mata


__ADS_3

...Kebijaksanaan adalah seni membuat titik tanpa membuat musuh...


Terangnya cahaya mentari mulai bersinar, sinarnya sedikit memaksa masuk kedalam celah-celah kamar hotel ini. Tepat disalah satu kamarnya sepasang suami istri masih terpejam di atas ranjang, mereka masih asyik didalam mimpi mereka masing-masing.


Sejak semalam posisi itu masih sama, saling memeluk dan berbagi kehangatan. Brian, perlahan mulai membuka matanya berat sekali rasanya matanya sungguh.


Beberapa kali ia mengerjap mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di pulau mimpi. Ketika ia hendak bangun, rupanya ada seseorang yang masih terlelap nyaman dalam dekapannya.


Brian menunduk, Surai wangi itu menyambutnya pagi ini. Hangat sekali, rasanya untuk melepaskannya enggan untuknya. Mungkin sedikit lama lagi tak apa bukan.


Pergerakan tubuh Brian perlahan mulai mengusik Bella dibawah sana. Wanita itu pun mulai membuka matanya, dekapan hangat pagi ini masih belum terlepas.


Bella sedikit menjauhkan tubuhnya namu dekapan Brian malah semakin kuat, semakin Bella menjauh dekapan itu lagi-lagi menariknya masuk kedalam tubuhnya seakan mengingatkan pada Bella jangan berani-berani melepaskan pelukannya.


"Hunny!" Lirih Bella, sedang Brian hanya berdehem menanggapi itu sambil terpejam.


"Lepaskan!" Ujar Bella, Brian menggelengkan kepalanya cepat mendengar itu.


"Hun, aku sesak nafas!" Pekik Bella padanya namun Brian hanya berseringai. Sejenak ia kembali mengeratkan pelukannya lalu sedikit meregangkannya.


Perlahan Brian mulai menjauhkan tubuhnya dari tubuh Bella, Brian mengangkat tubuh mungil itu ke atas agar sejajar dengan wajahnya. Ketika wajah milik mereka saling bertemu, saling bertatap satu sama lain, mereka tersenyum.


"Semalam apakah aku merepotkanmu, Sayang?"


Bella menaikkan satu alisnya mendengar itu, tentu saja semalam ia sangat kerepotan.


"Bukankah sudah kubilang, mabuklah secukupnya! Mengapa kau meneguk air haram itu banyak sekali semalam?"


Brian tertawa mendengar ocehan yang keluar dari dalam diri Bella pagi ini. Raut muka kesal itu jelas terpampang disana sambil bicara. Intonasi suara itu juga cukup menggemaskan.


"Aku terbawa suasana sayang, maafkan aku ya!"


Brian berucap sambil mengusap lembut Surai milik kekasihnya itu.


"Semalam itu kau sangat keterlaluan!"


Ucapan dari Bella membuat Brian bersemu, dalam pikirannya kini bayang-bayang tindakan tak senonoh itu mulai berkeliaran.


"Apakah semalam aku melakukan itu?"


Bella yang tau arah pembicaraan ini pun dibuat bersemu pagi ini. Bulan itu yang ia bicarakan saat ini, bukan masalah adegan ranjang.

__ADS_1


"Mesumnya, pagi buta begini sudah membahas hal itu!" Pekik Bella gemas mencubit wajah suaminya.


"Lantas apa?" Tanya Brian memasang wajah polos.


"Semalam kau keterlaluan merepotkan kami bertiga!"


"Bertiga?"


"Iya, aku, Angela dan Eddie yang membawamu naik kemari!" Lagi-lagi Brian hanya bisa tertawa mendengarnya.


"Tak apa bukan kurepotkan kalian sebentar?" Ujar Brian sambil berseringai.


"Mengesalkan sekali!"


Bella semakin gemas mencubit wajah suaminya itu, disana Brian tak tinggal diam ia mendekatkan kepalanya lebih dekat lagi ke arah Bella, menatapnya lekat. Sebuah ciuman pagi ini ia berikan, sapaan selamat pagi untuk istrinya.


"Aku mandi dulu ya!" Ujar Brian menjauhkan tubuhnya dari Bella.


Bella mengangguk mendengar itu, tubuh suaminya itu pergi masuk kedalam kamar mandi sekarang. Saat ini hanya tinggal dirinya yang masih berada di atas sofa.


Pikirannya sedikit terbayang tentang seseorang yang menabraknya semalam.


'Tapi, mengapa selarut itu dia meninggalkan pesta? Dan ya, ketika dia menabrakku sama sekali tak ada ucapan maaf yang dilontarkan untukku. Dia pergi acuh, aneh sekali*.'


Pikiran demi pikiran mengenai manusia semalam membuatnya kalut. Bella takut hal buruk akan terjadi lagi menimpa Brian dan dirinya.


Mencintai seorang Mafia tak luput dari bahaya. Sekalipun ia jeli dalam segala hal, sekalipun profesi detektif masih ada padanya. Namun, musuh dibalik selimut, musuh yang menyembunyikan dirinya lalu memantau nya dari kejauhan siapa yang tau. Tak ada yang akan tau.


_________


Beberapa Manusia didalam ruang koki sedang sibuk memasak hidangan sesuai menu. Eddie berada disini sekarang bersama dengan Angela disampingnya, ini adalah bisnis kuliner mereka. Mereka akan sering mengunjungi tempat ini tiap pagi, lalu kembali ke markas pusat tepat pukul sembilan pagi.


Rutinitas dirinya memang sangat padat, sekalipun dirinya sebenarnya mampu menimpakan itu pada bawahannya. Namun Eddie tak ingin itu, ia ingin secara langsung melihat keadaan bisnisnya.


Terkadang sesuatu yang terlapor dari mulut seseorang tak sesuai keadaan. Itulah mengapa Eddie memilih terjun sendiri dan mengawasi secara langsung.


Tak selamanya hal yang baik akan selalu datang bukan. Jika sesuatu masih belum tuntas, maka sesuatu itu akan menghantuimu selamanya. Begitupun dengan Nami, ia berada dalam gedung ini sekarang. Dari ruang berbeda Nami memantau kegiatan didalam sana dari dalam layar ipadnya.


Ada satu rencana gila dalam kepalanya. Didalam sana ia sudah menaruh bom waktu. Sejenak Nami memperhatikan jam tangannya, lantas setelah itu tersenyum.


"Tiga!"

__ADS_1


"Dua!"


"Satu!"


Nami menhitung mundur waktu seraya menatap jarum jamnya. Akhiran dari hitungannya sama sekali tak merubah apapun. Heran rasanya melihat hal itu, seharusnya bom itu sudah meledak disana. Namun mengapa suara ledakannya masih belum muncul juga. Segera Nami memasukan kembali ipadnya kedalam tas miliknya, disana ia sedang menyamar.


Ketika Nami membuka pintu ruangan tempatnya singgah. Tubuhnya menabrak seseorang disana, Nami membulatkan matanya orang ini adalah Stevan. Stevan menatap tajam tepat ke arah bola mata Nami yang sedang berkacamata hitam itu.


Stevan tau satu hal, gadis dihadapannya ini adalah Nami. Seseorang yang pernah datang menolongnya setelah ledakan, seseorang yang matanya gelap akibat tindakan tidak manusiawi seseorang.


Stevan terus menabrak tubuh Nami, ia mencoba menggiringnya masuk kembali kedalam ruangan itu. Ruangan yang sedan mereka tempati ini, adalah sebuah gudang. Jarang ada manusia masuk kemari.


Brukkkkkkkk


"Sebenarnya apa maumu?"


Ketika tubuh kecil Nami terhimpit, Nami diam. Stevan tau rupanya bahwa ini dirinya. Rasanya tak ada gunanya menyamar, Nami pun melepas kacamatanya kali ini netra tajam itu menatap lekat ke arah Stevan. Disana Stevan melihat itu, kebencian itu masih ada terlihat jelas dan nyata.


"Kau tau, aku muak sekali denganmu! Hanya karena Bella kakakmu disana, kau berada dipihak seorang pembunuh." Ujar Nami geram.


Stevan mengacuhkan hal itu, dari dalam saku didalam jasnya Stevan mengambil sesuatu. Itu adalah sebuah bom yang sempat Nami letakkan disana.


"Dan apakah pembalasan dendammu, akan menjadikanmu seperti mereka?"


Pernyataan itu membuat Nami membulatkan matanya. Namun apa dayanya, ia hanya ingin Brian lenyap hanya itu. Karena baginya itu sepadan dengan hilangnya nyawa ayahnya.


"Dia bukan pembunuh ayahmu, apa kau paham? Bukankah kau juga tau apa yang terjadi didalam persidangan?"


Jelas Stevan, ia ingin kali ini menyadarkan gadis didepannya ini. Iba sungguh, dendam membutakan kedua matanya. Melakukan hal yang tak benar rasanya terdoktrin dalam dirinya.


"Aku tidak peduli apa yang kau katakan, bagiku mereka sama! Mereka semua penjahat, termasuk dirimu!"


Kali ini Nami mendorong tubuh Stevan kebelakang, itu membuat jarak diantara mereka. Stevan melempar bom yang sudah tak aktif itu asal.


"Ingat ini, jika aku masih bernafas! Tidak ada satupun manusia yang akan mampu, melenyapkan Brian, atau melukai kakakku Bella."


Usai mengatakan itu Stevan pergi dari sana, Nami berseringai melihat itu. Disana ada banyak banyak pertanyaan dalam kepala Nami, mengapa Stevan bisa tau ada bom disana.


Padahal seluruh sistem keamanan disini, sudah diretas olehnya secara digital. Ia datang kemari meletakkan bom itu, bahkan tanpa ada kecurigaan. Lantas darimana Stevan mengetahui aksinya itu.


...Dalam menghadapi musuh, tak ada yang lebih mengena daripada senjata kasih sayang...

__ADS_1


__ADS_2