
...Tidak masalah apakah kau menang satu inci atau satu mil...
...Menang berarti menang...
____________
Suasana dalam ruang sidang itu tegang kali ini, Bella duduk bersama dengan Stevan disampingnya mereka berada dalam golongan pendukung Brian. Alat penyadap suara itu diletakan tepat di sakunya, sementara Eddie juga Han berada tepat di depan gedung stasiun televisi.
Tokkkkkk
Tokkkkkk
Suara ketukan palu dari hakim membuat mereka yang saling berbincang terdiam. Disana Hakim mulai menatap serius ke arah mereka, sembari membuka berkas-berkas yang tertera tepat dihadapan mejanya.
"Hari ini kasus persidangan atas nama Brian, seorang mafia Internasional yang telah merenggut banyak nyawa manusia tak berdosa. Juga misi peledakan kota Tokyo, Jepang, membunuh nyawa dari manusia di negara orang. Juga pihak penentang korban dari kekejiannya yang akan dibunuh, Bella dan Stevan. Sidang dimulai!"
Ucap ketua hakim disana suara ketukan palu dari hakim terdengar tiga kali ketukan pertanda persidangan ini dimulai.
"Saudara Noah Robert, komandan besar militer angkatan laut, sekaligus kepala bagian pengawasan penjara Alcatraz, disini untuk mengadili seorang mafia keji meminta hukuman ulang atas tindakannya, benar?"
Jaksa sambil membuka lembaran berkas mengajukan beberapa kepastian pada penuntut, Noah yang seorang aparat negara sekaligus penuntut keadilan mengangguk, mengiyakan seluruh pertanyaan yang diajukan jaksa.
"Baiklah, apakah menurut manusia terdakwa ini pantas dihukum mati lagi setelah ia baru saja melewati kematian, bukti mana yang memberatkannya? Apakah terdakwa berbuat kejahatan lagi selama diberi kesempatan hidup oleh Tuhan? Lantas, kejahatan macam apa yang dirinya lakukan?"
Tanya Jaksa lagi pada Noah, disana Noah berdiri sebelum berbicara ia merapikan. dasinya sebentar.
"Yang mulia, memang benar apa yang anda katakan Pria ini memang telah melewati kematiannya, kita sudah mengadilinya. Namun, bagaimana jika pada saat itu terjadi konspirasi?"
Bella mengerutkan keningnya mendengar itu, konspirasi atas apa? Briannya memang mati saat itu, lantas manusia ini menggigau kah.
"Konspirasi?"
__ADS_1
Hakim itu bingung nampaknya atas penuturan yang Noah lontarkan, Brian hanya duduk ditengah-tengah kubu mereka kepalanya sakit sekali, hipotermia sudah menyerangnya.
"Ya, Yang Mulia! Malam miliknya ketika dibongkar bukan kerangka tengkorak miliknya tetapi milik orang lain. Itulah mengapa pada saat itu, militer menawarkan pemakaman untuk Brian, tetapi adiknya yang bernama Eddie menolak memilih memakamkan Brian seorang diri, di Loss Angeles."
Ujar Noah ia membuka kopernya ada beberapa klip foto didalam Kentung plastik, Bella memperhatikan itu. Noah menyerahkan bukti itu tepat ke tangan Hakim, disana Hakim memeriksa dengan teliti isi gambar dari foto itu.
"Seperti yang anda lihat Yang Mulia, itu operasi kami. Tat kala kami tak menemukan Eddie setelah pemakaman ia meninggalkan satu surat untuk kami, bahwa ia pergi sengaja meninggalkan Amerika, karena memang keinginannya. Pada saat itu kami tak curiga, namun beberapa tahun kemudian. Gabriel ditugaskan tepat di Perancis."
Noah menatap Gabriel sekilas, disana sebuah seringai bahagia terpampang jelas sekali.
"Pada saat itu, Gabriel memang ada tugas disana. Ada satu perusahaan besar yang terkenal disana, perusahaan ketiga terbesar di Perancis bernama Kaneki Corps. Itu menarik perhatian rekanku Gabriel, sehingga kami lebih menguak data-data tentang perusahaan itu. Barangkali apa yang kami jual, berkaitan dengan misi kami disana. Setelah diteliti rupanya, mafia internasional ini masih hidup, bugar penuh kemewahan disana. Bersamaan dengan terkuaknya fakta, maka terkuak juga fakta lain, fakta dimana didalam peti mati yang di kubur atas namanya itu bukan dia, melainkan jasad lain selainnya."
Bella terhenyak, pasalnya ia baru tau mengenai itu, disana logika Bella bekerja ia paham mengapa Eddie melakukan itu. Jika pada saat itu militer tau Brian masih hidup, maka eksekusi kedua pasti akan dilakukan itulah mengapa Eddie membuat konspirasi ini, demi menyelamatkan kehidupan kakaknya.
Dan jika pada saat itu konspirasi tidak dijalankan, maka bertemu juga menikmati masa-masa indah bersama Pria ini walau hanya sebentar hanya sebuah angan saja, sesuai dengan apa yang dirinya tulis dalam bukunya.
Para Hakim mulai meneliti foto itu kembali, mereka mulai berdiskusi satu sama lain.
Pertanyaan itu kembali tertuju pada Noah, disana Noah mengangguk. Kali ini ia akan menggunakan kematian Alcopone sebagai pemberat kedua untuk memberikan Brian hukuman mati secepatnya.
"Ada yang mulia!"
Hakim mengangguk mendengar itu, lalu mempersilahkannya memaparkan argumennya.
"Penjahat kelas kakap Alcopone, yang berada dalam pengawasan kami. Kemarin malam, ia tewas setelah berulang kali dihajar olehnya. Bukankah nyawa dibayar dengan nyawa yang mulia, setelah banyak kejahatan yang ia perbuat apakah hukuman mati untuknya tak pantas? Apakah Iblis ini akan dibiarkan menghirup udara segar nan bebas di negaramu? Tidak yang mulia, mata dibayar dengan mata."
Ujar Noah, Gabriel yang duduk dibelakangnya berseringai, kemenangan pasti ada ditangan mereka. Sebenarnya mereka kemari meringkus Brian karena kasus mafia miliknya, adalah yang paling besar bayarannya. Mereka bertugas sengaja memberatkan Brian memang karena kertas berangka yang diperebutkan dunia.
Gabriel dan Noah sama-sama licik, mereka menggunakan jabatan mereka untuk kepentingan pribadi. Dimana sesungguhnya Brian dijebak, agar kembali duduk diatas kursi listrik, lalu jutaan dolar itu akan mereka nikmati.
"Baiklah, untuk saudara Bella Drew. Apakah ada pembelaan untuk Brian disini?"
__ADS_1
Kali ini Hakim beralih ke arah Bella, melemparkan pertanyaannya. Disana Bella mengangguk sekaligus berdiri, bersiap memaparkan segala argumen dalam kepalanya.
"Yang Mulia, aku disini untuk membelanya. Mengapa manusia yang sudah menghadapi kematian harus dihukum lagi, jika memang dia hidup saat ini itu karena Tuhan memberinya kesempatan. Bukan urusan kita lagi kehidupan keduanya, itu sudah keinginan Tuhan. Lantas mengapa kita manusia menentang apa yang Tuhan inginkan? Bukankah itu salah?"
Disana Gabriel tertawa mendengar itu, sedikit membuat suasana cukup mencekam, Gabriel bertepuk tangan seraya menatap Bella.
"Hebat sekali, demi cintanya yang buta bahkan kau memilih berkhotbah tanpa ada bukti disini? Hei nona, ini persidangan bukan Gereja."
Brakkkkkkk
Stevan murka mendengar saudara perempuannya itu dihina, ia berdiri seraya menggebrak meja didepannya, kedua bola mata mereka beradu menyimpan kebencian satu sama lain.
"Jaga bicaramu, Iblis dibalik batu!" Umpat Stevan.
"Aku, kau! Jaga bicaramu, militer buta!" Umpat Gabriel membalas perkataan Stevan.
Keduanya sama-sama diliputi amarah, bahkan palu yang ketukan itu sama sekali tak menghentikan perseteruan mereka. Hingga ketika keamanan datang mencoba melerai mereka, mereka pun diam kembali duduk masing-masing, sidang berlanjut.
"Apakah ada bukti pembelaan sebagai pertimbangan hukuman yangakan kami berikan padanya?"
Bella mengangguk mendengar pertanyaan itu, ia mengeluarkan flashdisk juga laptopnya. Ketika flashdisk itu masuk kedalam laptopnya, bukti yang diberikan Themo dan Eddie dengan proyektor mulai tampakan dihadapan hukum.
Dimana disana kekejian penjara Alcatraz terekam, mulai dari militernya yang sering mengadu domba para tahanan, sampai detik terakhir dimana Brian dimasukan kedalam kurungan gantung lalu diceburkan kedalam laut, lalu ditarik lagi, begitu sampai mereka puas.
"Jadi Yang Mulia, apa yang terjadi padanya saat ini itu karena tidak manusiawinya para aparat negara!"
Ujar Bella, Stevan tersenyum mendengar itu. Terpampang jelas raut wajah Noah dan Gabriel yang terkejut. Apa yang dilakukan para pengawas itu dalam penjara memang semena-mena. Tak berhati, tak berperasaan.
...Ada dua sumber ketidakbahagiaan dalam hidup...
...Yang satu tidak mendapatkan apa yang Kau inginkan dan yang lain mendapatkannya....
__ADS_1