
...Jatuh cinta tidak pernah bisa memilih...
...Tuhan memilihkan...
...Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi, bahagia adalah bonus ...
________
"Kakak, bukankah aku sudah mengatakan padamu! Brian itu pria brengsek!"
Sepanjang perjalanan Stevan terus saja menyumpahi Brian. Bella diam sejak tadi sambil menatap ke arah kaca mobil, ia menatap jalanan. Rasanya ia tak habis pikir, mengapa suaminya itu tega berbuat demikian padanya.
"Sejujurnya aku masih tidak percaya, Stev!" Lirih Bella entah sudah berapa kali telapak tangannya mengusap buliran air mata yang turun.
"Kau harus percaya itu, karena itu kebenarannya! Jika tau begini kak, aku tidak akan mau membantumu menyelamatkannya. Biar saja dia mati saat itu!"
"Bodoh!"
Hinaan dari Bella sekilas membuat Stevan menatapnya. Ada tanda tanya besar dalam kepalanya, cacian itu untuk siapa? Apakah untuk dirinya?
"Mengapa kau mengatakan aku bodoh?"
"Lalu jika kau bertindak seperti itu dulu, lantas apa bedanya kita dengannya. Kakek kita sudah melakukan kesalahan yang hina Stev! Demi melindungi rantai komando agar tetap berada dalam kendali keluarga Drew. Dia menjadi seorang pembunuh dibalik seragam perwiranya! Jangan jadi manusia seperti itu!"
Sejenak Stevan merasa tertampar disini. Entah terbuat dari apakah hati Bella disini. Mengapa sebegitu tulus dan baik hati.
"Aku akan coba menyelidikinya!" Ucap Stevan, sepertinya Bella tak perlu menjelaskan permintaan pada Stevan.
"Terima kasih!" Ucap Bella singkat. Sekalipun pedih itu merengkuh hatinya.
Namun kepercayaannya terhadap Brian masih ada. Bella ingin mencari tau ada apa sebenarnya disini. Memang dari dalam Vidio yang ia lihat tadi, Brian seperti manusia yang sukarela melakukan itu. Ditambah Tasya juga disana sama sekali tak menunjukkan perlawanan.
"Selagi aku menyelidikinya, aku meminta satu hal darimu kakak!" Ucap Stevan padanya.
"Apa itu?" Tanya Bella padanya.
"Jangan temui Brian, sebelum semuanya jelas!"
Ucapan itu membuat Bella mengangguk. Stevan senang tak ada keraguan dalam raut wajah Bella disana. Ia mengangguk mantap tak ada keberatan disana.
__________
__ADS_1
Brian ditempatnya sejak tadi termenung, setelah Bella dibawa pergi rasanya Brian seperti kehilangan jiwanya. Berapa pegawainya menatap iba kearah Tuannya.
'Aku tidak akan tinggal diam! Aku akan membuktikan bahwa aku tidak bersalah disini."
Brian yang geram sebab apa yang dilakukan oleh Tasya segera beranjak dari tempatnya. Ia akan pergi kekantor saat ini.
Brian mengambil kemejanya didalam kamar lalu kembali turun menuju garasi. Bekerja mungkin akan sedikit membenahi pikirannya yang kacau. Brian masuk kedalam mobilnya menyalakan mesinnya lalu pergi dari kediamannya.
Hati dan pikirannya yang kacau membuat laju mobilnya tidak manusiawi. Brian mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi. Menyakiti Bella sampai menangis seperti itu bukan keinginan Brian.
Sementara Brian disana sedang meregang nyawa dijalananan. Tasya datang masuk kedalam kantornya. Sungguh gadis ini tak tau malu setelah apa yang ia lakukan dengan Brian.
Sekalipun Brian memecatnya, namun Tasya masih berani datang kemari dengan wajah ceria. Themo sekilas melihat keberadaan Tasya, disana ia geram. Ia juga curiga padanya, mengapa botol minumannya berisi obat tidur.
Themo berjalan menghampiri Syena yang sudah masuk kedalam ruangan Brian. Ketika ruangan itu pintunya hampir menutup, Themo mencegahnya. Tasya terkejut melihat kehadiran Themo dibelakang tubuhnya.
"Apa yang kau campur dalam botol minumanku kemarin hah?" Tanya Themo murka. Tasya disana hanya berseringai seakan tak melakukan apapun.
"Memangnya apa yang mampu ku lakukan Tuan Themo? Bukankah aku lihat aku sedang menghabiskan makananku saat itu?"
"Persetan denganmu! Kau ingin mendekati Tetua bukan? Dia bukan milikmu disini, dia bahkan sudah baik menyuruhku mengantarmu. Tapi kau, apa yang kau tuang dalam minumanku semalam untuk apa itu?"
Tasya melipat tangannya sambil tetap menatap ke arah Themo yang mulai diliputi amarah. Wajah itu sungguh membuat Themo muak rasanya. Seandainya Tasya bukanlah seorang gadis, mungkin perkelahian antara mereka akan terjadi disini.
"Kau gila, Themo tidak akan tunduk pada siapapun. Aku hanya menerima perintah dari Tetua dan Eddie adiknya."
"Bahkan kalian berasal dari masa lalu menyedihkan. Juga organisasi yang keji!"
"Lantas kau mengapa berada disini dan bekerja disini jika kau merasa jijik pada organisasi kami."
"Sebab aku mencintai pemilik perusahaan ini!"
"Kau sudah tidak waras, juga tak tau malu!"
Ucap Themo geram. Mengapa ada gadis semacam Tasya di dunia ini. Demi apapun, Themo harus menjauhkan gadis semacam ini dari Brian.
Sebab ia tak ingin hubungan asmara antara Tuannya dan Bella berakhir hanya karena orang ketiga. Hanya karena seorang pelakor yang bahkan perasaannya ditolak berulang kali oleh Brian.
"Tuan yang puji itu, sudah meniduriku semalam!" Ucap Tasya pada Themo.
Degggg
__ADS_1
Tidak Themo tidak akan percaya semudah itu. Brian tidak akan berbuat kesalahan sebesar itu, ditambah saat ini Bella sedang mengandung anaknya.
Tuannya adalah orang yang baik sekalipun masa lalunya buruk. Themo sangat mengenal Brian. Themo menatap ke arah Tasya saat ini lalu tersenyum.
"Kau sepertinya frustasi sebab perasaanmu berulang kali ditolak olehnya!" Sindir Themo padanya.
"Aku frustasi? Kau yang bodoh, coba pikir ketika seorang gadis dan pemuda berada di satu ruangan apa yang akan terjadi. Persetan jika kau bilang mereka tidak melakukan apa-apa dalam satu ruangan!"
"Sekalipun Tuan semalam mengantarmu, aku tetap tidak akan percaya untuk apapun yang kau katakan sungguh!"
"Kepercayaanmu terlalu buta untuknya!"
Sambil berucap, Tasya dari dalam sakunya mengambil sesuatu. Itu adalah ponselnya disana ia mulai membuka opsi galeri, ada rekaman bejat antara dirinya dan Brian disana.
Tasya memberikan ponselnya itu Themo. Themo masih menatap tajam, bahkan ia tak menerima apa yang Tasya ulurkan.
"Kita lihat, apakah kepercayaanmu itu akan tetap ada setelah kau melihat ini!" Ucap Tasya sembari menyodorkan ponselnya.
"Apa ini?"
"Itu adalah bukti!"
Dengan berat hati Themo meraihnya. Disana ia mulai memutar tombol play dari Vidio itu. Beberapa menit kemudian ia dibuat mati kutu rasanya. Apa yang Brian pikirkan sami berbuat nekat semacam ini.
Namun hati nurani Themo masih mempercayai Brian. Sekalipun kenyataan membuat Brian bersalah, namun Themo tetap percaya bahwa Tuannya tidak bersalah.
"Kau menjebaknya!"
Pada akhirnya muncul satu asumsi dalam kepalanya. Satu asumsi atas keyakinannya menuduh Tasya, bahwa seluruh bukti itu ada karena Tasya menjebaknya.
"Tidakkah kau melihat bahkan dia disana melakukannya secara suka rela?" Tanya Tasya padanya.
"Kau menaruh obat tidur dalam minumanku, supaya aku tidak bisa mengantarmu pulang. Lalu kau, menghampiri Brian dan memaksanya pergi bersamamu. Kau pasti melakukan hal yang sama padanya! Dasar Iblis kau sungguh!"
"Aku tidak peduli ocehan yang kau lontarkan! Sebab Brian harus menikahiku sekarang, dia sudah mengambil kesucianku!"
"Dimana hatimu Tasya? Kau tau Brian dan Bella saling mencintai. Kau bahkan tau, mereka berdua akan memiliki seorang bayi!"
Ditengah perdebatan mereka. Brian sudah sampai tepat di depan markas pusat. Ia berjalan menaiki lift menuju ke ruangan kerjanya, ruangan miliknya terletak di lantai lima puluh.
...Aku egois, tidak sabaran, merasa sedikit tidak aman ...
__ADS_1
...Aku membuat kesalahan, aku lepas kendali, dan kadang-kadang sulit dikendalikan...
...Tapi jika kau tidak bisa menghadapiku disaat terburukku, kau juga tidak pantas untuk mendapatkanku di saat terbaikku...