Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Menjalankan Satu Rencana


__ADS_3

...Alasan untuk membunuh orang itu banyak, tapi tidak diperlukan alasan untuk menolong seseorang ...


Sudah ada sekitar seminggu sejak dirinya ditinggalkan oleh Bella. Banyak yang berubah dari Brian disini, ia mulai frustasi layaknya orang gila. Seandainya Eddie tau apa yang menimpa kakaknya disini, mungkin ia akan bergerak mencari tau dalangnya.


Namun Eddie sedang tidak berada di Perancis. Eddie sedang ada pertemuan besar dengan para pengusaha lain di Korea. Sudah sekitar satu bulan ia disana. Baik Themo juga Rey selaku orang kepercayaan Eddie, mereka tidak ingin memberitahunya sebab akan mengganggu jalannya bisnis mereka nanti.


Pikiran Eddie akan kacau nanti, itu akan menyebabkan dirinya tidak fokus pada tugasnya. Sekalipun Angela juga ikut bersamanya, namun apabila kabar itu sampai ke telinganya. Baik Angela atau siapapun itu tidak akan mampu menghentikan Eddie untuk pulang.


Sebab Brian adalah segalanya untuk Eddie. Dia adalah seorang kakak yang rela mengotori tangannya demi untuk membesarkan dirinya.


Pranggggg


"Tuan!" Pekik Themo pada Brian.


Pecahan botol bir berceceran di lantai kamarnya. Bau minuman keras memenuhi kamar itu, matanya sayu. Sudah sehari dia tidak tidur, pola makannya juga tidak teratur.


Tasya memang sudah tidak menghubunginya lagi. Brian sudah membereskannya beberapa hari lalu. Pikirannya yang kalut membuat Brian melakukan hal kejam padanya, ia tak terima di jauhkan dari Bella semacam ini. Hari itu, sepulang dari kantornya.


"Aku akan mengurung setan itu kedalam rubanah!"


Ucapan itu membuat Themo beserta Rey yang berada satu mobil dengannya kalut. Sisi kejam Tuan mereka muncul, sisi seorang mafia. Sisi keji yang seharusnya diredam, dikubur tak dilepaskan.


"Tapi Tuan! Itu tindakan kriminal!" Ucap Rey.


"Persetan dengan tindakan kriminal aku tidak membunuhnya. Cukup sekap saja dia! Sekap, jangan dibunuh tetap beri makan dia."


Brian meninggikan intonasi suaranya. Hal itu membuat kedua orang kepercayaannya itu membeku.


Mereka bukan tandingan Brian memang. Hal itulah yang membuat mereka diam disini. Sebab jika sisi mafia Brian kembali, artinya Brian membuang hatinya juga belas kasihnya, siapapun yang mengusiknya saat itu mereka akan tamat.


Saat itu mobil mereka berhenti tepat disebuah rumah makan. Brian masih ingat rumah makan ini, ini adalah rumah makan yang menghancurkannya. Ini adalah rumah makan awal dimana segalanya menjadi buruk.


"Ditempat ini, dia pasti menuangkan sesuatu pada makananku!" Jelas Brian, Rey dan Themo mendengar apa yang Brian katakan.

__ADS_1


"Aku yakin itu semacam obat itu .." Nalar Rey, ia memikirkan satu obat yang mampu meluluhkan nafsu birahi seorang pria. Bukan hanya pria, pada siapapun peminumnya.


"Semacam obat perangsang!" Jawab Themo, Brian mengepalkan tangannya mendengar itu.


Itu adalah argumen yang benar. Namun jika nasi sudah menjadi bubur lantas harus bagaimana sekarang. Memperbaiki atau menghukum itu adalah dua pilihan yang sulit. Jika ia memperbaiki hal yang sudah usai, dan tak mampu di kembalikan seperti hal nya kepercayaan, lantas menghukum adalah jalan pintas kedua yang tepat.


"Ketika dia keluar dari sana, dia akan berjalan kaki!" Jelas Brian.


"Kemana mobilnya?" Tanya Themo heran. Tasya biasanya berangkat dengan mobil. Dia bilang itu adalah mobil tua milik ayahnya yang selalu ia letakkan di bengkel Tua.


"Entahlah, mungkin saja dia menjualnya!" Tambah Rey.


"Mengapa harus menjualnya?" Tanya Themo tak mengerti.


"Coba lihat, dia hidup serba kekudang! Dia tinggal di apartemen sederhana, dengan tarif inap yang murah."


Penjelasan itu hanya membuat Themo manggut-manggut. Kepalanya memang tidak begitu tau, namun ia terpaksa mengangguk paham menutupi ketidakmampuan otaknya yang minim.


Terlihat Tasya keluar dari dalam rumah makan itu. Brian menyuruh Themo mengikutinya dari belakang menggunakan mobil. Ketika mobil mereka mendekat dan Tasya menoleh, Brian meniup satu sumpitan ke arah Tasya.


Pada masa lalu, sumpitan menjadi senjata yang berbahaya karena ujung anak panahnya dilumuri dengan racun yang bisa melumpuhkan hewan buruan atau musuh. Namun saat ini Brian melumuri anak panahnya itu dengan obat bius.


Detik ketika anak panah itu menancap ke arah punggung Tasya. Gadis itu ambruk, namun Brian langsung membuka pintu mobilnya mengangkat tubuh itu masuk ke dalam mobil.


Mobil mereka menuju ke arah salah satu rumah koleksi Brian. Letaknya jauh dari pusat kota, sudah dipastikan tak akan ada orang yang tau bahwa Tasya ada disana.


Disinilah Brian berada saat ini setelah meyekap Tasya. Kerinduannya pada cintanya membuatnya hampir mati frustasi. Selama seminggu Brian bahkan berusaha menghubungi Bella namun apa, tak ada jawaban dari wanitanya.


Juga beberapa hari ini ia berkunjung ke kediaman Stevan. Namun tetap, Bella tidak mau menampakkan wajahnya. Stevan juga berulang kali mengusirnya. Themo dan Rey iba melihat kondisi Tuan besarnya saat ini.


Seperti burung yang kehilangan sayapnya. Tak berdaya tak mampu mengarungi langit. Mereka membereskan pecahan kaca yang berceceran dilantai, mereka takut apabila Brian yang frustasi berjalan diantara kaca lalu terluka.


"Sepertinya kita harus bicara dengan Tuan Eddie!" Ujar Rey disamping Themo.

__ADS_1


"Tidak, jangan! Tugas disana masih banyak. Perusahaan harus tetap berjalan, setelah mereka selesai dari sana. Mereka akan kembali, barulah saat itu kita akan memberitahunya!" Penjelasan itu membuat Rey mengangguk.


Mereka memasukan beberapa pecahan kaca itu pada satu tempat. Sebuah karung kain, merasa pecahan kaca sudah tak ada mereka pun kembali


berjaga didepan pintu kamar Brian.


_______


Ditempat lain Stevan juga Bella sedang menghadiri persidangan. Ini adalah persidangan keputusan mengenai kasus Nami. Dimana tuntutan atas pelenyapan, juga pencurian mobil, ditambah percobaan pembunuhan yang akan ia lakukan pada Bella saat itu.


Mereka berdua duduk menunggu hakim utama datang memenuhi meja mulia didepannya. Dari pintu masuk Nami digiring oleh beberapa polisi.


Baik Stevan juga Bella mengalihkan netra mereka ke arah Nami. Raut wajah datar itu sama sekali tak menyimpan penyesalan. Keluarga korban yang menatap geram ke arahnya. Banyak sumpah serepah muncul berdatangan untuknya, itu menggema.


"Iblis gila kau!" Maki salah seorang keluarga korban.


"Wanita penjahat! Kenapa kau tidak mati saja!"


"Kenapa kau dilahirkan jika hidupmu merugikan orang lain?!"


Tukkkkk


Makian itu berhenti ketika hakim datang memenuhi meja mulia. Saat itu ia menghentikan suara-suara manusia menggunakan palunya. Ia ketuk tepat di atas meja, seperti halnya saat memberi keputusan.


"Harap tenang, persidangan akan segera dimulai!"


Ucapan hakim tertinggi seketika membuat seluruh isi ruangan diam. Bella dan Stevan kembali menatap ke depan. Nami di giring berdiri ditengah-tengah mereka.


"Persidangan, keputusan hukuman untuk Nona Nami Takamura! Dimulai, apa anda siap nona Nami?"


Tanya hakim padanya, Nami mengangguk mendengar pertanyaan itu. Sudah ada banyak Konspirasi yang ia pikirkan untuk menghadapi persidangan ini. Hari ini bukan hukuman yang akan datang, namun kebebasan dan itu pasti.


...Trik adalah puzzle yang dibuat manusia jika manusia mau memeras otak...

__ADS_1


...Suatu saat pasti bisa mendapat jawaban yang logis ...


...Memalukan! Alasan manusia sulit untuk dijelaskan walaupun masuk akal. Walaupun bisa dipahami tapi tidak bisa diakui....


__ADS_2