Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Konspirasi Baru


__ADS_3

...Semua orang bukan temanmu...


...Hanya karena mereka bergaul di sekitarmu dan tertawa bersama...


...Bukan berarti mereka adalah temanmu...


...Orang-orang berpura-pura baik...


...Pada akhirnya, situasi nyata mengungkap siapa mereka sebenarnya...


______


.


.


Seminggu setelah kejadian itu, Brian begitu protektif pada Istrinya. Ia mengenal betul sifat Bella, dimana ia tidak akan pernah mau pergi keluar bersama bodyguard Brian.


Itulah mengapa, untuk penjagaan istrinya ini. Brian memilih dua orang kepercayaannya, Themo dan Rey. Mereka berdua adalah tangan kanan yang Brian percayai.


Saat ini mereka sedang berada di kedai kopi. Disebrang kedai kopi ini ada sebuah toko buku, disanalah Bella saat ini.


Tanpa sepengetahuan Bos wanitanya itu, mereka berada disana atas perintah Brian. Sejujurnya mereka jenuh sekali melakukan ini.


Bukan karena gajinya yang kurang, namun mereka jenuh karena sudah hampir tiga jam lamanya, Bella duduk disana sambil membaca bukunya.


"Rasanya ingin kubakar toko buku itu!" Ujar Themo sembari melirik ke arah seberang.


"Hahaha... Sudahlah, lagi pula ini pekerjaan kita bukan? Kau akan menolak perintah Tetua? Kau tidak akan mendapatkan gaji jika begitu."


Rey disampingnya tertawa mendengar protesan yang terlontar dari mulut Themo. Mereka kembali menyeruput secangkir kopi mereka.


"Mengapa kehidupan Tetua kita masih belum bisa tenang ya?"


Kali ini Themo berucap sambil menyandarkan dirinya di kepala kursi. Ia menatap ke atas, menerka-nerka ragam momen pahit yang sudah Brian lewati.


Pertanyaan itu, sulit untuk dijawab. Pasalnya perbandingan Dosa mereka, dengan kebebasan mereka saat ini. Masih sangat jauh, karma rasanya masih kurang merampas kebebasan dalam damainya hidup Brian saat ini.


"Setelah dia dihadapkan beberapa kali kematian. Lalu, saat ini, bahkan nyawa Nyonya Bella pun juga terancam!" Ucapan itu membuat Rey disampingnya sedikit berpikir.


Didalam kepalanya ia berpikir mengenai keturunan Brian. Bagaimana nanti jika, bahaya ini belum usai? Maka bahaya ini akan menjadi ancaman, selama keturunannya bernafas.


Kebebasan, sekalipun diliputi kekayaan hanya sebuah angan-angan semata. Disitu Rey iba sekali, simpati rasanya. Ia juga ingin menangkap pelaku yang sedang mengusik kehidupan Tetuanya.


"Aku kasihan pada anak-anaknya kelak!" Ujar Rey.


"Betul, Tuan muda kita nanti pasti sangat tertekan! Tetua pasti akan protektif sekali pada keluarganya. Memang resiko mencintai seorang mafia."

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi? Mereka berdua saling mencintai. Apa kau tidak dengar kisah mereka dari, Tuan Eddie?"


Themo tertawa mendengar itu. Benar, kisah tentang Asmara Brian dan Bella diceritakan secara terang-terangan oleh adiknya sendiri, Eddie.


"Dulu mereka sempat dipisahkan, ketika pemberontakan itu terjadi. Tuan Es bilang, disana Nyonya Bella sangat membenci Brian saat itu. Namun karena bantuan Han, Bella menemukan satu fakta yang membuat hatinya juga ikut merasa bersalah." Jelas Themo.


"Benar, manusia rawan menjadi Iblis memang! Termasuk kita, mantan Eksekutor keji namun masih diberi kesempatan untuk bernafas dan bebas. Betapa bersyukurnya rasanya! Hutang Budi rasanya pada Tuan saat ini."


Tak hanya pintar dalam adu senjata atau adu mekanik. Para anak buah Brian, juga sangat setia padanya.


Itu semua dimulai ketika Brian berhasil mengalahkan Shawn. Pemberontakan darinya, berhasil menyelamatkan para Mafia lain, membebaskan mereka untuk memilih jalan yang benar setelah itu.


Dari dalam Toko Buku, seorang Lelaki menghampiri Bella. Itu menyita perhatian Rey saat ini, dengan teropongnya Rey mulai memperhatikan keduanya.


"Ada apa?" Tanya Themo menatap heran ke arah Rey.


"Nyonya besar bersama seorang Lelaki disana!"


Ucapan itu seketika membuat Themo merebut teropong milik Rey. Ia juga ingin tau, siapakah lelaki yang berani mendekati Istri seorang Miliyarder, juga mantan mafia ini.


"Hei, hei! Dia terlihat lebih muda dari Tetua!" Pekik Themo.


"Iya, sepertinya mereka sudah saling mengenal!"


Ujaran itu membuat Themo mengangguk, ia kembali meletakkan teropongnya di atas meja. Kali ini dari dalam jas, Rey mengeluarkan sesuatu.


Alat ini tidak memerlukan penangkapan suara secara langsung, melainkan memanfaatkan permukaan reflektif di dekat target (misalnya kaca, atau bahkan mungkin bisa juga cairan dalam gelas).


Setiap suara yang menerpa benda lain yang cukup tipis akan menggetarkan benda tersebut, sekecil apapun getarannya.


Laser microphone akan menangkap getaran ini dan memprosesnya menjadi suara yang diterima oleh benda yang dibidik oleh laser microphone tersebut.


Biasanya, anak buah Brian ini juga menggunakan Directional Microphone. Directional microphone punya beberapa cara untuk memastikan dia menangkap suara dari satu arah saja, tapi prinsipnya bersumber pada satu teknik : noise cancelling


Directional microphone dengan konstruksi khususnya akan menganalisa dan menghilangkan suara yang bukan berasal dari target yang dibidik secara aktif, sehingga dapat diperoleh suara percakapan target.


Namun hari ini, perlengkapan yang mereka bawa adalah Laser Microphone. Dari jarak yang cukup jauh itu, mereka mulai menyadap pembicaraan antara Bella dan Lelaki disana.


"Nona Bella? Aku jarang melihatmu kemari?"


Lelaki yang sedang duduk bersama Bella disana, adalah Reiner. Pemilik Toko Buku itu, disana Bella nampak sumringah sekali berjumpa dengan Reiner. Mereka berdua duduk, sambil saling berhadapan.


"Hei, iya, kakiku baru saja sembuh! Kemalangan menimpaku beberapa waktu lalu, setelah pulang dari sini." Jawab Bella, disana Reiner membulatkan matanya.


Sontak ia berdiri, mendekati Bella lalu memperhatikan tubuhnya. Hal itu juga membuat Bella terkejut.


"Apa kau baik-baik saja nona? Lantas, bagian manakah yang terluka?" Tanya Reiner bertubi-tubi.

__ADS_1


"Tak apa, itu sudah usai. Aku baik saat ini, terima kasih sudah mengkhawatirkanku."


Mendengar itu, Reiner kembali duduk. Ia menatap lekat ke arah Bella saat ini. Lalu tersenyum, Bella heran rasanya. Sejak tadi rasanya kebahagian sedang menghinggapi diri Reiner.


"Apa yang sedang kau tertawaan, Reiner?" Tanya Bella padanya.


"Tak apa, oh iya! Aku ingin bertanya perihal tawaran yang kuberikan padamu. Apa kau sudah memutuskannya?" Pertanyaan itu membuat Bella sedikit mengingat, perihal kartu nama milik Reiner yang ada padanya.


Disana Bella mengangguk, menutup buku yang dibacanya. Dari dalam saku, Bella mengambil sebuah kartu nama. Itu adalah milik Reiner.


Bella memberikan kembali kartu nama itu pada Reiner. Disana Reiner heran dibuatnya.


"Maaf ya, Terima kasih sebelumnya atas tawaranmu yang ramah ini. Namun, suamiku tidak mengizinkan aku bekerja!"


Dengan berat hati, Reiner mengambil kembali kartu namanya. Lelaki itu masih tersenyum. Sejujurnya ia kecewa sekali pada keputusan Bella ini.


Namun dia bisa apa. Sekalipun dirinya tertarik pada wanita dihadapannya ini, Reiner, hanyalah seorang jelata jika dibandingkan dengan Brian disana.


"Tak apa nona, kau bisa terus mengunjungi toko buku ini jika kau ingin? Pintu kami akan selalu terbuka untukmu!"


Tawaran ramah lagi-lagi Bella dapatkan, entah terbuat dari apakah hati manusia dihadapannya ini. Disana, Reiner mulai lancang menyentuh tangan Bella menggenggamnya.


Itu membuat Bella terkejut, refleks ia menarik lagi tangannya dari Reiner. Lalu tersenyum padanya.


"Terima kasih, aku menikmati waktuku disini. Senja sebentar lagi tiba, sepertinya aku harus pergi dari sini! Terima kasih Tuan Reiner!"


Bella berucap sambil berdiri, ia membungkukkan tubuhnya. Belum sempat Reiner menjawab itu, Bella sudah lebih dulu meninggalkannya.


Disana Reiner hanya diam. Rasanya seperti baru saja ditolak oleh seorang wanita.


Rey dan Themo tersenyum dari kejauhan. Nyonya nya sangat setia sekali pada Tuannya. Mereka berdua, pandai menjaga hati satu sama lain.


Melihat Bella yang keluar dari dalam Toko buku. Rey dan Themo, bergegas meninggalkan kedai kopi. Mereka berlari mengikuti Bella dari arah belakang.


Didalam Toko buku, Reiner mengepalkan tangannya. Penolakan ini membekas dalam hatinya. Dari belakang tubuhnya, seorang gadis berkacamata hitam berseringai menatapnya.


Gadis itu adalah Nami, ia berjalan ke arah Reiner menepuk punggungnya. Ketika Reiner berbalik, ia menatap heran ke arah gadis itu.


"Aku akan membantumu!"


Ucapan itu membuat Reiner diam seketika. Gadis itu duduk didepan kursi dihadapannya. Ia menatap Reiner sambil masih tersenyum.


Hari ini, ketika senja mulai datang. Reiner dan Nami membicarakan obrolan penuh konspirasi. Sebuah konspirasi setan, yang akan menjatuhkan, bahkan merusak hubungan antara Bella dan Brian. Senja ini, adalah misteri bagi hubungan keduanya kelak.


...Beberapa orang nyata...


...Beberapa orang baik...

__ADS_1


...Beberapa orang palsu dan beberapa orang benar-benar pandai berpura-pura ...


__ADS_2