Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Sebuah Kabar Bahagia


__ADS_3

...Tuhan, ajari aku mengenal cinta sebagaimana orang-orang lain mengartikannya ...


________


Dalam kantornya Stevan dibuat putus asa rasanya. Pasalnya setelah ia selidiki hasil dari sidik jari itu, juga mencari latar belakang keluarga Reiner. Disana sama sekali tidak ada tindak kejahatan yang Reiner lakukan.


Pria itu adalah warga negara yang baik. Ia sama sekali tak pernah terlibat dalam tindakan penjahat ataupun kriminal.


Sejenak Stevan menyandarkan tubuhnya di kursinya. Pria ini mencoba menyamankan dirinya disana. Sambil menatap langit-langit ia menerka-nerka, mengapa Bella bisa menyebutkan nama Reiner yang sudah baik padanya.


Dalam keputusasaan itu, seseorang dari balik pintu masuk tanpa mengetuk. Hal itu sontak membuat Stevan memperbaiki posisi duduknya.


"Stevan?!" Pekik manusia itu, tepat ketika Stevan menatapnya raut wajahnya mendadak berubah dingin.


"Brian? Kau, ada apa kemari?" Tanya Stevan padanya.


Brian dengan raut muka serius berjalan menghampirinya. Ia duduk dihadapan Stevan sambil menyerahkan sebuah amplop coklat. Stevan menatap heran ke arah amplop itu.


"Apa itu?" Tanya Stevan heran.


"Buka dan bacalah!" Jawab Brian padanya, disana Stevan mengangguk.


Jari jemarinya mulai membuka amplop itu. Mengeluarkan isi dari dalam amplop itu. Sebuah catatan panggilan, juga sebuah memori kecil.


"Catatan panggilan, dari nomor asing? Di ponsel kakakku?"


Stevan bertanya sambil membaca catatan itu. Disana Brian mengangguk mendengar itu, sembari memeriksa catatan itu sejenak Stevan memperhatikan memori itu.


"Dan ini?"


"Sebuah rekaman suara percakapan mereka!"


Stevan membulatkan matanya mendengar itu. Sejak kapan pria ini mendapatkannya, lantas mengapa ia sama sekali tak datang padanya.


"Kau!!!" Pekik Stevan seraya mencengkram kerah kemeja Brian penuh emosi.


"Lepaskan, aku memahami amarahmu ini!"


"Lantas mengapa kau menyuruhku melepasmu jika kau paham?"


Brian tau, Stevan sangat protektif pada Bella. Ia senang, namun kadang ia juga risih akan sifatnya ini. Perlahan Brian melepas cengkraman tangan Stevan.


"Kau ingin mendengarkanku atau tidak?"


Pertanyaan itu sekejap membuat Stevan diam. Sejenak ia mencoba meredam amarah dalam dirinya. Sambil bersandar di kepala kursi, netranya menatap penuh ke arah Brian dihadapannya.

__ADS_1


"Bella memang tidak bercerita tentang ini padaku. Namun beruntungnya, CCTV dalam kediaman kami dilengkapi Microphone. Rekaman ini di ambil di balkon. Aku punya kebiasaan memeriksa CCTV kediaman rumahku tiap satu Minggu sekali."


"Jadi kau baru menemukannya?"


Pertanyaan itu membuat Brian mengangguk. Disana Stevan memutuskan untuk mendengar, percakapan apa yang Bella katakan disana.


Stevan membuka kembali laptopnya. Ia mulai memasukkan memori kecil itu dalam ponselnya. Da dari dalam ponsel itu di salurkan dalam laptop. Baik Stevan juga Brian mulai mendengar baik-baik tentang apa yang sedang Bella bicarakan.


Berdasarkan percakapan dari Bella, wanita itu disana seperti sedang di ancam. Mereka hanya mampu mendengar apa yang Bella katakan. Sedangkan percakapan didalam ponsel, CCTV tidak bisa menangkapnya.


"Mengapa dia tidak menceritakan sendiri padamu?"


Stevan menghentikan vidionya lalu menatap ke arah Brian. Sebuah pertanyaan dalam kepalanya, mengapa Bella sama sekali tidak menceritakan itu pada Brian.


"Sejujurnya itu adalah jawaban yang sedang kucari sampai saat ini. Kami berada di satu atap yang sama! Kami melewati segalanya bersama, namun Istriku lebih memilih bungkam dariku yang begitu mengkhawatirkan keselamatannya."


Mendengar itu Stevan sedikit tersentuh. Itulah mengapa Bria teliti sekali dalam memperhatikan keselamatan Bella.


"Aku akan membantumu! Kau tenang saja!"


"Terima kasih banyak Stevan!"


"Ungkapan menjijikan macam apa itu! Aku benci mendengarnya."


Brian dibuat tertawa dengan jawaban Stevan. Selalu saja begini adik iparnya ini. Brian mengingat sesuatu, perihal Bella. Sepertinya Brian harus mengatakannya pada Stevan saat ini.


Tanpa menjawab Stevan hanya mengangguk. Hal itu membuat Brian kembali tersenyum. Sekalipun hatinya masih belum terlalu siap setelah menerima kabar itu, namun Stevan juga harus diberitahu.


Bagaimanapun juga, Stevan adalah satu-satunya keluarga yang Bella miliki disini.


"Bella Hamil!"


Ungkapan Brian membuat Stevan membulatkan mata seketika. Bedebah dihadapannya ini terlalu sering mengagahi kakaknya, lihatlah sekarang akibat dirinya kakaknya itu hamil.


Sejujurnya Stevan cemburu tiap kali kakaknya lebih sering menghabiskan waktu dengan Brian, sekalipun kau tau bahwa Brian adalah suami kakaknya.


Namun mau bagaimana lagi. Manusia tumbuh terlalu cepat, mereka akan mengalami fase dimana mereka hidup berdampingan bersama orang lain. Membuat keluarga kecil disana.


Stevan menitikkan air matanya, ia menangis disana. Ini bukan sebuah tangisan pedih atau pilu. Inia salah tangisan kebahagiaan. Rupanya sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang Paman.


"Kau menangis Stevan?" Tanya Brian sambil memperhatikan Stevan didepannya.


"Bagaimana aku tidak menangis. Aku akan segera menjadi seorang Paman."


"Ya kau akan menjadi seorang Paman!"

__ADS_1


"Kau jangan pernah meninggalkan kakakku! Atau kau akan mati ditanganku jika itu terjadi!"


"Kau tenang saja, itu tidak akan terjadi."


Brian mengucapkan itu sambil mengangkat kedua tangannya, menandakan bahwa ia menyerahkan diri. Merasa seluruh ha sudah Brian katakan, Brian pun bangkit dari duduknya.


"Kau mau kemana?" Tanya Stevan.


"Aku harus pergi bekerja, sudah dulu ya!"


Setelah mengucapkan hal itu, Brian pun berlalu dari hadapan Stevan. Saat ini Stevan kembali memikirkan sesuatu. Sesuatu mengenai penangkapan pelaku yang menabrak kakaknya.


"Dimanapun beradamu, aku pasti akan menemukan dirimu!"


Lirihan itu berisi tekad, sebuah tekad kuat untuk meringkus. Meringkus seorang pelaku yang sedang bersembunyi. Sepertinya hari ini Stevan harus lembur untuk menyelesaikan kasusnya.


Sementara ditempat lain Bella sedang duduk didepan pianonya. Disana jari-jari lentiknya mulai bermain. Nada-nada dari dalam piano mengalun, memenuhi aula rumahnya.


Dentingan terakhir dari piano itu membuat Bella mengingat kembali kejadian semalam. Sebuah kejadian dimana dirinya dan suami tercintanya melakukan hubungan itu lagi.


Setelah melakukan hal itu bersamanya. Bella dengan kebahagian dalam dadanya mengatakan pada Brian. Bahwa dirinya sedang mengandung.


Brian bilang padanya bahwa ia siap menerima kehadiran anak dalam perut Bella. Dia bilang, ia sudah tidak takut lagi perihal apabila waktu juga cinta Bella terbagi.


Disana Bella menggerakkan tangan kanannya menyentuh perutnya, lalu tersenyum. Ia mengusap area itu lembut sekali.


"Kami tidak sabar menunggumu disini!" Lirih Bella.


Terlarut dalam kegiatannya tiba-tiba Bella dikagetkan dengan kehadiran salah satu pelayanannya.


"Nyonya!" Panggil seorang pelayan.


"Iya, ada apa?"


Pelayan itu datang menghampiri Bella sambil membawa secangkir teh panas.


"Nyonya ini adalah teh yang berkhasiat. Silahkan minum!"


Tawaran itu membuat Bella tersenyum. Bella mengangguk menerima jamuan itu, lalu melatakkanh di atas meja kecil sampingnya.


"Terima kasih ya!"


"Iya, sama-sama Nyonya!"


Usai memberikan jamuan, pelayan itu pun berlalu dari hadapan Bella.

__ADS_1


...Aku mencintaimu...


...Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu ...


__ADS_2