Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Durasi Karmamu


__ADS_3

...Tidak ada yang pantas menderita, tetapi terkadang itu hanya giliranmu...


...Lakukan hal baik dan kebaikan akan mengikutimu...


Manusia adalah bidak skenario, di rancang dan diciptakan Tuhan sebagai penghias. Semesta dan kita adalah ilusi, seberapa panjang durasi nafasmu dibumi kalian tetaplah makhluk fana takdir akhir kalian adalah binasa dan rusak. Begitu pula dengan kebahagian, kenikmatan, keindahan segala ruang indah dalam sisi bumi, memiliki jangka waktunya sendiri.


Saat ini rembulan mulai lelah menjalankan tugasnya, rotasi pergerakan bumi masih berputar, putaran itu memanggil Sang Surya hadir menyambut pemilik mata yang masih mengarungi pulau kapuk, mencoba mengusik, membangunkan mereka dengan hangat cahayanya.


Brian masih terpejam, apa yang terjadi semalam cukup berat baginya untuk sekedar membuka mata. Sedangkan di hadapan lemari pakaian, wanita cantik ini, Bella, sedang sibuk memilih pakaian.


Kebahagiaan itu hari ini memenuhi hatinya, kalender yang di lingkari itu mengingatkannya akan satu hal. Hari ini adalah hari bahagia, dimana dirinya dan kekasihnya akan memilih baju untuk pernikahan mereka yang akan di selenggarakan satu Minggu lagi.


Bella menghampiri tirai jendela yang masih tertutup, tangannya terangkat membuka tirai jendela, satu tarikan dari tangannya membuka tirai jendela itu sepenuhnya. Cahaya mentari masuk sepenuhnya kedalam kamarnya. Terdengar jelas gemuruh ombak begitu damai pagi ini, semilir anginnya sejuk tak berlebihan.


Lenguhan kecil dari balik selimut, menyita perhatian Bella, ia pun berbalik. Brian selaku pemilik bola mata sebiru safir itu membuka matanya, menatap satu sosok yang sedang berdiri tepat dihadapan jendela.


"Kau sudah bangun?" Tanya Bella padanya, pening itu masih melekat rasanya pagi ini. Sejenak Brian meregangkan otot-ototnya lalu mencoba duduk, Bella masih berdiri di hadapan jendela sambil memperhatikannya, melipat tangannya di dada mematri wajah kekasihnya yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Berat sekali kepalaku sayang." Ujar Brian seraya memegangi pelipisnya, Bella hanya menyeringai mendengar itu. Bagaimana kepalanya tak berat jika semalam tujuh botol sake sudah ia teguk dengan sangat brutal.


"Kau sendiri liar memang semalam!" Ucap Bella, Brian memijit pelipisnya mencoba mengurangi pening di kepalanya.


"Kukira aku hanya meneguk tiga gelas saja?" Bela Brian tak ingin di maki lagi oleh kekasihnya itu.


"Tiga kali lima ya?" Ujar Bella, pernyataan itu membuat Brian tersenyum padanya.


"Kau ingin diambilkan sesuatu?" Tanya Bella pada Brian, namun Brian hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak, mungkin duduk sebentar akan menghilangkan peningnya." Jawab Brian, Bella mengangguk mendengar itu.


"Baiklah aku akan membersihkan diri sebentar." Ujar Bella, Ketika Bella sudah berada di kamar mandi ada yang aneh disini.

__ADS_1


Pintu kamar mandi itu tak tertutup juga tak di kunci, heran dengan hal itu Brian pun bangkit dari duduknya mencoba memeriksa sesuatu disana.


"Sayang, kenapa kau tak mengunci..." Ucapan Brian terpotong ketika melihat Bella sedang menggosok giginya sambil menghadap wastafel.


Bella yang bisa menatap kekasihnya dari pantulan cermin itu hanya menaikkan satu alisnya, seakan bertanya ada apa.


"Ahhh tidak, aku hanya heran saja mengapa kau tidak mengunci pintunya." Ucap Brian, Bella meraih cangkir kecil di atas wastafelnya lalu mengisinya dengan air, ia meneguknya berkumur dengan air itu dan memuntahkannya.


Bella meletakkan kembali sikat gigi dan gelas itu, lalu berjalan menghampiri Brian di ambang pintu melingkarkan tangannya ke leher Brian lalu menatapnya dalam.


"Hei, ada apa ini?" Tanya Brian heran, apakah Bella akan meminta izin mengenai masalah pekerjaan yang ia mau.


"Hunny, kau tidak lupa kan?" Tanya Bella, pertanyaan itu membuat Brian mengernyitkan keningnya, hal apa yang sedang Bella bahas pagi ini.


"Apa?" Tanya Brian yang masih tak mengerti, Bella pun menjauhkan dirinya dari Brian. Apakah Pria ini lupa hari ini hari apa, kesal sekali rasanya mendengar pertanyaan lain justru di lontarkan padanya.


"Hei, hei kau kenapa? Kenapa mukamu masam sekali?" Tanya Brian meminta penjelasan, namun tetap Bella hanya bungkam. Ketika Brian akan masuk mendekatinya seketika itu juga Bella menutup pintu kamar mandinya.


Brian kembali mendekati ranjangnya disana ia duduk, sejenak netranya memperhatikan jarum jam, ini masih pagi, masih pukul tujuh lantas apakah yang membuat Bella kesal padanya pagi ini. Samar-samar memori itu kembali tentang tanggal ini, tanggal dimana bersamaan dengan Bella memilih rumah ini untuk di tempati, disana Brian berjanji bahwa tanggal ini mereka akan memilih baju pernikahan. Brian menepuk pelan keningnya bagaimana ia bisa lupa pantas saja pagi ini wajah kekasihnya itu suram sekali untuknya.


Setelah mengingat akan ada apakah hari ini, Brian pun bangkit dari duduknya lalu pergi dari kamar Bella.


"Bodohnya kau Brian sungguh, tamat kau jika hari ini Bella meledakkan amarahnya padamu." Batin Brian seraya berlari terburu-buru ke arah kamar mandi lain yang ada di sebelah kamar Bella.


_______


Disisi lain Eddie sedang meneliti sesuatu bersama Themo dan Rey di ruang meetingnya. Entah ada apa masalah apa lagi sekarang, namun beberapa bodyguard Brian tak sengaja memotret kehadiran seorang penguntit setelah apa yang terjadi beberapa minggu yang lalu.


Bodyguard Brian mengambil foto orang itu namun yang mereka dapatkan hanyalah bagian tubuhnya, bukan wajahnya.


"Jadi kira-kira siapa dia?" Tanya Themo seraya memperhatikan sejumlah kertas foto yang terpampang diatas mejanya. Eddie menggeleng pelan mendengar itu.

__ADS_1


"Nami, sudah kita tahan tapi siapakah manusia mencurigakan ini?" Tanya Rey.


"Aku belum tahu pasti mengenainya jujur, bahkan dari segi postur tubuh aku juga mengenalinya." Ujar Eddie.


"Tapi jika ia adalah ancaman bagi Brian, Pria ini pasti sudah melakukan sesuatu ketika ia berada dirumah sakit." Ujar Themo.


"Kau benar, lantas siapakah pria ini? Ada kepentingan apa beberapa hari ini menguntit kakakku?" Tanya Eddie.


"Tetua tidak mungkin terlibat rentenir kan?" Tanya Themo, Eddie berseringai mendengar itu, konyol sekali pertanyaan rekannya ini.


"Bagaimana seorang miliarder bisa terlibat rentenir? Katakan? Jelaskan kronologinya." Ujar Eddie, Themo dan Rey tertawa mendengar itu.


"Hahaha, aku hanya sedang bercanda saja." Jawab Themo.


"Jadi, apakah lebih baik kita bertemu Tetua, lalu mengatakan segalanya?" Tanya Rey, Eddie menggeleng mendengar itu.


Sebentar lagi hari bahagia untuk Brian dan Bella, jika Brian tau ada masalah sedikit saja yang datang menghampirinya sebelum pernikahan. Brian pasti memutuskan untuk menyelesaikan masalah itu, memprioritaskannya sampai usai. Eddie tak ingin itu terjadi, karena baginya penantian kedua insan itu sudah cukup panjang. Sudah waktunya mereka bersatu dan bahagia bukan?


"Kita akan sama-sama mencari tau mengenai Pria ini, tapi jangan biarkan kakak tau hal ini dulu." Jelas Eddie.


"Kenapa begitu?" Tanya Themo.


"Karena pernikahan mereka lebih utama sekarang, sembari persiapan pernikahan itu berjalan mari kita buang waktu kita dengan meringkus pria ini. Cari tau saja, datangnya darimana, untuk keperluan apakah ia kemari dan menguntit kakakku." Jawab Eddie.


"Baiklah, sesuai perintahku kami akan melaksanakannya." Ujar Themo, di iringi dengan Rey yang mengangguk sambil berdiri.


"Baiklah, kami izin pergi!" Ujar keduanya, Eddie mengangguk mendengar itu.


Ketika keduanya pergi dari sana Eddie menyandarkan tubuhnya di kursi menyamankan dirinya disana, sambil menatap langit-langit ruangan ia menerka-nerka mengenai sosok penguntit itu. Namun sama sekali tak ada kecurigaan muncul untuk siapapun, pasalnya disini mereka sama sekali tak di kenal, lalu siapakah pria itu. Bahkan identitas dari pemilik perusahaan besar mereka pun tak ada yang tau, hanya orang-orang penting kepercayaan Eddie dan Brian saja yang mengetahuinya.


...Sadarilah bahwa segala sesuatu terhubung dengan segala sesuatu yang lain...

__ADS_1


...Saat dia menanam, dia juga memanen itulah area karma...


__ADS_2