
Bella sedang berlari kecil di koridor rumah sakit, menuju sebuah kamar rawat VIP. Tepat ketika dia tiba, di depan ruang rawat itu ia membukanya. Namun yang dilihat bukanlah seorang pemuda yang ingin ia temui, tetapi seorang pemuda bersurai coklat panjang.
"Eddie? Dimana Brian?"
Eddie hanya tersenyum mendengar itu, ia menunjuk kecil ke arah jam tangan miliknya.
"Ini masih pagi, Brian biasa olahraga!"
"Kapan dia kembali?"
"Entahlah mungkin sekitar jam delapan!"
"Dia itu olahraga atau apa? Lama sekali? Jangan- jangan dia menggoda wanita lain!"
Eddie tertawa lepas, mendengar keluhan kecil yang terlontar begitu saja dari mulut Bella.
"Tidak akan, dia hanya mencintaimu kan?"
"Percuma saja, aku tidak bisa tenang!"
"Jam delapan kan sebentar lagi? Hanya kurang setengah jam."
"Tidak aku harus menelponnya!"
"Kenapa kau berlebihan seperti itu?"
"Biarlah, dia harus segera kemari!"
Bella merogoh tas selempangnya, mengambil ponselnya, dan mulai menghubungi Brian. Berulang kali Bella berbicara, tapi tidak ada respon dari Brian. Sedangkan Eddie hanya tersenyum melihat itu. Tak lama, seseorang mengambil ponsel Bella, dari belakang punggungnya hingga menyebabkan Bella beralih menghadap belakang.
"Apa yang kau lakukan ini?" Tanya Brian, membuat Bella terkejut.
"Kapan kau datang? Dan sejak kapan? Bukankah kau akan selesai olahraga jam delapan."
"Aku kasihan pada adikku jika aku tak cepat cepat kemari!"
"Kasihan? Kenapa?"
"Karena dia, harus mengahadapimu yang terlalu banyak bicara. Dan mengeluarkan kata-kata konyol, yang tidak benar adanya!"
"Itu karenamu!"
"Aku hanya pergi satu jam-an yang lalu dari sini. Apa kau sudah merindukanku?"
"Aku tidak bilang merindukanmu!"
Eddie sedikit terganggu, karena kebisingan dari dua orang yang ada di hadapannya ini. Kebisingan yang memenuhi kamar, yang tadinya tenang.
"Baiklah, lanjutkan perbincangan kalian! Lebih baik aku pergi!"
"DIAM!!!"
Mendengar sentakan kecil dari Brian dan Bella, Eddie terkejut ia tertawa dalam hatinya. Ternyata dua orang cerdas di depannya ini, bisa berubah jadi anak kecil, pikir Eddie yang langsung meninggalkan kamar rawat Brian.
"Kau menyebalkan! Kau membuatku menunggu!"
"Tapi tak lama kan?"
"Itu lama bagiku!"
"Bahkan tidak ada lima belas menit kau menungguku"
__ADS_1
"Tetap saja!"
"Daripada kau banyak bicara, lebih baik kau ikut aku!"
"Kemana?"
"Bisakah kau diam sebentar?"
"Cukup ikuti aku dan jangan banyak bicara!"
Brian mengajak Bella keluar dari rumah sakit. Setelah keluar dari sana Brian menuntunya menuju sebuah sepeda, Bella menatap bingung sepeda itu.
"Untuk apa ini?"
"Kita akan berkeliling Tokyo!"
"Hah? Dengan sepeda ini?"
"Tentu saja!" Brian mulai mengambil alih sepeda itu dan menaikinya.
"Apa yang kau lihat? Kau mau tidak?"
"Tapi sepedanya hanya satu, bagaimana aku ikut?"
"Kau fikir aku akan membiarkanmu membawa sepeda sendiri? Naiklah disini!"
Brian menepuk besi panjang yang menghubungkan besi itu langsung pada setir sepeda, Bella tertegun mendengar itu, Brian menarik tangannya.
"Jangan banyak berfikir ayo langsung naik saja!"
"Ta tapi!"
"Ada apa lagi? "
Brian terkikik mendengar rengekan kecil dari bibir Bella. Dicubitnya kecil hidung Bella dan tersenyum.
"Kau ini lucu ya? Apa kau tidak melihat? Ada aku disini, dasar!! Ayo naik!"
"Tapi kau harus janji, tidak akan membiarkan aku jatuh dari sepeda!"
"Bagaimana jika kau saja yang menyetir?"
"Aku tidak bisa!"
"Hah?! Serius?! Gadis cerdas sepertimu tidak bisa naik sepeda?"
"Karena dulu aku pernah jatuh dan sekarang sedikit trauma."
Brian mengukir senyum kecil di wajahnya, ditariknya lembut tubuh Bella, detik kemudian Bella sudah duduk di besi panjang yang terhubung pada setir sepeda itu.
"Apa kau serius?"
"Sudah, tenanglah aku bersamamu kan?"
"Pelan pelan saja?"
Brian mengangguk kecil, dan mulai mengayuh sepeda itu perlahan. Bella berpegang erat pada setir sepeda.
"Kita mau kemana?"
"Entahlah, kau ada ide?"
__ADS_1
"Bagaimana, jika ke taman kota?"
"Taman Kota?"
"Iya, Brian!"
"Selain itu tak ada lagi?"
"Tidak, aku hanya ingin kesana!"
"Lalu?"
"Kita jalan-jalan begini saja sambil mengobrol?"
"Aku mau ice cream!"
"Kau mau ice cream? Baiklah kita akan membelinya di supermarket!"
Brian tersenyum kecil, ketika ia mengingat sesuatu. Dia mengusap lembut surai Bella membuatnya mendongak menatapnya.
"Ada apa?"
"Tidak apa!"
Pagi itu jalanan kota Tokyo sangat asrih dan tenang, Brian mengayuh santai sepedanya itu. Jalanan yang ia lalui di setiap sisi terdapat pohon sakura yang sangat indah, daunnya berguguran. Bagaikan hujan, yang menghujani sepasang kekasih yang tengah menikmati kebersamaannya.
"Sakura mulai jatuh! Bukankah ini musim gugur?" Ujar Brian.
"Mungkin saja ini keajaiban dari Tuhan!" Brian tertawa mendengar itu.
Brian menghentikan laju sepedanya tepat di depan sebuah supermarket. Bersama dengan Bella keduanya mulai turun membeli es krim, ketika mereka berdua mendapatkannya mereka pun keluar dari supermarket itu. Mereka berdua menikmati es krim mereka masing-masing, setelah mereka menghabiskan es krim mereka masing-masing Brian pun mengayuh sepedanya lagi.
"Menurutmu Tokyo dan Saporo lebih indah mana?" Tanya Brian.
"Tentu saja Saporo!" Mendengar jawaban itu Brian tersnyum kecil.
"Kenapa? Bukankah lebih indah Tokyo?"
"Itukan pendapatmu, pendapatku berbeda darimu!"
"Kenapa lebih indah Saporo?"
"Disana sangat berkesan!"
"Oh ya, kesan apakah itu?"
"Kau sendiri juga pernah kesana kan? Kesan apa yang paling istimewa disana?" Brian sedikit berfikir kecil sebelum menjawab pertanyaan Bella.
"Kau!" Ucap Brian dengan riang. Bella mendongak mengetahui jawaban yang baru saja Brian lontarkan.
"Aku?" Tanya Bella lagi pada Brian tanda dirinya tak begitu yakin dengan apa yang ia dengar, sebuah anggukan kecil Brian berikan padanya.
"Kenapa harus aku?" Tanya Bella lagi.
"Karena tanpamu Saporo tidak akan pernah berkesan!"
"Wah, hal itu membuatku merasa istimewa!" Dengus an kesal keluar begitu saja dari Brian, Bella gadisnya ini begitu senang akan sebuah kenyataan manis yang ia lontarkan. Tetapi hal itu benar, bagi Brian Kota Saporo tidak akan pernah berkesan tanpa adanya Bella di sampingnya.
"Jangan besar kepala dulu dasar!" Ujar Brian sedikit kesal, tawa Bella yang renyah pun menggema merdu, mengalun masuk dalam indra pendengarannya. Lagi, pandangan keduanya kembali memperhatikan jalanan Kota Tokyo yang sedang mereka lalui.
Hening sesaat tak ada pembicaraan yang mereka lontarkan, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Ntah, apakah yang terbesit dalam pikiran dua insan ini saat ini.
__ADS_1
"Akan kemanakah kita sekarang?" Tanya Bella lembut, Brian pun juga memikirkan hal yang sama. Tak lama senyum kecil itu mulai mengembang dalam wajah tampannya, yang menawan itu.