
...Orang yang kuat hatinya bukan mereka yang tidak pernah menangis...
...Melainkan orang yang tetap tegar ketika banyak orang menyakitinya...
...Jangan terlalu berharap pada seseorang, karena ketika dia tak mampu memenuhi harapanmu, kekecewaan akan hiasi harimu...
Penjelasan dari Bella membuat Brian kembali bersemangat rasanya. Cintanya tidak melupakannya bahkan membencinya, Bella hanya sedang mencari jawaban.
Brian sedikit merapikan kemejanya lalu ia tersenyum ke arah kaca, menatap dirinya yang sudah cukup rapi. Sudah waktunya baginya menjalankan rencana. Pihaknya harus merasakan bahwa ia dan Tasya ada hubungan nanti.
Sebuah rencana akan dijalankan olehnya. Brian keluar dari dalam kamarnya, saat ini tujuan dalam kepalanya adalah kediamannya yang lain
Rumah tempat dirinya menyekap Tasya.
Beberapa bodyguardnya memberi hormat padanya ketika ia keluar dari dalam rumah. Brian menghampiri ferarinya lalu masuk dan pergi dari sana.
Dalam mobil Brian mencoba merangkai sandiwara yang akan ia jalankan. Segalanya harus berjalan mulus sesuai dengan rencanannya.
"Kau manusia baru yang datang kemari, kau membuat badai dalam duniaku. Bella dan Aku tidak mungkin bisa di jauhkan semudah itu. Siapapun biangnya, aku akan menghancurkanmu secepatnya!" Lirih Brian berseringai.
Jalanan kota Paris cukup padat pagi ini. Namun itu tak masalah bagi Brian, ia menikmati kepadatan kota pagi ini. Beberapa manusia ada yang tergesa-gesa masuk kedalam bus. Ada juga yang sedang frustasi melihat lalu lintas padat.
Ketika lampu kembali hijau, Brian kembali melakukan mobilnya. Butuh waktu sekitar satu jam untuknya sampai kesana. Sebab kediamannya itu jauh dari pusat kota.
Sesampainya disana Brian langsung memarkirkan mobilnya. Ia masuk kedalam kediamannya, disana ia sama sekali tak menemukan Themo dan Rey. Entah kemana mereka pagi ini.
Brian turun menuju rubanah. Rupanya disana tak ada siapapun, ia masih ingat menyekap Tasya disini. Sepertinya ada yang membebaskannya.
Brian memilih memeriksa lantai tiga rumahnya. Tiap pintu kamar ia jelajahi. Tibalah ia membuka kamar ketiga lantai tiga. Disana ada beberapa manusia bergerombol.
"Kalian?" Tanya Brian setengah terkejut ketika melihat, Tasya dikeliling oleh orang-orangnya.
Disana ada Eddie juga Angela. Mereka berdua menatap lekat ke arah Brian saat ini.
"Brother, ada yang perlu kubicarakan padamu!" Eddie berdiri menghampiri kakaknya di ambang pintu.
Namun Brian di sana masih terpaku sambil menatap lekat ke arah Tasya. Terlihat Tasya disana ketakutan, Angela disampingnya hanya diam sambil memperhatikannya.
Mereka baru saja melakukan tes kehamilan. Mungkin Angela juga harus ikut bersama Eddie kali ini.
"Tinggalkan kami sendiri!"
Ucapan dari Brian sekejap membuat seisi ruangan itu membulatkan mata. Apa maksudnya, mengapa ia ingin berada dalam satu ruangan bersama dengan Tasya.
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan kakak?" Tanya Eddie tak percaya.
"Sudah ku bilang bukan? Tinggalkan aku sendiri!" Ucap Brian lagi sambil menatap ke arah Eddie.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Eddie lagi, ia takut kakaknya ini akan melakukan sesuatu yang buruk nantinya.
"Mengapa aku harus membunuh calon pewarisku, yang sedang berada didalam perutnya."
Eddie terkejut mendengar apa yang Brian katakan. Bukankah menurut apa yang Themo katakan, Brian tak akan menerima anak hasil hubungannya dan Tasya.
"Hei, apa yang kau katakan ini? Waraskah kau ini kakak?" Tanya Eddie lagi padanya.
Namun Brian menghiraukan itu, ia berjalan mendekat ke arah Tasya. Disana ia masih meringkuk takut pada Brian. Sebab apa yang Brian lakukan padanya saat menyekapnya itu sakit.
Namun ia sudah cukup waras hari ini. Kegilaannya saat itu adalah pelampiasan kekesalannya. Ketika Bella datang padanya menjelaskan segalanya, Brian sudah sangat lega.
"Kau takut padaku?" Tanya Brian saat ini ia duduk ditepi ranjang tepat disamping Tasya.
"Jangan mendekatiku!" Jawab Tasya memundurkan dirinya.
"Maafkan aku, saat itu aku benar-benar kehilangan arah rasanya."
Brian menarik tubuh Tasya ke arahnya memeluknya. Bisa Brian rasakan disini, Tasya benar-benar ketakutan. Ia trauma sepertinya, sebab saat itu ketika Brian menyengkapnya disana ia benar-benar melampiaskan kekesalannya.
Ketika Tasya sadar, Brian yang gelap mata menyiksanya. Dengan banyak cambukan, Thomo dan Rey yang tak mampu berbuat apapun hanya mampu menunduk sembari memejamkan kedua mata mereka. Mereka yang berjaga diluar ruangan mendengar teriakan Tasya berulang kali.
Itu adalah sisi gela mafia. Belas kasih mati, simpati mati, tak ada sisi manusia dalam diri mafia. Membunuh satu orang akan menyabang sampai ke seluruh anggota keluarganya.
Beruntungnya hari itu, tidak berlangsung lama. Eddie datang di waktu yang tepat. Membebaskan Tasya, lalu mencari dirinya. Karena Eddie pula Bella datang menemuinya dan mengatakan segalanya.
"Apa yang Tetua ucapkan?" Bisik Themo pada Eddie disampingnya. Mereka masih terpaku sambil menatap Brian dan Tasya disana.
"Aku tidak tau ini, tetapi dia sudah tidak waras."
Themo membulatkan mata mendengar apa yang Eddie katakan. Itu adalah jawaban paling berani yang pernah Eddie ucapkan.
Seumur hidupnya, Themo tidak pernah sekalipun mendengar Eddie berani memakai Brian. Baru kali ini, tatapan kesal itu murni Eddie berikan pada kakaknya.
"Kak, apa kau gila? Kau memeluk wanita lain selain Bella disini. Kewarasanmu ini kemana?" Murka Eddie sambil menatapnya.
"Jika seseorang mencampakkanku semudah itu, mengapa aku tidak bisa? Lantas kau ingin apa, aku murung sepanjang hari karenanya? Tidak, itu bukan sifat seorang Brian disini. Aku berkuasa atas hidupku, manusia lain tidak berhak mencampuri urusanku termasuk adikku sendiri." Brian berucap sambil masih memeluk tubuh Tasya.
"Mengapa arogansi ini muncul lagi? Apa kau lupa rasanya kematian? Sebab sifat inilah yang membuatmu dibunuh berkali-kali oleh orang-orang. Sebab ini..."
__ADS_1
"Bagus!" Brian memotong ucapan Eddie lalu berseringai menatap lekat ke arah adiknya yang sedang naik pitam.
"Huh, bagus?" Pekik Eddie padanya.
"Ya bagus, setidaknya dunia bisa membunuhku lagi sekarang jika mereka mau. Tak usah kalian menyelamatkanku lagi, sebab aku akan menerima apapun yang dunia berikan padaku. Bukankah kau bilang padaku, jika karma itu berlaku. Ya sudah, kalau memang aku mati nanti itu adalah karmaku. Tak usah kau peduli padaku."
Eddie mengepalkan tangannya kuat kali ini. Rasanya ia tak tahan lagi, kakaknya ini benar-benar membuatnya emosi.
Brian memang kakaknya, namun Bella dia juga sudah Eddie anggap seperti kakak kandungnya sendiri. Brian sudah menyakiti wanita yang sudah berjasa mengajarkan padanya apa itu kehidupan.
Lalu, apakah semudah ini ia akan melepaskan Bella. Tidak, Eddie tidak akan menerima itu semudah ini. Eddie maju mendekati kakaknya disana, sebelum ia sampai kesana Themo menahannya.
"Jangan!" Ucap Themo, ia tau apa yang akan Eddie lakukan nanti.
"Aku menghormatimu sebagai kakakku! Tapi apa ini, kau sama saja mengkhianati Bella disini. Tadinya aku berfikir ini adalah konspirasi, tapi melihatmu merengkuh gadis murahan itu. Membuatku semakin jijik padamu kak! Persetan dengan persaudaraan kita, sebab ulahnya sendiri saat ini gadis itu hamil anakmu!"
Eddie melemparkan hasil tes kehamilan yang baru saja Angela berikan padanya. Brian terkejut mendengar itu.
Ia berusaha menutupi amarah dalam hatinya yang juga memuncak. Ini adalah masalah serius untuknya. Namun Bella menyuruhnya untuk tetap berjalan sesuai rencana, dek menemukan siapakah dalang dibalik seluruh konspirasi ini.
"Bagus kalau begitu, mengapa kau harus marah? Jika kau memang tak suka melihat kami bersatu. Pergilah! Mengapa kau harus berteriak padaku?"
"Persetan denganmu Brother!!!"
Buaghhhhh
Eddie menarik tubuh Brian paksa lalu melempar tubuh itu ke arah dinding, menghempaskannya disana.
Dibandingkan dengan Eddie, Brian lebih unggul disini. Namun ia tidak akan menyakiti adiknya. Brian hanya menghindari segala serangannya.
Hingga tibalah ia menemukan timing terbaiknya. Segera Brian menggunakan pelumpuhan sederhana, yang tidak berbahaya namun cukup untuk membuat Eddie pingsan.
Ketika Eddie jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Angela dengan sigap datang menghampirinya, ia syok melihat itu, Brian benar-benar tega. Disana gadis itu juga menyumpahinya, sakit memang namun Brian berusaha tidak mempedulikan hal itu.
Themo dan Rey juga menghampiri Angela. Segera mereka membawa tubuh Eddie keluar dari dalam kamar itu.
Entah kemana mereka akan membawanya. Mereka pergi meninggalkan Brian dan Tasya disana berdua. Mereka pergi meninggalkan Brian disana dengan segenap penyesalan.
...Jangan jadikan seseorang sebagai prioritas utamamu sementara kamu hanya jadi pilihannya saja...
...Semua bisa berakhir, orang berubah. Dan kamu tahu apa? Hidup kan terus berjalan!...
...Terkadang seseorang akan menoleh ke belakang pada apa yang dia miliki, bukan karena dia ingin pergi ke sana tetapi untuk memotivasi untuk melakukan lebih baik...
__ADS_1