Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Arogansi Manusia


__ADS_3

...Sangat mudah untuk berdiri di tengah keramaian, tetapi dibutuhkan keberanian untuk berdiri sendiri...


Pagi menjelang kota Perancis dengan segala kepadatan lalu lintasnya. Para manusia mulai bangun dari tidur mereka, bersiap menjalankan aktivitas mereka.


Cahaya mentari itu menyambut masuk melalui celah jendela kantor Eddie. Pria itu masih disana, terlelap dengan posisi masih duduk di kursi kerjanya. Kepalanya beristirahat tepat di atas meja dengan berkas-berkas yang berserakan.


Pening rasanya kepalanya mengingat bukan hanya urusan bisnis yang memenuhi kepalanya. Masalah Brian dan Bella pun juga mengitari kepalanya.


Drttttttt


Drttttttt


Getaran ponsel yang ada disakunya membuat, Eddie berusaha membuka matanya.


"Lima menit lagi!" Lirih Eddie, itu adalah jawaban tiap paginya ketika alarm miliknya berbunyi.


Lanturan darinya sama sekali tak menghentikan dering ponselnya.


"Cih!" Kesal Eddie membuka matanya.


Sejenak ia mengerjap beberapa kali mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ketika netranya kembali pulih, barulah ia sadar, bahwa dirinya saat ini masih berada di kantor. Ponsel dalam sakunya masih berdering, Eddie pun mengambilnya.


Ia terkejut mendapati seratus panggilan sejak tengah malam kemarin dari Istrinya, Angela. Wanita kecintaannya itu pasti sangat khawatir padanya, Eddie pun mengangkat panggilan itu. Dan benar saja, suara itu menyambutnya dengan omelan tanpa jeda.


"Hunny! Kau ini kemana? Aku meneleponmu ratusan kali dan kau sama sekali tak mengangkatnya! Kau tau aku sangat mencemaskanmu bukan? Setidaknya kabari aku, mengapa kau bungkam seolah aku tak ada disini!"


Sebelum menjelaskan apa yang terjadi Eddie menghela nafas.


"Sayangku, maafkan aku ya! Kau tau sendiri apa yang sedang menimpa kakakku bukan?"


"Iya aku tau, lantas bagaimana dengan kakak ipar sekarang?" Tanya Angela disana khawatir.


"Ya sayang, mereka masih belum kembali. Sepertinya Reiner berhasil membawa Bella masuk kedalam kapal."


"Huh? Itu berita buruk bukan Hunny! Lalu apakah masih belum ada kabar dari mereka?"


Tanya Angela lagi padanya, nada-nada bicara itu diselimuti kekhawatiran.


"Jalur laut rawan sinyal hilang bukan? Kita berdoa saja semoga kakak berhasil membawa Bella kembali."


"Baiklah, kau kapan pulang?"


"Mungkin sebentar lagi, tunggu aku satu jam lagi sayang! Apa kau memasak sesuatu untukku?"

__ADS_1


"Tentu saja, kutunggu kedatanganmu dirumah sayang."


"Oke, tunggu ya.."


"Aku mencintaimu.."


"Aku juga mencin..."


Brakkkkkk


Ditengah-tengah kalimat romantis yang sedang Eddie utarakan. Pintu ruangannya tiba-tiba dibuka secara paksa. Tanpa ada ketukan pintu mengawali, seorang wanita tengah berdiri disana dengan kedua mata sembabnya.


"Kau!" Pekik Eddie tak percaya.


"Kemana suamiku!!!" Bagaikan orang tak waras, wanita yang tak lain adalah Tasya ini berjalan ke arah Eddie mendekatinya disana.


"Sayang, ada apa?"


Suara Angela didalam ponsel itu masih terdengar. Eddie masih belum memutus pembicaraan mereka.


"Sayang nanti aku akan menghubungimu lagi!"


Tutttttt


"Ada apa kau kemari?" Tanya Eddie sambil melipat kedua tangannya.


"Tuan!!!" Teriak Themo yang sudah berada di ambang pintu.


Pria itu sepertinya telah berlari tadi. Terlihat dari keringat yang mengucur juga nafasnya yang terengah-engah.


"Pergilah kau, kau sama sekali tidak diterima disini!"


Ucap Themo seraya menarik pergelangan tangan Tasya. Memaksanya untuk meninggalkan ruangan Eddie.


"Lepaskan aku!!!" Pekik Tasya berusaha melepaskan cengkraman tangan Themo.


"Lepaskan dia Themo!" Ujar Eddie padanya. Themo membulatkan matanya mendengar apa yang Eddie katakan.


"Bedebah gila ini sudah tidak perlu kau ladeni dia Tuan! Dia tidak pantas mendapatkan belas kasihmu!" Ucap Themo lagi padanya.


"Duduk lah, dan kau Themo! Berdirilah dipintu itu pastikan tidak akan ada seorang pun yang masuk. Mari kita dengarkan apa yang akan bedebah ini katakan pada kita!"


Merasa percuma mengajukan segala protesnya. Di ambang pintu Themo melepaskan cengkraman tangannya, hal itu membuat Tasya beralih lagi ke arah Eddi. Perlahan Themo menutup pintu ruangan itu.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Eddie lagi padanya.


"Dimana Brian, suamiku?" Pertanyaan itu membuat Eddie tersenyum.


"Jernihkan otakmu itu, dia bukan milikmu! Kau sama sekali tidak pantas menyebutnya sebagai milikmu ataupun suamimu." Jelas Eddie padanya.


"Kau bicara apa hah! Lihat apa yang dia lakukan padaku. Kami memiliki hasil dari hubungan kami, apa dia akan menelantarkan anak ini begitu saja hah?" Tanya Tasya pada Eddie.


Urat-urat emosi itu mulai terpampang. Eddie memperhatikan itu, sebuah ambisi kuat dari diri Tasya muncul.


"Aku akan memberimu tiga puluh persen kekayaan kami. Tapi enyahlah dari hadapan kami mulai sekarang! Jangan pernah muncul lagi dihadapan kami! Soal kehidupan anak itu, kami akan menanggung segala kebutuhannya. Kau tenang saja, kami menelantarkanmu beserta bayi haram ini dengan tanggung jawab." Ucap Eddie padanya.


Themo di ambang pintu dibuat terkejut atas apa yang Eddie katakan. Mengapa Tuan nya sebaik itu, padahal wanita yang sedang berdiri dihadapannya ini sudah menghancurkan segalanya.


"Aku tidak berkenan menerima kekayaanmu! Aku hanya ingin Pria ku, Brian!"


"Diam kau!!!" Bentar Eddie, hal itu membuat Tasya terkejut.


"Kau benar-benar bukan manusia! Kau tau kakakku sudah beristri, dan kau menjebaknya. Dimana letaknya otakmu ini? Kau berpendidikan tinggi, namun hargamu murah sekali. Melepas keperawananmu, lalu melibatkan kakakku disana. Apakah kau tak malu Tasya?" Pekik Eddie.


"Dengarkan aku Tuan Ed, aku tidak akan pernah melepaskan Brian. Tidak akan pernah, pengadilan akan membuatku datang kerumah itu sebagai istrinya!"


Eddie berseringai mendengar itu. Apakah Tasya sedang menakut-nakuti nya saat ini. Sungguh ia tidak akan takut akan hal ini.


"Kau masuk kedalam rumahnya menjadi istrinya. Tetapi kau, tidak akan pernah mendapat cintanya. Brian dan Bella adalah satu, kau tidak akan mampu memisahkan mereka. Segala seluk beluk Asmara mereka, lika liku perjalanannya rumit, menyedihkan. Mereka sudah banyak melewati tantangan lebih besar daripada ini sebelumnya. Setidaknya kau tau diri, aku sudah menawarimu tiga puluh persen kekayaanku. Kau sudah terjamin, tetapi kau masih bersikukuh untuk mendapatkan kakakku. Kau memang wanita yang hina Tasya, memalukan!"


Eddie tak mampu berkata apa-apa lagi saat ini. Kebanyakan hanya ada sumpah serepah saja yang mampu ia lontarkan. Hatinya sudah sangat sakit melihat konflik keji yang terjadi pada kakaknya ini.


"Sebanyak apapun kau menghinaku! Aku, tidak akan pernah melepas Brian begitu saja! Ingat itu!"


Ucap Tasya lagi, kali ini mengucapkan itu sambil menunjuk ke arah Eddie. Wanita gila itu pergi setelah mengatakan itu.


"Sial!" Murka Eddie.


"Apa perlu kita lenyapkan saja dia Tuan?"


Sungguh apa yang Themo katakan semakin membuatnya frustasi kali ini.


"Kita bukan mafia lagi Themo, kita sudah berjanji untuk tidak melakukan atau menyelesaikan masalah dengan kekerasan."


Themo menunduk mendengar itu. Eddie kembali mengingatkan padanya, bahwa mereka tidak akan pernah terjun lagi kedalam sisi gelap seorang mafia.


...Kita harus merasakan kesedihan, tetapi tidak tenggelam di bawah penindasannya...

__ADS_1


__ADS_2