Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Berada di Pelukanmu


__ADS_3


...Saat ketulusan bersandar dalam jiwa...


...Cinta itu pasti akan jauh lebih sempurna...


______________


Pagi damai mereka sudah habis masanya, masih dengan fokusnya pada jalanan Brian ingin membawa Bella ke suatu tempat malam ini. Satu tempat, miliknya pribadi bersama dengan Eddie. Tempat itu adalah rumah ketiga yang mereka beli dulu, sebuah rumah mewah lantai empat dengan Observatorium di atasnya. Dimana bintang gemintang, rembulan, bahkan planet di tata Surya pun dari atas bumi kita mampu melihatnya melalui teleskop dan semacamnya.


Kekasihnya itu sedaritadi tidur, Brian memang tak begitu mengerti apa yang dirasakan wanita ketika datang bulan, namun melihat Bella selemas ini dari situ ia paham, itu pasti sakit. Sengaja memang Brian membiarkan wanitanya itu terlelap, mungkin itu bisa mengurangi rasa sakitnya.


Malam ini cukup dingin, sepertinya ini cara alam memberitahu bahwasannya musim dingin sebentar lagi tiba. Brian membunyikan klaksonnya ketika tepat berada di depan kediamannya, terlihat tak lama setelahnya gerbang terbuka dari sisi kanan dan kiri ada dua bodyguard yang berdiri menyambutnya. Rumah ini memiliki sekitar lima belas pegawai, enam pembantu dan sembilan bodyguard. Brian memarkirkan mobilnya di halaman, tak lama ia mematikan mesin mobilnya.


"Bella.." Lirih Brian seraya membelai lembut wajah Bella, terusik akan tindakan kekasihnya samar-samar Bella membuka matanya.


"Iya hun?" Tanya Bella seraya mengerjapkan matanya, Brian tersenyum melihat itu.


"Lelah ya? Kau ingin istirahat?" Tanya Brian, Bella menggeleng sambil mengucek matanya, lihatlah betapa menggemaskannya manusia ini sekarang Surai yang sedikit acak-acakan, juga mata yang sedikit merah karena bangun tidur.


"Kenapa sudah gelap saja langitnya?" Ujar Bella, gemas sekali rasanya melihat tingkahnya malam ini, Brian mencubit singkat wajah kekasihnya lalu turun dari mobilnya, menghampiri pintu mobil Bella lalu membukanya.


"Masih bisa berjalan?" Tanya Brian, Bella hanya mengangguk mendengar itu ia pun turun dari dalam mobil, ketika kakinya keluar dari sana ia terkejut bahkan tak mengenali kemanakah ia berada saat ini.


Asing rasanya bagi Bella ketika netranya melihat dimanakah ia berada saat ini, Brian hanya tersenyum memperhatikan kebingungan yang jelas tersirat itu.


"Ini dimana?" Tanya Bella seraya masih memperhatikan sekelilingnya, Brian menggenggam telapak tangan kanan kekasihnya yang menganggur itu, merasakan sentuhan di telapak tangannya Bella menatapnya heran.


"Ini dimana?" Tanya Bella lagi.


"Ini rumahku, mari masuk." Jawab Brian seraya berjalan masuk kedalam rumah besarnya, di ikuti dengan Bella yang berada disampingnya, keduanya masuk beriringan kedalam.


Didalam ketika pintu mulai dibuka terlihat beberapa pelayan datang menuruni anak tangga, lalu berbaris dihadapan mereka, memberi hormat seakan mengucapkan selamat datang pada Tuan dan Nyonya mereka.


"Selamat datang Tuan, apa anda perlu sesuatu? Kami akan menyiapkan segala keperluan dan permintaan anda." Ujar salah seorang dari mereka, Brian tersenyum lalu menggeleng.


"Terima kasih, untuk saat ini tidak perlu kami, akan ke lantai atas." Ucap Brian.


"Baik Tuan, silahkan." Ucap mereka, Brian membawa Bella lagi menaiki anak tangga mereka berjalan menuju lantai atas.


"Di atas ada apa?" Tanya Bella seraya bergelayut manja menyandarkan kepalanya di lengan kekasihnya.

__ADS_1


"Di atas, aku dan Eddie menyimpan banyak burung beo kau mau melihatnya." Jawab Brian asal, Bella menggeleng mendengar itu untuk apa malam begini melihat burung beo.


"Tidak, aku mau tidur saja." Ucap Bella berhenti lalu menjauhkan dirinya dari Brian dan pergi, namun sebuah tarikan di lengannya membuatnya berbalik sekarang.


"Tidak ada burung beo, aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu dan langit malam ini." Ujar Brian.


"Kalimat rayuan macam apa itu? Semalam kau sudah bersamaku cukup lama, bahkan enggan melepasku sampai pagi menjelang." Gerutu Bella seraya berjalan mendahului Brian, terkejut rasanya mendengar jawaban itu.


"Apakah semalam kita tidur berdua?" Tanya Brian dengan nada polosnya, Bella hanya membuang nafasnya kasar.


"Hun, aku tidak ingin membahasnya kau keterlaluan semalam." Jawab Bella, kali ini Brian merasa bersalah sungguh, apakah semalam ia melakukan hal tak senonoh pada kekasihnya sehingga seharian ini mood Bella buruk padanya.


"Sayang, hei!" Ucap Brian mempercepat langkahnya menyusul Bella lalu berhenti tepat di hadapannya.


"Apa?" Tanya Bella


"Apa aku melakukan sesuatu semalam?" Tanya Brian takut, melihat ekspresi yang ketakutan itu Bella ada sedikit ide disini.


"Apa kau selalu seperti itu, terhadap seluruh wanita?" Tanya Bella seraya memicingkan matanya.


"Semalam kau seperti sudah berpengalaman saja!" Tambah Bella lagi, kalut itu rasanya menyelimuti hati Brian pengaruh Sake sialan bahkan sekecil apapun momen di kamar itu sama sekali tak mampu di ingatnya.


Apakah benar Brian sudah melakukan sesuatu pada Bella, pertanyaan demi pertanyaan itu muncul dalam kepalanya.


"Lihatlah, tingkahmu seperti manusia yang tak berani tanggung jawab!" Maki Bella, Brian terkejut mendengar itu.


Mungkin memang sesuatu sudah terjadi semalam, namun apa dayanya malam itu pun yang menguasai dirinya adalah Sake bukan. Brian menunduk seraya mengangguk kepalanya, menyesal rasanya jika benar ia melakukan hal itu sebelum pernikahan.


Dengan seksama, Bella memperhatikan itu raut muka penuh penyesalan. Sukses rasanya malam ini mengerjai Brian, membuatnya berada dalam sebuah dilema dan depresi seperti ini. Bella mengulurkan tangannya mengarahkan kepala kekasihnya yang menunduk itu untuk menatapnya, kali ini Bella tersenyum dalam pada Brian.


"Aku juga tidak mau menyerahkan kesucianku jika belum waktunya Hunny! Hunny bodoh!" Ucap Bella, kalimat terakhir yang terlontar dari ucapannya membuat Brian kesal rasanya.


"Andai saja sejak tadi senyum ini ada, sehari ini pasti sangat berkesan." Protes Brian, namun Bella hanya tertawa menanggapi itu.


"Maaf ya, sejak pagi sudah banyak merepotkanmu." Ujar Bella, Brian tersenyum lalu dengan cepat mengangkat tubuh Bella menggendongnya.


"Aku tidak pernah merasa di repotkan olehmu, kau kekasihku bukan." Ujar Brian seraya berjalan menuju lantai atas, sedang Bella dalam rengkuhannya hanya mengangguk sembari menyamankan kepalanya bersandar di atas dada bidang kekasihnya.


Setelah berjalan beberapa menit akhirnya mereka tiba juga dibagian atas rumah ini, bentuknya seperti kubah, beberapa alat astronomi tertata begitu rapi disana ruangan ini serba putih.


Brian menurunkan Bella sekarang, Bella terkesan sekali dengan apa yang dilihatnya ini indah sekali sungguh Observatorium pribadi dengan perlengkapan astronomi yang hampir lengkap.

__ADS_1


"Sejak kapan, kau menyukai bintang?" Tanya Bella memunggunginya, fokusnya masih tak teralihkan dari benda-benda di dalam ruangan ini.


"Ini salah satu alternatif pengusir jenuhku dan Eddie. Entahlah, hari itu kami senang sekali melihat bintang bintang, langit lembayung juga milky way yang sering kami lihat disini. Tak jarang juga, kami menemukan bintang jatuh dari teleskop, mengamati bulan yang tenang di atas sana. Syahdu sekali rasanya di balkon, sambil mengamati benda-benda langit." Jelas Brian sambari memperhatikan ruangan yang sudah lama tak ia kunjungi ini.


"Aku ingin melihatnya Hunny! Dimana kau biasanya melihatnya?" Pinta Bella seraya menoleh ke arah Brian, melihat itu Brian mengangguk.


Brian berjalan mendekati teleskop lalu mengambilnya, membawanya ke arah Bella.


"Mari ke balkon!" Ajak Brian, Bella mengangguk keduanya pun berjalan menuju balkon.


Sesampainya disana, langit malam bertabur bintang itu menawan sekali. Sejuk udara malam ini adalah pelengkap rasanya, Brian memposisikan teleskopnya mengaturnya dengan baik kali ini. Di belakang mereka ada sebuah ayunan panjang dengan bantal sebagai alas tempat duduknya. Bella duduk disana sembari memperhatikan kekasihnya dari belakang, setelah cukup yakin sudah selesai Brian pun tersenyum.


"Kau bisa menggunakannya sekarang sayang." Ucap Brian, Bella kembali berdiri.


Dari teleskop Bella melihat benda-benda langit itu, bahkan purnama yang sedang menyinari buminya malam ini.


"Indah bukan?" Tanya Brian, Bella tersenyum juga mengangguk.


"Ini indah sekali!" Jawab Bella, mendengar itu bahagia sekali rasanya seharian ini membuatnya bahagia adalah hal paling memuaskan pagi Brian.



Merasa sudah cukup bosan, Bella pun duduk bersama Brian di ayunan itu. Mereka sama-sama menatap langit, langitnya indah sekali malam ini. Taburan rasi bintang tak beraturan namun masih terkesan cantik, menciptakan damai dalam hati mereka. Hanya suara angin yang terdengar disana, keduanya mematri menyatu dengan langit malam yang menghipnotis kedua netra mereka.


"Terima kasih, Hunny!" Ucap Bella namun tetap memandang langit malam, Brian menoleh ke samping memperhatikan wanita itu kali ini.


"Terima kasih kembali." Ujar Brian, itu membuat Bella bingung kali ini. Brian berterima kasih untuk apa, padahal ia sama sekali tak memberikan apa-apa.


"Untuk apa?" Tanya Bella yang juga menatapnya kali ini.


Tak ada jawaban disana hanya senyuman yang Brian lemparkan, lembut tangan kekarnya mulai meraih kepala kekasihnya itu mendekatkannya padanya, satu kecupan lembut di puncak kepalanya membuat Bella terkejut.


"Terima kasih, sudah berada di sisiku selama ini. Aku selalu mencintaimu, kau milikku, kepunyaanku yang tak akan ku serahkan pada siapapun. Aku bersyukur Tuhan mencantumkan dirimu dalam skenarioku." Lirih Brian yang masih menghirup wangi Surai kekasihnya.


Perlakuan ini manis sekali rasanya, Bella tersentuh mendengar itu ia hanya diam, merasakan kenyamanan atas perlakuan Brian padanya.


...Ketulusan seseorang akan terpancar dari matanya...


...Kebaikannya akan terlihat dari tindakannya...


...Kebijaksanaannya akan terdengar dari kata-katanya...

__ADS_1


______


__ADS_2