
...Gagalkan kekuatan musuh, paksa dia untuk menampilkan wajah asli mereka...
Dering telepon rumah membuat Bella yang sedang asik menonton acara Televisi mengalihkan pandangannya. Bella mengurangi volume televisinya lalu berjalan mendekati telepon rumahnya.
"Hallo, iya ini dengan kediaman keluarga Brian?"
Bella membulatkan matanya ketika mendengar intonasi suara yang terkesan menandakan bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi.
"Iya benar, dengan saya Nyonya Bella Drew!"
"Nyonya Bella, saya dari pihak sekolah ingin menyampaikan. Bahwa saat ini putra anda sedang terlibat perkelahian. Jadi saya harap untuk anda dan suami anda datang menjemputnya ketika pulang sekolah nanti."
Seluruh mood baik Bella hancur seketika mendengar itu. Putra sulungnya itu lagi-lagi berbuat onar. Prince memang sering terlibat perkelahian, namun terkadang hanya akan ada telepon pemberitahuan tanpa panggilan saja untuknya.
Namun jika sampai ia di panggil ke sekolah. Artinya masalah yang Prince buat sudah sangat fatal. Benar-benar mirip sekali dengan Brian anak itu sifatnya. Adu mekanik seakan adalah hiburan terbaik baginya.
"Baiklah, saya akan kesana menjemputnya nanti!"
"Terima kasih atas pengertian Nyonya, kami tunggu!"
Tutttttt
Bunyi itu menandakan bahwa percakapan mereka telah usai. Sungguh ia tak habis pikir anaknya akan berakhir seperti ini.
"Prince, kau benar-benar anak yang hebat!" Gerutu Bella dengan wajah masamnya.
Bella mengambil ponselnya di meja ruang tamu. Lalu duduk di sofanya, disana ia membuka grup chat keluarganya.
Ketika membukanya ia membulatkan kedua matanya. Bella kembali tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Rupanya Angela juga sama-sama menerima telepon itu.
_________
"Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian ini?"
Seorang guru yang duduk dihadapan lima orang siswa bertanya. Sejak tadi ia berusaha menahan amarahnya sendiri.
Siswa yang sedang duduk dihadapannya ini tak lain adalah Devan dengan dua orang temannya. Juga Prince dan Percy.
"Begini pak, aku tidak bersalah dalam hal ini!" Ucap Devan membela diri.
__ADS_1
Prince hanya berseringai mendengar apa yang Devan katakan begitupun dengan Percy di sampingnya. Benar-benar pandai bermain lidah Devan ini rupanya.
"Prince sebenarnya ada apa? Tolong jelaskan! Apakah benar kau yang lebih dulu memulai hal ini?"
Tanya guru itu pada mereka berdua. Namun Prince hanya menggeleng menanggapi pertanyaan itu. Hal itu memicu emosi Devan rasanya.
"Dia berbohong pak, dia memukulku lebih dulu!" Ucap Devan seraya menunjuk ke arah Prince disana.
"Saudara saya tidak akan ringan melayangkan pukulan apabila dia tidak berulah!"
Percy yang sejak tadi hanya diam pada akhirnya bicara. Ia berbicara membela Prince disini, sedangkan Prince ia hanya diam sejak tadi.
Sebab Prince tau, Percy lebih hebat bermain lidah daripadanya. Percy juga ada disana dan melihat dengan jelas kejadian yang dirinya alami.
"Devan ini, sudah pandai berbohong rupanya!" Ujar Percy sambil menatap ke arah Devan.
Devan membulatkan kedua matanya mendengar itu. Picingan matanya sampai tepat ke arah Percy. Namun disana, bukannya malah takut Percy malah hanya berseringai menanggapi itu.
"Jika kau berani macam-macam dengan keluargaku! Kau akan tamat!" Ujar Percy menantangnya.
"Hah aku? Kau lupa aku ini siapa hah? Aku juga salah Seorang anak pengusaha disini."
Percy terkekeh mendengar itu. Benar memang Devan adalah anak dari seorang pengusaha. Tetapi di bandingkan keluarga Devan, keluarga mereka lebih banyak kekayaannya.
Ucap Percy memberi peringatan keras pada Dengan disana. Prince berseringai menanggapi apa yang Percy katakan. Saudara laki-lakinya ini memang selalu ada di depannya tiap kali dirinya dalam masalah.
Tantangan yang elegan itu seketika membuat guru dihadapannya bungkam. Guru itu tau perihal latar belakang keluarga Prince dan Percy. Keduanya adalah salah satu siswa berharga milik sekolah.
Keduanya juga anak-anak dari orang yang paling berpengaruh dalam Perancis. Devan masih saja tak terima melihat itu, ia ingin Prince di hukum disini.
"Pak jangan percaya padanya! Dia penipu!". Ucap Devan sambil terus menunjuk-nunjuk ke arah Percy dan Prince.
"Penipu? Kau yang penipu disini dungu!" Ucap Prince menimpali.
"Sialan kau Prince!" Geram Devan maju dengan amarah yang meletup-letup.
Hal itu membuat Percy sontak berdiri menjadi tameng Prince disana. Guru itu juga ikut berdiri melerai keduanya. Kepalanya hampir pecah rasanya meladeni adu argumen para bocah dihadapannya itu.
"Sudah cukup! Sepulang sekolah nanti aku ingin kedua orang tua kalian datang menemuiku!" Perintah guru itu pada mereka.
__ADS_1
"Baik pak!" Ucap Prince dan Percy.
"Baiklah, silahkan pergi! Kembalilah belajar dengan giat kalian. Dan ingat, jangan sampai kalian kembali berulah lagi!"
Ucap Guru itu memberi peringatan kembali pada mereka. Prince dan Percy pun mengangguk, dengan penuh hormat mereka berpamitan lalu pergi dari sana.
Berbeda dengan Devan dan kedua temannya yang langsung pergi tanpa berpamitan. Setibanya mereka di luar terlihat Sienna juga Petra berdiri saling berdampingan. Mereka berdua menatap tepat ke arah mereka.
Sedangkan Percy dan Prince yang ditatap hanya tersenyum. Kedua saudaranya yang lain itu pasti sangat mengkhawatirkan mereka.
"Brother kau tak apa?" Tanya Petra pada Percy.
"Mengapa memangnya? Aku tidak sedang pergi berperang bukan? Sudah biasa bagiku ikut campur urusannya!" Jawab Percy sambil menunjuk Prince disampingnya.
"Kakak apakah kau terluka?" Tanya Sienna khawatir.
Namun disana Prince hanya tersenyum sambil mengacak-acak Surai milik adiknya itu.
"Aku tak apa, Sienna!" Jawab Prince padanya.
"Mengapa selalu ada perkelahian tiap bulan kak? Apa kau tak bosan berkelahi dengan mereka disini?" Tanya Sienna lagi.
Prince dan Percy tertawa mendengar apa yang Sienna katakan. Sedangkan Sienna menatap mereka berdua dengan raut wajah herannya.
"Kenapa tertawa?" Tanya Sienna pada mereka berdua.
"Sienna, kau tenang saja! Bukankah kami ini jagoannya Kaneki Corps? Kau tidak perlu khawatir!"
Sienna menghela nafas panjang mendengar itu. Segera ia meraih pergelangan tangan Prince.
"Kalau begitu mari kembali ke kelas kita masing-masing!" Ujar Sienna.
Prince mengangguk mendengar itu.
"Petra siapa yang membantumu berjalan kemari?" Tanya Percy ada saudara kembarnya yang berjalan menggunakan tongkat.
"Sienna yang membantuku kemari!" Jawab Petra jujur.
"Lain kali jika Petra memintamu menuntunnya, jangan kau tuntun ya Sienna!" Ucap Percy pada Sienna.
__ADS_1
"Itu tergantung! Jika dia juga khawatir padamu sama seperti ku khawatir dengan Prince maka aku akan membantunya." Jawab Sienna.
Percy membuang kasar nafasnya. Memang inilah yang dinamakan dengan dukungan saudara. Persaudaraan mereka kuat hingga ketika salah satu di antara mereka terluka, seluruhnya akan ikut merasakan.