Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Koneksi Pertama #2 (Problem)


__ADS_3

...Cinta mengajariku melihat dengan cara memejam dan mengerti tanpa perlu penjelasan...


Beberapa menit setelah mengantri. Bungkusan daging Wagyu tertera tepat di atas mejanya. Sejenak sebelum pergi keluar dari dalam restoran itu, Tasya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah obat serbuk, obat itu ia tuangkan diatas daging Wagyu yang masih panas.


Usai melakukan aksinya, Tasya pun pergi dari sana. Tasya berjalan mendekati mobi Brian lalu masuk kedalam. Disana Tasya menyerahkan bungkusan daging Wagyu itu pada Brian disampingnya.


"Berapa Tasya?" Tanya Brian padanya setelah menerima bungkusan itu.


Namun mendengar pertanyaan itu, Tasya hanya menggelengkan kepalanya. Ketika Brian mengeluarkan lembaran uang, Tasya menahannya lalu tersenyum.


"Tidak perlu Tuan, hari ini anggap saja aku mentraktirmu!" Ucap Tasya.


Rasanya tak ada pilihan lain bagi Brian. Ia mengurungkan niatnya sejenak ia membuka bungkusan daging itu. Aroma nikmat dari dalam sana membuat selera makannya kembali tergugah.


"Sepertinya aku akan menikmatinya sebentar! Apa kau buru-buru, Tasya?" Tanya Brian pada Tasya disampingnya.


"Tidak Tuan, silahkan anda nikmati saja dulu makanannya."


"Baiklah! Aku tidak akan tahan melihat daging Wagyu dihadapanku seperti ini Tasya. Ini adalah salah satu makanan favoritku. Aku selalu tergoda dengan menu makanan ini."


Jelas Brian, Tasya hanya mengangguk sambil tetap tersenyum. Brian mulai menikmati sajian daging Wagyu itu, menikmati betapa lezatnya tiap potongan daging yang masuk kedalam mulutnya.


Selang beberapa menit setelahnya, Brian pun selesai menikmati makanannya. Brian melipat bungkusan daging itu, ia membuka pintu mobilnya lalu beralih ke arah tong sampah.


Kebiasaan baik orang barat, dimana mereka tidak akan membuang sampah sembarangan disana. Sekecil apapun sampah itu tetap mereka buang pada tempatnya. Disini diberlakukan denda, tiap manusia yang membuang sampah sembarangan mereka akan menerima hukuman berupa denda.


Setelah membuangnya, Brian masuk kembali kedalam mobilnya menyalakan mesinnya. Ia pun kembali menjalankan mobilnya ke arah apartemen Tasya.


________


Dari dalam jeruji Nami tersenyum puas. Segala rencananya berjalan sangat mulus. Dua orang bidak diluar sana memainkan perannya dengan baik dan benar.


Beberapa tahanan disana menatap aneh ke arah Nami. Gadis itu tersenyum sendiri tanpa sebab, ataupun tanpa perkara yang jelas.

__ADS_1


Suara langkah kaki datang berjalan diantara lorong-lorong penjara. Seorang polisi bersama dengan Stevan disampingnya. Nami memperhatikan hal itu, ia memilih diam kali ini.


Ia tau Stevan selalu datang berkunjung ke dalam selnya. Disana Stevan selalu menanyakan pada Nami, apakah ia sudah makan. Atau mungkin Stevan akan mengajukan ragam pertanyaan tentang kasusnya.


Tujuan dirinya baik, ia ingin meringankan hukuman Nami. Bahkan sampai saat ini ia sama sekali tak percaya, bahwa Nami adalah pelaku dibalik pembunuhan seorang lelaki tua.


Sek penjara Nami dibuka, disana Stevan masuk. Ketika tubuh itu berada dalam satu ruangan bersama dengan Nami, polos diluar mulai menutup selnya lalu meninggalkan mereka berdua disana.


"Ada perlu apa lagi kau datang Stevan?" Tanya Nami tanpa menatap ke arah Stevan.


Stevan berjalan mendekati Nami, lalu bersimpuh dihadapannya. Netra miliknya menatap lekat ke arah gadis Asia itu.


"Aku tidak akan membiarkanmu mati? Jadi katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya. Katakan bahwa kau tidak melenyapkan satu nyawa di bumi ini? Katakan bahwa kau hanya mencuri, dan kau tidak membunuh."


Nami berseringai mendengar itu. Bagaimana bisa Stevan masih mempercayai dirinya dalam keadaan ini. Lembut sekali hati pria ini. Dia pintar nun lemah untuk masalah hati.


"Bagaimana kau bisa sepercaya itu padaku hah?! Bukankah bukti sudah mengarah padaku? Hukum bertindak atas dasar bukti, jika memang pengadilan memberiku hukuman mati. Maka aku pasti akan tabah melaksanakannya."


Ucapan itu membuat Stevan terkejut. Lihatlah betapa beraninya gadis ini menantang kematian. Gila ini sungguh gila, diluar pemikiran Stevan.


"Sebab dunia kejam juga tak adil! Lantas mengapa kau menyuruhku bertahan?"


"Manusia hanya sebuah bidak, Nami! Segalanya tak akan berjalan sesuai keinginan kita. Pemegang takdir, juga yang mengaturnya adalah Tuhan. Bukan manusia!"


"Benar, Tuhanlah yang mengatur segalanya bukan. Jika begitu maka biarkanlah segalanya mengalir, sesuai dengan skenarionya. Kau tak perlu repot-repot datang mengunjungi sering-sering! Sebab apapun yang kau katakan, aku tetap akan bungkam. Jika kebenarannya menurutmu salah, Mala biarkan! Coba kita lihat bagaimana hukum dunia ini menghukum, atas kejahatan yang hanya di pandang satu sisi."


Dari dalam sakunya Stevan mengeluarkan sesuatu. Sebuah botol kecil, itu botol obat. Nami memperhatikan itu, ia tak tau bahkan tak mengerti apa maksud Stevan disini. Untuk apa itu? Obat apa itu, bahkan dirinyapun sama sekali tak sakit.


"Kau tau ini apa?" Tanya Stevan padanya Nami hanya diam sambil memperhatikan bola mata Stevan yang semakin sayu.


"Tubuhku bergantung pada ini! Selagi Stevan masih hidup, baik dirimu juga Bella kakakku. Tidak akan kubiarkan sesuatu yang buruk menimpa kalian. Aku berjanji itu!"


Nami sama sekali tak mengerti ini. Sejak pertama Stevan menangkapnya ia selalu membicarakan perihal obat juga ketergantungan. Terbesit satu pikiran dalam kepalanya saat ini, sebuah pikiran negatif. Apakah Stevan seorang pecandu?

__ADS_1


"Apa kau pecandu narkoba?" Tanya Nami padanya. Namun disana wajah pucat itu hanya tersenyum lalu menggeleng.


"Bagaimana pria yang sekarat ini bisa menjadi pecandu narkoba. Aku tidak akan bodoh menyia-nyiakan waktuku dengan menikmati hal-hal buruk itu. Skenarioku saja sudah buruk, lalu mengapa aku harus merusaknya dengan hal buruk juga?"


Nami terhenyak mendengarnya, pria yang sekarat katanya. Sekalipun Nami mencoba menepis tiap rasa yang hinggap dalam hatinya. Namun tetap saja, Nami masih memiliki hati.


"Kau sakit ya?" Tanya Nami lagi padanya. Namun disana Stevan hanya tersenyum sambil mengusap kepala Nami, ia bangkit hendak pergi keluar dari dalam sel.


greppppp


Nami menahan pergelangan tangan itu. Ia butuh jawaban sekarang, bukan di acuhkan semacam ini. Stevan berbalik merasakan cengkraman kecil di pergelangan tangannya.


"Ada apa?" Tanya Stevan padanya, Nami menarik tangan Stevan sebagai sebuah isyarat agar manusia itu kembali duduk.


Stevan duduk sambil menatap Nami. Kedua mata itu saling menatap satu sama lain. Nami mencari sesuatu dalam wajah itu, barangkali ada petunjuk yang membuatnya tau apa yang sedang Stevan derita saat ini.


Tak ada apapun disana, hanya wajah semakin pucat dengan kedua bola mata sayunya. Pada akhirnya Nami memilih menyerah disini, ia ingin mengetahuinya langsung dari Stevan.


"Katakan!" Perintah Nami masih menatapnya.


"Jika kau peduli padaku! Hargai permintaanku, kumohon jangan mati memukul beban yang bulan bebanmu. Kau yang ditimpa kemalangan berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik." Ucap Stevan padanya.


Ucapan itu diakhiri dengan satu kecupan di atas kening Nami. Setelah melakukannya, Stevan pun pergi dari sana. Tak lupa ia kembali mengunci sel milik Nami.


...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...


...dengan kata yang tak sempat diucapkan...


...Kayu kepada api yang menjadikannya abu...


...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...


...Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada...

__ADS_1


__________


__ADS_2