Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Pertobatan Pertama


__ADS_3

...Ini kesempatan...


...Ini Kehidupan...


...Ini Dunia...


...Aku disini, masih bernafas...


...Mulai detik ini, tiap tarikan nafasku...


...Juga tiap langkahku...


...Hidupku, akan ku buka...


...Dengan segala hal yang Tuhan sukai...


...Eksekutor terkejam ini, kembali...


...Kembali di duniamu...


...Bukan untuk mengacaukan...


...Melainkan, untuk memperbaiki segalanya...


Sungguh, ia tak mengerti mengapa ia berada disini. Dua bulan sudah, Eddie membawa Brian ke Prancis. Segala pengobatan, dan pemulihan ia berikan pada Brian.


"Brother?" Lirih Eddie, menghampir Brian yang duduk sembari menatap suasana kota dari balik kaca.


"Ha..h...ah?" Itulah, kalimat yang dua bulan ini hanya mampu Brian ucapkan. Mereka tinggal di apartemen disana, tepatnya di lantai 10. Apartemen mereka berada di pusat kota. Disini, Eddie mulai menjalankan bisnisnya. Pelan pelan ia mulai merintis usaha di bidang coklat. Saat ini, yang sudah ia wujudkan adalah cafe, identik dengan minuman coklat disana. Banyak variasi minuman tentang coklat disana.

__ADS_1


"Brother, aku akan pergi bekerja. Kau, jangan keluar ya! Satu jam lagi, dokter Angela akan datang kemari. Gunakan saja waktumu untuk bersantai, sebelum pemulihan."Jelas Eddie pada Brian. Brian mengangguk, mengerti apa yang Eddie ucapkan.


"Aku pergi dulu!" Ucap Eddie, seraya berlalu dari hadapan Brian.


Brian, menggerakkan tangannya menyentuh kaca dihadapannya itu. Rasanya, ada yang kosong saja dalam hatinya saat ini. Tapi, entahlah, apakah itu? Ia mencoba mengingat sesuatu.


Namun, sama sekali tak ada perubahan. Yang dia tau saat ini adalah, dia adalah Brian sesuai yang dikatakan Eddie padanya. Dan Eddie, adalah adiknya. Hanya itu yang ia fahami saat ini.


......Apa yang hilang dalam diriku sebenarnya?......


...Bisakah waktu menjelaskannya lagi?...


...Rasanya, semesta seperti ingin mengatakan sesuatu....


...Sepertinya, hatiku sedang memanggil seseorang....


...Lantas untuk siapakah?...


Sungguh, kekosongan itu menyiksa dirinya. Sesak rasanya, tapi ia sama sekali tak mengingat. Pada siapakah kerinduannya ini tercipta.


Di tempat lain, terlihat Bella sedang membaca beberapa berkas yang menumpuk. Perih rasanya matanya, mengingat sudah semalaman ia mempelajari berkas itu.


"Lelah sekali rasanya." Lirihnya, seraya menyandarkan tubuhnya di kursinya. Kepalanya menatap langit-langit ruangan. Teringat akan satu hal, netranya mulai melirik tanggalan. Tak lama, ia pun tersenyum.


"Aku harus menemuinya sore ini." Lirihnya, Tak lama ia kembali fokus pada berkas-berkasnya. Suara langkah kaki terdengar mendekat, dari balik pintu ruangannya.


Tokkk


Tokk

__ADS_1


Tokk


Suara ketukan pintu itu mengalihkan perhatiannya.


"Masuk!" Ucap Bella, terlihat seorang Pemuda tersenyum padanya. Bella terkejut akan kehadiran Pemuda itu.


"Han?!" Pekiknya, seraya berdiri. Han merentangkan kedua tangannya. Bella berlari ke arahnya lalu memeluknya.


"Hei, kapan kau kemari?" Tanya Bella, seraya melepas pelukannya.


"Semalam aku berangkat!" Jawaban itu membuat Bella tak percaya rasanya. Tapi, ada perlu apa dia kemari.


"Lalu, untuk apa kau kemari?" Tanya Bella.


"Ada tugas yang harus di selesaikan disini. Apa kau mau membantuku?" Pertanyaan itu membuat Bella mengangguk, bagi Bella semakin banyak kasus yang ia selesaikan. Itu akan membuatnya lupa pada kesedihannya.


Sebenarnya, jika kalian mengerti. Sepanjang malam, ketika dirinya sendirian. Di atas ranjangnya, gadis ini masih menangisi kepergian Brian. Itulah mengapa, Bella terjun kembali sebagai seorang detektif di Amerika, sesuai profesi adik dan Ayahnya. Rasanya, tugas yang menumpuk di mejanya itu sudah seperti obat saja baginya.


Bella, mempersilahkan Han duduk di sofa. Han dengan senang hati menerima tawaran itu, mereka berdua pun duduk disana, sembari membahas kasus yang sedang Han kerjakan disini.


...Aku sedang meratapi nasibku...


...Tapi aku tidak ingin meratapinya lama...


...Disini, aku masih bernafas...


...Tuhan, menyuruhku untuk hidup tanpamu...


...Tapi, hatiku masih memeluk erat namamu...

__ADS_1


__ADS_2