
...Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun...
...Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu...
Apakah aku harus mengatakan hal ini pada Brian dan Bella. Melihat kebahagian mereka saat ini rasanya tak sanggup jika aku memaparkan tentang Nami disini.
Baru saja, bedebah itu selamat dari kematian. Lantas sekarang sesuatu hal yang buruk sedang mengintainya lagi. Sampai kapan maut berlomba-lomba merenggut nyawanya.
Kesalahan manusia memang tak luput dari banyak hal. Hasil dari kesalahan itu mungkin akan melahirkan sesuatu lain yang sangat negatif. Dendam juga kebencian.
Sekalipun hatiku muak pada Nami saat ini, ada sisi lain hatiku dimana aku tak mampu melaporkan apa yang sedang perbuat. Mungkin kali ini aku harus menyelesaikan ini sendiri.
Aku kembali pada Profesiku dulu. Menjadi seorang detektif. Bedanya, aku melayani Negara orang saat ini. Jauh dari satu-satunya keluargaku adalah hal yang tak mungkin.
Akibat dari banyak kekacauan dimasa lalu, karma merenggut seluruh anggota keluargaku. Tetua Shawn gila itu, menyapu bersih silsilah keluargaku. Yang tersisa hanya Bella dan diriku. Kami selamat atas campur tangan Tuhan yang indah.
Bella diselamatkan oleh cintanya. Dan aku, diselamatkan oleh seseorang yang baik kala itu, Nami. Iba rasanya melihat dirinya yang sekarang. Padahal pertemuan pertama kami, Nami adalah gadis riang, juga perhatian.
Sejujurnya aku pun pernah menyimpan rasa untuknya, atas kebaikannya dulu. Selama beberapa tahun aku bersamanya, mengenalnya. Tanpa pamrih dia merawatku yang sekarat.
Bahkan ketika hatiku masih dipenuhi dendam, ledakan yang menimpa keluarganya membuat kami bersatu melawan Brian kala itu.
Sejujurnya, dia tidak pernah meninggalkanku. Aku berniat membawa dirinya yang dulu kembali. Seorang Nami, yang penuh dengan kebahagiaan.
Nami yang baik hati, yang pernah ku kenal dahulu. Tuhan, semoga saja kau tidak mengubahnya bak seorang Iblis yang haus kematian. Dia terlalu baik untuk menjadi sosok seperti itu.
Sejenak dihadapan canvas aku tersenyum. Bahkan kalutnya pikiranku hari ini masih mampu melukis wajahnya. Menuangkan imajinasi ku pada sebuah canvas adalah hobiku.
Sejenak mataku melirik tepat ke arah jam weker disana. Ini pukul delapan pagi, setengah jam lagi aku harus berada di kantor. Ada banyak berkas disana yang harus diteliti.
Aku berjalan ke arah lemari pakaian, mengambil ku jubahku disana, memakainya. Hari ini akan menjadi hari yang sangat sibuk untukku.
_________
Halte bus cukup sepi pagi ini, manusia disana hanya ada lima orang denganku. Biasanya rentetan manusia berbaris disini, berjajar, menunggu bus berhenti.
Hari ini ferari milikku tidak kupakai. Aku ingin menikmati jalanan Paris sambil menghirup udara segarnya. Jalan santai semacam ini memang hal baik, setidaknya kepalaku terasa sangat ringan saat ini.
Bus berhenti tepat dihadapanku, aku pun masuk kedalam. Disana aku duduk disamping seorang kakek tua, netranya sedang sibuk membaca lembaran koran disana.
Tak ingin mengganggunya, aku pun memilih diam sambil melipat tanganku. Sejenak aku memejamkan mataku, disana memori-memori kecil mengenai pertemuanku dan Nami mulai berputar.
_______
Flashback
Hari itu tepat setelah ledakan aku memaksa diriku bangkit, sekalipun tubuhku perih, sakit. Disana bahkan aku sempat terjatuh, merayap mencoba mencari pertolongan.
__ADS_1
Teriakan yang lemah bagi seorang pemuda. Namun mau bagaimana lagi, darah-darah segar ini terus bercucuran. Sakit,perih, laknat sekali memang perbuatan para mafia itu.
Disela-sela keputusasaan itu, suara langkah kaki datang menghampiriku. Gadis itu bersimpuh, ia sibuk dengan ponselnya. Beberapa menit usai kedatangannya, beberapa manusia mulai membopongku, membawaku masuk kedalam mobil.
Aku ingat, untuk pertama kalinya kepalaku diletakka. diatas pangkuan seorang Gadis. Dia adalah Nami.
Hari itu adalah awal mula aku dan dirinya saling mengenal. Tiap pagi, ia selalu datang mengunjungi ku didalam kamar rawatku. Menanyakan bagaimana kabarku, ia juga membantuku makan dan minum.
Ketika dokter berkata bahwa tubuhku sudah mampu tanpa perawatan, Nami denga hati yang tulus menawarkan padaku.
"Bagaimana jika kau tinggal bersamaku?"
Aku membulatkan mataku saat itu. Rasanya enggan menerima tawaran mulia itu. Sudah banyak sekali hal baik yang ia lakukan padaku.
"Tidak perlu, kau sudah banyak membantuku! Rasanya tak enak hatiku jika menerima tawaran baikmu lagi kali ini."
Disana ia menyunggingkan senyumnya, tangannya terulur padaku. Mengacak-acak lembut pencak kepalaku, rasanya aku seperti anaknya disini.
"Kau ini apa-apaan?"
Protesku padanya, namun ia hanya tertawa mendengarnya. Sebenarnya aku suka ketika dia menyentuhku, tapi, bukankah jual mahal itu perlu. Hal itu tidak hanya berlaku untuk para wanita bukan.
"Kau menggemaskan sekali, tak apa kau tinggal saja di kediamanku. Lagi pula, aku jarang memiliki teman disini."
"Lantas?" Tanyaku penasaran, sepertinya ada maksud lain dari tawaran itu.
Aku menaikkan salah satu alisku, mendengar kata menampung membuatku sedikit kesal.
"Baiklah akan ku bayar sewanya, karena aku seorang penumpang disana!"
Nami tertawa mendengar itu. Gema tawanya renyah sekali mengalun sungguh. Wajah ini selalu anggun di mataku.
"Kau marah?"
"Ya, hatiku sedikit terluka ketika kau berbicara perihal menampung. Rasanya aku seperti pengungsi."
"Kau memang pengungsi bukan? Kau dari negara orang datang masuk kedalam Negaraku."
Aku membuang kasar nafasku mendengar hal itu. Hal yang dikatakan oleh ya memang benar, karena pekerjaanlah yang menuntutku kemari.
Namun kemalangan membuatku kehilangan segalanya, bahkan Daddy ku. Sepertinya berteman dengannya tak masalah bukan.
Sejak saat itu hubungan kami semakin dekat. Di sela-sela kedekatan kami, aku pun juga memantau perkembangan Bella, kakakku.
Namun ketika kemalangan itu juga menimpa Nami. Sekejap, seluruh sifat baiknya malam itu hilang. Ia berubah jauh sekali, sarkasme, pemarah, pemurung. Waktunya banyak habis didepan komputer dan laptop.
Aku dan dirinya menyimpan dendam yang sama. Sejak saat itu kami jarang berbicara, hanya sekedar membicarakan stretegi dan pembalasan dendam saja.
__ADS_1
Hubungan kami kaku sejak saat itu. Tak ada candaan ataupun obrolan hangat disana. Hanya misi, hanya dendam, hanya itu. Itulah mengapa rantai perkara harus segera di putus, jika bukan kita yang memutusnya lantas siapa lagi. Menyimpan dendam terlalu lama tidak baik bukan.
__________
Sebuah telapak tangan menepuk tubuhku. Sontak aku membuka mataku kembali, keluar dari bayang-bayang masa lalu yang sempat hinggap dalam kepalaku.
Ketika aku membuka mataku, rupanya si penepuk itu adalah pria tua yang berada disampingku. Aku melempar senyum ke arahnya.
"Ada apa kakek?" Tanyaku, dia melipat surat kabarnya, meletakannya tepat disisinya.
"Anak muda, sepertinya kau sedang dalam masalah besar ya?"
Aku mengerutkan dahi mendengar ucapannya. Bagaimana bisa kakek tua ini tau apa yang aku rasakan saat ini. Sebelum lontaran pertanyaan datang dariku, dari dalam saku miliknya ia memberiku sebuah kertas.
Aku menerima kertas itu, membacanya. Disana aku terkejut, rupanya Pria ini adalah salah satu anak buah Nami.
Kali ini tatapan mataku tajam mengarah padanya, sedang dia disana hanya tersenyum sinis. Rupanya sejak saat itu Nami, mulai memata-matai ku.
Jika tidak, bagaimana mungkin anak buahnya ini tau bahwa hari ini ia lebih memilih bus ketimbang Ferrari nya.
"Kau, apa yang kau inginkan dariku?"
Lelaki tua itu tersenyum. Ia melipat tangannya sejenak.
"Kau tidak akan mampu melawan Nami bukan? Karena kau mencintainya, lantas mengapa kau tidak membantu cintamu, Stevan?" Ujarnya, aku hanya tertawa kecil mendengar itu.
"Bodoh sekali, jika kau lihat dunia sudah menghukumnya. Lantas, untuk apa dendam berkelanjutan ini? Kalian nampak seperti manusia serakah, kurang dan kurang!"
"Kau dibutakan akan kasih sayangmu pada kakakmu!"
"Tidak hal semacam itu terjadi! Karma-karma ini berjalan sesuai kehendak sang kuasa. Dia bertindak demikian atas kesalahan yang pernah leluhurku lakukan padanya juga!"
"Bodoh sekali kau, bandingkan dengan jumlah korban nya. Bandingkan dengan banyaknya keluargamu tang sudah dibunuh olehnya, apakah sepadan?"
Pertanyaan darinya membuatku muak rasanya. Bus itu berhenti tepat di halte lain kali ini, halte ini adalah tujuanku.
Aku berdiri, sejenak merapikan bajuku. Disana aku menatapnya mengangkat topiku sebagai tanda hormatku padanya, lalu tersenyum.
"Meladeni tiap pertanyaan tak berguna, bukan bidang ku! Sampai matipun, aku tak akan pernah bekerja sama lagi dengan kalian."
Ujarku lalu pergi meninggalkannya sendiri disana. Lelaki itu hanya menatapku sinis dari balik kaca bus. Aku tak peduli hal itu sungguh.
Sepertinya masalah ini memang harus aku yang menanganinya sendiri. Sebagai seorang adik, aku harus mampu melindungi kakakku, Bella.
...Dalam menerapkan toleransi, satu musuh sudah cukup menjadi guru terbaik...
...Yang paling menyedihkan adalah jika pengkhianatan itu bukan datang dari musuh-musuhmu...
__ADS_1
...Tetapi justru dari teman yang selama ini kau percayai...