
...Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan...
Dia bulan berjalan pada akhirnya apa yang Prince inginkan terpenuhi. Sebuah lapangan tembak baru saja di bangun di belakang rumahnya. Membutuhkan biaya yang tidak murah pastinya.
Namun bagi Bella asalkan anaknya itu bahagia ia repa mengeluarkan uang sebanyak itu. Melihat Prince dan Sienna tertawa bersama sambil latihan adalah hal yang paling membahagiakan.
Hubungannya dengan Brian juga cukup renggang. Mereka masih saling sapa, hanya saja Bella tidak tidur bersamanya tiap malam. Mereka masih satu meja bersama saat makan malam.
Tiap pagi jika Brian Yangs sering mengantar kedua anaknya. Saat ini giliran Bella lah yang melakukan itu. Pagi menjelang ketika berangkat sekolah ia yang menyiapkan sarapan.
Bahkan ia juga yang mengantarkan anak-anak berangkat. Lalu ia juga yang menjemput mereka ketika pulang.
"Kakak ini bagaimana cara pakainya?" Tanya Sienna sambil mengotak atik senjatanya.
Melihat itu Prince berlari mendekati adiknya. Jantungnya hampir copot rasanya melihat apa yang Sienna lakukan. Prince takut apabila ada salah sedikit saja maka senjata itu mungkin saja meledakkan timah panasnya.
"Sienna, jangan asal mengotak-atik ini. Jika kau tak tau kau bisa menanyakan itu padaku atau Paman Stevan. Jangan di otak-atik sendiri!" Ucap Prince menasehati.
Sienna mengangguk mengerti mendengar itu. Lantas Prince pun mengambil senjata Sienna lalu mengisi pelurunya.
Disamping mereka sedikit jauh dari tempat mereka berada. Ada Stevan juga Nami, mereka lah yang mengajari Prince disini.
Tak hanya sebagai seorang tutor saja. Mereka kerap juga berlatih disini. Mempertajam bakar mereka yang sempat tertimbun jarang di asah oleh keduanya.
Dari kejauhan Bella di balkon kamarnya juga memperhatikan kedua anaknya. Pemandangan yang indah sungguh. Jarang baginya melihat Sienna sebahagia ini.
"Kau bahkan mampu tertawa selepas itu Sienna! Sungguh luar biasa sekali."
Bella sedikit mengingat selama Sienna berada disamping Brian. Gadis kecil itu selalu diam tidak bersuara. Ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Namun sejujurnya dalam hatinya. Sulit memilih salah satu di antara mereka. Disisi lain, Bella juga sangat merindukan Brian nya. Sudah dua bulan mereka tidak bercengkrama bahkan saling tertawa bersama.
Terakhir, Bella juga merindukan sentuhan suaminya. Namun ia kembali di ingatkan bahwa segala hal ini ia lakukan demi keluarganya. Ia ingin Brian sadar dan menerima keberadaan Sienna dalam keluarga mereka.
"Aku tau kau pasti juga sangat terluka untuk ini! Aku lelah menjelaskan segalanya padamu sayang. Pintaku sederhana sekali namun mengapa begitu berat kau jalankan?" Lirih Bella lagi.
Kemudian ia memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Diluar cukup dingin , Bella memilih masuk ke dalam kamarnya untuk mandi air hangat.
_________
__ADS_1
Malam harinya mereka sedang duduk bersama di meja makan. Disana masih ada Stevan juga Nami. Bella menyuruh mereka untuk makan malam dulu sebelum pergi.
Jam menunjukkan tepat pukul tujuh malam. Bella yang baru saja menyantap salad miliknya kembali lagi ke dapur. Sambil memperhatikan jam tangannya sibuk meracik bumbu beef. Itu untuk Brian suaminya.
"Sudah pukul tujuh tapi kenapa dia masih belum datang?" Lirih Bella.
Hatinya mulai khawatir saat ini. Tidak biasanya Brian telat pulang malam. Ketika jarum jam bergerak lebih lima belas menit. Kedua anaknya mulai datang menghampirinya.
"Mommy, kami sudah mengantuk! Bolehkah kami tidur?" Tanya Prince sambil mengucek kedua matanya.
Bella tersenyum mendengar itu. Ia pun meletakkan beberapa alat dapurnya lalu berjalan mendekati Prince dan Sienna yang berdiri. Bella merendahkan tubuhnya menyamai tinggi kedua anaknya.
"Baiklah, silahkan tidur sayang! Selamat malam, selalu ingat untuk berdoa dulu. Juga jangan lupa gosok gigi kalian ya!" Ucap Bella pada mereka.
Greppp
"Mommy tidak ikut tidur bersama kami?" Tanya Sienna sambil menarik kecil baju Bella.
"Tidak sayang, makanan Daddy mu masih belum matang. Mungkin nanti Mommy akan menyusul kalian ke atas ya!" Jawab Bella mencoba membujuk kedua anaknya.
"Baiklah Mommy, kami ke atas dulu!" Ucap Sienna pada akhirnya.
Keduanya pun berjalan ke atas ke arah kamar mereka. Beberapa menit ketik keduanya sudah tak ada Stevan dan Nami pun juga menghampirinya di dapur.
Bella menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Baiklah kita pergi ya! Terima kasih atas hidangannya Bella. Selamat malam dan sampai jumpa." Ucap Nami sambil melambaikan tangannya.
Mereka pun pergi dari sana meninggalkan Bella sendiri di dapurnya. Para pegawai mereka sedang istirahat di jam ini. Ketika masakannya hampir selesai. Dari pintu dapur tanpa sepengetahuan Bella ada seseorang yang masuk secara diam-diam.
Orang itu sejak tadi memperhatikan Bella sambil melipat kedua tangannya. Orang itu bertubuh besar kekar. Dia tak lain adalah Brian. Sengaja memang ia masuk lewat pintu dapur dan pulang malam. Hatinya sudah tidak mampu jauh dari Istrinya.
Dipisahkan sepuluh tahun lamanya saja rasanya hampir mati. Sekarang tidak lagi. Brian mendekat ke arah Bella. Lalu melingkarkan kedua tangannya di antar pinggang Bella.
"Hei!" Pekik Bella menoleh ke belakang.
Disana ia mendapat pukulan kecil di bahunya dari dagu seseorang. Wangi parfum ini tentu saja Bella mengenalinya. Ini wangi parfum suaminya. Suami yang sejak tadi ia nantikan kedatangannya.
"Sayang..." lirih Brian begitu lembut sambil mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Iya?"
Lagi-lagi jawaban singkat yang Brian dapatkan dari kekasihnya. Sungguh sakit rasanya hatinya.
"Maafkan aku!" Lirih Brian lagi.
Bella menunduk berhenti dengan aktivitasnya lalu menyuruh tangan kekar yang sedang melingkari perutnya.
"Hunny..." Lirih Bella.
Panggilan itu selalu saja mampu membuat Brian terbuai. Ia sangat merindukannya. Ini sudah dua bulan mereka tidak bersentuhan. Dan ini sudah dua bulan mereka tidak mengumbar kalimat mesra.
"Astaga Bella, sungguh aku merindukanmu Sayang! Kau menyiksaku!" Ucap Brian mengutarakan isi hatinya.
"Apakah kau sudah mampu menerima Sienna sekarang?" Tanya Bella.
Kali ini Brian sudah memantapkan hatinya. Sudah cukup bagi hatinya menolak keberadaan anak itu. Sekalipun berat menerimanya namun Brian akan lakukan sebab ini permintaan Bella nya.
"Ya.. Tapi aku bingung harus memulai segalanya darimana?"
"Aku akan membantumu, Hunny!"
Ucap Bella sambil mengelus lembut wajah suaminya. Sikapnya yang menghangat itu membuat Brian sangat senang. Brian membalikkan tubuh istrinya lalu memandanginya memperhatikan paras cantik itu.
"Apa kau tidak lapar Hunny?"
Tanya Bella meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada bidang suaminya.
"Tidak, hari ini aku ingin kau manjakan!" Jawab Brian sambil menciumi wajah istrinya.
"Geli..." Lirih Bella sambil terkekeh. Tubuhnya berusaha berontak dari suaminya namun nyatanya kekuatannya tidak sebesar Brian.
Brian menggendong tubuh istrinya itu menatapnya lembut dan dalam. Sungguh ia merindukan Bella dan segala perlakuan manisnya disini.
"Aku mencintaimu sayang!" Ucap Brian.
Hal itu membuat Bella tersenyum mengangguk pelan lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Brian. Detik kemudian Brian membawanya pergi dari sana. Mereka berdua masuk ke dalam kamar mereka. Dan kalian pasti tau apa yang terjadi di dalam.
...Sifat pemarah adalah musuh utama akal...
__ADS_1
...Dalam menghadapi musuh, tak ada yang lebih mengena daripada senjata kasih sayang...
...Beban, menghadapi kesulitan, mendukung pertemanan, melawan semua musuh demi kelangsungan hidup dan kesuksesan kebebasan...