
...Pencuri adalah seniman yang sangat terampil dalam hal mencuri barang, sedangkan detektif tak lebih dari tukang kritik yang mencari-cari kesalahan orang!...
...Manusia tak akan bisa menahan lajunya waktu. Jika memaksa memutarnya, manusia akan mendapat hukuman...
Wajah-wajah serius itu mulai mendengarkan segala percakapan yang terjadi antara Reiner dan Nami. Ada satu rencana disana, Reiner mengatakan akan membawa Bella pergi bersamanya meninggalkan Perancis.
Brian sudah ada disana, para Pria itu duduk nyaman di kursinya masing-masing mendengarkan suara-suara konspirasi yang sedang terjadi disana.
"Kalau begitu, daripada kau membunuhnya! Lebih baik buat aku pergi meninggalkan Perancis bersama Bella. Dengan begitu, Tasya akan mendapatkan Brian. Brian akan mendapatkan kehancurannya, dan Bella tentu saja akan kudapatkan."
Tutur kata sialan itu membuat Brian mengepalkan tangannya. Mengapa ada manusia seperti mereka di bumi ini. Rasanya mereka seperti berasal dari jahanam saja.
Padahal mereka sudah mengerti bahwa Bella miliknya. Berani sekali mereka memaksakan perasaan seseorang pada kekasihnya. Sumpah demi Apun, Brian benar-benar ingin mencabik-cabik mulut Reiner saat ini juga.
"*Apa kau bodoh ha? Jika kau menggunakan cara itu, maka Bella tidak akan pernah mencintai dirimu dan dia malam membencimu. Rencanamu bagus untukku, aku memang senang melihat Brian tersiksa. Hanya saja, apa tak apa bagimu memiliki tubuhnya namun tidak dengan hatinya!" Ujar Nami lagi disana.
"Jadi kau masih bersikukuh membunuhnya disini, Nami?"
"Malam ini, aku ingin menyelesaikan dendamku. Aku tidak akan pernah bisa hidup tenang apabila Brian masih hidup. Sebab nyawa ayahku, sudah direnggutnya!"
"Lantas bagaimana rencanamu?"
"Penculikan kedua! Gedung yang kau pijaki ini adalah saksi dimana Brian saat itu hampir dikalahkan oleh Stevan. Jika saja Stevan tidak terlalu buta menyayangi kakaknya, saat itu juga Brian pasti mati*."
Stevan melirik kecil ke arah Brian yang masih menunduk mencoba meredam segala amarahnya disana. Stevan tau, Pria itu naluri membunuhnya sedang menjalar. Sebentar lagi mungkin akan mengamuk apabila Stevan menyinggungnya sedikit.
Klikkkk
Stevan menjeda sejenak rekaman yang ia dapatkan dari dalam pemancar.
"Dia berencana membunuhmu! Malam ini mungkin Reiner akan menculiknya, Bella selalu datang ke toko bukunya tiap siang lalu sore dia akan kembali ke apartemenku. Asumsiku mengatakan bahwa, ada kemungkinan Reiner mencampur sesuatu dalam minuman Bella nanti. Apakah akan kita biarkan atau tidak?" Jelas Stevan.
Ia sudah mendengar seluruh percakapan itu sebelum Brian sampai kemari. Sebab Richard selaku seorang peretas, sudah mengcopy seluruh pembicaraan itu dalam aksesnya.
"Apa kau gila membiarkannya? Mengapa kau begitu ingin Bella dibawa pergi olehnya?"
Tanya Brian padanya, kedua tatapan tajam itu saling mengakses memberikan kode-kode keras yang sulit ditebak.
__ADS_1
Baik Eddie, Rey dan Themo disana menatap heran keduanya. Dua manusia itu memang tidak pernah akur, mereka adalah saingan dan sulit bagi mereka membentuk pertemanan yang ideal.
"Baiklah, akan kukatakan padamu mengapa kita harus merelakan Bella pergi dengannya!" Ujar Stevan lagi padanya.
"Katakan!" Ucap Brian.
"Biarkan Bella pergi bersamanya! Maka kita akan mengurus Nami berdua. Aku dan dirimu, kita beri pelajaran wanita itu."
"Lalu Bella ku?" Tanya Brian padanya.
"Kau memiliki Eddie adikmu berserta dua anak buahnya. Bebaskan kakak ku, aku yakin, setelah Reiner berhasil menculiknya. Maka akan ada pesan palsu yang datang darinya. Aku yakin, dia akan mengancammu atas nama Bella nantinya. Kejadian dulu akan terulang lagi, jika kau mampu menyelesaikannya maka saat ini kau pun juga mampu mengatasinya." Jelas Stevan pada Brian disana.
Komplotan mantan Mafia ini mengangguk setelah berpikir beberapa menit. Rencana Stevan benar sekali, malam ini mereka benar-benar akan menyelesaikan semuanya.
Semoga saja Tuhan memberi mereka kelancaran dalam menjalankan rencananya. Lelah rasanya menghadapi konflik yang tak kunjung menemui titik terangnya.
________
Seperti biasa, Bella yang jenuh tiap pukul dua belas siang akan keluar. Tujuannya adalah Toko buku Reiner. Biarpun kecurigaan atas Reiner hampir terbukti benar, namun Bella sama sekali tak ragu datang kesana.
Bella hanya menanggapi itu biasa saja. Namun Reiner semakin hari semakin terlihat ingin perasaanya dibalas. Bella tetap Bella dengan nama Brian dalam hatinya. Tak ada nama yang lebih pantas berada disana kecuali Briannya.
Perjalanan antara apartemen dan toko buku Reiner cukup jauh. Memakan waktu sekitar dua puluh lima menit dengan menggunakan bus.
Bus berhenti ketika tepat dua puluh menit berjalan. Bella keluar dari dalam bus, ia menghampiri toko buku Reiner yang letaknya di seberang sana.
Kringgg
Bunyi lonceng di atas pintu Toko terdengar. Pertanda bahwa saat ini Bella telah masuk kedalam. Reiner yang sedang menata beberapa buku didalam pun menyudahi aktivitasnya. Reiner berjalan ke arah pintu masuk, mencoba mencari tau siapakah manusia yang datang kemari.
"Bella?" Ucap Reiner riang. Bella menyambut itu dengan satu sunggingan senyum.
"Hai Reiner, aku datang! Kau sedang ingin memangsa buku-buku barumu disini." Ujar Bella padanya. Rei ER berseringai mendengar itu.
Disisi lain hatinya bahagia melihat Bella datang kemari. Disisi lain lagi, ia bahagia rupanya rencana yang ia bicarakan pada Nami hari ini akan segera dimulai.
"Apa kau ingin minum?" Tanya Reiner padanya.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku kemari untuk buku saja! Terima kasih!' Jawab Bella menolaknya ramah.
"Tak apa, aku akan membuat matcha hangat untuk menemanimu membaca. Juga buku-buku baru yang baru saja di cetak!" Ucap Reiner.
Rasanya tak ada alasan lain bagi Bella menolak itu. Bella hanya memberi anggukan pada Reiner disana. Anggukan itu membuat Reiner semakin bahagia. Ia bergegas dari sana menuju ke arah dapur tokonya.
Dari dalam lemari es, Reiner mengambil jus. Reiner mengambil dua gelas dari atas rak, lalu menuangkan jus itu disana.
"Kau akan menggunakan obat bius apa?"
Suara-suara Nami saat di atap terngiang, ketika dirinya mengambil sesuatu dari dalam sakunya.
"*Aku memiliki obat bius yang sangat ampuh, untuk mengatasi itu!" Ucap Nami padanya.
"Apa itu?"
"Chloroform, obat bius cair ini mudah digunakan. Satu rencanaku berhasil dengan obat ini. Maka kau yang bagian dari rencanaku, gunakanlah ini!"
"Apa ini tidak berbahaya untuk ibu hamil? Bella sedang hamil!"
"Mengapa kau peduli, anak didalam kandungannya bukan milikmu. Jika dia mati, bukan urusanmu! Dengan menghirup aroma cairan Chloroform, seseorang bisa langsung tidak sadarkan diri dalam beberapa jam. Cairan ini memiliki warna bening dan tidak berbau. Menjadikannya sebagai obat bius yang cukup kuat karena mampu bereaksi sangat cepat meski tidak memiliki bau*."
Ingatan itu membawa Reiner kembali melakukan apa yang Nami perintahkan. Obat bius jenis Chloroform sudah ia tuang didalam jus yang akan ia serahkan pada Bella.
Reiner membawa jus itu pada Bella, ia meletakkannya di atas meja.
"Minumlah, aku baru saja membuatnya!" Ucap Reiner menawarkan ia duduk didepan Bella saat ini.
"Baiklah, terima kasih ya!" Ucap Bella mengambil jus nya lalu meminumnya.
Ketika Bella meletakkan kembali cangkirnya ia sedikit memegangi kepalanya. Sambil menatap ke arah Reiner, kelopak mata itu pun kehilangan kesadarannya. Hanya satu nama yang ia sebut saat itu sebelum kesadarannya benar-benar hilang. Nama manusia itu adalah, Brian suaminya.
Reiner berseringai ketika melihat kerja obat biusnya bereaksi cepat. Segera ia menghubungi Nami disana. Bagi Nami, panggilan dari Reiner adalah instruksi untuknya melakukan rencana kedua. Yaitu, memanggil Brian kembali kedalam kematiannya.
...Keberanian adalah kata kebenaran untuk membangkitkan semangat diri...
...Tidak boleh digunakan sebagai alasan membunuh orang...
__ADS_1