Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Meredam Sisi Buruknya


__ADS_3

...Aku membayangkan salah satu alasan orang-orang sangat melekat pada kebencian mereka...


...Karena mereka merasa, sekali kebencian itu hilang, mereka akan dipaksa untuk menghadapi rasa sakit...


...Benci kesalahannya, cintai pelakunya! ...


Brian berjalan keluar dari dalam lift. Ia tidak tau bahwa ada dua manusia yang sedang berada didalam ruangannya. Sesampainya dirinya didepan pintu ruangan, Brian membukanya.


Betapa terkejutnya ia menemukan Tasya dan Themo sedang berdiri disana sambil beradu argumen. Rasanya ketenangan yang sempat Brian dambakan hilang sudah. Amarah mulai kembali meliputi dirinya.


Tangannya yang gatal ingin sekali melenyapkan Syena disini. Namun Brian sadar, ia adalah manusia yang baru saja dibebaskan dari maut. Jika ia berulah, mungkin ancaman baru akan datang lagi padanya.


Ia juga memikirkan Bella, juga anak dalam kandungannya. Brian mengepalkan tangannya kuat melihat keberadaan Iblis wanita itu. Bedebah itu kenapa kemari, padahal Brian sudah memecatnya.


"Sayang, katakan pada Themo bahwa semalam kita bermadu kasih di atas ranjang yang sama!"


Tasya berjalan ke arah Brian sambil mengapit lengannya. Themo terpaku melihat apa yang Tasya katakan. Ia menatap ke arah Brian saat ini, ia tau Brian sedang di jebak disini.


"Lepaskan tanganku dariku, menjauhlah!" Perintah Brian geram, kedua bola matanya menatap tajam ke arah Tasya yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Coba saja lepaskan!"


Brian tak segan-segan mendengar itu. Ia melepas tangan Tasya yang mencengkram lengan kekarnya. Tasya sedikit meringis kesakitan setelah tangan itu terlepas.


"Wanita tak tau malu sepertimu! Puaskah kau menghancurkan hubunganku dengan wanitaku?"


"Wah aku tidak masalah menjadi istri keduamu disini!"


Tasya bahagia sekali mendengar apa yang Brian katakan. Itu menjelaskan bahwa hubungan Brian dan Bella sedang meregang saat ini. Sebuah berita baik yang paling Tasya nanti-nantikan pada akhirnya terjadi.


Retaknya hubungan mereka rasanya membuat hatinya dipenuhi jutaan bunga. Tak ada kata-kata apapun yang mampu melukiskan kebahagian atas hatinya. Sekalipun cara mewujudkan inginnya, atas obsesinya pada Brian di raih dengan cara yang salah Tasya sama sekali tak peduli.


Themo disana juga tak percaya mendengar itu. Tuan dan nyonya yang mesra meregang secepat ini hubungannya.


"Tuan, apa kau dan Nyonya?" Tanya Themo pada Brian. Pertanyaan itu membuat Brian mengangguk pasrah.


"Kau gila Tuan? Susah payah dia memperjuangkan hidupmu lalu apakah ini yang dia dapatkan. Dimana nurani mu Tuan?"


"Themo, untuk apapun yang aku anggukan padamu saat ini, itu benar. Aku memang melakukan kesalahan, namun itu bukan karena kehendak. Sebab dia, adalah akar dari segala masalah ini. Dia yang begitu terobsesi hingga membutakan mata dan hatinya. Seharusnya berada didalam rumah sakit jiwa!"


"Uhhh kasar sekali sungguh!"


Sambil berseringai Tasya menjawab apa yang Brian katakan padanya. Themo mendekati Brian ia menepuk salah satu bahunya.

__ADS_1


"Apa ada yang bisa ku bantu?" Bisik Themo padanya.


"Satu-satunya hal yang harus kau lakukan adalah mengusirnya pergi dari sini!"


"Baik Tuan!"


Themo mengangguk mendengar perintah yang Brian katakan. Segera ia menghampiri Tasya yang masih berdiri menatap lekat ke arah Brian. Sebelum Themo menyentuhnya Tasya meletakkan salah satu tangan miliknya mengusap perutnya yang masih rata.


"Dia akan mengembung seiring waktu berjalan. Dan itu kerena ulahmu, kau menanamkan benihmu disini, dan kau juga yang harus bertanggung jawab atas itu."


"Sampai aku mati pun aku tidak akan menerima anak haram itu!"


"Kalau begitu, sudah tugasku mengadu pada pihak berwajib. Lalu membawa masalah ini lebih serius lagi!"


"Katakan apapun yang ingin kau katakan! Tapi Brian, tidak akan pernah kalah dengan manusia keji sepertimu!"


Kali ini giliran Brian yang berseringai selama beradu argumen dengan Tasya. Sekejap Tasya dibuat diam, senyuman itu menandakan bahwa ia sama sekali tak takut apapun. Brian mendekat ke arah Tasya lalu menatapnya lekat.


"Bawa dia pergi, Themo!"


"Baik Tuan!"


Themo menyeret paksa Tasya dari dalam ruangan Brian. Beberapa pegawai disana menatap heran ke arah Themo dan Tasya. Apakah ada kesalahan yang sudah Tasya lakukan hingga membuatnya diseret seperti itu oleh Themo.


"Aku akan membongkar konspirasi gila kalian. Kau bermain-main dengan orang salah! Aku tau ini konspirasi, tapi kalian melawan orang yang sama liciknya dengan kalian. Bahkan kalian sampai membuat wanitaku, meneteskan air matanya!" Lirih Brian.


Sebuah rencana dalam kepalanya muncul. Satu rencana yang cukup ekstrim. Brian berulang kali mencoba meredam segala rencana sadis itu keluar. Namun apa daya dirinya tak mampu.


Brian mengambil ponselnya dari saku. Disana nomor seseorang mulai ia hubungi. Pembicaraan mereka cukup serius, pembicaraan itu berlangsung sekitar sepuluh menit. Sebuah konspirasi melalui panggilan suara mulai ia buat.


Untuk mereka yang berani macam-macam dengan keluarga kecilnya. Sumpah demi apapun Brian tidak akan memaafkannya. Tasya sudah membuat sisi buruk dalam dirinya bangun. Brian saja tidak pernah membentuk ataupun membuat Bella menangis.


Namun mengapa orang lain bahkan bersikap jahat. Pada wanitanya yang begitu ia cintai. Mengapa dunia sekejam itu.


____________


Didalam penjara Nami sedang memperhatikan Arlojinya. Ada beberapa pesan dari Tasya disana. Nami membukanya gema tawanya meledak seketika.


Berapa bodohnya gadis itu datang ke kantor Brian ketika situasi masih serunyam ini.


*Tasya


Dia mengusirku mentah-mentah dari dalam kantor!

__ADS_1


Lalu dia mengancamku juga, sialan sekali dia!


Nami


Kau bodoh!


Tasya


Apa yang bodoh disini? Tindakanku benar bukan?


Nami


Bodoh, jangan kau temui dia dulu beberapa hari. Dan kau seharusnya menemui Bella lebih dulu. Bagaimana kabarnya?


Tasya


Dia bilang, bahwa hubungan mereka meregang!


Nami


Wah itu berita bagus sungguh!


Tasya


Lalu peranku bagaimana?


Nami


Bersantailah sebentar, kali ini giliran Reiner yang akan beraksi! Tujuan kita hampir sampai*.


Nami mengakhiri pesan teksnya bersama Tasya. Sejak tadi Nanti mencari-cari keberadaan Stevan. Setelah Vidio itu ia kirimkan pada Stevan, pria itu sama sekali tak berada disini. Hal itu membuat Nami menerka-nerka bahwa Stevan pasti sedang bersama Bella saat ini.


"Situasi yang sangat indah! Aku menyukai keberhasilan pesat ini sungguh. Ini adalah hal yang paling kutunggu. Saat ini, aku akan mengatur rencana untuk membuat keduanya semakin hancur."


Nami mengucapkan itu dengan penuh keyakinan. Niatnya membuat hubungan Brian dan Bella semakin meregang akan ia lakukan. Nami akan melakukan apapun asalkan Brian tersiksa selagi dia hidup.


...Orang lain mungkin membencimu...


...Tetapi mereka yang membencimu tidak menang, kecuali kamu membenci mereka...


...Dan kemudian, kamu menghancurkan dirimu sendiri...


...Kebencian adalah konsekuensi dari rasa takut...

__ADS_1


...kita takut sesuatu sebelum kita membenci ...


__ADS_2