Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Kamu dan Sakura-sakura itu


__ADS_3

...Aku tidak tahu di mana aku berdiri denganmu...


...*Yan**g aku tahu adalah*...


...setiap kali aku memikirkan dirimu,...


...aku ingin bersamamu...


...Pegang tanganku...


...dan aku akan pergi ke manapun denganmu...


Malam ini udara kota Perancis cukup sejuk, dinginnya tak seperti biasanya ini netral menurut Brian. Disana pernak-pernik kota terlihat indah, menawan dan memukau. Eiffel terlihat anggun dari atas sini, malam ini berbekal kotak cincin pemberian adik iparnya Angela. Brian, akan bersimpuh lagi di depan belahan hatinya yang sempat menghilang, jauh karena jarak dan takdir yang tragis. Sesuai dengan keinginannya dalam karyanya, disini dia akan mendapatkan cintanya kembali.


"Seindah ini kuasa Tuhan yang sempat ku sia-siakan. Tapi percuma jika aku menyesali segalanya saat ini, semua sudah selesai. Aku manusia baru dengan kesempatan saat ini, Tuhan begitu baik padaku, sungguh." Lirih Brian, Jas hitam itu terlihat begitu pantas ia kenakan. Dengannya, ia terlihat begitu gagah.


Bella sedang berada dibawah gedung itu saat ini, kira-kira perjalanan dari hotel kemari sekitar setengah jam. Disana Eddie dan Angela mulai mengisi formulir di resepsionis, biasanya mereka akan langsung masuk begitu saja. Karena tak ingin ada kecurigaan dari Bella, mereka terpaksa melakukan itu.


Selesai dengan aksinya dibawah, Eddie mulai menuntun Bella berjalan masuk kedalam lift. Bella dibuat terkejut dengan angka terakhir pada lift itu 30 lantai. Eddie menekan tombol angka paling bawah, gedung atas nomor 30. Ketika lift itu berhenti disana, mereka keluar lalu kembali memasuki lift. Disana lagi-lagi Bella dibuat terkejut, bahkan dari akhir angka di lift pertama disini masih berlanjut.


"Hei, sebenarnya ada berapa lantai di gedung ini?" Tanya Bella, Eddie hanya menunjukkan cengiran khasnya mendengar itu.


"Gedung ini, ada 100 lantai Bella!" Jawab Angela disamping Eddie.


"Ya, memang cukup merepotkan jika harus menemuinya secara VIP." Ujar Eddie.


"Apa semua tamu VIP juga selalu bertemu dengannya di atas?" Tanya Bella, Eddie mengangguk menanggapi itu.


"Ya, mereka selalu menemui Tuan muda kami di atas. Obrolan di atas sangat indah dengan pemandangan kota Perancis, kau pasti akan terpukau dengan rekonstruksi baru kami." Tambah Angela, disana rasanya sudah cukup seluruh pertanyaan dari Bella. Ia hanya mengangguk mendengar apa yang Angela katakan.


Tinggggg


Bunyi lift itu, menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai paling tinggi. Tiga detik ketika pintu lift terbuka, sungguh Bella dibuat takjub dengan apa yang ada di hadapannya. Masih dengan perasaan kagum itu, pelan Bella mulai melangkah maju mendekati rumah kaca dengan pohon sakura didalamnya.


"Hei, kenapa kalian tak ikut?" Tanya Bella, ketika ia tau Angela dan Eddie masih di dalam lift. Namun, mereka hanya menggeleng menanggapi itu.


"Kau tamunya, bukan kami. Kami hanya kacung yang menuruti perintahnya, dia ada didalam rumah kaca itu, kau bisa menemuinya disana. Dia sedang menunggumu." Jelas Eddie, setelahnya ia menekan tombol lift pintu itupun tertutup.


Bella berjalan mendekati rumah kaca itu, nuansa sakura juga pencahayaan yang indah itu membuatnya semakin elegan. Tepat, ketika ia berada di depan pintu rumah kaca itu, lagi-lagi pemandangan indah itu memanjakan matanya. Didepannya sebuah karpet merah panjang dibentangkan, tak jauh dari karpet itu terlihat sebuah meja dan kursi, juga sebuah lilin cantik ditengahnya. Karpet ini seakan disuguhkan untuk menyambutnya.


Baru beberapa langkah ia masuk, seorang Pria berjas hitam berdiri di belakangnya. Merasa ada seseorang di belakangnya Bella mengalihkan netranya ke arah itu.


"Kau?" Pekiknya, Pria berjas yang tak lain adalah Brian itu tersenyum hangat padanya.


"Hallo nona, selamat datang di Kaneki Corps, perusahaan terbesar ketiga di Perancis." Sambut Brian, Bella masih tak mengerti apa artinya ini. Bukankah dua orang yang mengaku kacung tadi bilang, bahwa Tuan Mudanya ada disini, lalu kenapa justru Pria yang ia sebut Sir ini disini.


"Dimana Tuan Muda?" Tanya Bella penasaran, Brian tak menjawab itu. Ia melangkah mendekati Bella sekarang, mempersempit jarak diantara keduanya.

__ADS_1


"Kau terlihat sangat cantik malam ini, dengan gaun ini." Puji Brian, semu merah itu terlukis jelas dalam wajah Bella.


"Terima kasih." Ucap Bella, seraya tersenyum. Tapi, bukan itu jawaban yang harus dia dapatkan. Seharusnya Pria ini menjawab pertanyaannya, perihal Tuan Muda.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Sir?" Tanya Bella lagi.


"Paris indah bukan, apa kau menikmatinya?" Lagi lagi hanya pertanyaan yang Bella dapatkan dari pertanyaannya, ia hanya butuh jawaban sungguh. Jawaban untuk memuaskan rasa penasaran pada hatinya.


"Paris indah, memang selalu indah. Tolong jangan ajukan banyak pertanyaan lagi, bisakah aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku?" Tanya Bella lagi, Brian berjalan mendekati wanita itu namun ia tidak berhenti di hadapannya, melainkan ia melewatinya lalu berhenti di belakangnya.


"Akulah Tuan Muda yang sedang kau cari, akulah yang mengundangmu datang kemari." Jawab Brian, berucap tanpa menatap Bella. Sontak Bella terkejut mendengar itu, ia berbalik menatap punggung yang masih membelakanginya itu.


"Hah, tidak mungkinkan? Kau bilang kau hanya seorang kacung?" Bantah Bella masih tak percaya, pasalnya beberapa hari lalu pria itu bilang padanya perihal profesinya sebagai bawahan Tuan Muda.


"Kenapa aku harus bohong Bella?" Ucap Brian berbalik seraya tersenyum, dan menatapnya dalam. Sial rasanya, lagi-lagi Bella dibuat mematung teringat nostalgianya. Bola mata sebiru safir itu lagi, menatap hangat ke arahnya rasanya itu tak asing dimatanya.


"Tapi, tapi mengapa kau harus berbohong?" Tanya Bella lagi, entahlah meyakinkan Bella memang bukanlah hal yang mudah.


"Berbohong atau tidaknya aku tak masalah bukan? Aku terbiasa menemui tamuku lebih dulu, sebelum ku ajak kemari. Karena Kaneki Corps bukan sembarang tempat yang bisa di kunjungi, Nona. Kau harus tau, bahkan perusahaan ini pun punya banyak musuh yang ingin menghancurkannya." Penjelasan itu membuat Bella menyimpulkan sesuatu. Mungkin inilah alasan mengapa nama dari pemimpin perusahaan ini masih di rahasiakan, bahkan publik pun tak tau siapakah pemilik usaha besar itu.


"Baiklah, aku percaya. Jadi, harus ku panggil apa dirimu sekarang?" Tanya Bella.


"Nona, kau bisa memanggilku Tuan." Jawab Brian.


"Baiklah, Tuan? Bisakah ku tau alasan perihal undanganmu padaku?" Tanya Bella lagi, Brian tersenyum mendengarnya.


"Aku tau, memang itu tidak masuk dalam logika manusia." Jawab Bella menunduk, entahlah dia merasa harapan itu terlalu besar memang. Tapi nyatanya, hatinya masih memeluk sosok Brian saat ini.


"Benar, tegangan listrik itu tinggi manusia tidak mungkin selamat dari itu. Mengapa kau membuat harapan yang lucu, pengharapanmu seperti tak menerima kenyataan bahwa cintamu telah tiada." Ucap Brian.


JLEBBBBB


Kenyataan yang sakit memang, kebenaran itu seakan menamparnya. Entah mengapa ucapannya benar-benar membuat sirna harapannya. Kasar memang ucapan Pria ini menurut Bella.


"Bisakah aku bahagia dengan karyaku? Bolehkah? Jika duniaku begitu hancur saat ini, juga hatiku yang sama hancurnya. Tolong, jangan pernah buat manusia berhenti percaya pada Tuhannya. Itu hanya harapan, jika memang dia benar sudah tiada aku pun ingin bahagia dengan manusia lain. Namun aku berharap, manusia itu jiwanya sama sepertinya." Jelas Bella, Iba rasanya mendengar itu. Bella masih mampu memaksakan hatinya untuk pria lain rupanya.


"Aku percaya, Tuhan sangat menyayangi cintaku. Dia paham mengenaimu dan perasaanmu. Memang tak adil jika membiarkanmu bernafas sendiri, mengingat dosa dari keluargamu lah yang membuatmu sengsara." Brian, ia berbalik menatap lurus sembari bersuara. Ucapan itu membingungkan Bella sekarang, apa yang manusia itu katakan?


"Kau bicara apa?" Tanya Bella.


"Sakura dan kenangannya, manusia yang datang dihadapan sakura memberimu sebuah cincin dihadapannya. Lalu pergi dan bersedia menempuh kematiannya." Bella terkejut sekarang, dia hanya mencantumkan di bukunya perihal Brian yang memberinya cincin berlian di Saporo tapi tidak dengan alasannya.


"Bagaimana kau tau, dia melakukan itu padaku sebelum dia mati?" Tanya Bella, Brian tersenyum mendengar itu. Bella, sepertinya sudah saatnya kau tau siapakah Pria ini.


"Aku akan menunjukkan padamu, bagaimana cara pria itu memperlakukanmu saat itu di Saporo." Ucap Brian, ia mengambil beberapa sakura yang jatuh cukup banyak di kedua tangannya. Brian berbalik mendekati Bella kali ini. Lagi-lagi ucapan dari suaranya membuat Bella mematung, tiap apa yang Brian katakan selalu mengingatkan ia pada cintanya.


Ketika Brian berdiri tepat di belakangnya, Brian menjatuhkan bunga sakura itu di atas kepalanya. Memori itu kembali, kejadian ketika dirinya menikmati sakura yang gugur bersama dengan kekasihnya.

__ADS_1


"Bella, tidakkah kau mengingat ini? Bukankah dibawah sakura yang gugur, dia menyerahkan sesuatu padamu?" Tanya Brian, Bella berbalik sekarang menghadapnya. Siapa manusia ini sebenarnya, itulah yang masih Bella pikirkan sampai saat ini. Brian merogoh sakunya mengeluarkan sebuah kotak cincin, lalu membukanya tepat dihadapan Bella.


"Huh... in..ini?" Ucap Bella tak percaya ketika melihatnya, cincin itu. Cincin itu sama dengan yang dirinya kenakan. Brian tersenyum melihat ekspresi wajah Bella kali ini, disana Brian mulai meraih satu tangan Bella melepas lembut sarung tangan yang masih ia kenakan sehingga cincin berlian itu terlihat jelas di jari manisnya.


"Dari atas sini, aku ingin kau menjadi milikku. Ini sudah sepuluh tahun takdir menjauhkan kita, bolehkah aku memilikimu lagi?" Tanya Brian menatap penuh ke arahnya.


"Ini tidak mungkinkan? Bagaimana bisa?" Tanya Bella seraya menatap dalam pria dihadapannya itu. Disana, Brian mengembalikan cincinnya kedalam saku. Lalu ia meraih kedua tangan Bella, membawanya berlabuh diantara wajahnya.


"Sayang, aku merindukanmu." Lirih Brian seraya memejamkan matanya. Sekarang Bella percaya satu hal, pria ini adalah kekasihnya.


"Katakan, ini bukan mimpikan?" Tanya Bella seraya mengusap rahang tegas itu.


"Maafkan aku ya, terima kasih kerena masih menjaga namaku dihatimu." Jawab Brian, ia menangis kali ini. Itu adalah suara tangisan kebahagiaan.


"Kenapa lama sekali! Kenapa harus sepuluh tahun! Kenapa?" Tanya Bella, ia juga meneteskan air matanya sekarang.


"Maaf, aku kehilangan ingatanku saat itu. Bahkan aku tidak bisa berjalan saat itu, berbicara pun aku tak mampu. Aku cacat selama sembilan tahun itu, dan hari ini penyembuhanku sudah selesai. Aku menemukanmu lagi, aku tidak akan melepaskanmu lagi! Aku janji!" Penjelasan itu membuat Bella sangat bahagia, akhir dari kalimat yang cukup bisa menenangkannya.


"Kenapa kau jadi setua ini?" Tanya Bella, Brian tersenyum mendengar itu.


"Aku kira kau akan mengenaliku." Jawab Brian, Bella tertawa.


"Kekasihku tidak seperti om-om... dia tampan, aku ingin wajah itu kembali lagi." Tambah Bella, ia menjauhkan tangannya dari Brian.


"Kalau begitu, rubahlah aku kembali menjadi Brianmu. Kau bisa memangkas rambut juga mencukur kumis-kumis ini." Ucap Brian.


"Mungkin aku akan memotong sampai kepalamu saja!" Ancam Bella, Brian bergidik ngeri mendengar itu.


"Hei nona, apakah kau menerima lamaranku?" Tanya Brian, Bella bersemu mendengar itu.


"Tidak, siapa yang bilang aku akan menerimamu?" Ucap Bella, Brian menaikkan alisnya sekarang.


"Jadi kau menolakku?" Tanya Brian, Bella mengangguk cepat mendengar itu.


"Baiklah, selamat menikmati sakura dan keindahannya aku senang bertemu denganmu sendiri. Sudah ya, aku sibuk, jangan cari aku lagi!" Kesal Brian seraya berlalu dari hadapan Bella. Ketika Brian melewati dirinya, Bella menarik tangan kekar itu, itu membuat Brian berbalik sekarang, mereka saling bertatapan satu sama lain.


"Dasar!" Umpat Bella, seraya mencengkram kerah baju prianya lalu menariknya ke arahnya. Disana terciptalah satu ciuman lembut, satu ciuman untuk sepuluh tahun yang hilang. Brian membalas ciuman itu tak kalah lembut dari Bella, itu berlangsung cukup lama.


"Selamat datang, Sayang, aku mencintaimu dan aku menerimamu sebagai tunanganku." Ucapan lembut itu menghangatkan hati Brian sekarang, ia menarik gadis itu masuk kedalam dekapannya sekarang. Demi apapun di dunia ini, dia tidak akan pernah pergi lagi dari Bella.


...Tuhan, terima kasih...


...Aku bahagia bisa mendengarkan degup jantung itu kembali......


...Aku sangat mencintainya...


...Sekarang, kumohon jangan pisahkan kami lagi...

__ADS_1


...Ini pintaku kepadamu yang berkuasa...


__ADS_2