
...Dari setiap lereng gunung, biarkan kebebasan berdering...
...Satu-satunya penjara nyata adalah ketakutan, dan satu-satunya kebebasan nyata adalah kebebasan dari rasa takut...
Manusia jelmaan iblis itu benar-benar mendekam dalam kediaman Brian. Ia sama sekali tak tau malu disini. Bagaikan berada dalam rumah sendiri, Tasya saat ini sedang menikmati fasilitas kolam renang Brian.
Beberapa pegawai dari balik kaca dapur memperhatikan wanita itu. Beberapa dari mereka bekerja sambil membicarakan Tasya.
"Bisa-bisanya dia tidak tau malu kemari?" Ucap salah satu dari pegawai wanita, sebut saja dia Dhea.
"Entahlah, aku dengar dia menjebak Tuan besar masuk kedalam perangkapnya."
Jawab salah seorang pegawai pria bagian pengurus kebun, sebut saja Reno.
"Mengapa Nyonya berbaik hati membiarkannya datang kemari! Aku takut dia akan menjadi ancaman untuk nyonya nantinya." Ujar Dhea kesal.
Entah mengapa majikannya itu baik sekali hatinya. Isu-isu dahulu mungkin mengatakan, bahwa Brian adalah mafia yang kejam.
Namun nyatanya, selama mereka bekerja disini beberapa tahun. Justru isu-isu itu seakan hanyalah kabar hoax semata. Brian adalah bos mereka yang paling baik, dermawan juga sangat mengerti tentang pegawainya.
Sosok yang mereka sebut Tuan Besar itu, benar-benar membuat pekerjanya nyaman bekerja untuknya. Bahkan tanpa memintanya, pegawai Brian akan siap mempertaruhkan nyawanya untuknya.
Bella baru saja keluar dari dalam lift. Ketika ia menuju ke arah dapur ia terkejut melihat kedua pegawainya yang sedang asik berbincang sambil melihat ke arah kaca.
Bella ikut melihat apa yang sedang mereka perhatikan disana. Pemandangan disana membuatnya tersenyum, sejenak Bella mengencangkan ikatan piyamanya, seperti biasa itu adalah ulah suaminya tiap malam. Entah mengapa suaminya itu selalu saja melecehkannya setiap malam.
Mengingat satu hal yang mereka lakukan semalam Bella hanya tersenyum. Bella berdiri tepat dibelakang Pegawainya saat ini.
"Nyonya besar benar-benar baik sungguh!" Puji Dhea, ia sama sekali tak menyadari keberadaan Bella dibelakangnya.
"Jika saja hukum didunia ini tak ada, mungkin sudah ku rencanakan pembunuhan untuknya." Kali ini Reno ikut menimpali apa yang Dhea katakan.
Bella menahan tawanya mendengar itu. Sejak kapan pikiran psychoo ini ada pada para pegawainya.
"Wah sepertinya kalian sangat dendam padanya ya?" Ucap Bella.
Baik Dhea dan Reno keduanya langsung berbalik. Rupanya suara riang itu berasal dari nyonya mereka, Bella hanya memandang mereka sambil tersenyum.
"Ada apa?" Tanya Bella pada keduanya.
Lihatlah, bahkan raut wajah terkejut mereka terlihat seperti sudah melihat hantu. Bella menaikkan salah satu alisnya menatap ke arah dua pegawainya itu.
"Nyonya, apa anda perlu sesuatu?" Tanya Dhea pada Bella.
__ADS_1
"Santai saja, aku tidak akan memarahi kalian yang sedang asyik memuji Tasya, hahaha..." Gurau Bella pada pegawainya.
Kedua pegawai itu ikut terkekeh mendengar apa yang Bella ucapkan.
"Pelayan!!!" Tasya berteriak memanggil salah satu dari mereka disana.
Hal itu membuat tiga orang didapur seketika diam. Dhea dan Reno menatap ke arah Bella, mereka bingung sekarang. Apakah mereka harus menuruti perintah Tasya, atau tidak.
Sebab yang mereka tau adalah, mereka disini ditunjuk Brian untuk melayani Bella. Bukan Tasya, wanita itu bukan siapa-siapa untuk Brian. Dia hanya sebuah benalu yang melekat dalam keharmonisan rumah tangga mereka.
"Bagaimana nyonya?" Tanya Dhea pada Bella.
"Nyonya kami ditunjuk hanya untuk melayani dirimu beserta pewarismu. Bukan untuk melayani manusia sejahat dia, yang datang menghancurkan keharmonisan rumah tangga mu."
Bella tersenyum mendengar ucapan Reno. Berapa setianya pegawainya ini padanya, sungguh ia benar-benar dibuat tersentuh rasanya.
"Layani dia juga mulai sekarang ya! Tolong ya, Reno!" Ucap Bella pada Reno dihadapannya.
"Mengapa harus aku nyonya? Kenapa bukan Dhea saja?" Tanya Reno sambil menunjuk ke arah Dhea.
Bella meraih pergelangan tangan Dhea lalu menariknya pelan supaya Dhea mendekat ke arahnya.
"Tuan besar butuh sarapan pagi ini! Kebun juga sudah kau bereskan, saat ini pegawaiku yang menganggur adalah dirimu. Tolong ya!" Jawab Bella.
Hal itu membuat Reno menghela nafas. Bagaimanapun ia tak mampu menolak apa yang Bella perintahkan. Apalah dayanya yang hanya seorang bawahan.
Jawab Reno berucap lalu pergi dari sana. Bella dan Dhe tersenyum melihat itu, mereka pun mulai memulai aktivitas mereka. Bella sedang membuat sarapan untuk suaminya, sebab Brian mengatakan bahwa ia akan pergi ke markas pusat sebentar lagi.
"Pelayan!!!" Teriak Tasya lagi.
Ia kesal rasanya, sudah beberapa kali dirinya memanggil para pengawal disana namun tak kunjung ada yang datang menghampirinya.
"Anda bisa memelankan suara anda nona?"
Ucap Reno menghampiri Tasya yang masih berada didalam kolam. Reno baru saja sampai disana.
"Kenapa kau lama sekali? Aku sudah memanggilmu beberapa kali, namun kau sama sekali tak datang."
Ucap Tasya dipenuhi amarah. Reno hanya berseringai mendengar apa yang Tasya katakan.
Lihatlah betapa arogannya wanita iblis ini. Bahkan Tuan dan Nyonya nya saja tidak pernah sekalipun membentak para pegawai. Tapi ini, sungguh, jika bukan karena perintah Bella. Reno mungkin sudah merobek-robek mulutnya.
"Mengapa kau berseringai padaku hah?" Tanya Tasya padanya.
__ADS_1
"Nona, ada banyak tugas dikebun, itulah mengapa aku telat datang kemari." Jelas Reno.
"Buatkan aku makanan, aku lapar!" Perintah Tasya.
Reno mengepalkan tangannya berusaha meredam segala amarah dalam hatinya. Ketika ia akan berbalik dan pergi, Bella dari ambang pintu datang sambil membawa segelas matcha hangat.
"Tasya, kau mau bergabung sarapan dengan kami?"Tanya Bella sambil menyeruput matchanya.
Tasya diam sambil memperhatikan Bella yang berdiri disana. Sepertinya itu adalah tawaran menarik untuknya, mungkin Tasya akan menggoda Brian sekali lagi sekarang.
"Tentu saja, aku akan bergabung dengan kalian!" Jawab Tasya seraya tersenyum.
Bella mengangguk mendengarnya, ia menawarkan matcha miliknya untuk Tasya.
"Sepertinya kau kedinginan, keluarlah dari dalam kolam itu dan minumlah matcha ini barang kali kau mau."
Sambil mendengar itu, Tasya keluar dari dalam kolam itu. Tasya berjalan mendekati Bella yang masih berdiri disana. Ketika tepat dihadapan Bella, Tasya menyentuh segelas matcha itu.
Keduanya sama-sama berseringai disana. Reno hanya menelan ludah melihat situasi yang sedang terjadi dihadapannya itu. Mungkin sebentar lagi akan datang perang besar disini.
Namun Reno tidak memilih pergi, sebab ia juga takut apabila Tasya nantinya akan macam-macam pada nyonya nya.
"Aku tidak akan minum dalam satu wadah denganmu! Aku tidak akan memakai bekasmu! Aku tidak akan menerima apapun yang kau berikan untukku!"
Ucap Tasya sinis, lagi-lagi wanita dihadapannya ini membuat Bella terkekeh. Apa yang di ucapkan Tasya benar-benar konyol menurut Bella. Bella masih dengan senyumannya menatap ke arah Tasya.
"Kau tidak akan minum satu wadah denganku, tapi kau tinggal satu atap denganku. Kau tidak akan memakai bekasku, tetapi kau menjebak suamiku yang jelas-jelas dia milikku. Kau tidak akan menerima apapun dariku, tapi kau baru saja keluar dari dalam kolam itu dan mengiyakan penawaranku. Jadi, untukmu berada disini itu adalah karena diriku. Seandainya kau tau malu, mungkin kau akan mengambil salah satu dari tawaranku padamu kemarin. Apa kau sudah menemukan jawabannya Tasya?"
Ucapan Bella sungguh membuat Tasya semakin murka. Ketika Bella melepaskan gelas yang ia berikan pada Tasya, terlihat Tasya yang diliputi amarah masih menggenggam segelas matcha itu.
"Untuk kesekian kalinya, kau menyentuh barang bekasku. Kau benar-benar tidak memiliki harga diri!"
Ketika Bella selesai mengucapkan itu, ia pun pergi dari sana. Sungguh peraduan yang elegan bagi Reno. Dimatanya, Bella benar-benar sangat keren menghadapi seorang seperti Tasya.
Dengan penuh amarah Tasya langsung melemparkan segelas matcha itu ke sembarang tempat. Bunyi pecahannya membuat Bella berhenti lalu berbalik. Ia semakin tersenyum ketika mendapati segelas matcha yang ia serahkan pecah begitu saja.
"Seperti halnya amarahmu menghancurkan segelas matcha itu. Amarahmu juga arogansimu yang akan menghancurkanmu nanti!" Tutur Bella.
Bella pun kembali masuk kedalam rumahnya. Ketika Bella masuk disana, terlihat Brian sudah duduk manis di meja makannya.
Pria nya itu membelakanginya, Bella pun kembali ke arah dapur mengambil segelas kopi yang ia buat untuk suaminya.
Bella berjalan ke arah meja makan yang letaknya sedikit jauh dari dapur. Bersamaan dengan itu terlihat Tasya di ambang pintu belakang memperhatikannya. Tasya diam disana masih memperhatikan Bella.
__ADS_1
"Hunny, kau sudah rapi saja pagi ini?" Ucap Bella menyambutnya sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja makan.
Bella mencium lembut suaminya itu, begitupun dengan Brian ia membalasnya dengan penuh cinta. Pemandangan disana semakin membuat Tasya terbakar rasanya. Tasya pun pergi dari sana, mencoba mengacuhkan apa yang ia lihat.