Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Waktu Bersamamu


__ADS_3

...Selalu lakukan kebaikan dengan cara terbaik...


...Karena dengan cara itulah kedamaian akan tercipta...


...Segala sesuatu yang terjadi pada dirimu sebenarnya bersifat netral, semua tergantung dari caramu menyikapinya...


Sepoian angin itu menerpa sepasang kekasih yang sedang berdiri menatap ke arah laut. Ombak-ombak itu, warna birunya membuat mata merek tak bosan menatapnya. Keindahan Tuhan itu luar biasa, sekilas saja melihat, maka saat itu juga terhipnotis.


"Indah sekali!" Puji Bella, Brian tersenyum mendengar itu.


Brian berdiri tepat dibelakang Bella saat ini, memeluknya. Brian menopangkan kepalanya tepat di bahu Bella, sesekali ia menciumi lembut wajah istrinya itu.


"Aku senang sekali, Sayang!" Ujar Brian lirih, Bella menyentuh lembut tangan kekar yang melingkari perutnya itu.


"Daddymu sedang bahagia sayang.." Bella menunduk sebentar ke arah perutnya.


Ia mencoba berbicara pada calon anak mereka disana. Brian tersenyum melihat tingkahnya yang cukup manis ini, hal itu membuat Brian juga ikut serta mengusap lembut perut itu.


"Aku ingin anak laki-laki!" Ucap Brian lagi pada Bella.


Sejujurnya mereka berdua masih belum tau, jenis kelamin anak mereka saat ini. Keduanya terlarut dalam masalah yang hampir memecahkan hubungan keduanya.


"Laki-laki atau perempuan, keduanya sama-sama lucu." Ucap Bella tersenyum.


"Aku ingin memberi nama Prince, jika anakku nanti laki-laki. Namun jika anak itu perempuan, maka kau yang akan menamainya." Ucap Brian.


"Kenapa aku?" Tanya Bella bingung.


Brian begitu cepat sekali menemukan nama untuk bayi laki-lakinya. Namun untuk anak perempuannya, ia sama sekali tak menyiapkan nama. Apa-apaan itu?


"Sebab aku bingung sayang, jadi kau saja yang memberinya nama.."


Jawaban sejujur itu semakin membuat Bella terkekeh. Entah mengapa tiba-tiba dirinya diingatkan pada Tasya. Bukan perihal wanita itu, namun perihal anak dalam kandungannya.


Bella tau, apabila ia mengungkit hal ini pada Brian. Pria ini pasti akan marah, moodnya yang baik ini akan hancur seketika.


Namun Bella harus memastikannya. Sungguh ia akan menerima bayi itu sekalipun bukan berasal dari rahimnya.


"Hunny..." Lirih Bella pada Brian yang masih nyaman memeluknya.


"Iya sayang?" Tanya Brian lembut padanya. Sejenak Bella menunduk, ia mencoba meyakinkan hatinya saat ini.


"Hun, Tasya.."


"Aku tidak mau membicarakan itu!" Ucap Brian memotong ucapan Bella.


Nama itu, sungguh membuatnya muak. Hatinya kembali dibuat dilema tiap kali mendengar nama itu.

__ADS_1


"Hunny, kita harus membicarakan ini! Kumohon dengarkanlah aku."


Bella berucap sambil melepas pelukan Brian padanya. Disana ia menatap lembut ke arah suaminya itu. Terlihat jelas disana, bahwa Brian sama sekali tak ingin Bella membicarakan itu.


Bella menyentuh pergelangan tangan kiri suaminya itu, telapak tangannya merambat mencoba menyatukan jari-jari mereka. Lalu Bella mencoba tersenyum ke arahnya. Sakit hatinya perihal Vidio rekaman antara Brian dan Tasya masih ada.


Tetapi Bella bukan wanita yang minim simpati. Ia masih memikirkan nasib dari anak yang ada didalam kandungan Tasya.


"Hunny, aku tidak ingin dia memilikimu. Sebab aku akan egois jika perihal cintaku! Sama seperti dirimu yang mengklaim tubuhku dan hatiku, maka aku juga berhak atas itu. Hun, bencilah dia sesukamu tapi tolong jangan benci anak didalam kandungannya. Dia juga bagian dari dirimu, kau adalah Daddy nya."


Brian tersentuh mendengar itu. Sungguh ia merasa sangat diberkati rasanya memiliki wanita berhati malaikat ini. Tapi berat baginya melakukan apa yang Bella minta darinya.


Brian meraih telapak tangan Bella yang saat ini terpaut dengannya. Wanitanya masih setia menatapnya, ia masih menunggu jawaban atas pintanya. Brian menciumi tangan itu.


"Sayang, aku bangga memilikimu sungguh. Kau adalah segalanya untukku, terima kasih atas segalanya. Bella, aku berat menerima pintamu!"


Bella mengangguk mendengar itu, ia tau itu tidak akan mudah. Prianya ini akan teguh dengan pendiriannya.


"Bukalah hatimu Hunny, jika kau tidak mampu membuka hatimu secara langsung. Maka bukalah perlahan, aku yakin kau kelak akan menerima kehadirannya." Ucap Bella lagi meyakinkan.


"Boleh ya? Aku akan merawatnya!" Ucap Bella lagi ia menunduk mencoba menemukan mata kekasihnya yang juga menunduk.


"Aku akan memberinya tempat tinggal bersama kita, sesuai pintamu. Tapi tolong, jangan paksa hatiku untuk menerimanya." Ucap Brian padanya.


Bella mengangguk, itu adalah tugasnya nanti. Membuat Brian mau menerima anak Tasya. Sama seperti dirinya dahulu, merubah Brian dengan kasih sayang. Maka sekali lagi kemampuannya itu akan ia gunakan.


Disana Brian hanya diam, ia diam sebab berat rasanya menerima permintaan Bella disana. Namun disisi lain, permintaan Bella adalah hal yang tidak mampu ia tolak.


Brian mencoba membuang sebentar segala pikiran negatifnya. Sambil menghirup wangi Surai istrinya itu, ia memejamkan kedua matanya.


Bella adalah salah satu degup jantung miliknya. Satu-satunya wanita yang tidak akan Brian serahkan pada siapapun, rasanya ia sendiri tak mampu melukiskan betapa banyak cinta dalam hatinya untuk wanita ini.


Berdiri seperti ini sambil memeluknya, adalah kebahagian tak terkira baginya. Dia yang datang dengan berani masuk ke dalam badainya saat itu. Ketika dirinya masih memiliki kekejaman, berusaha membuang simpatinya.


Tetapi sungguh skenario Tuhan itu luar biasa. Ketika target pelenyapannya selanjutnya mengarah pada Bella, Tuhan lebih dulu meniupkan benih cintanya pada hari Brian. Hari itu, wanita ini benar-benar menjungkirbalikkan dunianya.


Kekejamannya musnah seketika, ia rela menantang maut demi kebebasan seorang Bella. Hanya Bella, tidak ada hal lain lagi yang lebih penting daripada itu.


__________


Ditempat lain, Stevan sedang berada di atas gedung. Sejujurnya Stevan menunggu kabar tentang kakaknya itu. Perihal apakah Brian berhasil atau tidak masih belum diketahui.


"Kakak, apakah kau baik-baik saja disana? Apakah pria gila itu berhasil mendapatkanmu kembali?" Lirih Stevan menatap ke arah langit-langit.


"Ahh, terkadang perasaanku selalu benar. Jika hatiku tak kalut, maka artinya dia berhasil. Dan aku akan tetap mempercayai itu!" Lirihnya lagi.


Langit-langit pagi ini cukup indah. Beberapa burung terlihat berlalu lalang disana. Sudah ada dua menit, Nami berada di ambang pintu. Menatap punggung Stevan didepannya.

__ADS_1


Nami sengaja datang kemari memang, untuk menyerahkan beberapa makanan yang baru saja ia buat. Seperti Stevan yang hidup seorang diri didalam apartemen ini, maka dirinya pun sama. Kesepian jelas melanda mereka berdua.


"Stev!" Panggil Nami berjalan mendekati Stevan.


"Wah kau datang?" Ujar Stevan menoleh lalu tersenyum.


"Iya, aku membawakan beberapa makanan. Apakah kau mau?" Tanya Nami sambil menyodorkan dua wadah makanan untuknya.


Stevan memperhatikan itu, Ratatouille. Makanan Perancis yang cukup tenar disini.


"Apakah kau yang membuatnya?" Tanya Stevan menatap Nami kali ini.


Nami tak menjawab itu, ia meraih tangan Stevan lalu menyerahkan makanan itu padanya. Stevan yang masih menggenggam makanan itu terpaku, sedang Nami ia langsung duduk disamping Stevan kali ini.


"Daripada kau menikmati keindahan kita sendiri, ajaklah aku bersamamu!" Ucap Nami membuka kotak makannya lalu melahapnya.


Stevan tersenyum singkat mendengar itu, ia kembali duduk disamping Nami kali ini.


"Jadi Stev, katakan padaku!" Ucap Nami sambil masih menatap ke arah kota.


"Apa?" Tanya Stevan sambil menyantap makanannya.


"Apakah sudah ada perkembangan dari pengobatanmu?"


Pertanyaan Nami itu membuat Stevan tersenyum. Ia menatap ke arah langit, soal penyakitnya mungkin tidak akan bertahan lama rasanya.


"Untuk hal itu sepertinya aku berserah diri saja. Sebab jika memang kematian datang padaku, maka aku akan menerimanya. Dan aku akan berterima kasih padamu, sebab kau datang menemaniku di sisa waktuku yang tak banyak."


Nami mengentikan makannya ketika mendengar apa yang Stevan ucapkan.


"Lebih baik istirahat dipangkuan Tuhan secepatnya setelah masalah kakak ini usai." Ucap Stevan lagi.


"Dan ya, aku masih belum menemukan jawaban atas perasaanku padamu sebelum mati. Jadi bagaimana.."


Greppp


"Huh?" Pekik Stevan.


Remasan di bajunya itu menariknya mendekat ke arah Nami. Satu tarikan itu menciptakan sebuah ciuman panjang untuk mereka berdua. Ciuman itu adalah jawaban untuk Stevan, bahwa Nami pun juga sangat mencintainya.


"Kau bodoh Nami, mengapa kau menghabiskan waktumu dengan balas dendam. Apa yang Stevan katakan benar! Rantai pembalasan dendam itu harus di akhiri. Tapi kau mengakhirinya ketika, durasi waktu hidup pemuda yang kau cintai hanya tinggal sejengkal. Maafkan aku ya, Stevan!" Batin Nami disela-sela ciuman itu.


Stevan memperdalam ciumannya, didalam sana ia merasakan satu hal. Gadis ini sedang menumpahkan seluruh perasaannya dalam ciuman itu.


...Bagaimanapun keadaan kita, mau sedih atau bahagia...


...Waktu tidak pernah berhenti menunggu, waktu tetap berjalan!...

__ADS_1


...Semakin lama kamu hidup di masa lalu, semakin sedikit masa depan yang bisa kamu nikmati...


__ADS_2