
...Setiap pengorbanan yang ikhlas...
...pasti akan menghasilkan sebuah kebahagiaan yang berkelas...
...Tujuan dari semua pengorbanan dan usaha...
...adalah mewujudkan cita-cita...
Masalah seharusnya dihadapi bukan, namun hari ini Brian lebih memutuskan untuk ke Gereja lebih dahulu. Bersama dengan Bella yang duduk dengan perasaan was-was dibuatnya, juga sebuah bungkusan ditangan Bella yang ia genggam. Rombongan paparazi dihadapan gedung Kaneki Corps masih mengantri meminta penjelasan atas pertanyaan mereka.
Berita simpang siur itu sudah menimbulkan banyak kekacauan, itulah mengapa terbesit dalam pikiran Brian untuk membawa Bella ke Gereja melakukan pernikahan sederhana disana. Tak peduli sebagaimana pun kacaunya keadaan peresmian mereka sudah lama tertunda berulangkali.
"Hun kau bisa membawa mobil ini lebih manusiawi lagi?" Tanya Bella mencoba tenang namun jujur saja dalam hatinya sedaritadi ia ketakutan.
"Jalanan tidak cukup padat sayang, waktu adalah emas!" Ucap Brian pembelaan Bella hanya menatap tegang jalanan itu mengapa kekasihnya ini mendadak jadi seorang pembalap.
"Tapi nyawa itu juga emas Hun!" Tutur Bella, terdengar suara Brian tertawa disampingnya sungguh menyebalkan sekali bukan.
Bella tak ingin mati konyol karena kecelakaan lalu lintas lebih baik mati setelah melakukan hal-hal mulia daripada mati disini sebagai pengemudi gila.
Ketika simbol gereja tujuan mereka mulai terlihat laju mobil Brian semakin cepat melesat menghampirinya. Ketika mobil itu berhenti tepat terparkir dihalaman Gereja Bella membuang nafasnya kasar kemudian, tak lama mereka pun turun dari sana.
Brian menggendong Bella membawanya masuk kedalam Gereja.
"Hun aku bisa berjalan sendiri!" Pekik Bella yang saat ini berada dalam gendongannya. Brian tak mempedulikan segala protesan itu, ia berjalan ke arah pintu Gereja membukanya.
Terlihat ada satu Pastor dihadapan podium, Pastor itu mengalihkan netranya ke arah Brian lalu tersenyum.
"Ah apa kalian ingin berdoa?" Tanya Pastor itu ramah, Brian mendekati Pria paruh baya itu ketika tepat berada dihadapannya Brian berhenti.
"Tolong nikahkan kami, sekarang!"Jawab Brian dengan penuh keyakinan dalam perkataan dan sorot matanya.
Pastor itu tersenyum mendengar itu namun tak lama ia mengangguk menyetujui hal itu.
"Mari kita ke altar untuk melakukan sumpah suci!" Ujar Pastor itu menuntun keduanya maju ke depan altar.
__ADS_1
Mereka bertiga maju disana didalam tempat suci itu keduanya mulai di ikat dengan satu janji, sebuah janji suci sederhana yang akan mengikat mereka selamanya.
____________
Riuh suara dihadapan gedung mulai menggema dari balik kaca lantai lima Themo melipat tangannya sambil memperhatikan kegaduhan yang terjadi dibawah.
"Inginku granat rasanya mereka!" Gerutu Themo, Rey selaku teman baiknya hanya tersenyum mendengar itu.
"Jangan, itu bukan cara kerja kita lagi sekarang!" Jawab Rey dengan nada bercandanya.
"Aku heran sekali pada Tetua, situasi sudah sememanas ini namun ia masih memilih menikah." Ujar Themo lagi Eddie yang duduk dibelakang mereka tertawa mendengar itu, ia melangkah mendekati Themo sambil memperhatikan kegaduhan dibawah Eddie menepuk pelan tubuh Themo dari belakang.
"Terkadang kita perlu menjadi buta dan tuli ketika kebebasan itu sulit diraih. Kita hidup didunia yang kejam maka perlu kekejaman juga untuk melaksanakan tiap proses hidup. Namun usahakan tangan kalian tetap bersih, karena sekali menjadi penjahat maka akan selamanya dicap dunia seperti itu." Tutur Eddie, Themo membuang nafasnya kasar mendengar itu.
"Ah baiklah, kita akan hadapi ini dengan gagah berani!" Ujar Themo, Rey dan Eddie mengangguk mendengar itu.
"Apa kita tidak akan turun lalu meredam kegaduhan mereka Tuan?" Tanya Rey, namun Eddie hanya menggeleng.
"Beberapa menit setelah pernikahan mereka akan segera kemari, apa yang di inginkan paparazi akan mendatangi mereka sendiri jadi mereka perlu bersabar untuk mendapatkan itu." Jelas Eddie.
Nampak dari balkonnya, Nami yang berada tak jauh darisana bahagia sekali melihat kekacauan itu. Apa yang ia dambakan akan terwujud sebentar lagi, militer akan datang menjemput pendosa yang paling dibencinya, hari ini tak ada yang mampu Brian lakukan kecuali menyerahkan diri. Peretasan dan segala data tentang Kaneki Corps sudah Nami serahkan seluruhnya pada pihak militer Amerika melalui internet. Sekarang menunggu dan menikmati alurnya adalah sebuah kebahagian bagi Nami.
Disisi lain beberapa Pria berjas Hitam dalam mobilnya sedang menunggu momen yang tempat untuk meringkus Brian. Lima mobil sport hitam itu berjajar rapi tak jauh dari markas pusat Kaneki Corps.
"Kapan penyerangan ini dimulai?" Tanya Gabriel melalui monitornya.
"Kau tenang saja ini tak akan lama, Paparazi itu haus berita kau tau mereka pasti akan nekad masuk kedalam. Saat itulah kita bisa gunakan kesempatan itu untuk masuk dan mencarinya." Jelas Noah yang juga berbicara melalui monitor.
"Kalau begitu kami akan lebih bersabar lagi!" Ucap Gabriel lagi.
"Baiklah!"Jawab Noah.
Mereka terkejut ketika melihat sebuah mobil Ferarri berhenti tepat dihadapan gedung Kaneki Corps, Eddie dan kawanannya tersenyum melihat mobil itu terparkir tepat dihadapan pintu masuk gedung mereka.
"Permainan akan segera dimulai!" Ujar Eddie.
__ADS_1
"Ayo kita turun!" Ajak Themo, mereka bertiga pun turun kebawah.
Terlihat Brian dengan jas hitamnya turun dari mobil seorang diri, beberapa Paparazi itu mulai mengerubunginya bagaikan gerombolan lalat yang lapar. Lontaran demi lontaran pertanyaan itu menghujani Brian.
"Tuan apakah anda pemilik dari usaha misterius ini?Apakah benar pemilik dari perusahaan ini adalah buronan internasional?" Tanya seorang paparazi kilatan cahaya dari kamera itu berulang kali memotret Brian. Dengan penuh keyakinan dalam hatinya hari ini Brian akan memaparkan segalanya mengenai jati dirinya.
Ia tau paparazi ini adalah bagian dari rencana CIA untuk menjebaknya, maka dengan yakin dan harapan dalam hatinya Brian memutuskan untuk masuk kedalam jebakan mereka. Ia tak ingin menyelesaikan masalahnya layaknya seorang Mafia lalu lari, ia akan menerima dan menghadapi segala tantangan yang ada dihadapan matanya demi kebebasan berkala yang nyata Brian rela.
"Akulah pemilik Kaneki Corps, Brian!" Jawab Brian mantap, seketika paparazi itu langsung terdiam. Mereka memang sudah tau menau perihal isu tentang Pemiliki perusahaan besar ini, bahkan mereka tau siapakah nama pemilik perusahan ini, seorang mafia besar bernama Brian.
Beberapa pria berjas hitam itu mulai turun dari mobil mereka menghampiri kerumunan itu.
"Kami Agen CIA dengan ini anda harus ikut kami kembali ke Amerika!" Ujar Noah seraya menunjukkan surat perintahnya.
Brian melirik kecil suara Pria yang ada dibelakangnya itu, lalu berbalik.
"Kau akan menahanku?" Tanya Brian padanya, Noah hanya tersenyum lalu mengangguk mendengar itu.
"Tentu saja, kau buronan!" Jawab Noah yakin namun diluar dugaan sama sekali tak ada perlawanan yang Brian berikan untuk itu ia hanya menyodorkan tangannya yang kosong itu ke arah Noah.
Noah mengeluarkan borgolnya, tak lama borgol itu sudah terlilit ditangan Brian sekarang.
"Mari jalan!" Ucap Gabriel di belakang Brian saat ini.
Bella dari dalam mobilnya bersama dengan Stevan menyaksikan penangkapan itu. Mereka berdua juga akan ikut pergi ke Amerika setelah ini untuk membebaskan Brian. Bella tidak akan membiarkan Prianya itu pergi setelah apa yang ia lakukan di Gereja beberapa jam tadi bersamanya. Ciuman panjang nan lama itu tak akan pernah sudi Bella jadikan sebagai kenangan sebelum mati, itu adalah awal Bella harus membebaskan kekasihnya.
"Tenang sekali, tak seperti rencana Mafia!" Puji Stevan seraya masih menatap kepergian mobil milik Pria berjas hitam itu.
"Ini rencana Eddie, Brian pun juga lelah melakukan kekerasan. Jalan tanpa pertumpahan darah itu lebih baik bukan?" Ucap Bella, Stevan tersenyum mendengar itu.
"Ya itu benar!" Jawab Stevan.
...Pencapaian besar biasanya dilahirkan dari pengorbanan yang besar...
...Dan tidak pernah dari hasil egoisme...
__ADS_1
...Tanpa pengorbanan, cinta sejati tidak dapat dipahami...