Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Family Time 1


__ADS_3

Prince bangun cukup pagi hari ini. Sebab katanya, ketika pagi menjelang Bella akan menjemputnya.


Entahlah, sehari tanpa Mommy nya itu adalah hal yang tidak mungkin bagi Prince. Ia rindu sekali.


Prince duduk di atas ayunan. Satu ayunan yang berada di balkon. Ayunan panjang itu menghadap langsung ke arah taman yang cukup luas.


Luar biasa sejuk sekali pagi ini. Sebelum kemari Prince mengambil jus di dalam lemari es. Seluruh manusia di dalam tempatnya bersinggah ini masih terlelap.


Mungkin sebab semalam mereka tidur terlalu larut. Percy dan Petra keduanya terlelap di ruang TV. Ruang dimana mereka semalam memainkan game bersama.


Sedangkan Sienna saat ini juga terlelap di kamar tamu bersama dengan Annie. Jadi hanya Prince saja yang bangun pagi ini.


Jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Cahaya mentari ya masih belum sepenuhnya nampak.


Namun perlahan cahaya-cahaya itu mulai mengusir gelap untuk pergi lalu menggantikannya terang.


Prince merogoh sakunya mengambil ponselnya lalu ia menghubungi Mommy nya disana. Sekedar untuk memastikan apakah benar pagi ini mereka akan di jemput.


Panggilan pertama sama sekali tak mendapat jawaban. Hingga sampai pada panggilan kelima tetap saja tidak mendapatkan jawaban.


"Mommy ini kemana?" Gerutu Prince sambil memandangi layar ponselnya.


Di sela-sela gerutuannya itu. Ia sama sekali tak menyadari bahwa saat ini Sienna yang baru saja bangun menghampirinya dari belakang.


Tanpa sepengetahuan Prince, Sienna menepuk pelan bahunya. Hal itu membuat Prince sedikit terkejut lantas ia menoleh ke belakang.


Dilihatnya adiknya itu masih dengan muka bantal dengan rambut yang acak-acakan.


"Kakak kenapa pagi sekali bangunmu?" Tanya Sienna sembari menguap.


"Tidak, aku hanya tidak sabar untuk pulang. Kau tau bukan, rumah sendiri itu lebih nyaman!" Jawab Prince tersenyum.


Sienna mengambil duduk disamping Prince. Sesekali ia menguap, kesadarannya masih belum sepenuhnya pulih.


Prince memandangi wajah adiknya itu. Entah mengapa tiap kali melihat adiknya bangun tidur adalah hal yang menggemaskan untuknya.


"Sesudah bangun cucilah mukamu terlebih dahulu Sienna! Itu akan membantumu memulihkan nyawa yang kau tinggal di pulau mimpi." Tutur Prince padanya.


Sienna menoleh lantas netranya menatap pada satu objek. Sebuah botol kecil berisikan cairan segar. Sepertinya cukup untuknya pagi ini.


"Kakak itu apa?" Tanya Sienna sambil menunjuk jus yang Prince pegang.


"Ini jus!" Jawab Prince.


"Aku mau!" Jawab Sienna dengan nada memelasnya.


Prince memberikan jus itu padanya. Sienna langsung saja meneguknya hingga habis.


"Dehidrasi sekali kau pagi ini sepertinya Sienna!" Ucap Prince padanya.


Sienna hanya tersenyum lalu bersandar menatap ke arah langit. Masih belum sepenuhnya cerah.

__ADS_1


"Kakak, kita belum memberikan apa-apa pada Mommy!" Ucap Sienna mengingatkan.


"Iya, semalam kita tak pulang! Padahal aku ingin membuatkannya kue seperti dulu." Ucap Prince.


"Kakak kue mu bantat! Jangan, berilah Mommy hadiah yang indah. Yang mampu di ingat sampai kapan pun." Ucap Sienna.


Prince terkekeh mendengar itu. Adiknya ini benar-benar mengingatkan kembali pada Valentine satu tahun lalu.


Dimana mereka berdua dibantu dengan pegawai rumahnya memasak kue untuk Mommy nya. Namun nyatanya, Prince yang ingin kue itu di masak olehnya saja gagal mengikuti resep.


Pada akhirnya, hasilnya adalah kue bantat ya g sebenarnya tak layak makan. Mereka berdua dengan bangga menyuguhkan itu pada Bella.


Bella yang baik hati pun memakannya tanpa berprotes. Sekalipun rasanya memang hancur namun ia tetap memakannya tapi tidak menghabiskannya.


Sebab kalian pasti tau bukan, bahwa istri dari Brian itu adalah seorang vegetarian.


Saat mengingat itu kembali rasanya Prince dibuat tertawa. Sungguh hari yang menyebalkan. Namun yang membuat Prince senang adalah, sebagaimana pun bentuk kue nya Mommy nya tetap memakannya.


"Beruntung sekali Mommy baik, ya?" Ucap Prince kembali mengingatkan lagi.


"Mommy hatinya seperti malaikat! Dan aku selalu mencintainya!" Tambah Sienna.


Hal itu membuat hati Prince menghangat. Sedalam itu perasaan Sienna untuk Mommy nya. Sungguh luar biasa sekalipun Sienna bukan anak kandungnya.


Tapi persetan dengan itu, sekalipun dunia mengatakan bahwa Sienna bukan adik kandungnya. Bagi Prince, Sienna tetap adik kandungnya.


Dia tidak akan pernah membawa perbedaan itu dalam hubungan mereka. Jika ada yang berani mengusik itu maka Prince pasti akan menghajarnya.


Itu adalah ide yang bagus menurut Sienna. Ia pun menuruti itu, segera ia pun pergi dari sana menuju kamar mandi.


_________


Sementara di tempat Bella saat ini. Brian sedang duduk di meja makan. Menunggu istrinya selesai berdandan.


Sambil menyeruput segelas teh hangat. Sejak tadi ia juga di sibukkan dengan ponselnya.


Mereka akan liburan hari ini. Tujuannya adalah ke Hawai. Brian akan membooking penginapan terbaik disana.


Ketika menemukannya, ia pun segera membookingnya. Tak beberapa lama suara langkah kaki menuruni anak tangga pun mengalihkan perhatiannya.


Itu Bella, ia sudah rapi dan nampak segar. Bella menuruni anak tangga dengan hati-hati. Kakinya sedikit lemas rasanya akibat pertempuran semalam.


"Sayang..." Panggil Brian padanya.


Bella hanya berdehem saja. Itu hal yang tidak biasa bagi Brian. Brian yang tau istrinya masih lemas akibat semalam pun beranjak dari tempatnya.


Ia menghampiri istrinya lalu menggendongnya. Bella tersenyum melihat itu, rupanya pria nya ini begitu peka.


"Bilang kalau masih lemas! Mengapa kau harus diam?" Tanya Brian sambil mendudukkan istrinya di atas kursi.


"Aku malu! Kau tidak lihat di dapur banyak pegawai kita." Jawab Bella padanya.

__ADS_1


Hal itu membuat Brian sedikit menoleh ke samping ke arah dapur yang letaknya tak jauh dari meja makan.


Benar, pegawai mereka baru saja kembali pagi tadi. Usai mereka kembali, segera mereka membereskan apa yang Bella siapkan semalam.


Lampu lilin yang menghiasi rumah ini sudah bersih. Wadah bekas kue coklat semalam juga sudah bersih.


Brian mengakhiri tawanya dengan kecupan lembut di kening Bella. Lalu ia pun duduk di samping istrinya.


Makanan pagi ini pegawainya yang menyiapkan. Bukan Bella, Brian memaklumi itu. Lagi pula itu juga akibat ulahnya semalam yang terlalu lama bermain.


"Kita jadi ke Hawai kan Hunny?" Tanya Bella padanya sambil memasang puppy eyes nya.


Melihat itu Brian tersenyum, astaga ini masih pagi dan wanitanya ini benar-benar menggodanya.


"Iya sayang, kita jadi kesana!" Jawab Brian padanya.


Cupppp


Satu kecupan lembut mendarat begitu saja di wajah suaminya.


"Terima kasih!" Ujar Bella.


Pegawai mereka mulai menghidangkan makanan. Aroma makanan yang menguar membuat Brian tak sabar menyantapnya.


Bella tidak menyukai menu pagi ini. Ia mencari-cari keberadaan salah atau setidaknya sup untuk pagi ini.


"Tolong buatkan sup atau salad untukku ya... Aku tidak terlalu menyukai makanan berlemak." Ucap Bella pada pegawainya.


"Tentu nyonya, kami sudah menyiapkannya!" Jawab salah seorang pegawai sambil membawa hidangan yang Bella inginkan.


Ketika hidangan itu sudah di sajikan mereka pun pergi dari sana. Meninggalkan Tuan dan Nyonya mereka makan dengan tenang.


"Adakah yang berubah dari rencanaku Hunny?"


Tanya Bella sambil menuangkan beberapa menu makanan dalam piringnya lalu memberikannya pada suaminya.


Mendengar itu Brian pun teringat sesuatu tentang semalam. Ia pun mengangguk mengiyakan apa yang Bella tanyakan.


"Ada sayang!" Jawab Brian padanya.


"Oh ya, apa itu?" Tanya Bella lagi padanya.


"Bagaimana jika kita kesana naik penerbangan? Sementara nanti ketika kita sudah sampai disana, aku akan menyewa kapal untuk kita menikmati lautan?" Tanya Brian.


Hal itu sedikit membuat Bella terdiam sebentar. Ia berpikir sejenak perihal tawaran Brian.


"Sebab sayang, jika kita naik kapal itu akan memakan waktu lama." Ujar Brian.


Kembali Bella mempertimbangkan lagi. Pada akhirnya ia pun menemukan satu kesimpulan bahwa apa yang di katakan suaminya itu benar.


"Baiklah, kita akan naik pesawat saja! Aku ikut rencanamu saja asalkan kita bisa berlibur bersama disana." Jawab Bella.

__ADS_1


Brian tersenyum. Keduanya kemudian kembali menikmati makanannya.


__ADS_2