
...Seseorang boleh mengalami pahit getirnya perjalanan hidup...
...Tetapi dia tak boleh berhenti dan tak boleh kehilangan impiannya...
...Perjalanan hidup adalah proses perjuangan tanpa henti, ditaburi mimpi, diisi dengan tekad...
_______________
Selagi nada itu dimainkan bagaimana pun lagunya pikiran dan hatinya masihlah kalut, kegelisahan itu kian menggunung. Usai apa yang di bahas di meja bundar bersama dengan seluruh rekan kepercayaannya Brian di atas markas pusat sedang memainkan biolanya di atas ketinggian di antara rumah kaca demi untuk menyalurkan segala perasaannya ia sudah menghabiskan satu jam disana bersama dengan biolanya.
Seandainya kalian juga mampu mendengarkan melodinya lagu ini berjudul Memories lagu dari Maroon 5 yang sedang booming kala itu. Dimana disana makna lagu ini adalah mengingat segala kenangan yang pernah dilalui.
Tragis rasanya beberapa tahun yang lalu kita semua adalah manusia yang bersih suci bahkan tanpa tau apa itu kejahatan. Namun saat ini, waktu memang berjalan maju kita pasti akan merasakan apa itu dewasa dan bagaimana itu, ketika hari itu tiba kita bahkan tak mampu menghindarinya mengelak apalagi. Kata Tuhan kita harus hadapi itu layaknya seorang manusia, tak ada masalah yang akan pergi jika tidak dihadapi atau di selesaikan, kodrat alam, hukum skenario yang merangkai segalanya berjalan seperti itu.
"Dunia itu indah, namun ada juga pahitnya." Batin Brian, ia masih memejamkan matanya sembari tangannya yang bergerak aktif merangkai seluruh melodi dalam biolanya.
Hembusan angin begitu sejuk sekali di atas sini, sunyi hanya suara alam dan nada-nada itu yang memeriahkan suasananya. Dari ambang pintu Eddie, Rey juga Themo memperhatikan Brian sedaritadi. Sejak keputusan beberapa jam lalu rasanya itu seperti dilema besar untuk Brian saat ini.
"Apa tak apa jika kita biarkan dia disana seperti itu?" Tanya Themo seraya melipat tangannya di dada.
"Tak apa, itu pengalihan seluruh rasa sakitnya memang."Jawab Eddie.
"Aku baru tau Tetua mahir memainkan alat musik!" Ujar Rey.
"Sejak dulu, Ibu kami menyukai alat musik. Ia banyak mengajarkan musik pada Brian dulu, sebelum Ibu meninggalkan kami hanya biola itu yang masih ia simpan. Ia selalu memainkan itu sewaktu Ayah masih hidup namun ketika Ayah tak lagi ada, Biola itu di simpan rapat di dalam tempatnya ia terjerumus ke arah yang salah kemudian, dendam membutakannya." Jelas Eddie.
"Lalu sejak saat itu kehidupan suram kalian dimulai?" Ujar Themo, Eddie mengangguk mendengar itu, segala hal berubah memang ketika Ayah mereka pergi.
"Salju akan turun beberapa menit lagi sesuai laporan cuaca, apa baik membiarkannya disana?" Tanya Rey.
"Kita tidak akan mampu membujuknya, kita membutuhkan Bella mungkin saat ini." Ujar Eddie.
__ADS_1
"Ya aku disini dan sedaritadi memandangi kalian yang menutupi jalan!" Ujar Bella yang tiba-tiba ada di belakang mereka.
"Kakak ipar? Kau kapan kemari, apa sejak tadi?" Tanya Eddie terkejut lalu berbalik menatap kehadiran Bella disana.
"Nyonya Besar, astaga maafkan kami yang menghalangi jalanmu." Ucap Themo, Bella hanya menggeleng tersenyum mendengar itu.
"Sudah berapa lama ia disana?" Tanya Bella maju kedepan membelakangi Eddie, Themo dan Rey saat ini.
"Sudah hampir mau dua jam Kakak!" Jawab Eddie, Bella menatap miris Prianya itu dari kejauhan.
"Tolong tinggalkan kami ya, aku tak ingin kalian iri dengan keromantisan kami." Ucap Bella menoleh ke arah Themo, Eddie dan Rey yang berada di belakangnya.
"Baiklah, kami pergi!" Ucap Mereka yang langsung pergi dari sana.
Kali ini netra Bella kembali mengarah pada Prianya yang masih asik dengan biolanya. Perlahan Bella mendekati Pria itu berjalan sambil tetap memperhatikan paras tampannya itu. Tepat ketika ia berada dihadapan Brian tangannya terangkat menyentuh kedua lengan kekar itu seakan menghentikannya menyuruh kekasihnya itu berhenti tenang dan mendengarkannya.
Brian membuka matanya ketika merasakan sentuhan hangat diantara lengannya. Ketika ia membuka mata terlihat Bella dihadapannya menatapnya sayu, ada apa dengan tatapan itu, apakah Bella sudah mengetahui segalanya.
"Ada apa?" Tanya Brian lembut sembari menurunkan biolanya.
"Hunny kau tak apa? Apa kau sudah makan? Apa kau baik-baik saja saat ini? Apakah ada hal yang mengusik hatimu?" Pertanyaan demi pertanyaan itu Bella lontarkan mencoba memastikan apa yang terjadi pada kekasihnya itu saat ini.
Sejenak Brian melepas sentuhan Bella yang berada di tubuhnya, lalu berjalan ke arah meja dimana ia meletakkan tempat Biola nya disana. Brian mengembalikan lagi Biolanya disana, setelah itu ia kembali ke arah Bella mencubit pipinya gemas.
"Awhhh sakit!" Pekik Bella, namun Brian tak melepaskan itu ia masih memainkan wajah cantik kekasihnya itu.
"Sayang, kenapa kau disini?" Tanya Brian menghentikan aksinya. Bella menatap Brian lembut kali ini.
"Tak apa, aku hanya merindukanmu!" Jawab Bella.
"Benarkah? Bukankah kau kemari ingin mengatakan sesuatu sayang?" Tanya Brian serius kali ini.
__ADS_1
Bella tau ia tidak akan mampu menyembunyikan apapun dari Brian saat ini. Kekasihnya itu selalu tau apa yang sedang ia rasakan saat ini.
"Aku tidak ingin kau pergi dariku lagi!" Bella menunduk ketika mengatakan itu, runyam sekali masalah percintaan mereka sungguh.
"Jika kita di takdirkan bersama sesuatu yang hilang itu pasti akan kembali lagi bukan?" Ucap Brian sembari memperhatikan Bella yang masih menunduk, perih juga tersentuh hatinya ketika mendengar kalimat itu dari Bella.
"Hun, kenapa selalu seperti ini? Apa memang kita tidak berjodoh Hun? Alam seperti tak mengizinkan kita bersatu." Ujar Bella, Brian tersenyum mendengar itu.
"Bella, jika kita tidak di izinkan bersama aku tidak akan kembali hidup. Dan kau tidak mungkin berada disini dan menangis padaku seperti ini!" Jelas Brian ia berjalan mendekat ke arah Bella saat ini merengkuhnya.
"Bukankah aku sudah bilang padamu? Untuk mendapatkanmu aku harus melewati banyak perang, sayang, aku tidak akan menyerah. Nafasku ada karenamu, dan aku tak akan lelah memperjuangkan dirimu. Hidupku ada untukmu dan kau ada untukku, kita jiwa yang saling terpaut." Ucap Brian, Bella mengangguk mendengar itu.
"Sayang ada yang harus ku katakan disini!" Ujar Brian, Bella menjauhkan dirinya dari Brian sekarang lalu menatapnya lekat-lekat.
"Apa itu?" Tanya Bella, Brian menangkup wajah cantik kekasihnya itu sembari tersenyum.
"Aku akan menyerahkan diriku ke Amerika. Tapi itu keputusan benar menurut Eddie, untuk satu kebebasan yang panjang aku harus berani mengambil resiko itu bukan." Jelas Brian, Bella tersenyum miris mendengar itu.
Memang itulah hal yang akan disampaikan Bella pada Brian saat ini, berat namun hal itu memang harus dilakukan. Demi kebebasan panjang yang akan menanti mereka setelah ini, satu pengorbanan lagi bukan masalahkan?
"Aku akan berdiri bersama Stevan di belakangmu saat sidang, kami akan meminta keringanan pada hakim. Kami korbanmu, tapi kau juga korban dari segala kekejian kakekku. Aku mencintaimu Hunny, tetaplah bernafas bersamaku! Mari berjuang bersama lagi." Ucap Bella padanya.
Brian tersenyum mendengar itu satu tarikan lagi membawa Bella masuk kedalam rengkuhannya.
"Terima kasih Sayang, aku pun juga sangat mencintaimu." Ucap Brian sepenuh hati.
...Lebih baik kebenaran yang pahit daripada delusi yang nyaman...
...Betapa beratnya jujur dan mengungkapkan kebenaran...
...Sebab mereka adalah hal-hal yang pahit...
__ADS_1
...Dan tidak semua orang menyukai kepahitan...