Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Mencoba Melupakannya


__ADS_3

...**Sebab aku mencintaimu dengan hatiku...


...Itulah mengapa ketika kau memilih pergi...


...Aku bahkan hampir gila rasanya berada dalam kekosongan ragaku tanpa namamu** ...


.


Kekacauan itu meredupkan segalanya, menghancurkan kepingan hatinya juga tubuhnya. Semangat hidup rasanya tak lagi ada ketika Bella berulang kali menolaknya. Saat ini Brian sedang berada dihadapan Nami, gadis itu kedua tangannya terikat. Mulutnya terbungkam oleh lilitan kain.


Ini adalah rubanah ruang bawah tanah yang cukup besar. Sebagian besar orang barat akan memilikinya. Dikarenakan ****** beliung sering menyerang negara mereka saat itu. Di Amerika hal itu sering terjadi. Brian adalah pemuda asli Amerika, itulah mengapa sekalipun ia tinggal di Perancis saat ini gaya rumah yang ia beli tetap gaya Amerika.


"Bagaimana kabarmu ******?" Tanya Brian dingin, Nami disana berontak berusaha melepaskan lilitan tangannya. Namun apa dayanya ia tak mampu.


"Pria ini sudah tidak waras! Dia benar-benar ingin membunuhku sepertinya? Ya Tuhan, salah bagiku cari gara-gara dengannya. Aku mencintainya namun akupun juga tak ingin mati sekarang!" Batin Nami.


Gadis itu ketakutan setengah mati rasanya. Kembali ia diingatkan tentang masa lalu Brian, dia adalah seorang mafia keji. Mafia yang meregang jutaan nyawa manusia tanpa ragu. Mafia yang membabat habis seluruh keturunan target pelenyapannya.


Namun anehnya, Tuhan meniupkan benih-benih asmara pada hatinya untuk target pelenyapannya. Wanita yang saat ini paling Brian cintai, istrinya, mantan target pelenyapannya, belahan hatinya, nyawanya juga dunianya. Nama dari segala perasaan itu adalah Bella.


Greppp


"Bodoh, kau pikir aku akan takut dan diam setelah kau menghancurkanku seperti ini? Kau lupa aku siapa?"


Brian mencengkram wajah Nami menggunakan telapak tangan kekarnya. Kedua bola mata itu melotot penuh kebencian tersirat untuk Nami yang tak berdaya.


"Apa salah jika hatiku mencintaimu?" Pertanyaan Nami membuat Brian berseringai.


"Cintai aku sesukamu, namun dengarkan! Aku tidak akan mencintai siapapun kecuali Bella ku. Kau ini siapa, manusia baru yang datang masuk kedalam hidupku ketika segalanya sudah damai."

__ADS_1


Brian berteriak mencoba menjelaskan tentang Bella pada Nami. Ia ingin Nami sadar, ia ingin Nami membuka matanya. Sebab bagi Brian, sekalipun Nami memilik sepasang mata tetapi dia masih buta beserta hatinya.


"Bella yang datang berperang mengusir badaiku. Dia manusia pertama yang berani menantangku, aku yang masih memiliki sisi Iblis ia tantang. Lantas kau ini siapa berani mengusirnya hah? Setidaknya malu lah sedikit, Nami!!!"


Teriakan terakhir adalah untuk namanya. Untuk nama Nami, intonasi pada kata itu meninggi. Rey dan Themo yang berjaga tepat didepan pintu mereka hanya mampu diam.


Mereka memahami betapa hancurnya Tuannya saat ini. Wajar jika Brian semarah itu. Para mafia yang berisi bersama, mereka yang bekerja bersama Brian sejak sebelum perusahaan ini dibentuk tau benar.


Bahwa Brian sangat mencintai Bella. Bahkan mereka tidak sekali menyaksikan Brian meregang nyawanya untuk Bella, namun berkali-kali dan hal itupun juga disaksikan mereka berulang kali.


"Susah payah, aku meredam sisi kejam dalam diriku. Namun manusia lain, membangkitkannya hanya untuk egoisme semata. Gunakan otakmu selagi kau akan bertindak! Jangan hanya dibutakan oleh nafsu, kau lupa. Bahwa tidak semua manusia akan tunduk lalu putus asa pada apa yang sudah terjadi. Ada diantara mereka akan bangkit lalu melawan. Ada terpuruk lalu memilih pergi dari dunia melepas paksa jiwanya."


Intonasi Brian mulai merendah. Baik Nami juga Brian saling menatap satu sama lain. Tatapan kosong terkesan dingin, dengan tatapan ketakutan bertemu.


"Aku adalah tipe yang pertama! Kau boleh mencaciku memakiku apapun! Kau boleh menyakitiku, tapi jangan pernah berfikir untuk menyakiti orang-orang yang aku sayangi."


Mereka berdua juga adalah sepasang saksi hubungan keduanya. Bahkan mereka juga melihat bagaimana Brian memperjuangkan Bella selama ini. Kisah cinta tragis hingga saat ini juga masih begitu.


Themo dan Rey memutuskan untuk menutup pintu itu, mereka lebih baik berjaga diluar sebab jika mereka melihat kondisi Brian, juga raut wajahnya itu akan membuat hati mereka ikut sakit juga.


"Aku sangat tidak tega melihat keadaan Tuan saat ini!" Ucap Themo sambil bersandar diantara tembok netranya menatap lekat ke arah atap langit.


"Siapa manusia yang tega melihat temannya seperti itu? Tidak ada! Saat ini mungkin titik terang atas ini masih belum ditemukan. Tetapi aku yakin, untuk tiap masalah yang datang akan ada solusi juga menyertai." Ucap Rey, keduanya berjaga disana sambil memeluk senjata.


"Kau benar, semoga saja semua ini cepat usainya. Pewaris Kaneki Corps harus lahir dari benih murni, benih dari Brian juga Bella lah yang berhak mewarisi kekayaan ini. Sebab mereka yang berjuang selama ini."


"Benar!"


Perbincangan mereka mengenai masa depan semoga saja di restui takdir. Semoga ada amin yang mengaminkan satu harapan itu, hingga menjadi nyata kelak.

__ADS_1


________


Bella duduk di kursi kerjanya. Tepat didepannya terdapat buku yang masih kosong dengan pena di atasnya. Netranya fokus menatap ke arah layar ponselnya. Baru beberapa jam lalu Stevan pergi bekerja, itu sedikit membuatnya jenuh.


Pikirannya juga dipenuhi pertanyaan tentang suaminya. Apakah Brian baik-baik saja saat ini? Bella tau betul sepanjang hari Pria itu mencoba menghubunginya. Namun sungguh, Bella pun tak ingin mengacuhkannya. Sebab mengacuhkan cintanya adalah hal perih nan sukar dilakukan.


"Ini bagian dari rencana Hunny! Aku dan Stevan ingin mengungkap siapakah pelakunya. Aku memahamimu, dan aku tidak mungkin pergi meninggalkanmu selamanya. Terkadang kita harus mundur sejenak untuk membuat keputusan. Dan inilah keputusanku! Maaf jika keputusan ini menyakitimu, menyakiti kita berdua!"


Bella berucap sambil menatap lekat ke arah foto dirinya bersama Brian di ponsel. Bohong jika Bella mengatakan ia tidak merindukannya. Hatinya saja mencintainya setengah mati, bagaimana mungkin Bella tidak merindukannya.


"Aku harap, ini adalah peperangan terakhir untuk segalanya. Aku benci hidup diantara kukungan teror yang masih merajalela.Ini untuk kita, juga anak kita. Agar ketika aku kembali, yang ku berikan untuk anak kita adalah kebebasan utuh tanpa ancaman."


Lirih Bella, ia menarik laci mejanya. Itu adalah tempat dimana Stevan menaruh berkas-berkas penyelidikan. Bella ingat semalam Stevan memberinya lembaran kasus menyangkut hal ini.


Dari dalam sana Bella mengambil berkas kasus itu, menaruhnya di atas meja. Telapak tangannya mulai membuka satu persatu lembaran kertas itu. Hingga tangannya berhenti tepat di satu halaman. Disana tertera nama Nami Takamura.


Kembali kemampuan analisisnya ia kerahkan. Sudah lama semenjak dirinya mengundurkan diri dari kepolisian, lalu mengambil profesi santai sebagai seorang penulis.


Ketajaman analisisnya mulai di asah kembali, ia kerahkan untuk mencari biang dari seluruh masalah yang menimpa nya. Kerja sama antar saudara kembali terjadi disini.


...**Aku akan mencoba apapun demi untuk mengembalikan masa itu kembali...


...Durasi disana terlalu cepat dilewatkan...


...Aku ingin kembali, walau hanya menikmati itu selama sepuluh detik...


...Tak apa, asalkan aku kembali melihat rupamu...


...juga kehangatan tubuhmu**...

__ADS_1


__ADS_2