Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Perancis dan Dirimu


__ADS_3

...Rumah terindah adalah rumah yang senantiasa dipenuhi cinta di dalamnya...


...Hubungan percintaan yang didasari oleh keikhlasan hati, kesetiaan, dan kasih sayang akan melahirkan kebahagiaan...


______________


.


.


Dibalkonnya, sepasang kekasih ini sedang menikmati ramainya kota Paris pagi ini. Udara yang sejuk itu menenangkan rasanya. Ya, sepasang kekasih ini tak lain adalah Bella dan Brian, status suami istri mereka masih baru. Brian menopangkan dagunya berlabuh diantara bahu Bella, memeluknya dari belakang.


"Paris ramai sekali pagi ini ya?"


Ujar Bella, Brian mengangguk sama sekali tak memberikan jawaban. Hatinya masih ingin memeluk Bella seperti ini.


"Hun, kau lapar?"


Tanyanya, Brian menggelengkan kepalanya menandakan bahwa dirinya sama sekali tak lapar.


"Tidak aku tidak lapar!"


"Apa kau akan pergi bekerja setelah ini?"


Tanya Bella lagi, ini masih pagi mengapa belahan hatinya ini banyak sekali melempar pertanyaan padanya. Tidakkah ia paham, bahwa dirinya ingin bersamanya saat ini.


"Terima kasih, untuk semalam!"


Ujar Brian, Bella membulatkan matanya. Sepagi ini, mengingat kejadian semalam rasanya membuatnya bersemu.


"Hmm... mungkin boleh jika kuminta lagi?"


Ujar Brian menggodanya, Bella melepaskan pelukan Brian lalu menatapnya. Bella menghela nafas, membuangnya kasar. Semalam itu sudah cukup baginya, pasalnya mereka melakukan hubungan suami istri lama sekali, entahlah, Brian memang buas semalam. Bella menangkup wajah Brian dengan kedua tangannya, lalu meciumnya.


"Aku akan siapkan makananmu! Kau harus pergi bekerja, cepat mandilah!"


Ujar Bella padanya lalu pergi. Brian menarik tangan itu cepat sehingga Bella berbalik menubruk tubuhnya. Bella meletakkan tangannya didada Brian sambil tetap menunduk.


"Aku tidak akan pergi bekerja! Aku cuti hari ini, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu!"


Ujar Brian, memang sepertinya tak ada yang bisa Bella lakukan saat ini. Ia menghela nafasnya lagi, membuangnya kasar lalu menatap tepat ke arah Pemiliki bola mata biru sebiru safir itu.


"Boleh ya?"


Tanya Brian lagi pada Bella, bagaimana caranya menghindari hasrat Brian, Bella sedikit berfikir.


**Ting Tong

__ADS_1


Ting Tong**


Brian berdecak kesal tatkala rungunya mendengar suara bel dari arah luar. Siapa pagi buta begini bertamu ke kediamannya, Bella tersenyum melihat kekecewaan tersirat jelas dalam wajah suaminya itu.


"Siapa pagi buta begini bertamu? Mengganggu saja!"


Ujar Brian kesal, rasanya lega hari ini Bella diselamatkan oleh seseorang diluar sana. Brian yang masih bertelanjang dada itu melepaskan kunkungannya dari Bella.


"Sayang, ini belum selesai ya!"


Ujar Brian memberi peringatan, namun Bella hanya membalas hal itu dengan senyuman.


"Bukalah, sambut siapa yang datang kemari!"


Ujar Bella, Brian mencari-cari keberadaan bajunya namun tak kunjung menemukannya.


"Bella dimana bajuku?"


Tanya Brian padanya, Bella mengangkat bahunya menandakan bahwa ia tak tau. Semalam Brian sendiri yang melempar asal pakaiannya.


"Kau semalam melemparnya sendiri."


Ujar Bella, ia juga ikut mencari.


"Yasudah aku keluar begini saja!"


Ujar Brian seraya melangkah pergi, Bella menahan pergelangan tangan Brian tak membiarkannya pergi dengan bertelanjang dada seperti itu.


Ujar Bella, Brian tersenyum mendengar itu. Bella berjalan mendekati lemari, baju mereka ada dihotel kaneki. Semalam mereka tak membawa apa-apa kemari. Dalam lemari Bella hanya menemukan kaos berwarna pink polos, tanpa berfikir panjang Bella pun mengambilnya.


"Ini!"


Brian menatap heran pada warna kaos itu, datang darimana kaos ini, milik siapa? Bukankah Brian tak pernah membelinya, atau menyetok persediaan pakaian disini. Melihat warna baju itu Brian menghela nafasnya.


"Sayang kau bercanda bukan?"


Tanya Brian tak yakin, apa Bella ingin mempermalukannya sekarang. Namun sebuah gelengan dari kepalanya membuat Brian terpaksa memakai baju itu. Bella mengacungkan kedua jempol nya ke arah Brian.


"Bagus, kau boleh keluar sekarang Hunny!"


Ujar Bella padanya, Brian dengan terpaksa keluar dari dalam kamarnya. Ketika tangannya membuka pintu, didepannya sudah ada Stevan. Brian terhenyak melihat itu, refleks ia berteriak lalu mundur.


"Hah!"


Pekik Brian, Stevan dengan dua bungkusan di tangannya menatapnya malas. Tanpa di izinkan masuk, pemuda itu masuk sendiri kedalam kamarnya.


"Kakak selamat pagi!"

__ADS_1


Ucap Stevan seraya merentangkan kedua tangannya memeluk Bella. Bella terkejut melihat itu, ia membalas pelukan itu menepuk-nepuk punggung adiknya. Bella menatap Brian yang memasang muka masang menatap adiknya itu. Pagi buta seperti ini, anak ini mengganggu momen honeymoon mereka.


"Kau sudah makan kak?"


Tanya Stevan seraya melepas pelukannya, Bella menggeleng seraya masih menyunggingkan senyumnya. Tanpa basa-basi Stevan mengulurkan bungkusan yang ada di tangannya.


"Mari kita sarapan!"


Ajak Stevan seraya menggandeng tangan kakaknya pergi mengikutinya. Bella berhenti tepat diambang pintu, mencoba menahan Stevan yang akan meninggalkan Brian sendiri di kamar.


"Ada apa lagi kak?"


Tanya Stevan padanya, Bella menunjuk ke arah Brian yang masih terpaku sambil menatap mereka. Sejenak Stevan memperhatikan Pria itu, apa itu? Apakah sekarang Pria ini menyukai hello Kitty. Lihatlah baju yang bersemayam membalut tubuhnya itu, badan sekekar itu dibalut baju berwarna pink.


"Hah, Pinky!"


Ujar Stevan, disana Brian terkejut ia memperhatikan dirinya. Astaga, baju ini menyiksanya. Stevan pasti akan menghinanya habis-habisan setelah ini.


"Apa kau yang memberinya baju itu kak?"


Tanya Stevan pada Bella. Terbesit satu ide licik dalam kepala Bella saat ini.


"Tidak, aku tidak memberinya. Brian memang sedang menyukai warna pink saat ini."


Ujar Bella, Brian memicingkan seakan tak percaya pada apa yang Bella katakan saat ini. Apa itu memutar balikan sebuah fakta, dalam hidupnya bahkan tak pernah ada warna. Yang ia tau hanyalah warna hitam, begitupun juga seluruh pakaian yang dimilikinya, adalah warna hitam.


"Bella!"


Ujar Brian, namun Bella hanya melempar senyum mendengar itu.


"Sudah ayo kak, kita makan, aku lapar!"


Ujar Stevan namun Bella menghalaunya lagi.


"Apalagi sekarang?"


Tanya Stevan malas, sembari memutar kepalanya menatap ke arah Bella.


"Aku akan makan, jika Suamiku juga di ajak!"


Terhenyak rasanya mendengar kalimat itu, namun mau bagaimana lagi saat ini Bella memang sudah resmi menjadi milik Brian seutuhnya. Stevan menghela nafasnya, lalu mengangguk.


"Pinky! Ayo kita makan bersama pagi ini. Ku tunggu kau dimeja makan."


Ujar Stevan, Brian tersenyum mendengar itu. Bella meraih tangan kekar suaminya itu, membawanya ikut bersamanya kebawah ke meja makan mereka. Pagi itu, suami istri itu duduk bersama dengan Stevan yang sedang mengunjungi kediamannya. Memang terkesan kaku sarapan pagi ini, namun Bella rasa ke kakuan ini tidak sekaku dulu, ini sudah cukup mendingan. Tak ada pertengkaran, tak ada perdebatan, hanya ada tatapan tajam satu sama lain beserta dengan percakapan singkat. Brian mengumpat sejak tadi, karena kedatangan Stevan kemari dirinya jadi tidak bisa menghabiskan waktunya berdua dengan istrinya.


...Jika hatimu banyak merasakan sakit...

__ADS_1


...Maka belajarlah dari rasa sakit itu untuk tidak memberikan rasa sakit pada orang lain...


...Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit ...


__ADS_2