Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Pagi ini


__ADS_3

...Menjalin hubungan bukan berarti tanpa ada pertengkaran...


...Kita bertengkar, tapi setelah itu kita saling memaafkan dan mencintai satu sama lain, lebih dari sebelumnya...


__________


Setelah keretakan yang terjadi beberapa jam lalu, saat petang. Bella kini masih berada dalam kamarnya, malas rasanya untuk sekedar melangkahkan kakinya kesana kemari. Brian yang pergi beberapa jam lalu, sama sekali tak mengabarinya. Biasanya, pagi buta setelah berpamitan pergi ke markas. Dering di ponselnya akan berlomba-lomba bersuara, tapi ini, tidak, tak ada notifikasi apapun dalam ponselnya. Sebenarnya Pria itu kemana, benarkah ia berada di markas saat ini.


Sekalipun hatinya memang sedikit kesal pada Prianya, namun dia masih suaminya bukan. Brian masihlah manusia yang Bella cintai, kalut dalam dadanya itu semakin menyeruak. Disana Bella memutuskan untuk menelfonnya saja.


Tutttttttt


tutttttttt


Suara panggilan mereka terhubung, hanya saja Brian tidak mengangkat itu. Apakah ia sengaja melakukan itu? Tapi untuk apa? Melihat tak ada jawaban sama sekali dari Brian, Bella memutuskan untuk menelfon Eddie selaku adik iparnya.


Tuttttttt


Tuttttttt


Eddie di seberang sana sedang meletakkan kepalanya tepat diatas meja kerjanya, dirinya lelah sekali, sudah sehari ini ia lembur bahkan tak pulang. Dering telfon disamping kepalanya itu membuatnya terpaksa membuka matanya, samar-samar Eddie mulai meraih ponselnya. Disana tertera nama seseorang yang menelponnya, itu adalah Bella. Sejenak Eddie menghela nafasnya, memaksa dirinya duduk bersandar kali ini.


"*Ya, Hallo kakak?"


"Hai Ed, maaf jika aku mengganggumu!"


"Tak apa kak, ini sudah pagi, terima kasih sudah membangunkan ku."


"Kau terlelap ya? Maafkan aku, tapi aku ingin menanyakan perihal suamiku."


"Kakakku?"


"Iya."


"Kenapa dia?"


"Semalam dia keluar dari dalam rumah, berpamit akan ke markas. Apakah dia sudah ada disana saat ini*?"


Eddie mengerutkan keningnya, disini sama sekali tak ada kehadiran Brian. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kedua kakaknya ini, tidak biasanya seperti ini. Apa Brian menyembunyikan sesuatu saat ini.


"*Dia tidak disini kakak!"

__ADS_1


"Hah? Lantas dia kemana?"


"Apa kalian berdua sedang ada masalah*?"


Pertanyaan dari Eddie itu membuat Bella diam kali ini, bolehkah ia menceritakannya pada Eddie. Meskipun itu masalah pribadi mereka, namun Bella tetap seorang manusia bukan, manusia yang membutuhkan solusi untuk tiap masalah yang menimpanya. Pagi itu, Bella memutuskan untuk menceritakan segalanya pada Eddie. Eddie yang baik hati itu, mendengarkan segala keluh kesah Bella dari dalam telpon. Rasanya terkejut bukan main, mengapa kehadiran seorang anak merubah sifat Brian terhadap Bella. Mengapa Pria ini tidak menunjukan raut wajah bahagia, ketika istrinya membahas mengenai seorang pewaris.


___________


Dilain tempat, bunyi musik kencang itu mengiringi beberapa penari, menari di atas papannya. Ini adalah sebuah Bar, sejak ia keluar dari dalam rumah petang tadi, Brian sudah berada disini. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, ia hanya ingin menenangkan dirinya saja semalam. Entah sudah berapa banyak bir yang ia teguk semalam. Ia sendiri disini, tak ada yang menemani, mabuk berat sedang melandanya.


"Tambahkan satu gelas lagi!"


Ujar Brian pada pelayan dihadapannya, Pria paru baya selaku pelayan disana iba melihat itu. Sebenarnya apa yang terjadi, manusia didepannya ini sudah meneguk lima belas gelas bir. Terlihat dari raut wajahnya saja, ia sudah sangat mabuk. Ketika pria itu akan menuangkannya lagi, sebuah tangan mencengkram pergelangannya, mencoba menghentikannya.


"Jangan, sudah cukup!"


Ucapan dari seorang pria berhoodie membuat pelayan itu mengurungkan niatnya. Pelayan itu mengangguk, lalu pergi dari sana. Brian menepuk-nepuk meja didepannya, seperti orang gila sungguh, ia berteriak meminta lagi segelas bir untuk dirinya.


Pria berhoodie itu, duduk tepat dihadapannya. Kali ini pria itu menatapnya dingin, priai ini adalah Stevan. Bar ini dekat sekali dengan tempat gym nya, terkadang sebelum pergi ke gym, Stevan sejenak akan mampir kemari untuk sekedar bercengkrama dengan kawannya, atau menikmati segelas sake bersama temannya.


"Kau, kenapa kemari?"


Kali ini Stevan mencoba bertanya pada Brian yang mabuk.


Mendengar itu Stevan mulai mendengarkannya serius. Apakah kakaknya itu sedang dalam bahaya?


"Bella ingin, seorang bayi."


Mendengar hal itu, Stevan menatapnya malas kali ini. Pagi buta begini, apakah ia harus mendengarkan konflik rumah tangga mereka perihal bayi. Hei, tapi kenapa? Bukankah Bella wanita yang subur, lalu Brian mengapa kemari, nampak frustasi semacam ini.


"Aku tidak mengharapkan kehadiran seorang bayi!"


Lirihnya terakhir dari Brian itu membuat Stevan memicingkan matanya. Bedebah sialan ini apa maksudnya.


"Apa maksudmu hah?"


"Aku tidak ingin memilikinya untuk sekarang, itulah mengapa aku meninggalkan dia semalam, aku tau dia kecewa."


Stevan mengepalkan tangannya, pria ini biadab sekali. Jika dirinya bermain, bergumul bahkan tidur tiap malam seranjang dengan Bella. Maka besar kemungkinan jika Bella akan hamil bukan, lalu jika hal itu terjadi, sedang pria dihadapannya ini tak menginginkannya, apakah Bella akan dicampakkan lalu dibuang.


"Lalu jika hari ini, kalian memiliki seorang bayi. Kau akan apa terhadapnya?"

__ADS_1


Stevan mencoba meredam amarahnya saat ini, ia ingin mencari satu jawaban disana.


"Entahlah, aku tak tau!"


Greppppp


Cukup sudah, muak rasanya mendengar seluruh ocehan dari mulut Brian. Disana Stevan mencengkram kerah kemeja Brian, menatapnya tajam.


"Jika saja kau berani mencampakkannya, atau meninggalkannya. Akan kupastikan, kau mati saat itu juga! Jangan coba-coba melakukan itu pada kakakku, kau pikir dia itu apa hah? Dia bukan hanya sekedar wadah penampung benihmu! Sialan kau!"


Belum sempat Stevan akan memukulnya, sebuah dering telpon dari ponselnya berbunyi. Stevan menghempaskan begitu saja tubuh Brian, lalu merogoh sakunya melihat, siapakah yang menelponnya sepagi ini.


Stevan tersenyum melihat nama siapa yang tertera disana, sepertinya tangannya memang tidak diperbolehkan melukai pria didepannya itu. Telpon itu dari Bella, dan Stevan tau Bella pasti sedang mencari keberadaan Pria didepannya itu.


"*Hallo kak!"


"Steve, Brian menghilang!"


"Biarkan saja!"


"Stevan aku serius!"


"Aku juga serius kak!"


"Bantu aku mencarinya, semalam ada sedikit pertikaian kecil diantara kami. Kumohon bantu aku ya!"


"Adikmu ini kapan tidak pernah membantumu kak? Bukankah aku selalu berada disampingmu selama ini."


"Terima kasih, cepat datang kerumah ya!"


"Ya, aku akan datang bersamanya!"


"Bersamanya?"


"Brian bersamaku, kau tunggu saja dirumah, aku akan kesana dalam tiga puluh menit*."


Tuttttttt


Bunyi akhiran telpon itu membuat Stevan menghela nafas. Kembali netranya menatap lekat ke arah Brian,dia harus membawanya pulang menemui kakaknya sekarang.


"Baiklah, bedebah menyusahkan! Sudah waktunya kau pulang!"

__ADS_1


Ujar Stevan, ia berjalan ke arah Brian membantunya berdiri. Dengan langkah gontai, Brian berusaha berjalan dibantu dengan Stevan disampingnya. Mereka masuk kedalam mobil, lalu pergi dari Bar itu.


...Aku menginginkanmu seutuhnya, selamanya, kau dan aku, setiap hari...


__ADS_2