
Ini sudah hampir seminggu setelah pertemuannya dan Bella. Rekontruksi rumah kaca sudah selesai, disana baik Eddie dan Angela dibuat terpukau dengan hasilnya. Rumah Kaca setinggi 30 meter itu berdiri tepat di atas gedung pencakar langit. Bangunan ini, dirancang sendiri dari otak Brian.
"Brother, ini keren, aku tidak menyesal membuang uangku untuk ini." Ucap Eddie pada Brian disampingnya. Mereka sedang menatap hasil rekonstruksi itu bersama-sama.
"Ini akan terlihat indah saat malam." Ucap Angela.
"Tentu saja, ini Made in Brian bukan." Ucap Themo, seraya merangkul Brian.
"Themo, kau jangan menyentuhku." Ucap Brian seraya menjauhkan tubuhnya dari Themo.
"Sombong sekali kau Tetua! Ingat ini juga di bangun dengan keringatku." Murka Themo, Brian tertawa mendengar itu.
"Hahahaha, aku hanya bercanda. Terima kasih, sudah banyak membantuku. Aku tidak tau harus berkata apa lagi pada kalian." Mendengar itu, seluruh kawanan Brian melepas topinya meletakkannya di dada seraya memberi hormat pada Brian.
"Ini bukan apa-apa Tetua. Mengingat, kau sudah membebaskan kami dari organisasi keji itu dan mengorbankan nyawamu. Juga, kau memberi kami kesempatan berubah dan menyediakan pekerjaan bagi kami. Tanpamu, mantan Mafia ini tidak akan mendapatkan pekerjaan. Kami terlalu busuk di mata dunia, karma Shawn." Ucap Themo
"Benar, benar!" Jawab Seluruh kawanannya. Ada sekitar 30 orang disana yang ikut membantu Rekontruksi ini. Brian terharu mendengar itu, rasanya beruntung sekali bisa membebaskan mereka dari cengkraman Shawn.
"Kami akan selalu setia pada Kaneki Corp, beserta Tuan kami." Ucap Themo lagi, disana Brian menaikkan tangannya memberi hormat pada kawanannya.
"Terima kasih, untuk segalanya. Anggap saja Kaneki Corps seperti rumah kalian, kita semua keluarga disini. Aku dan Eddie masih teman kalian, kalian bisa menceritakan apapun pada kami." Jelas Brian.
Senyum Eddie mengembang mendengar itu. Itulah Brian, dia selalu bisa merebut hati semua orang. Bahkan dengan segala sifat mengesalkan dan dinginnya, dia bisa menarik cintanya, Bella.
"Untuk merayakan pembangunan yang selesai ini, bagaimana jika kita adakan Barbeque party?" Ujar Eddie mencoba memeriahkan suasana.
Ajakan itu disambut sorakan kawanannya, mereka bersorak menyetujui hal itu.
"Tapi aku tidak ikut ya!" Ucap Brian,seketika sorakan itu terdiam.
"Kenapa?" Tanya Rey.
"Aku harus bersama gadisku malam ini." Jawab Brian, Eddie mengerti maksudnya. Ia menghampiri kakaknya itu, merangkulnya seraya menatap ke arah kawanannya.
"Kakakku akan melamar Bella disini, jadi mungkin setelah rencananya selesai, kalian akan dapat hadiah lebih darinya." Jelas Eddie, itu mengundang suara sorakkan lagi. Mereka turut bahagia mendengar Tetua mereka akan melepas masa lajangnya.
"Wahhh selamat Tetua, akhirnya kau menikah juga!" Ucap Themo, bersorak senang.
__ADS_1
"Kami bahagia sekali mendengar itu Tetua!" Ujar Rey.
"Baiklah, terima kasih. Bisakah kalian tinggalkan aku sendiri sekarang. Aku ingin memikirkan cara untuk melamarnya disini." Ucapan Brian membuat Angela tersenyum. Angela mendekati kakak iparnya itu, ia menyerahkan sebuah kotak kecil pada Brian.
"Ah ini?!" Brian terkejut melihat kotak cincin itu.
"Ini dariku dan Eddie." Ucap Angela, Brian menerima kotak cincin itu.
"Terima kasih!" Ucapnya.
Eddie beserta kawanannya pergi dari sana, meninggalkan Brian yang masih berdiri sendiri di depan ruang kaca.
Kamu adalah alasanku tersenyum. Kamu adalah semangatku mencapai kesuksesan. Segala yang kulakukan adalah tentang Kamu.
Jangan buat aku hancur dengan menolakku malam ini. Jadilah istriku, jadilah matahari di dalam rumahku selamanya!
...Kamu adalah alasanku tersenyum...
...Segala yang kulakukan adalah tentang Kamu...
...Jadilah matahari di dalam rumahku selamanya!...
Sebuah dress merah itu sudah ia kenakan, di depan kaca ia memperhatikan dirinya sejenak. Disana Bella merasa ada yang aneh, mengapa untuk satu pertemuan dengan fans nya dia harus tampil seanggun ini, katakan, untuk apa? Padahal, ia ingin berpakaian biasa dan formal. Tapi surat juga kotak malam itu datang dari seorang pegawai hotel, mereka bilang itu dari Tuan muda mereka. Ketika Bella membukanya, matanya di buat takjub akan keindahan dress ini, menawan dan elegan bercampur menjadi satu dalam argumennya.
"Menarik, aku suka warnanya. Tapi, untuk apa dia memberiku hal ini? Bukankah dia hanya ingin bertemu, lalu mengapa dia yang memutuskan penampilanku? Bukan aku?" Lirih Bella, sejenak ia merapikan olesan bedak di wajahnya. Selesai dengan riasannya, Bella pun pergi dari sana.
Betapa terkejutnya ia ketika membuka pintu kamarnya, tiga orang Pria bertubuh kekar berkas sudah ada disana, berdiri tak lupa dengan kaca mata hit yang selalu mereka kenakan.
"Hei, ada apa ini?" Tanya Bella heran.
"Nona, kami dari Kaneki Corps. Datang kesini atas perintah Tuan Muda, kami akan mengantarmu menemuinya." Ah Bella paham sekarang, tapi seluruh pengawal dan perlakuan ini kadang membuatnya tak bebas saja. Bella sedikit mengingat manusia itu, manusia yang di panggilnya Sir.
"Emmm, kemanakah rekan kalian yang di perintahkan menjagaku?" Pertanyaan itu, membuat mereka bingung. Pasalnya mereka tak tau siapakah yang dimaksud oleh Bella.
"Rekan kami yang mana?" Tanya salah satu dari mereka. Bagi Bella percuma menjawab itu, sedangkan dia sendiri tak tau nama pria itu. Lagi pula, dia hanya mengatakan ingin di panggil Sir. Ah sudahlah, tak ingin membuang waktu dengan itu. Karena rasa penasaran dihatinya begitu besar, ingin tau seperti apa Tuan Muda dari Kaneki Corps.
"Emm sudahlah, lupakan! Mari kita berangkat." Ucap Bella, mereka mengangguk mendengar itu. Bella berada di tengah mereka, di depan ada satu orang penjaga, di belakangnya ada dua orang lagi. Penjagaan yang ia dapatkan rasanya seperti seorang anggota istana.
__ADS_1
Dibawah, setelah keluar dari hotelnya lagi-lagi Bella dibuat terkejut dengan kendaraannya. Ada satu Ferarri disana, dibelakangnya ada sebuah Limosin. Tak lupa di samping kiri kanan Limosin, terdapat empat polisi yang mengawal.
"Sebenarnya ini untuk apa?" Batin Bella.
Dari Limosin keluarlah Eddie dan Angela dengan penyamarannya. Disana mereka menghampiri Bella, menyapanya.
"Hei, kau sangat cantik. Tuan Muda pasti sangat menyukaimu, mari kita masuk dan menemuinya." Ucap Angela, siapa lagi orang-orang ini. Bella yang tak tau apa-apa disana hanya bisa menuruti pasrah seluruh ajakan mereka.
Eddie dan Angela menuntun Bella masuk kedalam Limosin. Mereka duduk disana.
"Wahh kau hebat ya bisa memukau Tuan muda dengan prestasimu." Puji Angela, Bella mengangguk tersenyum mendengar itu.
"Maaf, sekarang aku bingung. Dari kemarin ada saja manusia baru yang datang atas nama Kaneki Corps. Sekarang, kalian siapa?" Mendengar pertanyaan dan raut muka bingung itu, Angela tertawa kecil.
"Kami, bawahan Tuan Muda." Jelas Angela.
"Ya kami, bawahan paling di percaya olehnya. Maaf ya, kau harus menunggu seminggu untuk bertemu dengannya." Ucap Eddie.
"Dia manusia sibuk!" Tambah Angela.
"Tak apa, aku mengerti menjadi pemilik perusahaan sebesar ini pasti sangat sibuk." Jawab Bella.
"Syukurlah jika kau bisa mengerti." Ucap Eddie.
Mereka bercengkrama banyak saat itu, tentan Tuan Muda yang tak lain adalah Brian. Bella tanpa sepengetahuannya hari ini, akan di antarkan kembali menemui cintanya. Hari ini, segala penantian dan kerinduan selama 10 tahun akan di tumpahkan.
Mereka satu sama lain akan kembali, sama-sama merengkuh cintanya. Cinta yang hilang, dan sempat di anggapnya mati, kini kembali bernafas. Di hadapan Rumah kaca dan Sakura-sakuranya. Brian Tersenyum, bahagia sekali rasanya. Belahan jiwanya akan kembali padanya, ia tak sabar, mendengar segala ucapan kekasihnya.
...Kadang tanpa sadar kita memperpanjang jarak antara jiwa jiwa...
...Kemudian lupa cara kembali untuk duduk bersama....
...Jarak berbanding lurus dengan rindu....
...Jarak itu sebenarnya tak pernah ada....
...Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan...
__ADS_1