Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Seluk Beluk Alcatraz


__ADS_3

...Hati nurani adalah suara abadi daripada kebenaran dan keadilan...


...Yaitu suara yang tidak dapat dibungkam oleh apa-apa pun juga...


...Hati nurani adalah suatu badan keadilan yang keputusannya tidak dapat dibanding...


Kelam suasana disini sangat kelam bagaikan rumah tanpa penerangan minim sekali cahayanya tak jarang beberapa menit tiap sepuluh menit dua orang penjaga militer berlalu lalang Brian tau nama dari penjara ini, namanya bahkan ditakuti para narapida kelas kakap karena pertahanan yang ekstra ketat sehingga tidak memungkinkan mereka untuk kabur, namun meski begitu bahkan tindak kekerasan antar sesama Napi sering terjadi disini.


Para militer ini bahkan diam membiarkan mereka saling adu kekuatan seakan itu adalah hidangan yang sering mereka lihat, seakan tangan mereka enggan memisah kedua belah pihak, baru beberapa jam disini bahkan sudah tiga orang manusia yang dikeluarkan dari penjara dalam keadaan babak belur mungkin mereka akan segera dimakamkan atau paling tidak mereka akan dibuang begitu saja ke laut layak ya sampah, jika belas kasih masih ada mungkin juga ada beberapa petugas medis yang menolongnya.


Ranjangnya dari kayu dalam tahanan hanya ada satu jendela kecil tempat kita menaruh mata barangkali kita bosan dengan suasana penjara, satu-satunya fasilitas ventilasi yang dimiliki tahanan adalah itu. Lantas bagaimana caranya kabur dari seluruh pengawasan ketat ini, namun tak terbesit pikiran itu dari dalam diri Brian ia hanya duduk diam disini. Dihadapannya kini ada seorang lelaki besar memperhatikannya nun Brian tak menggubris itu, laki-laki itu datang beberapa menit lalu selama datang ia hanya menatap Brian dingin.


"Kau tak terlihat seperti seorang penjahat!" Ucapnya setelah beberapa jam yang lalu hanya diam, Brian menoleh ke arahnya netranya menatap Lelaki itu dalam kali ini.


"Dunia memang alurnya tidak selalu nikmat, sudah selalu seperti itu dan kini yang membawa kita kemari adalah alasan minimnya keadilan." Jelas Brian seketika wajah Lelaki itu berubah, seakan tersentuh karena ucapan Brian.


"Apa suatu kesalahan yang membawamu kemari?" Tanyanya lagi, Brian hanya tersenyum lalu mengangguk.


"Aku, seorang mafia, yang sudah banyak meregang banyak nyawa ditanganku, hal buruknya adalah dahulu bahkan target pelenyapanku sendiri adalah kekasihku. Aku mengugurkan misiku itu demi dirinya namun takdir Tuhan langsung menghukumku setelahnya, aku dijatuhi hukuman mati diatas kursi listrik, namun Tuhan tidak mengizinkanku pulang lebih awal. Adikku membawaku ke Perancis selama sepuluh tahun setelah itu aku cacat bahkan tak mampu mengingat apapun, setelah aku berhasil pulih ini membawaku tak mengizinkanku hidup bahagia bersama Bella setelah pernikahan." Dengan seksama lelaki itu meresapi apa yang Brian kisahkan, tragis sungguh tragis jika manusia diberikan kesempatan kedua bukan hak manusia lain merenggutnya bukan, sama saja kalian sedang menentang keputusan Tuhan, benar bukan?


"Tak ada keadilan di dunia ini yang nyata dan merata memang!" Ujar lelaki itu kali ini Brian penasaran akan kejahatan apa yang dilakukan lelaki ini sampai dirinya terjebak di Alcatraz.

__ADS_1


"Lalu kau?" Tanya Brian padanya Lelaki itu tersenyum kemudian ke arahnya.


"Aku pembunuh berantai, membunuh satu keluarga beranggotakan sepuluh orang dalam waktu dua hari." Jelasnya seraya menunduk dari sana Brian tau ada hal yang memaksanya melakukan itu.


"Apa yang menekan mu?" Tanya Brian lagi.


"Ketidakadilan yang mereka berikan padaku, anak gadisku digiring lima orang ketika melamar pekerjaan di perusahaannya. Ia bahkan menjadi gila dan mendekam dirumah sakit jiwa karena itu, hatiku geram,sakit sekali rasanya melihat putriku menderita. Ambisi dan benci memenuhi ku sampai hari itu aku rela mengorbankan seluruh kebebasan yang kumiliki menggorok leher mereka satu persatu. Persetan dengan uang dalam dunia ini, bahkan ketika aku memaparkan apa alasanku pengadilan malah menuntutku, ingin ku bunuh rasanya pria-pria berdasi dalam ruangan hukum itu." Ucapnya jelasnya penuh dengan kekesalan, Brian hanya tersenyum miris mendengar itu, kisah pilu yang harus dihadapi.


"Pada dasarnya tiap manusia itu baik, hanya saja dunia terlalu kejam menekannya sehingga setan dalam diri mereka mengamuk membutakan mata mereka. Biarkanlah keadilan dijalankan, walaupun dunia binasa. Betapa pun tajamnya pedang keadilan, ia tidak memenggal kepala orang yang tidak bersalah." Jelas Brian, penuturan itu anggun sekali pengucapannya sangat menyentuh sekali.


Lelaki itu berdiri berjalan mendekati Brian yang ada dihadapannya ketika tepat berada dihadapan Brian, lelaki itu mengulurkan tangannya itu tanda sebuah perkenalan antar manusia.


"Aku Marc! Aku segan sekali dengan segala petuahmu, aku yakin kau pun melakukan dan menjadi mafia karena satu alasan. Persetan dengan itu semua aku yakin keadilan bahkan sudah mempermainkanmu. Jadi siapakah namamu?" Tanya Marc, Brian ikut berdiri membalas jabatan tangan itu seraya tersenyum.


Disisi lain malam ini dua bersaudara ini sedang membahas satu rencana, ada satu orang pengacara disana Bella sengaja memanggilnya memang bahkan tak segan-segan ketika mereka sampai dihotel, Bella mengirim surel pada Han di Tokyo agar ia kemari juga ikut bersaksi membantah segala argumen yang dilontarkan hakim untuk memberatkan Brian.


Pembahasan panjang itu sudah menghabiskan dua jam lamanya, Bella yang masih berkutat menjelaskan memaparkan segala hal yang ia tau tentang Brian juga Pengacara yang mendengarkan mematri tiap rinci kisah itu.


"Jika pembelaan ini gagal lalu keputusan Amerika bulat menghukumnya anda akan melakukan apa?" Tanya Pengacara itu, Stevan menatap tak suka padanya mengapa harus ada pertanyaan semacam itu dari mulut seorang pengacara.


"Apa anda tak yakin dengan seluruh kemampuan anda?" Tanya Stevan serius namun Pengacara itu hanya tersenyum.

__ADS_1


"Tuan, lawan kita aparat negara mereka satu kesatuan yaitu mengunggulkan keadilan." Jawab Pengacara itu.


"Keadilan semacam apa yang menentang keinginan Tuhan? Bukankah dia yang kembali hidup tandanya Tuhan sendirilah yang memberikan dia kesempatan, lantas mengapa kesempatan itu harus menemui ketiadaan lagi?" Kali ini amarah Stevan memuncak bahkan ketika memaparkan argumennya itu ia berdiri, Bella menarik lembut tangan adiknya itu untuk duduk kembali.


"Aku tau segala kekesalan manusia dengan keadilan, namun kita hidup dalam buminya bukan akhiratnya. Itulah pandangan hukum atas ini, tak ada keadilan yang benar-benar adil dalam dunia kau tau itu bukan. Mata manusia selalu haus akan bukti demi meyakinkan segala tuduhan dan pembelaan." Jelas Pengacara itu Stevan menghela nafasnya.


"Jika memang cara kami ini ditentang, Maka lakukan siaran massal yang akan menghubungkan hati kita pada seluruh warga Amerika." Jelas Stevan seraya memijat pelipisnya, Bella juga Pengacara itu membulatkan mata mereka seketika itu juga.


"Siaran TV?" Tanya Pengacara, Stevan mengangguk.


"Hadirkan mereka, Eddie sebagai pemapar, Han sebagai pembela. Dan jika memungkinkan oper kamera itu ke persidangan biar dunia menyaksikan sendiri betapa bobroknya hukum bumi manusia ini." Jelas Stevan, itu memunculkan sebuah ide untuk Pengacara dan Bella.


"Benar apa salahnya jika dicoba, baiklah aku menerima kasus ini. Aku akan membantu kalian!" Jawab Pengacara itu mengambil berkasnya lalu berdiri, ia mengulurkan tangannya pada Bella seraya mengucapkan terima kasih.


"Adikku memang cerdas!" Puji Bella pada Stevan ketika Pengacara itu pergi.


"Keluarga Drew memang selalu cerdas bukan? Jangan kecewakan darah Ayah dalam diri kita." Jelas Stevan, ia pamit pada Bella untuk pergi ke kamarnya ia lelah sekali persidangan Brian akan diadakan satu Minggu lagi.


Mereka selama kurun waktu sebelum persidangan akan saling berdiskusi mengumpulkan bukti-bukti kuat sebagai pematah segala argumen dari hukum negara.


...Keadilan tanpa kekuatan adalah kemandulan, kekuatan tanpa keadilan adalah tirani...

__ADS_1


...Hanya satu hal yang menghina Tuhan, yaitu ketakadilan...


...Kewajiban anggota masyarakat yang utama adalah menegakkan keadilan...


__ADS_2