Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Kembali Berulah


__ADS_3

...Kelemahan terbesarmu adalah ketika kamu menyerah dan kehebatan terbesarmu adalah ketika kamu mencoba sekali lagi...


Kedatangan Stevan dalam keluarganya membuat Brian bisa bernafas lega rasanya. Hal itu terbukti sampai saat ini.


Sudah ada sekitar lima bulan kehidupan mereka tenang. Tasya memang masih disana, namun semenjak ancaman yang Stevan berikan padanya.


Wanita itu seakan tak mampu berkutik. Ia seakan ciut tiap kali berhadapan dengan Stevan. Kandungan Bella juga semakin membesar.


Pagi ini seperti biasa Brian akan pergi bekerja. Dan Bella akan mengantar suami tercintanya itu sampai ke depan pintu. Sambil membawa kopernya, Bella disampingnya bergelayut manja mengantarnya ke arah pintu.


"Sayang, jika kau perlu sesuatu nanti malam katakan. Aku akan membelikannya!" Ujar Brian padanya.


Bella hanya tersenyum lalu mengangguk, sambil mengelus-elus perutnya. Tepat ketika mereka tiba di ambang pintu Brian menghadap ke arah Bella.


Brian yang lebih tinggi postur tubuhnya dibandingkan Bella, membuat pria itu memudahkan tangannya membawa kepala kesayangannya itu mendekat ke arahnya. Brian memberi satu kecupan lembut tepat di atas puncak kepalanya.


Keduanya saling tersenyum saat ini. Ritual sebelum pergi bekerja suaminya setelah menciumnya, Brian pun bersimpuh. Menghadap tepat ke arah perut besar Istrinya yang membuncit.


"Sayang Prince, kau tidak boleh merepotkan mommy mu! Kau harus menjadi anak baik selama Daddy mu pergi. Aku menyayangimu, Brian junior!"


Sambil mengusap-usap perut Bella, Brian berucap. Lalu akhir dari kata-katanya di akhiri dengan satu kecupan di atas perut itu.


Anak mereka laki-laki. Mereka sudah memeriksanya saat di rumah sakit. Prince adalah nama yang Brian sepakati bersama Bella.


Di sela-sela kandungannya yang membesar. Tasya pun juga sama mengalami hal itu. Wanita hamil itu selama lima bulan ini diam, lebih banyak menghabiskan waktunya didalam kamarnya.


Sebenarnya Bella sedikit khawatir padanya, namun ketika Bella berinisiatif berbuat baik untuknya. Adiknya, Stevan selalu menghalanginya.


Adiknya selalu mengatakan padanya bahwa Tasya tidak berhak menerima kebaikannya. Baik Stevan dan Brian keduanya sama sekali tak ingin bersimpati pada wanita hamil itu walau sedikit.


"Aku pergi dulu ya Sayang!" Ucap Brian lagi pada Bella.


Bella mengangguk menanggapi apa yang Brian katakan. Anggukan itu membuat Brian pergi menjauh dari Bella disana yang masih berdiri.


Ketika Prianya itu masuk kedalam mobil lalu benar-benar pergi. Bella pun masuk ke dalam. Dirumah masih ada Stevan, sejak Nami pergi mengunjungi negaranya selama dua bulan lalu.

__ADS_1


Stevan lebih banyak menghabiskan waktunya menatap laptopnya. Hubungan jarak jauh memang cukup sulit untuk Stevan.


Hampir setiap hari Bella melihat adiknya itu Vidio call dengan Nami disana sebanyak tujuh kali sehari. Sungguh benih-benih asmara itu sudah merasuki hatinya saat ini.


**Depppp


Depppp**


Suara langkah kaki menuruni anak tangga itu sedikit menyita perhatian Bella. Bella yang sedang duduk diruang tamu itu mendongak, mencoba melihat kaki siapakah yang sedang menuruni anak tangga itu.


"Kakak!" Rengek Stevan padanya.


Bella memperhatikan wajah itu, dan rasanya ia hafal apa maksud dari wajah itu untuknya. Itu adalah wajah-wajah seorang penagih, sepertinya Bella baru mengingatnya.


Kemarin ia berjanji pada adiknya itu untuk menyetok susu coklat kesukaannya di lemari es. Sepertinya hari ini Stevan akan menanyakan itu padanya.


Pria itu berlari kecil ke arah Bella lalu duduk tepat disamping Bella. Bella menaikkan salah satu alisnya memandang tepat ke arah adiknya itu.


"Kakak apa kau tak melupakan sesuatu?" Tanyanya pada Bella dihadapannya.


Sejak kecil Bella memang sangat menyayangi adiknya. Bahkan jarang bagi keduanya bertengkar. Hubungan keluarga mereka benar-benar sangat harmonis.


"Adik, bukankah kata Nami kau tidak boleh terlalu banyak meminumnya?"


Tanya Bella padanya, Stevan terkejut mendengar itu. Apakah Nami mengatakan pada kakaknya perihal penyakitnya? Stevan mencoba menyangkal tiap tuduhan negatif pada Nami nya.


"Aku hanya akan meminumnya satu kotak saja!" Jawab Stevan merengek.


Melihat adiknya yang seperti ini, Bella benar-benar tak tega. Ketika dirinya hendak pergi mengambil susu kotak coklat itu, Stevan menahannya.


"Apa lagi?"


Tanya Bella kembali duduk sambil menatap Stevan. Namun adiknya itu hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Kau benar-benar membelinya untukku kakak?" Tanya Stevan mencoba memastikan, ia benar-benar tak percaya.

__ADS_1


Bella mengangguk menanggapi apa yang adiknya katakan. Sungguh bagaikan menenangkan tiket Lotre, Stevan pun berdiri kegirangan.


"Terima kasih kakak! Oke, aku akan mengambilnya sendiri. Kau tidak perlu repot-repot mengambilnya, kakak duduk saja disini nikmati acara televisi. Ibu hamil harus bersantai senyaman mungkin bukan."


Ucapan itu membuat Bella terkekeh. Stevan juga tertawa setelah mengatakan itu, ia pun segera menuju dapur untuk mengambil susu coklat kesayangannya itu.


________


"Apa kau sudah memantaunya?"


Suara baritone diseberang sana mulai bicara. Didalam kamarnya, Tasya mungkin terlihat diam. Namun sejujurnya ia bersama Reiner sedang merencanakan sesuatu yang besar.


"Aku bahkan tak mampu berkutik disini, Stevan Drew itu ada juga disini. Kau tau dia detektif bukan?"


Reiner terkekeh disana. Pria itu sudah hancur saat ini bisnisnya. Ia tak mampu membayar tarif sewa yang Eddie berikan. Ketika perusahaannya mencari tempat lain untuk bernaung, rupanya seluruh area Perancis ini gedung kosongnya sudah dibeli oleh Eddie.


Sungguh saat ini benar-benar hancur. Tinggal didalam sebuah apartemen murah, dengan yang yang pas-pasan.


Ambisi dalam hatinya adalah menghancurkan Brian, Reiner yang sudah gelap mata ini tak masalah rasanya jika harus melenyapkannya.


"Kau tenang saja, peretas terhebat mereka tidak ada disini! Musuh kita berkurang satu!" Ucap Reiner.


"Siapa maksudmu, Nami?"


"Ya, tentu saja! Siapa lagi yang ku maksud?"


"Lalu apa sebenarnya rencanamu ini Reiner? Kau diam selama lima bulan tanpa berbuat apapun, kau bahkan tak memperbolehkanku berulah! Kau tau aku sangat membenci Bella bukan disini. Seharusnya aku menyiksa wanita itu disini, bukan hanya diam seperti ini."


"Tenang saja, permainan kita akan segera dimulai!"


Dari dalam sana mereka mulai membicarakan sesuatu. Sebuah rencana besar untuk Brian dan Bella.


Reiner berupaya untuk membawa Bella padanya. Saat ini, sebenarnya ia sedang berada di suatu tempat bersama dengan Angela istri dari Eddie yang sedang ia sekap.


Reiner baru saja menangkap Angela kemarin. Lalu mengikatnya di kursi. Reiner mengincar wanita ini sebab dialah yang paling lemah h diantara keluarga Brian.

__ADS_1


Mereka benar-benar tak tau. Sekalipun Nami pergi dari Perancis. Namun daring adalah segalanya bagi Nami. Pemantauan dari jarak jauh sedang Nami lakukan. Jauh di Jepang sana, Nami tersenyum mendengar segala percakapan antara Tasya dan Reiner.


__ADS_2