Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Ambisi Berdarah


__ADS_3

...Kamu mungkin bisa menyembunyikan api...


...Tapi tidak dengan asapnya...


...Aku jahat karena adanya kejahatan...


...Segalanya tergantung pada apa yang di dapat...


...Segalanya tergantung pada apa yang di tuang...


...Dalam hal ini, itulah rumus timbal balik...


...Sesuatu itu, sering disebut Karma...


Depppp


Depppp


Depppp


Suara langkah kaki di depannya itu memaksa Bella membuka matanya. Berat rasanya matanya saat ini, setelah Nami menyuntikan satu cairan dalam tubuhnya. Rambutnya yang terurai sedikit menutupi parasnya, Bella berusaha memfokuskan netranya pada manusia yang sedang berdiri dihadapannya. Itu, Stevan menatapnya sendu saat ini. Bukan inginnya menyekap saudaranya seperti ini, namun ini caranya membawa Brian kemari.


"Maaf untuk perlakuan yang kasar ini. Tapi sungguh, aku tidak akan menyakiti kakakku sendiri. Aku hanya ingin Brian, sudah itu saja." Jelas Stevan masih menatap sendu ke arah Bella.


"Tolong dengarkan aku!" Lirih Bella, lemas sangat lemas rasanya sungguh. Sepertinya itu obat bius, Nami dari kejauhan memperhatikan Stevan dan Bella.


"Apa?" Tanya Stevan.


"Keluarga kita lebih dulu membantai keluarganya." Stevan mengerutkan keningnya tak mengerti mendengar itu, apa maksudnya.


"Kakek, melenyapkan Ayah Brian, demi kekuasaan untukmu dan Ayah. Dia tidak ingin anaknya tersaingi, itulah mengapa Kakek membuat satu konspirasi. Ketika di Medan perang, setelah perang itu usai Kakek memerintahkan bawahan setianya membunuh Ayah Brian. Semata-mata demi untuk menjaga, rantai komando tetap di pegang keluarga Drew." Jelas Bella, Stevan membulatkan matanya.


Ia tak percaya sungguh, kakeknya adalah orang terhormat, mengapa perbuatan sekeji itu ia lakukan.


"Kau di butakan karena cinta! Sehingga keluargamu pun tak ada benarnya dimatamu!" Ucap Stevan yang masih tetap tak percaya.


"Apa bukti untuk mendukung argumenmu? Apa buktinya?" Tanya Stevan, ia bukan seorang Pria yang begitu saja percaya pada sesuatu jika itu tanpa bukti.


"Shawn, bukankah kau mengenal nama itu? Salah satu dari anak buah kakek?" Mendengar itu, Stevan sedikit mengingat sesuatu. Tentang Shawn dan siapakah ia.


"Lalu?" Tanyanya lagi, Bella cukup berat rasanya membuka matanya, entah berapa banyak dosis obat yang disuntikkan Nami padanya.


'Jangan tidur Bella!!!'Batin Bella seraya memaksa membuka mata.


Namun berat, tak ada gunanya, obat itu sudah merasuk kedalam tubuhnya. Tak ada yang mampu ia jelaskan pada Stevan sekarang, hanya itu, obat mengambil kesadarannya. Sekarang ia terlelap, obat bius dari Nami sudah bekerja total sekarang. Nami tersenyum sinis dari atas sana seraya melipat tangannya. Satu kata yang jelas sekali Stevan dengar sebelum Bella terlelap, ia bilang.


"Jangan lenyapkan Brian!" itulah kalimat terakhir yang Stevan tangkap.


Mendengar itu ada sedikit berat dihatinya saat akan mewujudkan misinya. Rasanya logika sedang mendukungnya, namun, hatinya tidak. Berbagai pertanyaan itu muncul dari kepalanya, mengapa Bella sangat mencintai pembunuh keluarganya. Ia paham dan sangat mengenal saudaranya ini, Bella bukan manusia yang bisa di butakan cinta. Jika antara keadilan dan cinta, Stevan yakin Bella akan lebih memilih keadilan di tegakkan. Tapi mengapa hari ini Bella mendukung seorang penjahat. Ada sesuatu disini yang belum Stevan mengerti, namun tetap saja kebencian menguasai relung hatinya.

__ADS_1


Stevan mengusap lembut puncak kepala Bella, tak lama ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah botol kecil berisi cairan merah, disana Stevan membuka tutup botol itu lalu menuangkannya tepat di atas kepala Bella.


"Sekarang, bawa dia ke tempat pertandingan." Ujar Stevan setelah selesai menuangnya.


Beberapa anak buah Stevan mulai turun dari anak tangga, mereka membawa Bella ke suatu tempat. Nami masih memperhatikan Stevan dari atas, ia bahagia melihat kebencian itu mulai memenuhi matanya. Stevan mengepalkan tangannya kuat saat ini, tak lama ia pun berlalu dari sana.


"Kemenangan hari ini untuk pihak korban yang di tinggalkan!" Ujar Nami tersenyum, lalu pergi mengikuti Stevan.


...Poltik adalah perang tanpa pertumpahan darah...


...Sedangkan perang adalah politik dengan pertumpahan darah...


.


____________


.


...Ide itu lebih kuat daripada pistol...


...Kita tidak ingin musuh kita punya pistol,...


...mengapa kita harus membiarkannya punya ide...


...Tidak ada orang yang dapat menyakitiku tanpa izinku...


Brian sedang menyusun strateginya saat ini, jeli matanya mulai mengintai gedung tua itu. Disana gelap, penerangan pun tak ada. Gedung tua itu di apit oleh dua gedung lebih tinggi darinya, Brian sedang bersembunyi diantara tumpukan kayu bekas yang tersusun tinggi. Disana, ada Eddie, Themo dan Rey orang yang paling Brian percayai.


"Dua gedung tinggi itu, disana, aku yakin ada beberapa sniper yang mengawasi. Manusia yang sedang kita lawan, aku yakin bukan anggota militer. Militer tidak akan memakai cara seperti ini untuk menangkapku." Jelas Brian, Eddie mengangguk begitu pun dengan yang lain, mereka menunggu apalagi yang akan Brian ucapkan sekarang.


"Aku ingin, Rey berkamuflase gunakan teknik penyamaran, merayap ke gerbang depan. Rerumputan ini cukup untuk menyamarkanmu dari lensa sniper, setelah sampai disana diam dulu. Themo, kau akan menggantikan ku, aku tau sebelum aku masuk kesana mereka pasti akan menembakku. Jadi, pakailah rompi anti peluru, lindungi juga kepalamu, letakkan kantong sirup merah itu di antara rompi, dekat jantung, dan letakkan juga di bagian kepala. Untuk mati, mereka pasti akan mengincar bagian itu." Jelas Brian, mereka mengangguk mendengar perintah itu. Themo, membuka kopernya, memakai rompi anti peluru. Begitupun dengan Rey dan alat kamuflasenya.


"Satu lagi, ketika gerbang pertama di buka, beri akses pembawa peledak masuk kedalam dua sisi gedung tinggi itu. Gelindingkan satu granat ke arah pintu masuknya, setelah ledakan itu, lempari mereka dengan bom asap. Serbu! Lalu masuk kedalam, tanamkan bom control disana. Hancurkan gedungnya!" Tambah Brian, Eddie mengangguk mendengar itu.


"Lalu aku Brother?" Tanya Eddie, pasalnya hanya dialah yang tidak diberi tugas disini.


"Kau regu penyelamat, regu pengepung. Rey, ketika terdengar suara tembakan nanti, biarkan selama tiga puluh detik. Itu waktu bagi mereka, orang dari gerbang depan untuk memeriksa mayat Themo. Setelah itu, kau lumpuhkan orang bersenjata bagian kiri, aku akan melumpuhkan bagian kanan. Dan kau adikku, bawa masuk pasukan, beri mereka komando menyerbu dua gedung tinggi itu, lalu kerahkan pasukan untuk membantu Themo disana, waktu pasukan masuk harus bersamaan. Lalu, bawa pasukan elit ke arahku. Panggil adik ipar Angela, minta bantuan medis jika ada pasukan kita yang cedera larikan ke arahnya." Eddie tersenyum mendengar itu, rencana yang cukup bagus. Menyerang kedua kubu musuh di antara sayap-sayapnya, itu cerdas sekali.


"Semua ambil posisi masing-masing, mari kita lakukan!" Ucap Brian serius, mereka mengangguk mendengar itu.


Brian dan kawanannya mulai berpencar, menjalankan apa yang sudah di rencanakan. Themo mundur ke arah belakang, ia akan masuk lewat gerbang depan sekarang.


Brakkkkkk


Themo membuka kasar gerbang besi itu, di iringi dengan gelapnya malam, Themo maju begitu gagah mendekati gedung tua itu.


Bidikan dari beberapa sniper di atas mulai mengarah padanya, pergerakannya yang menimbulkan suara itu menyita perhatian mereka. Sejenak, seraya masih berjalan Themo dengan dari balik kacamatanya mulai menghitung, berapa manusia bersniper yang sedang mengintainya. Tujuh rupanya, tujuh sniper di arahkan langsung padanya.


Diantara para sniper itu, salah satunya ada Nami. Ia membidik Themo dari atas sana.

__ADS_1


"Bajingan sialan! Mati kau!" Geramnya.


Dorrrrr


Dorrrrr


Dorrrrr


Dorrrrr


Empat tembakan tiba-tiba itu, tertancap dalam tubuh Themo. Themo ambruk setelah tembakan itu. Nami tersenyum puas ketika melihat, pembunuh ayahnya itu mati. Dengan riang, Nami turun dari atas gedung di ikuti beberapa pengawalnya, ia ingin memeriksa juga melihat langsung wajah manusia yang dibencinya itu tewas.


"Sekarang!!!" Ucap Eddie pada mikrofonnya, itu sinyal darinya untuk pasukan yang sudah mereka siapkan di luar.


BOMMMM


Ledakan bom, di iringi dengan bau bubuk mesiu yang menguar mulai meriah disini.


Dorrrrr


Dorrrr


Baku tembak terjadi diantara dua kubu, Nami yang sudah berada dibawah dibuat terkejut, beberapa pengawalnya tumbang di iringi dengan suara sepatu dari rombongan manusia bersenjata. Sekilas Nami melihat dua gedung yang mengapit mereka mulai penuh dengan ledakan, ini gila menurutnya. Tidak ada pertanda tempat ini akan di kepung, lalu, darimana datangnya umat manusia ini. Nami berlari kembali masuk ke arah gedung, ia terlalu takut untuk mati.


Bersamaan itu pula, Rey dan Brian melempar sesuatu diantara sisi mereka. Lalu, mengendap ke arah pintu kecil gedung, dan masuk. Ada dua orang di sisi pintu ini.


Buaghhhh


Sekuat tenaga Brian dan Rey melakukan pelumpuhan. Satu serangan pertama mereka, mencengkram tenggorkannya.


Buaghhhh


Kedua, tinjuan ulu hati, hilangkan kesadaran musuh.


Buaghhhh


Ketiga, tarik kakinya, tinju tempurung lutut retakan. Buat kelumpuhan total disana. Gerakan itu dilakukan sangat cepat, lima belas detik terbuang, satu orang terkapar tak sadarkan diri. Mereka melanjutkan pelumpuhan itu lagi, pada para musuh yang lain.


Perkiraan sadar dari serangan ini sekitar 90 detik, pertarungan efektif, seperempat jam. Pemulihan tubuh total, kelihatannya tak mungkin. Musuh tidak akan bergerak setelah menerima serangan ini.


Dirasa areanya sudah bersih, Brian maju ke arah pintu masuk.


Dorrrrrr


Brian menembakkan satu pelurunya kelangit, suara dari peluru itu adalah sinyal. Eddie memberi komando pasukan elite, untuk masuk menyerbu gedung.


Cukup jauh darisana, didalam lima helikopter mulai memperhatikan radar mereka. Ketika sinyal dari pemancar itu muncul, mereka mulai bergerak menerbangkan helikopter mereka ke arah pemancar.


Sebenarnya apa yang Brian dan Rey buang disisi mereka sebelum masuk tadi, adalah sebuah alat pemancar. Alat itu dibungkus menyerupai kotoran anjing, sehingga siapapun yang melihatnya tidak akan tau apa itu sebenarnya. Pemancar ini digunakan CIA pada tahun 1970 untuk mengirimkan sinyal radio dengan meletakkannya di tempat strategis musuh. Mereka bisa memberikan koordinasi serangan udara dan melakukan pengintaian juga penyerangan.

__ADS_1


...Dan aku bisa melawan hanya untuk sesuatu yang saya cinta...


...Saya percaya hanya pada satu hal, kekuatan dari keyakinan manusia...


__ADS_2