Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Konspirasi Kecil #3


__ADS_3

...Hidup bukan tentang siapa yang nyata di depanmu,...


...ini tentang siapa yang nyata di belakangmu...


Sepasang bola mata mengintai dari atas gedung , memperhatikan mereka. Aura kebenciannya semakin kuat, menguar, siapapun di dekatnya pasti tau apa yang sedang gadis ini inginkan. Berbekal dengan satu buah sniper ditangannya, Nami tiarap, menodongkan senjatanya tepat ke arah pintu masuk Kaneki Corp.


"Lihat saja, hari ini kau tak akan selamat!" Gumam Nami, sebuah seringai penuh kebencian itu mengiringi.


Dari dalam lorong Eddie dan Angela sedang berjalan beriringan. Mereka akan pergi ke markas pusat sekarang. Beberapa bodyguard menjaga mereka, itu sesuai apa yang di perintahkan oleh Brian. Penjagaan CEO juga orang-orang penting dari Kaneki Corps, harus di perkuat.


"Hunny, bukankah ini masih terlalu pagi?"Ujar Angela bergelayut manja di lengan kekasihnya. Ya, ini mungkin masih sangat pagi, Eddie membangunkannya tepat pukul lima, sekarang mereka berangkat pukul enam untuk sekedar migrasi ke markas pusat.


"Mau bagaimana lagi, situasinya sedang genting. Setidaknya insting Brother tidak pernah salah." Ujar Eddie.


Angela membuang nafasnya kasar, berurusan dengan mantan Mafia memang harus ekstra sabar. Pertobatan atas kesalahan mereka, tidak sepenuhnya di terima oleh banyak pihak. Mereka harus membebaskan diri mereka lagi sekarang, dari ancaman lain yang mengincar. Publik butuh diyakinkan, mereka butuh bukti nyata atas pertobatan mereka.


"Sebenarnya aku heran, siapakah musuh kita sebenarnya sekarang?" Gumam Eddie.


"Aku juga berpikir begitu, namun asumsiku mungkin, mereka adalah anak buah Shawn." Ucap Themo, yang kebetulan hari ini di jadwalkan menjaga Eddie dan Angela.


"Aku tidak habis pikir, kehidupan damai kami sekejap berubah menjadi penuh teror. Kenapa kami harus terus bertarung? Apa tangan kami, tidak berhak bersih selama hidup? Mengapa Tuhan, selalu menuntun kami membalas lalu saling menumpahkan darah." Tambah Eddie, Angela meraih telapak tangan Eddie, menggenggamnya.


"Hei, itu tidak benar. Tidak ada pertumpahan darah yang akan terjadi, percayalah. Kita bisa menyelesaikan ini semua, sesuai apa yang Brian rencanakan." Ujar Angela menenangkan, Eddie tersenyum mendengar itu. Kekhawatirannya itu seakan ditepis, oleh ucapan kekasihnya.

__ADS_1


Pintu otomatis itu terbuka, mereka akan keluar dari gedung itu. Di atas, jari di antara pelatuk itu mulai bergerak, matanya jeli membidik. Tepat ketika Eddie keluar bersama Angela, pelatuk itu ditarik. Namun, sebuah tendangan dari seseorang mengurungkan niatnya. Nami yang tersungkur itu memekik kesakitan. Itu adalah ulah pria berjas hitam, geram sekali Nami melihatnya saat ini.


"Apa yang kau pikirkan? Menyerang mereka, di tempat yang terbuka seperti ini." Kesal Pria itu, pasalnya rencana Nami cukup beresiko mengingat Brian dan kawanannya sudah memperkuat keamanan.


"Kau menghancurkan pestaku! Tidakkah kau lihat, bedabah itu hampir saja mati!" Geram Nami, mencurahkan segala emosinya.


Pria itu membuang senjata api itu asal, lalu mendekati Nami. Mencengkram kedua bahunya, menatapnya tajam. Peraduan mata itu mengatakan segalanya, tentang kebencian dan balas dendam atas apa yang pernah mereka terima dari ledakan bom di Jepang.


"Kita memang amarah, berasal dari ledakan yang sama! Tapi ingat, jangan sampai ambisi dan kebencian itu memicumu, melakukan hal bodoh! Lakukan, satu serangan, tapi membunuh 2 target sekaligus." Ujar Pria berjas hitam, Nami sedikit sadar mendengar itu. Mungkin, memang dirinya sudah termakan emosi saat ini.


"Baiklah, aku akan mencoba menurutimu. Jadi, rencana apakah yang sedang kau rangkai saat ini?" Tanya Nami, seraya menyingkirkan tangan Pria itu dari bahunya.


"Buat aku bertemu dengan Bella!" Nami membulatkan matanya mendengar itu, itu konyol menurutnya. Ella ada di pihak Brian saat ini, mana mungkin ia akan mudah berpaling dan membunuhnya.


"Bukan hanya sekedar bertemu, tapi menyandranya. Malam ini, aku ingin itu terjadi." Ucap Pria berjas hitam.


"Bagaimana caranya membawanya keluar, lalu menemukannya, melumpuhkannya, juga membawanya ke markas?" Mendengar itu, Pria itu maju mencoba memperhatikan ramai kota dari atas sana.


"Bella, adalah detektif yang cerdas. Brian pasti sedang bersembunyi di markasnya, Bella pasti melarangnya untuk keluar dari sana. Setelah itu, aku yakin, Bella akan menawarkan dirinya untuk mencari tau dalang di balik penembakan Brian. Entah apa, yang membuatnya begitu mencintai pembunuh itu, aku masih tak tau. Lalu, hari ini target utama kita adalah Bella Drew, orang yang paling Brian cintai. Itulah cara memancing seekor kucing keluar dari kandangnya." Jelas Pria berjas hitam itu, Nami tertawa mendengar itu.


"Kenapa kau begitu yakin dengan rencanamu?" Tanya Nami meremehkan, Pria itu tersenyum.


"Karena aku berpikir, bukan sekedar meluapkan emosi lalu berjalan dengan emosi. Apa kau tidak memperhatikan, bahkan setelah penembakan yang aku lakukan padanya, media sama sekali tidak ramai. Alat penyadap yang kita taruh di dalam kamar hotelnya, pagi ini tak ada suara manusia disana. Pikirkan, kemanakah mereka akan lari jika tidak pada markas pusat? Markas yang sulit di tembus itu."

__ADS_1


Nami mencoba merenungkan itu, benar. Bahkan, dirinya sendiri tau bahwa Brian masih hidup setelah penembakan itu. Mereka memang sempat menaruh alat penyadap di kamar hotel Brian. Nami masuk kedalam hotel kala itu, melakukan reservasi atas nama Akashi.


Sebelumnya, ia sudah mencari tau juga meretas seluruh data hotel ini. Dimana disana ada banyak 30 kamar kosong tanpa penginap. Nami tau Bella adalah kekasih Brian, disitu ada satu kamar kosong disamping kamar Bella, nomor 302, sedang kamar Bella adalah 303. Hari itu, Nami mencoba memilih kamar kosong nomor 302, namun mendapat penolakan dari bagian reservasi, dikarenakan itu adalah kamar yang Brian tempati. Namun bagian reservasi itu menjelaskan, bahwa kamar nomor 302 sedang dalam perbaikan. Itulah yang membuat Nami yakin, Brian ada dikamar itu tinggal berdampingan bersama Bella, di sebelahnya.


Dengan begitu, beberapa anak buahnya dikerahkan. Mereka lewat jalur luar. Berbekal katrol seadanya, mereka memanjat gedung itu. Masuk melalui balkon, dan menanamkan penyadap disana.


"Apa yang membuatmu yakin, dia berada disana?" Tanya Nami.


"Kau lihat, anggota Kaneki Corps. Dari seluruh bisnisnya, mana pegawainya yang paling banyak prianya?" Tanya Pria berjas hitam, Nami tau sekarang kenyataan bahwa markas pusat Kaneki Corps adalah sarang Mafia.


"Benar, markas itu penuh dengan banyak orang bertubuh kekar." Ujar Nami, Pria itu mengangguk.


"Maka sudah jelas, kucing itu bersembunyi disana. Kita akan dapatkan apa yang kita mau, jika urutan rencananya di jalankan dengan benar." Ujar Pria berjas hitam, Nami mengangguk mendengar itu.


"Baiklah, aku setuju memakai rencanamu. Lakukan yang terbaik, karena aku benci kegagalan." Ucap Nami, seringai itu terukir di wajahnya, sebuah seringai penuh dengan konspirasi. Persetujuan di atas gedung itu terjadi, mereka mulai menyusun rencana mereka bersama dengan anak buah yang mereka miliki.


...Bagi saya, hal yang lebih buruk daripada kematian ...


...adalah pengkhianatan...


...Kamu tahu, saya bisa memahami kematian,...


...tetapi saya tidak bisa membayangkan pengkhianatan...

__ADS_1


__ADS_2