Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Manusia yang Diliputi Amarah


__ADS_3

...Cinta itu sederhana, jika kamu tidak mampu membuatnya tertawa, cukup tidak membuatnya terluka...


_______


Brian meremas sebuah kertas yang baru saja dikirim padanya. Kertas itu berada diatas mejanya. Beberapa menit lalu dirinya sempat pergi sebentar, meninggalkan kantornya. Untuk sekedar berada di kedai kopi bersama dengan rekan kerjanya.


Seorang sekertaris datang mendekati pintu ruangannya yang terbuka. Tangannya terulur mencoba membuyarkan lamunan Brian, yang sedang gelap mata disana.


Tokkkkk


Tokkkkk


Tokkkkk


Suara ketukan pintu itu sekejap membuat Brian beralih. Rupanya, itu adalah Tasya. Salah satu sekertaris yang baru saja Eddie rekrut sudah dua Minggu ini.


"Tasya?" Tanya Brian sambil menatapnya, disana Tasya tersenyum ramah ke arahnya.


"Tuan, apa boleh saya masuk? Ada beberapa berkas yang harus ditanda tangani." Ucap Tasya menjelaskan.


"Tentu saja, silahkan masuk."


"Baik Tuan!"


Tasya masuk kedalam ruangan Brian sambil membawa beberapa berkas dalam tangannya. Brian dan Eddie sudah tidak satu ruangan. Ruangan mereka terpisah dua lantai, Brian berada di lantai paling atas di dalam markas ini.


Tasya mulai mengeluarkan beberapa berkas miliknya, ia tata dengan hati-hati diatas meja. Brian memperhatikan gadis itu sejenak, kira-kira usianya lebih muda lima tahun darinya.


"Silahkan duduk Tasya, mengapa kau berdiri?" Ucap Brian.


Tawaran ramah itu disambut baik oleh Tasya. Mendengar itu, Tasya pun duduk saling berhadapan dengan Brian. Disana ada sesuatu yang berbeda dari Tasya hari ini, mengapa tatapannya pada Brian semacam itu.


"Jadi Tasya, berapa banyak berkas yang belum ditanda tangani?" Tanya Brian mencoba mengalihkan tatapan Tasya dari dirinya.


"Ah iya Tuan! Jadi ada sekita tiga puluh berkas yang harus ditanda tangani sekarang." Jelas Tasya.


Disana Brian sama sekali tak menatapnya, Brian hanya berdehem sambil menatap lekat ke arah berkas dimejanya.

__ADS_1


Entah mengapa tiap kali Brian tak menatapnya, Tasya kesal sekali. Sebenarnya sudah sejak pertama bertemu, Tasya sangat mengagumi Brian. Banyak pria diluar sana yang tergila-gila pada Tasya.


Keindahan lekuk tubuhnya yang menawan, membuat seorang Tasya begitu diidam-idamkan para Pria. Mereka berlomba-lomba merebut hati Tasya. Namun bagi Tasya, Brian adalah segalanya.


Obsesi itu tiap kali menggila rasanya ketika netranya bertemu dengan Brian.


"Tuan?" Lirih Tasya pada Brian yang masih sibuk itu. Namun lagi-lagi, Brian hanya berdehem menanggapinya.


"Tuan apakah anda sudah makan?" Tanya Tasya mencoba akrab dengan Brian disana.


"Sudah." Jawaban itu satu kata, hanya satu. Bahkan Pria didepannya itu menjawab tanpa menoleh ke arahnya.


"Tuan, bolehkah jika sepulang dari sini aku menumpang satu mobil denganmu."


Mendengar itu fokus Brian mulai teralih. Kini netranya menatap lekat ke arah Tasya. Brian mengerutkan keningnya sambil memperhatikan Tasya disana.


"Dimana mobilmu?" Tanya Brian.


Ia heran sekali, pasalnya Tasya biasanya akan membawa mobilnya sendiri. Namun mengapa hari ini ia ingin pulang bersama dengannya. Lantas mobilnya akan ditaruh dimana, mengapa ia tak memakainya.


"Mobilku sedang berada di bengkel Tuan. Jika Tuan mengizinkannya, aku ingin menumpang."


Brian menutup kembali lembaran berkas itu. Seluruh berkas dari Tasya sudah ditanda tangani. Disana Brian mulai menyerahkan kembali berkasnya pada Tasya. Bersamaan dengan itu Brian tersenyum lalu mengangguk.


Syena yang tau apa maksudnya dibuat tak percaya saat ini. Brian mengijinkan dirinya menumpang pulang malam ini.


"Benarkah Tuan?" Tanya Tasnya memastikan.


"Iya, kau bisa menungguku dibawah." Jawab Brian.


"Terima kasih Tuan!"


Tasya menyambut penyerahan berkas dari Brian padanya. Sambil tetap tersenyum ia berpamit pergi dari sana. Disana Brian menatap heran ke arahnya. Mengapa Tasya sebahagia itu akan keputusannya.


Tak ingin memikirkan hal yang tak berguna, Brian kembali fokus menatap ke arah kertas yang tadi ia remas. Brian tak mengambilnya, kertas itu ia buang begitu saja ketempat sampahnya.


Kertas itu berisi data-data perkiraan pelaku kejadian yang menimpa Bella. Namun disana tertulis, bahkan seluruh tersangka sudah melakukan pemeriksaan dalam kantor polisi. Namun, nyatanya mereka bersih.

__ADS_1


Untuk kasus yang tak kunjung usai ini, Brian mengeluarkan banyak uang demi menemukan dimana dan siapakah pelakunya.


"Dimana kau sebenarnya bersembunyi? Bahkan Stevan yang notabennya seorang detektif ternak, sukar menemukan kelicikanmu. Bahkan meringkusmu!" Lirih Brian menatap tajam kedepan.


Bersamaan dengan itu ditempat lain. Nami, berseringai. Usai kunjungannya bersama Reiner, memantau Bella dari dalam mobil ia tersenyum. Rasanya ia berhasil menanamkan ancaman pada mereka.


Nami yakin, hari ini Bella pasti akan sangat kalut hatinya. Nami membayangkan betapa takutnya Bella setelah mendengar ancaman itu.


"Mengapa kau tersenyum?" Tanya Reiner padanya.


"Tak apa, aku hanya senang saja! Rencanaku ini berhasil akhirnya." Jawab Nami sambil melipat tangannya.


Reiner sejak penolakan yang ia alami, hatinya sakit. Saat itulah Nami datang, sebenarnya Nami sudah memata-matai mereka sejak pertama mereka bertemu.


Disana Nami memperhatikan bahwa Reiner, pria ini bukan hanya sekedar fans karya Bella semata. Namun pria ini, dia menyimpan rasa pada istri Mafia keji itu. Disana ia membuat suatu siasat, Nami ingin menghancurkan hubungan antara Brian dan Bella disini.


Jika bagi Stevan melenyapkan Brian adalah kesalahan, artinya, menyiksanya selagi hidup itu tak masalah bukan. Bagi Nami itu hal terbaik ia akan melakukannya. Dendam dalam hatinya ini harus menemui kelegaan segera. Atau luka batin ini akan selalu menyiksanya setiap waktu.


Sepanjang hari melihat manusia itu diliputi kedamaian, rasanya hatinya seperti dicabik-cabik. Itulah mengapa jika dirinya menemukan peluang-peluang kecil untuk menjatuhkan Brian, Nami akan mengambilnya. Merubahnya menjadi suatu ancaman.


"Kau benar-benar akan membantuku bukan?" Tanya Reiner lagi padanya. Disana Nami tertawa, sebuah gema tawa jahat.


"Tentu saja, kau ingin Bella bukan? Akan kuberikan, asalkan kau bisa membantuku menyiksa suaminya!"


"Obsesiku pada penulis itu hampir membuatku gila. Penolakannya hari itu, rasanya seperti sebuah tantangan bagiku untuk mendapatkannya."


"Aku tau kau pria yang nekat! Itulah mengapa aku menginginkanmu melengkapi rencanaku."


Disana Reiner berseri, kegilaannya rupanya ada menandingi. Dirinya tak tau menau perihal apa Nami, sampai membenci Brian sedalam ini. Namun Reiner masa bodoh akan hal itu. Dalam matanya hanya ada Bella, juga hatinya akan tetap memuja nama itu. Selagi ia menghirup udara dunia, jika Bella masih belum menjadi miliknya maka ia tak akan tenang.


Dua manusia sama-sama gila, merancang rencana yang juga sangat gila. Kegilaan mereka tak terbendung meluap-luap ingin diluapkan.


"Kita akan mulai dengan mengecohkan mereka. Aku akan mulai dengan dirimu, aku akan buat Bella percaya padamu." Ujar Nami pada Reiner.


Reiner melipat kedua tangannya lalu mengangguk mendengar itu. Jika Nami mampu membantu dirinya, itu akan sangat menguntungkan baginya.


...Cinta mungkin hadir karena takdir tapi tak ada salahnya kita saling memperjuangkan...

__ADS_1


______


__ADS_2