
...Jika saatnya tiba, sedih akan menjadi tawa, perih akan menjadi cerita, kenangan akan menjadi guru, rindu akan menjadi temu, kau dan aku akan menjadi kita...
Pagi ini Stevan disambut dengan aroma lezat masakan seseorang di apartemennya. Ini sudah seminggu setelah masalah Brian dan Bella. Dalam seminggu itu kedekatan antara Stevan dan Nami kian mendekat.
"Kau memasak?"
Stevan yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi nampak tak percaya, ketika melihat Nami sedang memasak di dapurnya.
"Hmm.. iya, kenapa apakah aku tak boleh menggunakan dapurmu?" Tanya Nami tanpa menoleh ke arah Stevan.
Pemuda itu dibuat tercengang atas apa yang sedang Nami masak disana. Pasalnya hanya ada sayur-sayuran dan roti saja yang di olah disana. Sungguh, Stevan memang asik dari Bella. Namun Stevan tidak terlalu menyukai sayuran, daging adalah menu favoritnya.
"Aku tidak terlalu menyukai sayuran, aku akan makan diluar saja. Aku bisa menemanimu makan, namun nanti temani aku juga makan diluar." Ujar Stevan.
Nami tau itu, pemuda yang menjungkirbalikkan dunianya ini memang tidak terlalu meminati sayuran. Beberapa hari terakhir, Nami memang sering mengantar Stevan untuk berobat.
Tak hanya itu, gadis ini juga banyak melakukan riset dari dokter-dokter lain. Mengumpulkan segala macam informasi tentang pengobatan dan penyakit yang sedang Stevan derita.
Tumor otak itu semakin besar tumbuh dalam kepalanya. Tindakan operasi mungkin salah satu solusi yang amat berbahaya. Kanker memang akan terangkat sepenuhnya, namun resiko kembali hidup itu kecil sekali.
Jika memang Stevan di berkati untuk bernafas kembali. Ada kemungkinan, tubuhnya akan mengalami kecacatan. Sulit memang jika penyakit kronis menyangkut kepala.
"Aku membaca beberapa buku sebelum ini. American Brain Tumor Association menyebut, semakin pekat warna buah atau sayuran, semakin tinggi pula nutrisi yang terkandung di dalamnya. Memilih makanan dengan serat tinggi pula dapat membantumu mengatasi efek samping pengobatan."
Tutur Nami sembari masih sibuk dengan masakannya. Namun disana Stevan mengembungkan pipinya, ia terlihat kesal. Sungguh ia tidak akan mau menyantap makanan itu.
Stevan berjalan mendekati lemari es lalu membukanya. Suasana pagi ini rasanya seperti kedua pasangan yang baru saja menikah. Ketika pintu lemari es itu terbuka, Stevan kembali dibuat kecewa kali ini.
"Dimana susu coklatku?" Tanya Stevan melihat tempat dimana ia meletakkan susu coklat kesayangannya itu kosong.
Nami tersenyum mendengar itu. Ketika Stevan melirik ke arah gadis itu, ia tau satu hal. Susu coklat favoritnya itu pasti sudah di eksekusi.
"Dimana?" Tanya Stevan lagi pada Nami.
"Aku meminumnya!" Jawaban singkat namun terkesan tak ada rasa penyesalan sama sekali.
"Kenapa kau meminumnya, Sayang?" Tanya Stevan berusaha meredam kekesalannya.
"Sebab aku haus, itulah mengapa aku meminumnya! Mulai hari ini, kau bisa meminum susu putih, yogurt atau memakan keju mungkin." Jawab Nami meletakkan hasil masakannya di atas piring.
"Mengapa aku harus melakukan itu?"
"Pertanyaanmu seperti orang dungu sungguh!"
Kali ini Nami yang kesal menatap ke arah Stevan sambil melipat kedua tangannya. Mengapa manusia didepannya ini, bukankan ia tau obat-obat yang ia konsumsi apa saja.
"Pasalnya, obat steroid yang sering kau konsumsi dapat memengaruhi kesehatan tulangmu, terutama bila dikonsumsi jangka panjang. Oleh karena itu, pastikan kebutuhan kalsiummu tetap terpenuhi untuk mengurangi kemungkinan efek samping dari obat steroid yang kau konsumsi."
Penjelasan panjang lebar itu semakin menambah pusing kepala Stevan. Sejujurnya ia bahagia melihat Nami begitu peduli padanya. Bahkan kepedulian itu sampai sedetail ini.
__ADS_1
Gadis peretas ini rupanya banyak tau tentang gizi. Apakah otaknya itu multi talenta. Sayang sekali ia sempat terjerumus dalam hal negatif.
"Susu, keju, dan yoghurt merupakan makanan dan minuman yang mengandung tinggi kalsium dan baik untuk dikonsumsi penderita kanker otak."
Kali ini Nami berucap lagi sambil menata makanannya di atas meja. Stevan menarik kursinya lalu duduk disana. Layaknya seorang bocah berusia lima tahun, Stevan hanya diam sambil terus mendengarkan apa yang Nami jelaskan.
"Minumlah!" Kali ini Nami menyodorkan segelas susu pada Stevan.
Sejujurnya selain rasa coklat, Stevan tidak akan pernah meminumnya.
"Jangan kekanak-kanakan, minumlah! Toh, rasanya juga sama saja bukan?" Ujar Nami lagi.
Namun Stevan membuang mukanya ke arah lain. Ketika ia hendak pergi, Nami menahannya.
"Jangan keras kepala, sembuhlah dan hiduplah lebih lama!" Tutur Nami lagi padanya.
"Tapi aku tidak menyukainya, minumlah! Aku mungkin akan memakan sayuranmu sedikit saja, karena kau sudah susah payah memasaknya untukku."
Ucap Stevan berusaha menolak secangkir susu yang sedang Nami genggam. Nami menatap Stevan dengan tatapan biasa kali ini, sejujurnya ia tak pernah meladeni keras kepala seorang manusia.
Dan sekarang, pemuda yang ia cintai ini bersikukuh dengan keinginannya. Oh tidak, Nami tidak biasa menerima penolakan. Apapun yang ia inginkan, selagi benar menurutnya maka hal itu akan ia lakukan.
"Tunggu.." Lirih Nami, Stevan memperhatikan itu.
Nami meminum segelas susu itu, Stevan memperhatikan itu. Ia sedikit heran, namun ketika gadis itu kembali menatapnya. Satu tarikan dari tangan Nami, menyatukan bibir keduanya.
Keras kepala Stevan membuat Nami nekat melakukan itu. Bagaikan dibius, Stevan dibuat terbuai rasanya. Susu putih yang ia benci, rasanya menjadi candu ketika gadis ini yang memberikannya.
"Huh... iya.."
"Minum sampai habis!"
"Iya aku akan meminumnya!"
"Bagus!"
Nami berucap sambil menatap lekat bola mata Stevan disana. Stevan yang masih terkejut hanya mengangguk, lalu ia mengambil segelas susu itu meminumnya cepat. Sihir gadis luar biasa bukan. Hanya dengan satu kecupan saja, pria ini bahkan terbuai.
Penolakan yang tadi ia dapatkan dari pemudanya, sekejap berubah menjadi persetujuan. Mungkin memang ada campur tangan setan dalam melakukan hal itu, tetapi, Nami murni melakukan itu demi kebaikan Stevan nya.
"Baiklah, mari kita makan!" Ucap Nami menarik salah satu kursi lalu duduk disana.
Stevan memperhatikan Nami yang terlihat riang itu. Pagi ini mereka berdua duduk disatu meja, menyantap makanan mereka bersama.
Ditengah keharmonisan yang terjadi diantara keduanya. Dering ponsel Stevan sedikit menyita perhatiannya. Stevan berjalan ke arah meja dekat televisi, mengambil ponselnya disana.
Stevan kembali lagi duduk bersama Nami di meja makan. Sambil tetap menyantap makanannya, Nami sesekali memperhatikan Stevan.
"Nomor tak dikenal?" Lirih Stevan ketika melihat layar ponselnya.
__ADS_1
"Angkat saja..." Jawab Nami, Stevan mengangguk mendengar itu.
"*Hallo?"
Stevan mengawali pembicaraan, ia mengaktifkan speakernya. Supaya baik dirinya dan Nami, keduanya tau apa yang ingin orang asing itu sampaikan.
"Stevan.."
Lirih suara wanita disana, hal itu membuat hati Stevan menghangat rasanya. Ini adalah suara kakaknya, Bella.
"Kakak kau kah ini?"
Stevan berdiri kali ini tak percaya.
"Iya ini aku!"
"Apa kau baik-baik saja kakak? Mengapa kau baru saja menghubungi ku? Apakah Brian berhasil mendapatkan dirimu kakak? Kau dimana sekarang?"
"Satu-satu saja pertanyaannya. Aku baik Stev, kami berada di Australia sekarang. Bisakah kau meminta Eddie menjemput kami disini? Kami merindukan Perancis, dan ya, Brian berhasil merebutku dari Reiner."
Lega rasanya mendengar apa yang Bella katakan. Nami disana juga ikut bahagia, namun ia tetap memilih diam sambil mendengarkan rentetan kabar bahagia dari Bella disana.
"Aku senang sekali kakak mendengarnya! Baik aku akan menyampaikan hal ini pada Eddie."
"Terima kasih, juga berikan nomor ini padanya ya.. Aku merindukanmu, adik!"
"Aku juga kakak, tunggu ya*!"
Tutttttt
Stevan mengakhiri panggilan itu dengan wajah berseri-seri. Sejenak Stevan menatap ke arah Nami, ia teringat perihal Reiner saat ini.
"Bagaimana dengan Reiner menurutmu?" Tanya Stevan pada Nami.
"Entahlah, jika kau menghukumnya mungkin itu adil. Tergantung pada Brian dan Bella, apakah mereka mau menghukumnya atau tidak."
"Dia bisa saja di jerat kasus penculikan. Itu cukup sepertinya!"
Nami menghentikan aktivitasnya, lalu kembali menatap ke arah Stevan.
"Apa kau tidak akan menghukumku juga, Stev? Kau tau aku adalah dalangnya." Ucap Nami.
"Seharusnya begitu, tapi ketika manusia sudah menyadari kesalahannya mereka berhak mendapatkan kesempatan kedua."
Nami diam mendengar itu, ia kembali melanjutkan melahap makanannya. Beberapa menit berlalu, acara sarapan pagi mereka usai.
Stevan dan Nami menuju ke markas pusat, itu adalah salah satu perusahaan terbesar di Perancis. Markas milik Eddie dan Brian. Perusahaan ternama dengan segala usaha yang bercabang-cabang.
...Suatu hari senang akan datang, nikmati saja...
__ADS_1
...Tapi suatu hari sedih mungkin akan lebih berkesan, nikmati saja...