Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Di Sekolahnya


__ADS_3

...Apakah kekalahan membuktikan kalian itu lemah? Bukankah bagi kalian kalah lebih terdengar seperti ujian? Apa kalian bisa berdiri dan berjalan lagi setelah kalian terjatuh? Jika kalian tetap duduk seperti itu, itu membuktikan bahwa kalian lemah...


Sienna adalah gadis berprestasi di sekolahnya. Ia lebih dominan ke segi Seni dan musik. Sienna dan Prince keduanya bersekolah di satu sekolah yang sama.


Tautan usia mereka juga sama sebenarnya. Yang membedakan adalah, Prince lahir lebih dulu daripadanya lalu selang dua bulan setelahnya barulah Sienna lahir.


Prince sedang berada di kelasnya saat ini. Padahal bel istirahat baru saja berbunyi. Namun bagi bocah tampan ini masih setia duduk disana sambil menatap layar ponselnya.


Itu bukan ponsel gadget semacam milik kita. Namun itu adalah salah satu alat mata-mata tercanggih. Ponsel itu berada tepat di jam tangannya. Satu ponsel jam yang Prince dapatkan dari Nami saat ulang tahunnya.


Beberapa rombongan bocah lain datang. Ketika di ambang pintu mereka sedikit heran dengan apa yang Prince lakukan.


Anak-anak kecil itu mulai penasaran saat ini. Sontak mereka mendekat ke arah Prince.


Settttt


"Hei apa ini?" Ucap Salah seorang anak lain sebut saja Devan.


Dengan mencengkram pergelangan tangan Prince. Prince yang notabennya anak dari seorang mafia, yang juga di ajarkan beberapa teknik beladiri mencoba meredam amarahnya. Ia berusaha menarik tangannya.


Sekalipun ia hanyalah seorang anak kecil namun tingkat kesabarannya patut di acungi jempol.


"Lepaskan tanganku, tolong!" Ucap Prince.


"Wah alat ini canggih sepertinya! Kau tak pantas memilikinya Prince! Lebih baik kau serahkan saja pada kami!" Ucap Devan dengan sombongnya.


Devan mendorong dorong tubuh Prince supaya tidak berdiri. Melihat ulah Devan, Prince hanya berseringai kecil. Sifat semacam ini dari Brian sepertinya.


"Bisa tidak kau jangan mengganggu ku! Lagi pula apa untungnya buatmu menggangguku hah?"


Kali ini Prince mencoba meredam lagi amarahnya yang hendak meledak. Namun rupanya Decak disana hanya berseringai. Tangannya masih mencengkram pergelangan tangan Prince.


Prince disini sendiri tak ada siapapun yang ada disampingnya. Sedangkan Devan, ia disini bertiga bersama dengan dua kawannya yang lain.


Sejujurnya tak ada satupun siswa yang berani pada Prince disini. Sebab mereka semua tau, Prince adalah anak dari orang terkaya ketiga di Perancis. Justru mereka semua disini menunduk lalu memberi hormat pada Prince.

__ADS_1


Namun sekarang, ada bocah laki-laki lancang yang datang padanya. Bocah itu dengan beraninya menyentuh tangannya. Bahkan sentuhan ini kasar sekali.


Prince juga manusia bukan. Sabar ada batasnya, dan itulah yang terjadi sekarang. Prince berbalik mendorong Devan kebelakang. Akibatnya Devan yang hendak terjatuh pun di tangkap oleh para teman-teman nya.


Devan adalah anak seorang pengusaha menengah di Perancis. Namun sifat semena-mena nya ini selalu saja membuat Prince kesal. Anak itu seperti sangat tidak menyukai Prince disana.


Berbekal dua orang temannya yang selalu mendukungnya, hampir tiap hari rasanya ia membuat Prince kesal dan marah.


Beruntungnya hari-hari itu tidak pernah berakhir dengan kekerasan. Sebab adiknya Sienna akan selalu datang melerai mereka.


Perlu kalian ketahui, walaupun mereka berdua satu sekolah. Tetapi kelas mereka berbeda. Jika Prince ada lantai tiga sekolahnya, maka Siena akan berada di lantai paling dasar.


Yang membedakan mereka adalah fasilitas kelasnya. Saat itu ketika Bella ingin Sienna satu atap dengan Prince, Brian dengan tegas menolaknya. Brian lebih memilih menyekolahkan. Sienna dengan fasilitas biasa saja.


Sebab baginya Sienna sama sekali bukan prioritas nya. Bertahun-tahun berjalan, bahkan sampai saat ini pun Brian sama sekali enggan menganggap Sienna sebagai anaknnya.


Brian hanya Sudi mengakui Prince sebagai pewarisnya. Sedangkan Sienna, ia adalah figuran yang di anggap tidak pernah ada oleh Brian.


"Berani sekali kau mendorongku hah!" Pekik Devan sembari membersihkan pakaiannya.


Disana terlihat Prince mengangkat kedua tangannya sambil berseringai.


Devan mengepalkan kedua tangannya disini. Sifat sok jagoannya mulai terbakar, ingin memusnahkan Prince dihadapannya ini.


"Prince kau dalam masalah besar jika ingin berdebat denganku!" Tutur Devan padanya.


"Hah, siapa yang ingin berdebat sejak awal? Kau ataukah aku?" Tanya Prince padanya.


"Aku hanya menyentuh tanganmu dan kau mendorongku?"


"Menyentuh dan mencengkram itu berbeda! Dungu sekali otakmu itu!"


Beberapa siswa dari kelas-kelas lain mulai berdatangan. Mereka hanya mampu menyaksikan adu argumen panas yang terjadi antara Prince dan Devan disana.


Sekolah ini adalah sekolah ternama. Mereka yang berada disini bersekolah disini adalah anak-anak orang kaya.

__ADS_1


Podium anak orang terkaya terkuat disini dipegang oleh Prince dan Sienna. Kekuasaan Orang tua mereka menjadi salah satu dari ketiga orang berpengaruh di Perancis.


Salah seorang dari gerombolan itu sejak tadi menatap malas ke arah mereka. Dia adalah Percy, anak dari Angela dan Eddie.


Sudah sering rasanya melihat saudaranya itu berkelahi disini. Percy sedikit menaikkan kacamatanya, lalu menggeleng pelan.


"Prince, mengapa kau selalu saja terlibat dalam masalah-masalah bodoh seperti ini!" Ujar Percy.


Suara gaduh didalam kelas itu semakin runyam. Prince melawan tiga orang bocah sialan disana masih terlihat unggul. Sorakan para siswa semakin memanas. Tak ada satupun dari mereka yang ingin melerai, justru malah bersorak menantang.


Percy yang melihat saudaranya sedikit kewalahan, pada akhirnya turun tangan juga. Sejenak Percy melepas kacamatanya lalu memberikannya pada Petra saudaranya.


"Hei kau akan apa?" Tanya Petra padanya yang baru saja datang.


"Daddy berbicara perihal saling melindungi! Dan kau lebih baik disini saja, sebab kakimu masih belum sembuh total! Saudara kita disana sedang dalam masalah apa kita akan diam saja disini?" Tanya Percy padanya.


Sambil melilit lengan bajunya, Percy maju kedepan. Ketika Prince terhempas kebelakang Percy menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


"Percy?"


Pekik Prince padanya. Percy menaikkan salah satu alisnya lalu mendorong kecil tubuh Prince menjauh darinya. Mereka berdua berdiri sekarang, didepan mereka ada tiga orang bocah yang masih bersiap menantang mereka.


"Aku benci sebenarnya berada dalam situasi ini Prince! Tapi kau saudaraku, aku harus membantumu! Mari jatuhkan mereka lalu selesaikan ini!"


"Hahahaha.. Aku pikir kau tidak ahli dalam pertarungan, rupanya nyalimu boleh juga."


"Aku diam sebab ilmu pertahanan diri kita tidak boleh di tunjukkan sembarangan. Pikirkan, anak kecil sekolah dasar sudah menguasai ilmu beladiri semacam itu. Orang tua kita memang unggul dalam adu kekuatan, itulah mengapa anak-anak lelakinya tidak mampu di kalahkan dengan mudah!" Tutur Percy padanya.


"Simpan saja ocehan itu, akan ku jelaskan nanti masalahnya!"


Mereka berdua sekali lagi maju menghajar Devan dan temannya. Peraduan itu terus menerus terjadi tak kunjung berhenti.


Mungkin sorakan mereka sudah sampai tepat dalam ruangan guru.


"Hei hentikan!!!" Ucap Salah seorang guru dengan toa miliknya.

__ADS_1


Sekejap Prince dan Devan pun berhenti. Baju mereka acak-acakan akibat pertempuran ganas yang baru saja terjadi.


"Kalian semua ikut saja ke ruangan sekarang!" Perintah guru itu pada mereka.


__ADS_2