Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Menjebaknya


__ADS_3

...Walaupun bisa membaca hati orang lain, kalau sudah menyangkut diri sendiri, sulit...


...Walaupun pandai, jika tidak bertindak dengan hati-hati, tidak dapat dinilai sebagai detektif hebat...


Satu rencana saat itu sudah mereka rundingkan. Saat ini mereka berdua sedan berdiri agak jauh dari toko Buku Milik Reiner. Mereka memang tak tau menau perihal sesuatu yang ada didalam buku itu. Sebuah buku yang Nami bawa dari toko Reiner.


Hari ini segalanya harus selesai. Rencana besar yang mereka rancang harus berhasil. Bella tersenyum sejenak, netranya menatap lekat Toko Buku itu.


Didalam sana satu rencana akan ia jalankan. Rundingan hari kemarin bersama adiknya adalah solusi untuk menguak, siapakah dalang dari balik ini semua.


Kecurigaan mereka terarah pada tiga nama saat ini. Nama-nama itu adalah Reiner,Tasya dan Nami.


Mereka bertiga pasti ada kaitannya untuk seluruh hal yang sudah terjadi.


"Mereka berurusan dengan orang yang salah sungguh!" Ucap Stevan sambil berseringai.


Vidio yang ia dapatkan kemarin memberinya titik terang. Dua detektif ini kembali menekuni profesinya, sekali lagi kemampuan analisa mereka akan digunakan disini.


"Ya sekalipun butuh waktu cukup lama bagi kita untuk menguaknya. Tapi Tuhan itu adil, pada akhirnya kedok mereka pun terbongkar." Ucap Bella.


Benar, untuk menemukan titik terang ini pun mereka harus memakan waktu sekitar tiga bulan. Bella dipaksa jauh dari cintanya sambil menahan perih hatinya, atas segala tindakan yang Tasya berikan pada Brian.


Istri mana yang rela melihat suaminya di gelayuti manja wanita lain. Sekalipun ini adalah sandiwara namun tetap saja, perih itu akan selalu menjalari hatinya.


Bella membawa sebuah bingkisan ditangannya. Itu adalah sebuah kado, didalamnya terdapat sepasang sepatu yang akan Bella berikan pada Reiner nanti. Bella memeluk sekotak jadi itu erat, mendekapnya.


Sebelum kemari, keduanya sempat datang ke tempat kerja Stevan. Badan intelijen negara itu, mempersilahkan mereka berdua masuk kedalam ruangan rahasia. Dimana didalam sana kelengkapan seluruh alat mata-mata sudah tidak diragukan lagi.


Stevan memperhatikan jarum jam arlojinya. Jam itu bukan jam biasa, selain berguna sebagai pengingat waktu namun itu juga adalah jam yang canggih. Jam yang Stevan ambil dalam ruang perlengkapan mata-mata sebelum kemari.


Video Camera Analog Watch adalah sebuah jam tangan pria model analog yang dapat merekam gambar video sekaligus dengan suara.


Jam ini bisa merekam hingga 2 jam dengan resolusi 352 x 288px. Kameranya sendiri terletak di antara angka 1 dan 2 . Jika ingin merekam cukup menekan salah satu tombol yang ada. Untuk transfer data, jam ini menggunakan kabel USB yang nantinya.


"Mari kita jalankan rencananya, kakak!" Ucap Stevan.


Sekali lagi mereka berdua beraksi dengan profesi mata-matanya. Keturunan Tuan Brad Drew yang cerdas ini, keduanya akan segera meringkus Nami dengan bukti-bukti kuat.


Bella mengangguk ia berjalan ke arah toko Reiner. Stevan terdiam disana, diantara gang sempit dihimpit dua gedung tinggi. Dari sana Stevan melihatnya, seekor burung merpati datang ketika Bella membuka pintu toko Reiner.


"Ternyata benar, burung itu adalah matanya!" Ucap Stevan sambil berseringai.


Ketika kakaknya itu sudah masuk kedalam. Saat ini adalah gilirannya menjalankan perannya. Ia akan menemui Nami sekarang. Sebelum itu Stevan menekan beberapa nomor diponselnya. Stevan menghubungi seseorang disana.


"Hallo!" Ucap seseorang diseberang sana mengawali.

__ADS_1


"Hallo, ini aku Stevan Drew agen CIA Amerika serikat. Disini aku sedang bertugas, ada satu misi penting dan aku membutuhkan dua anak buah." Jelas Stevan.


"Baik Tuan, kami akan memberimu dua agen mata-mata."


"Bagus, tolong bawa mereka ke lokasi yang akan ku kirimkan padamu. Juga bawa beberapa barang yang akan ku kirimkan list nya padamu."


"Baik Tuan, akan kulaksanakan!"


Tuttttttt


Stevan mengakhiri pembicaraan bersama dengan seseorang diseberang sana. Sebelum ia melangkah pergi, ia merogoh sakunya. Sebutir obat dari dokternya ia telan begitu saja tanpa air putih. Barulah setelah itu Stevan benar-benar pergi dari sana.


"Wah Bella kau datang?"


Reiner berjalan menghampiri Bella yang sedang duduk manis di sebuah kursi. Disana Reiner terlihat begitu bahagia melihat kehadiran Bella di tokonya.


"Iya Reiner, aku sedang ingin membaca buku-buku romansa. Apakah kau memiliki buku terbaru tentang itu disini?" Tanya Bella pada Reiner yang masih berdiri dihadapannya.


"Tentu saja aku memilikinya! Akan ku ambil beberapa bacaan menarik untukmu. Dan apakah kau juga ingin sesuatu? Camilan barangkali?" Tanya Reiner padanya menawarkan.


"Boleh, mungkin segelas minuman saja ya!" Jawab Bella, Reiner mengangguk mendengar itu ia pun berlalu dari hadapan Bella.


Ketika Reiner berlalu, Bella pun menempatkan kado bawaannya di atas meja. Sambil menunggu Reiner kembali, netranya asik mengamati tiap lekuk toko yang sudah sering ia kunjungi.


Bella tau, di atas sana tepat diluar toko ini. Merpati pemantau itu pasti mengelilingi toko ini. Sebisa mungkin sekalipun dirinya diliputi kecurigaan, ia akan tetap bersikap baik-baik saja.


Tukkk


Reiner meletakkan dua minuman kaleng di atas meja Bella. Tak lupa, Reiner juga menyodorkan padanya beberapa buku baru yang ia bawa.


"Wah sepertinya ini baru saja terbit ya?" Tanya Bella sambil menerima beberapa buku itu.


"Iya, mungkin baru satu bulan ini. Ah, silahkan kau nikmati minumanmu juga Bella!" Jawab Reiner sambil membuka kaleng minumannya.


Ketika meneguk isi minuman itu sesekali netra Reiner melirik ke arah bingkisan yang Bella letakkan di atas mejanya. Sambil menaikkan salah satu alisnya, Reiner menatap Bella.


"Ini apa?" Tanya Reiner meletakkan kembali minumannya sambil menatap Bella yang mulai membaca bukunya.


"Ah iya, aku hampir saja melupakan ini! Kemarin ketika adikku berbelanja, aku mengingatmu. Saat itu kebetulan ada promo, jadi aku ingin memberimu sedikit hadiah kecil ini." Bella menjelaskan sambil membuka kado itu.


Mendengar apa yang Bella katakan Reiner bahagia sekali. Apakah Bella sudah sedikit memiliki rasa padanya, mengingat mereka sudah dekat selama tiga bulan ini.


Tanpa ada sedikitpun kecurigaan, Reiner menerima itu. Wajah berseri-seri itu membuat Bella lega rasanya. Ia cukup tau bagaimana perasaan Reiner padanya. Bahkan tak jarang baginya mendengar Reiner mengucapkan kalimat-kalimat manis untuknya.


Namun hati Bella hanya untuk Brian nya bukan? Ia melakukan ini bukan untuk bersenang-senang. Tetapi ia melakukan ini untuk menguak, para manusia licik yang bersembunyi dibalik topeng-topeng mereka.

__ADS_1


"Aku tidak tau ukuran kakimu! Jadi, aku menakarnya!" Ujar Bella lagi pada Reiner yang sedang memperhatikan sepatu itu.


"Wah ini bagus sekali Bella, aku menyukainya! Ini cukup, sepertinya kau memperhatikan diriku dengan baik hingga kau tau ukuran kaki ku walau hanya menebak-nebak." Jawab Reiner.


"Wah syukurlah apabila kau menyukainya! Dipakai ya, aku akan senang jika kau memakainya untukku!" Ucap Bella.


Katakanlah ia menggoda Reiner saat ini, biarlah. Sebab hal itu adalah bagian dari rencananya. Dalam sepatu itu ada alat pemancar. Sebuah Sepatu Pemancar otomatis.


Alat ini banyak digunakan di Romania, mereka memanfaatkan seorang diplomat Amerika yang mendapatkan sepatu lewat pos. Bekerja sama dengan jasa pos, sebuah pemancar dan microfon tersembunyi dipasang di sepatu sebelum dikirimkan. Dengan demikian semua pembicaraan bisa terekam tanpa dicurigai.


Bedanya, sepatu yang Bella berikan pada Reiner pengendalinya ada pada dirinya dan Stevan. Selain hanya untuk pemancar, didalam sana juga ada alat kejut. Dimana ketika Stevan atau dirinya menekan tombol kejut itu, maka pemakai sepatu itu bisa dipastikan pingsan saat itu juga.


Disela-sela percakapan mereka tak jauh dari tempat mereka berada. Dua orang anak buah Stevan sudah berada disekitar toko buku Reiner.


Chloroform adalah salah satu obat bius yang digunakan untuk hewan. Melalui sumpitan mereka meniup isi sumpitan itu ke arah burung merpati mata-mata yang Stevan jelaskan dalam pesan teks.


Chloroform merupakan senyawa yang memiliki aktivitas untuk menurunkan kesadaran yang bekerja dengan menekan sistem saraf pusat secara cepat.


Senyawa ini mudah menguap dan kalau terhirup bisa membuat tidak sadar. Memiliki sifat apolar atau bisa menembus ke sistem saraf pusat.


Stevan menjelaskan pada anak buahnya. Bahwa Nami mengendalikan jaringan siber dengan sangat baik. Salah satu anak buah Stevan ini adalah ahli obat-obatan. Sedang salah satunya lagi adalah hacker ternama ia juga mampu meretas jaringan siber.


Salah seorang dari mereka mengeluarkan sebuah alat kecil. Ini adalah alat khusus bagi para peretas seperti Nami, memang bentuknya seperti ponsel pintar. Tetapi segala sistem peretasan ada didalam sana.


Salah seorang anak buahnya melepas lilitan kalung yang melilit leher merpati. Dan benar saja, disana ada pengendali juga camera. Sebuah Camera yang terhubung dengan internet.


"Kita harus menggunakan Malware disini. Aku akan coba memasang virus didalam jaringannya!"


Sebut saja salah satu anak buah Stevan ini bernama Richard. Seorang ahli peretas yang paling Stevan percayai.


"Aku tidak terlalu tau tentang peretasan. Aku hanya ada dibidang racun dan obat-obatan." Tere adalah salah satu anak buah Stevan dibidang obat juga racun.


Apabila Stevan di tugaskan keluar mengintai. Teknik pelumpuhan berdurasi menggunakan obat selalu Tere yang merancang.


Richard sibuk mengotak-atik alatnya. Malware adalah perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk menimbulkan kerusakan pada komputer, server atau jaringan komputer.


Malware ini dapat berupa virus, worm, trojan, atau program perangkat lunak lainnya yang digunakan untuk meretas, mendapatkan akses informasi, hingga merusak data yang ada di dalamnya.


Dalam hal ini perlu dipahami, meskipun semua jenis virus adalah malware, namun tidak setiap bagian malware adalah virus.


Segalanya tergantung pada Sang Peretas. Misinya saat ini adalah menyuntikkan virus kedalam peretasan Nami disana.


Apabila virus itu berhasil masuk, maka kendali penuh atas sistem peretasan Nami berada dalam genggaman pihak Stevan dan Bella.


...Manusia tak akan bisa menahan lajunya waktu...

__ADS_1


...Jika memaksa memutarnya, manusia akan mendapat hukuman...


__ADS_2