
...Kau yang terbaik, juga terburuk...
...Kau yang mengajari arti patah hati. Kau beri harap, lalu kau pergi...
...Garis waktu takkan mampu menghapusmu...
...Dan apa pun yang mungkin menyakitiku hanya akan membuatku lebih kuat pada akhirnya...
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Namun dua manusia di atas tempat tidur ini masih terlelap. Tak ada pertanda bagi mereka untuk bangun. Mereka masih nyaman berbagi kehangatan satu sa lain.
Cahaya mentari mulai masuk, lewat sela-sela dinding. Gorden mereka yang tipis pun membuat cahaya itu mencuri-curi jalan masuk.
Brian menggeliat mencoba membuka matanya. Matanya mengerjap beberapa kali mencoba mengumpulkan kesadarannya, nyawanya yang masih berada dalam pulau kapuk.
Ketika Brian akan terbangun ia di kejutkan dengan beban disamping tubuhnya. Sontak ia menengok kebawah, berapa bahagianya hatinya melihat Bella terlelap bersamanya disini.
Apa yang terjadi semalam sama sekali tak ia ingat. Hanya ada satu kejadian yang diingatnya malam itu. Dimana diantara gan sempit, Brian berjalan seorang diri melewati beberapa berandalan disana.
Beberapa dari mereka mengusik Brian yang sedang bersedih. Bella lah alasannya menjadi selemah ini. Ketika berandalan itu melempar botol bir ke arahnya, Brian yang sudah muak pun naik pitam.
Diantara himpitan gedung tinggi Brian menghajar seluruh berandalan itu dengan brutal. Tak ada lagi belas kasihan disana. Rasanya seperti sedang menghajar sebuah target latihan tinju.
Para berandal ya g tersungkur perlahan merayap mendekati kaki Brian. Mereka mengatupkan kedua tangan mereka, meminta agar di ampuni. Namun Brian sama sekali tak peduli, ia pun memilih pergi masuk kedalam sebuah bar kecil tak jauh dari sana.
Terakhir yang ia ingat adalah ia mabuk berat semalam. Namun ketika pagi menjelang ia diberi kegembiraan dengan Bella yang berada didalam pelukannya. Ini suatu keajaiban yang indah.
Brian tak ingin bangun rasanya, ia ingin tetap seperti ini saja. Bella menggeliat kali ini, wanita itu mulai terbangun. Bella mengerjapkan matanya, tepat didepannya masih pemandangan sebuah kemeja putih. Kemeja Brian, yang artinya ia masih disana dan Brian masih tidur.
"Enghhh..." Lenguh Bella membalikkan tubuhnya, namun ternyata Brian menahan itu.
"Sayang, kau akan kemana?" Tanya Brian lembut padanya.
Ini hal yang buruk bagi Bella rasanya. Padahal ia ingin segera melarikan diri dari sana sebelum Brian bangun. Namun nyatanya takdir berkata lain, takdir tak sejalan dengannya saat ini.
"Aku harus pergi!" Ucap Bella pada Brian yang masih memeluknya.
"Kemana, ini rumahmu!"
"Ini bukan rumahku sejak ketika kau datang lalu menyakitiku!"
Kembali Brian diingatkan kembali pada kesalahan fatalnya. Hal itu kembali membuatnya murka rasanya, sungguh itu bukan kesalahannya. Itu bukan keinginannnya.
"Lepaskan aku Brian!"
__ADS_1
Ucap Bella lagi padanya. Namun disana Brian tetap diam. Merasa percuma tak akan mendapat jawaban apapun, Bella mendorong tubuh itu kuat.
Pada akhirnya Bella berhasil menjauh dari Brian. Segera ia pun duduk di tepi ranjang membelakanginya. Brian menatap lekat punggung Bella dari belakang.
"Kau hobi menyakitiku memang Bella!" Ujar Brian.
"Siapa yang sedang menyakiti siapa disini? Aku berbuat apa padamu, bukankah selama ini aku sudah cukup baik menerimamu? Kau yang menyakitiku, kau yang membuatku memilih jalan mana yang benar. Dan ini adalah jalan yang benar untukku, jika kau mencintaiku tolong jangan biarkan Bella mu ini tersiksa. Dekat denganmu adalah sakit hati yang tak terkira untukku." Ucap Bella.
"Lalu mengapa kau kemari?"
Pertanyaan itu membuat Bella berpikir sejenak. Game over rasanya ia hari ini, sebab rencananya bukan seperti ini. Sebab rencananya semalam adalah pergi sebelum Brian membuka matanya.
Suatu kesialan baginya terlalu nyaman dalam dekapan sang kekasih. Hingga lupa akan dunia dan waktu. Cinta itu memabukkan sungguh, rasanya anggur dan wisky akan kalah dengannya.
"Sebab Eddie yang menyuruhku datang, itu bukan inisiatif ku sendiri. Lagi pula, kau adalah ayah dari anakku bukan. Aku melakukan ini untuk anakku, bukan karenamu!"
"Dia masih belum lahir di dunia ini. Lalu kalimat siapa yang membawamu datang kemari menemui ku. Kau akan menyangkal sampai kapan perasaanmu itu?" Tanya Brian padanya.
"Lebih baik aku pergi sekarang, tak ada gunanya bagiku menjawab segala pertanyaanmu. Hubungan kita sudah usai!"
Mengapa Bella mengeluarkan kalimat-kalimat yang menyakitkan pagi ini. Ini tak adil sungguh, Brian membenci hal ini. Dia diperlakukan kejam sekali oleh istrinya ini.
"Jika aku tak mengizinkan dirimu pergi bagaimana?"
Nada bicara itu terdengar serius kali ini. Intonasinya mendominasi, itu membuat Bella yang berdiri memunggunginya diam. Namun ia tidak takut, sebab ia tau bahwa Brian tidak akan menyakitinya.
"Aku tau kau masih mencintaiku bukan? Ini bukan dirimu, dan kau yang ku kenal tidak seperti ini. Bella yang saat ini berdiri disini, pasti menyimpan alasan melakukan ini padaku."
Brian menempatkan kepalanya mendekat ke arah telinga Bella, berbisik disana.
"Katakan, Bella! Aku bahkan hampir gila tanpamu. Aku mengundang masalah baru dalam hidupku, aku bahkan berinisiatif ingin membunuh Tasya rasanya. Jika saja Themo dan Rey hari itu tidak menghalangiku, mungkin Tasya akan tamat."
Bella terkejut mendengar itu. Ia sempat membicarakan hilangnya Tasya beberapa saat lalu dengan Stevan. Apakah Brian dalang dibalik itu.
"Dimana dia?" Kali ini Bella berbalik sambil menatap mata suaminya.
"Mengapa kau harus peduli pada manusia yang sudah menyakitimu?" Tanya Brian padanya.
Benar, rupanya ini ulah Brian. Terlihat jelas raut wajah itu tau segalanya. Tuhan, sungguh Bella tak ingin sesuatu terjadi pada Tasya. Sekalipun hatinya begitu sakit.
"Apa yang kau lakukan padanya?"
Pertanyaan itu diliputi jalur dalam hatinya. Bella benar-benar tak mau Brian kembali seperti dulu lagi. Dalam hatinya ia berdoa, semoga Tasya disana masih bernafas. Sebab keberingasan Brian dulu tak kenal rasa ampun.
__ADS_1
Apa yang Eddie katakan benar adanya. Bella adalah penawar bagi Brian, obat pengubahnya. Apabila Bella jauh darinya sama dengan membunuh Brian pelan-pelan.
"Kau tidak berbuat nekat bukan?" Tanya Bella masih menatap lekat ke arah Brian.
"Maafkan aku, aku hampir gila rasanya sayang. Aku berusaha meredam sisi amarahku. Namun nyatanya aku tak bisa tanpamu disini Bella!" Jelas Brian padanya.
Ini kesalahan sungguh. Bella mulai takut sekarang, mungkin memang seharusnya ia menjelaskan tujuannya pada Brian sebelum ia pergi.
Di sisi lain Prianya nampak begitu frustasi. Sedangkan disisi lain lagi, seseorang entah dalam keadaan hidup atau matikah ia disana. Dimana tempatnya juga masih belum Bella ketahui.
"Dimana Tasya?" Tanya Bella lagi.
"Aku mengurungnya!" Jawab Brian.
"Apa dia masih hidup?" Tanya Bella lagi, ia ingin memastikan itu.
Pertanyaan itu hanya dibalas anggukan oleh Brian. Bella lega rasanya ketika mengetahuinya. Bella menangkup wajah suaminya itu lalu mencium lembut bibirnya.
Sudah ini sudah cukup, ia tak mau Brian melakukan hal yang lebih jauh dari ini. Bayi besar ini memang butuh di jelaskan agar tau rencananya. Brian membalas ciuman itu, cukup lama mereka melakukannya anggap saja itu adalah pelampiasan rindu mereka.
"Untuk saat ini, aku hanya ingin kau tau. Aku melakukan ini untuk kita!"
Ucap Bella masih menangkup wajah Brian, kening mereka bersatu. Kedua mata mereka saling menatap.
"Apa yang kau rencanakan. Kau punya banyak bodyguard disini yang siap kau perintah. Kau punya diriku, yang siap membantumu kapan saja. Bella ku tidak perlu berjuang sendirian."
"Aku tau kau sangat mencintaiku. Itulah mengapa untuk melakukan rencana ini, kita berdua harus saling menjauh. Perlihatkan pada Nami bahwa kau sudah tidak mencintaiku lagi. Hunny, adikku Stevan sangat mencintai Nami. Kau tau Nami, dia adalah peretas terhebat di Tokyo. Aksesnya melalui internet membuatnya mampu melakukan segalanya bahkan memantau kita."
Brian tau itu, prasangkanya juga mengatakan demikian. Bahwa Nami lah biang dari seluruh masalah ini. Namun Stevan selalu menyangkalnya, sebab dia hanya akan meringkus Nami apabila ada bukti yang akurat.
"Mari kita lawan dia! Mari kita kuak, kelahiran anak kita tidak boleh berada dalam konflik apapun. Biarkan dia bebas menghirup udara dunia yang damai, aku tidak mau dia hidup penuh ancaman sama seperti yang kita berdua alami." Jelas Bella lagi pada Brian.
Brian mengangguk mendengar apa yang Bella katakan. Ia ikut menangkup wajah cantik itu membelainya lembut. Untuk saat ini hatinya tenang rasanya. Sungguh, ketika ia mengetahui alasannya segalanya terasa ringan saat ini.
"Mari kita lakukan! Aku ingin kau tetap baik-baik saja tanpaku. Dan semoga kita saling kuat menahan rindu yang nantinya datang menghampiri."
Ucapan Brian diakhiri dengan satu kecupan lembut di kening Bella. Keduanya saling menjauh, saling tersenyum. Lalu Bella berbalik meninggalkan Brian seorang diri didalam sana.
Sebuah konspirasi keji membuatnya berada dalam masalah. Hari ini, juga dengan konspirasi Brian dan Bella akan melawan kelicikan Nami.
Kembali dalam profesi mereka dahulu. Seorang mafia yang teliti dengan seorang detektif dengan analisanya. Mereka berdua akan menguak segalanya. Lalu mengembalikan kehidupan normal mereka kembali.
...Setiap kali hatimu hancur, pintu terbuka untuk dunia yang penuh dengan permulaan baru, peluang baru...
__ADS_1
...Menyimpan kesalahan masa lalu hanya akan membuatmu semakin terluka, ikhlaskanlah, lepaskan demi hidup yang lebih baik...
...Sebab tujuan mencintai adalah merelakan pergi. Mengingat untuk melupakan, bahagia untuk menangisi...