
...Kata-kata adalah adalah pedang...
...Jika salah menggunakannya akan mengubahnya menjadi senjata yang tajam...
"Lihatlah! Sudah ada pergerakan dari alat pemancar!"
Ucapan Stevan seketika membuat seluruh manusia didalam ruangan itu berbondong-bondong melihat ke arah layar iPad nya. Benar saja, Reiner sudah bergerak. Pembicaraan dalam telepon antara Reiner dan Nami terekam jelas dan sampai ke mereka.
Bella akan dibawah ke pelabuhan. Entah apanyang ada dalam pikiran Reiner saat ini. Stevan juga heran padanya, mengapa Reiner tidak menggunakan jalur udara. Mengapa ia memilih kapal sebagai alat transportasi nya.
"Mengapa dia harus ke Pelabuhan?" Tanya Stevan heran.
"Sebab jalur air lebih aman menurutnya. Menurut apa yang dikatakan rekan kita, Reiner memiliki riwayat mabuk udara. Itulah mengapa ia memilih kapal sebagai alternatif terbaik. Akan menyusahkan apabila seorang pria mabuk disamping wanita bukan?" Richard menjawab pertanyaan Stevan.
Stevan mengangguk mendengar itu. Richard masih sibuk dengan aksesnya, peretasan masih ia lakukan disana.
"Brian, sekarang jemputlah kakak, aku akan pergi ke tempat Nami." Stevan berucap sambil menatap Brian.
"Aku akan pergi sekarang!" Ucap Brian berdiri, Themo dan Rey juga ikut berdiri disana. Mereka mengekori Brian, dia bodyguard itu adalah kepercayaan Brian disini.
"Lalu, kita kapan akan meringkus wanita gila itu?" Tanya Eddie pada Stevan yang masih berdiri disana.
"Kita akan menyelesaikan seluruh permasalahan ini sekarang. Sesuai dengan apa yang dimintanya!" Jawab Stevan sambil menunjukkan ponselnya.
Eddie membulatkan matanya melihat seluruh isi ponsel Brian telah disadap. Sungguh keluarga Drew ini sangat hebat menurutnya. Strateginya luar biasa dalam menghadapi masalah serunyam ini.
"Kita tunggu pesan darinya!" Ucap Stevan tersenyum, ketika Eddie mengangguk ponsel Stevan tiba-tiba berbunyi. Keduanya tersenyum mendengar bunyi ponsel itu.
(*Nomor tidak dikenal)
Jika kau ingin menyelamatkan wanita hamil bernama Bella Alexandria Drew. Datanglah ke sebuah gedung terbengkalai, yang letaknya tak jauh dari menara Eiffel. Kau pasti tau tempat yang ku maksud bukan? Datanglah seorang diri, jangan ajak siapapun. Atau, akan ku jatuhkan kekasihmu ini dari atas gedung ini*.
Stevan membaca isi dari pesan itu. Tak lama ia mengepalkan tangannya. Jika saja Bella memang berada dalam genggaman Nami, maka akan tamat sudah nasib kakaknya itu.
Sebab Nami yang menggila akan sangat brutal dan buta. Simpati seakan mati dari dalam dirinya. Tak ada sisi manusia yang akan kau temui, ketika gadis ini lepas kendali.
"Aku bersyukur bahwa kakak ku tidak berada ditangannya. Mari kita pergi, Eddie!"
Ucap Stevan, keduanya mengangguk lalu pergi dari sana meninggalkan Richard seorang diri didalam ruangan itu. Memang mereka sengaja menyisakan Richard disana, sebab pemantauan kedua musuh mereka berada ditangan Richard.
Pergerakan Reiner dan Nami akan Richard awasi. Jadi akan minim sekali mereka berdua mampu kabur dari jeratan Stevan dan Brian.
_________
Kedua belah pihak sedang berupaya menyelesaikan masalah mereka masing-masing. Butuh waktu beberapa menit untuk keduanya sampai ditempat yang sama.
Stevan dengan Ferarri milik Eddie berhenti tepat disebuah gedung terbengkalai. Mereka menghabiskan tiga puluh menit perjalanan, antara markas mereka dengan tempat ini.
Eddie terhenyak melihat gedung itu. Ia baru mengingatnya sekarang. Gedung inilah tempat dimana Stevan membuat Brian babak belur. Pria disebelahnya itu sama menatap lekat ke atas gedung.
__ADS_1
"Aku akan masuk, kau boleh menungguku didalam mobil jika kau ingin." Ucap Stevan pada Eddie disampingnya.
Eddie sedikit tersinggung mendengar itu. Ia memberikan pistol pada Stevan. Dengan senang hati Stevan menerima pistol itu.
"Aku akan bergerak sebagai bayanganmu! Jadi mari kita selesaikan ini, sebelum segalanya menjadi semakin runyam!" Ucap Eddie.
Klekkkkk
Suara pistol dalam mode siap itu mereka aktifkan. Sambil membawa pistol dalam tangan kanannya, kedua pria berjas ini masuk kedalam gedung besar itu.
Gedung Itu cukup sepi tak ada siapapun disana. Stevan sangat yakin bahwa di atap, Nami sudah menyiapkan sesuatu yang sangat berbahaya. Ketenangan semacam ini memang sangat mencurigakan.
"Sepi sekali!" Ucap Eddie pada Stevan.
"Benar, tidak biasanya seperti ini!" Jawab Stevan, netranya masih memperhatikan tiap inci isi gedung ini.
Benar-benar tak ada apapun didalam sana. Hanya ruang kosong berdebu, tak ada apapun.
"Aku yakin dalam kesunyian ini, di atas sana dia sudah menyiapkan sesuatu yang berbahaya." Ucap Stevan.
Kembali mereka naik lebih jauh menjelajahi gedung itu. Tetap tak ada manusia disana, ketika kaki mereka sampai tepat dihadapan satu pintu. Mereka berdua saling tatap sejenak sebelum membukanya.
"Haruskah?" Tanya Eddie padanya, Stevan mengangguk.
"Setelah pintu ini dibuka, kita akan tiarap lalu merayap mencari perlindungan." Jelas Stevan pada Eddie disampingnya.
**Dorrrrrr
Dorrrrrr
Dorrrrrr**
Suara tembakan langsung menyambut mereka saat itu juga. Beruntungnya saat itu mereka langsung tiarap, merayap masuk lebih jauh mencari perlindungan sejenak.
Tembakan itu masih terus berlangsung tak ada jeda disana.
"Wanita ini gila sungguh!" Pekik Eddie. Mereka berdua bersandar diantara batu.
"Sulit menjelaskannya padamu, dia terlalu rumit!" Ucap Stevan, sejenak Stevan mengeluarkan sumpitan.
"Untuk apa itu?" Tanya Eddie, heran rasanya melihat apa yang Stevan lakukan saat ini.
"Kita akan meringkusnya, bukan membunuhnya!" Jelas Stevan pada Eddie didampingnya.
Ditengah-tengah suara tembakan itu, Stevan meracik sesuatu dalam peluru sumpitnya. Itu adalah obat bius, Nami harus dibawa hidup-hidup kedalam penjara.
"Hanya ada tiga orang disini sepertinya!" Jelas Eddie.
"Bagaimana kau tau?" Tanya Stevan yang sudah siap dengan sumpitannya.
__ADS_1
"Coba lihat arah tembakannya. Mereka menembak sambil berdiri, dan mereka menembak sama disisi yang sama. Sama sekali tak ada perubahan." Jelas Eddie padanya.
"Jika begitu kita serang bagian sayap-sayapnya. Nami pasti berada ditengahnya." Ucap Stevan.
"Dalam hitungan ketiga, kita tembak bagian sayapnya!" Jelas Stevan lagi pada Eddie.
Eddie mengangguk mengerti mendengar apa yang Stevan katakan. Ayolah, dia ini anggota mafia juga. Tentulah ia paham bagaimana teknik penyerangan yang baik.
"Tiga.."
"Dua..."
"Satu!!!"
**Dorrrrrr
Dorrrrrr**
Timah-timah panas dari senjata api mereka seketika melesatkan peluru itu masuk kedalam kulit manusia lain. Tembakan dari dua arah seketika berhenti, Stevan kembali menunduk melindungi dirinya.
"Kenapa kau yang kemari, Stevan?" Pertanyaan itu membuat Stevan membulatkan mata.
Tembakannya berhenti dan hanya suara itulah yang Stevan dengar.
"Mengapa aku tidak boleh kemari?" Tanya Stevan bangkit lalu menatap ke arah Nami.
"Lagi-lagi kau menghancurkan rencanaku!" Ucap Nami lagi padanya.
Rasanya ia sudah sangat muak pada Stevan. Sebab karenanya lah segala rencana penghancurannya gagal. Stevan terlalu mencintai Bella, adik kakak itu perasaannya kuat.
"Aku membencimu sungguh!" Pekik Nami kembali mengarahkan senjatanya pada Stevan disana.
Namun Pria itu, hanya diam mematung sambil tersenyum ke arahnya. Nami ama sekali tak tau apa mengapa Stevan sama sekali tak takut disana. Padahal yang berlabuh dihadapannya adalah lubang pistol yang siap melesatkan pelurunya.
Nami membidik Stevan disana. Pria itu masih memberanikan dirinya maju ke arah Nami disana.
"Jangan bergerak!!!" Pekik Nami, namun Stevan masih saja kekeh.
"Kenapa? Aku hanya ingin menemuimu. Jika kau ingin menembak, maka silahkan!"
Ucap Stevan sambil mengarahkan senjata Nami ke arah jantungnya. Pria itu sudah berdiri dihadapan Nami saat ini.
Nami terkejut melihat apa yang sedang Stevan katakan padanya. Apa yang dikatakan Stevan itu tulus murni dari dalam hati.
...Yang paling menakutkan adalah hati manusia...
...Di sana bisa tumbuh kebencian yang terdalam dan kesunyian yang terpekat bersembunyi...
...Alasan untuk membunuh orang itu banyak, tapi tidak diperlukan alasan untuk menolong seseorang...
__ADS_1