
...Aku tidak dilahirkan untuk berteman dengan wanita ...
...Aku dilahirkan untuk mencintai mereka! Aku terlahir sebagai pria...
Sehari setelah pertemuannya dengan Nami. Stevan memiliki misi khusus, sebuah misi yang berasal dari permintaan kakak perempuannya.
Kecurigaan Bella pada Reiner harus ia buktikan. Untuk menilai Reiner, baik atau tidak itu tergantung informasi apa yang ia dapatkan dari Pria pemilik perusahaan penerbit juga toko buku itu.
"Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu disana?"
Stevan berbicara pada seorang pria yang ia kirim dekat dengan tempat Reiner bekerja. Pria itu adalah anak buahnya, sebut saja Kevin.
"*Tuan Drew, saya kira tidak ada gerak-gerik mencurigakan darinya. Dia bersikap normal saja sejak tadi!"
"Kalau begitu perhatikan lebih lama lagi, apa alat penyadap sudah dipasang?"
"Tuan, kita sudah memasang segalanya. Namun saya rasa ini tidak akan membuahkan hasil apapun. Sebab targetmu sendiri, sama sekali tak memiliki catatan kejahatan."
"Jadi apakah kau akan bilang padaku, bahwa kakakku berbohong?"
"Tidak Tuan, tapi*..."
Tuttttttt
Stevan mengakhiri panggilannya. Sejak tadi ia berada di sebuah restoran. Ia duduk tepat di lantai tiga, dimana dari atas sana, netranya leluasa memperhatikan anak buahnya beserta dengan target misinya.
Sambil menyeruput jusnya Stevan menyipitkan matanya. Dari dalam tasnya ia mengeluarkan satu benda, itu adalah teropong. Stevan mulai mengamati pergerakan Reiner dari teropong itu.
Pria itu berlalu lalang menghampiri beberapa pelanggannya. Ia juga terlihat begitu ramah, menyapa orang-orang disana.
"Kakak mencurigai orang ini? Tapi mengapa tak ada sedikitpun pergerakan mencurigakan?" Lirih Stevan.
Stevan meletakkan kembali teropong miliknya kedalam tas. Sejenak ia menyomot sedikit kue yang ia pesan. Lalu bergegas meninggalkannya, namun belum ada sepuluh langkah Stevan kembali lagi ke mejanya.
Rupanya berat baginya meninggalkan potongan kue lezat masih ada disana.Dengan terburu-buru, Stevan memakannya lahap.
"Nikmat sekali, terima kasih Tuhan!" Ucap Stevan mengasah ke langit sambil mengatupkan tangannya.
Usai melakukan hal itu, Stevan pun benar-benar pergi dari sana.
Didalam Toko Buku, Reiner nampak ramah sekali menyapa seluruh pelanggannya. Tak jarang lisannya juga menjelaskan perihal isi buku apa yang mereka pilih, itu adalah cara promosi agar Toko buku nya semakin laris.
__ADS_1
Sebenarnya sejak tadi Reiner sedang mendengarkan Nami bicara melalui Microphone kecil yang ia letakkan tepat di antara kupingnya.
"Dia mengawasimu saat ini Reiner!"
Mendengar hal itu Reiner tersenyum. Kegiatannya menjelaskan isi buku masih berlanjut. Ini adalah rencana Nami memang. Ia ingin Reiner disini citranya tidak bobrok. Ia ingin Reiner tetap dipercaya oleh Stevan.
Sebaik mungkin Nami ingin reputasi Reiner tetap utuh dan baik. Agar Bella kembali percaya padanya dan tak takut. Nami yakin, Stevan pasti kemari atas permintaan kakaknya.
"Bedebah itu pun juga tidak akan mampu melawanku! Kau tau, aku cerdas dalam IT. Stevan bahkan akan sangat kesusahan jika aku memakai. ilmu ku ini."
Ketika Reiner sibuk mendengarkan apa yang Nami ucapkan. Bunyi bel dari pintu masuk menarik perhatian Reiner. Rupanya itu adalah Stevan, Pria itu datang sambil netranya memperhatikan sekitar.
"Pengamatan, Jeli mata Stevan sudah tidak diragukan lagi. Itulah mengapa aku membuat Microphone ini begitu nano. Sebab keberadaannya tidak akan disadari siapapun."
Tiap arahan dari Nami disana, Stevan jalankan dengan hati-hati. Segala hal yang direncanakan, juga ia jalankan dengan sangat hati-hati. Sepertinya pria ini berbakat menjadi seorang aktris. Segala drama dan permainan ini sudah cukup membuktikannya, bahwa ia mampu.
Reiner berjalan mendekati Stevan disana. Ia akan berlagak menyambut tamunya sekarang.
"Permisi Tuan?"
Reiner berucap sambil memberi salam padanya. Stevan disana hanya tersenyum sambil menatapnya. Rupanya tinggi badan Reiner lebih pendek daripadanya.
Tanya Reiner ramah padanya. Disana Stevan mengangguk, mungkin sedikit basa-basi disini tak apa. Hari ini Stevan harus mendapatkan bukti, sudah itu saja tak ada yang lain lagi selain itu.
"Ah iya, aku sedang mencari sesuatu." Jawab Stevan.
"Buku apa yang sedang anda cari Tuan? Katakan, maka aku akan membantu mencarinya." Ucap Stevan.
"Ah iya, aku sedang mencari buku tentang Stretegi detektif, apa kau punya?"
Reiner dalam hatinya tertawa mendengar itu. Pria ini sangat pintar ia harus berhati-hati dalam bertindak.
"Wah buku tentang detektif kah?" Tanya Reiner pada Stevan, mencoba memastikan lagi apakah yang ia cari sebenarnya.
"Iya Tuan, jika bisa novel yang menceritakan tentang detektif."
"Apa anda memilih novel romansa?"
"Konspirasi mungkin beserta solusinya!"
Dalam permintaan Stevan terbesit satu maha karya dal kepala Reiner saat ini. Karya milik Bella adalah yang paling komplit disini. dengan itu Reiner memutuskan untuk menghampiri rak buku, mengambil satu maha karya disana. Mahakarya itu milik Bella.
__ADS_1
Selesai mengambilnya Reiner kembali menghampiri Stevan disana. Reiner menyerahkan buku itu pada Stevan. Sejenak Stevan memperhatikan buku itu. Lalu tersenyum, sejenak ia mengeluarkan tissue dari dalam sakunya lalu terbatuk.
"Uhuk...."
Batuk ini adalah sebuah akting. Stevan sedang berusaha mengambil sidik jari Reiner. Reiner dibuat terkejut akan Stevan yang terus saja terbatuk.
"Apa perlu ku ambilkan air putih Tuan?" Tanya Reiner khawatir hendak beranjak.
"Tidak usah, lagi pula ini sudah biasa. Aku hanya sebentar disini, kau tenang saja." Jawab Stevan seraya menutup mulutnya menggunakan kain mencoba meredam batuknya disana. Stevan berucap sambil menggeleng.
"Benarkah anda tak apa?" Tanya Reiner lagi padanya, lagi-lagi Stevan mengangguk kan kepalanya.
"Baiklah Tuan!" Ucap Reiner sambil menyerahkan buku itu lagi.
Dengan senang hati Stevan merimanya. Stevan menerimanya menggunakan sapu tangannya. Ketika buku itu berada tepat di tangannya dalam hati Stevan bahagia dan lega.
Dua kubu itu sama-sama lega menjalankan tugasnya yang benar. Stevan dengan rencananya dan Reiner dengan aktingnya.
"Terima kasih, ini mungkin buku terbaik yang akan saya baca malam ini!" Ucap Stevan lagi pada Reiner.
"Tentu saja Tuan, karangan nona Bella adalah yang terbaik disini. Kau pasti sangat menikmati tulisannya. Dia adalah novelis terbaik dari Amerika, datang kemari bersama suaminya, beserta seluruh luka dan cinta masa lalu juga pernikahannya."
Penjelasan itu membuat Stevan tersenyum. Rupanya manusia ini tau segalanya tentang kakaknya.
"Sepertinya kau adalah penggemar setianya ya?"
"Tentu saja Tuan, segala buku yang ia tulis ada disini!"
"Artinya perpustakaanmu ini lengkap ya?"
"Oh tentu saja, kau bisa memeriksanya jika kau mau!"
"Baiklah, aku akan kemari lain kali nanti, saat ini aku sedang buru-buru!"
"Tentu saja Tuan, silahkan datang kemari sesuai waktu luang anda!"
Stevan mengangguk mendengar itu. Ia bergegas pergi dari dalam toko itu setelah apa yang ia dapatkan telah usai. Selepasnya dari sana, di halte Stevan menunggu bus. Datangnya bus itu membawa tubuhnya masuk kedalam. Didalam sana ia mulai menelfon seseorang.
...Jangan sia-siakan kesempatan yang ada...
...akan membosankan kalau sampai kau menyesalinya nanti....
__ADS_1